Bab 12_ Tamu yang Tidak Diinginkan

Janu menjadi semakin bertanya-tanya, siapakah sebenarnya si gadis singa jantan itu? Smith adalah orang yang sangat misterius bagi Janu. Pikiran dan tingkahnya tidak bisa ditebak.

Jika mengacu dari cerita Pak Hadi, sepertinya ia adalah seorang yang berada, yang memiliki banyak harta. Tapi jika itu memang benar, mengapa Smith seolah-olah menutupi segalanya? Ia terlihat sederhana. Bahkan sangat sederhana.

Janu pun menanyakan keanehan itu kepada Pak Hadi. Tapi ia tidak mendapat banyak informasi perihal tersebut.

Pak Hadi juga tidak tahu pasti tentang hal itu. Ia hanya mengatakan bahwa Smith selalu datang ke rumahnya dengan menaiki angkutan umum yang berisi perkakas-perkakas tertentu yang di bawah Smith untuk keluarganya.

"Nona Smith selalu carter angkot, Mas. Dan memberi istri saya amplop tebal berisi uang pecahan seratus ribuan. Nona smith tidak pernah menceritakan banyak hal tentang dirinya atau keluarganya. Dia hanya terus bertanya ataupun berbicara soal keluarga saya. Dia berharap saya dan keluarga saya selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Tapi jika Mas Janu ingin tahu tentang Nona Smith lebih banyak lagi, Mas mungkin bisa mencari tahu sendiri dengan pergi ke rumahnya.

Ini alamat rumah Nona Smith. Dia memberikan alamat ini barangkali kalau hal buruk menimpa keluarga saya dan Nona Smith sulit untuk dihubungi. Saya diminta untuk langsung datang ke rumahnya."

Janu menerima secarik kertas yang diberikan oleh Pak Hadi. Ia membaca sebentar alamat rumah yang tertera dalam kertas itu. Janu tahu benar bahwa itu adalah kompleks perumahan elite di Bandung.

***

Ting tong...

Suara bel rumah berbunyi. Janu sedang berdiri di depan rumah Smith. Ia menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.

Tak lama setelah itu seorang satpam menggeser pintu gerbang sedikit. Hanya cukup untuk seorang saja.

"Apa benar ini rumah Smith, Sasmitha Maharani?" tanya Janu setelah memasang senyum lebar.

"Ya benar. Mas siapa?" Pak Jono memandang Janu lekat-lekat, mulai ujung kaki ke ujung kepala. Ia belum pernah melihat pemuda di hadapannya sekarang.

"Saya teman satu kelas Smith. Saya datang ke sini untuk mengerjakan tugas kelompok dengannya."

"Baik, silakan masuk." 

Pak Jono membuka gerbang lebih lebar. Janu pun masuk ke dalam rumah Smith.

Sejak awal tiba di depan rumah gadis singa jantan itu, Janu mulai bertanya-tanya lagi. Jika memang rumah yang sangat megah dan mewah itu adalah tempat tinggal Smith, tentu dugaannya selama ini bena. Dan bisa jadi ada lebih banyak kebenaran yang disembunyikan Smith dari semua orang.

"Maaf Mas, Nona Smith sedang keluar. Jadi silakan tunggu di sini dulu. Saya akan kembali ke pos satpam. Nanti Bibi Ipah akan membuatkan minuman untuk Mas. Mas suka teh atau kopi?"

"Tidak usah repot-repot Pak. Saya akan menunggu di sini sampai Smith pulang."

Pak Jono pun meninggalkan Janu sendirian di ruang tamu. Tak lama sesudah itu Bibi Ipah datang membawa secangkir kopi juga sebuah toples berisi kacang mede.

"Silakan diminum, Mas. Mungkin Non Smith akan sedikit terlambat. Biasanya kalau hari Selasa, Non Smith pulang sedikit lebih malam," ujar Bibi Ipah sambil meletakkan cangkir di depan Janu.

"Terima kasih, Bi. Kalau boleh tahu, Smith sekarang ada dimana?"

Janu langsung mengambil cangkir berisi kopi, lantas menyeruput sedikit, sekadar untuk membuat Bibi Ipah senang.

"Biasanya Non Smith kalau hari Selasa sepulang dari kampusnya, dia akan pergi berbelanja untuk anak-anak panti. Nona Smith bisa menghabiskan banyak waktu di pantai asuhan."

Janu diliputi tanda tanya antara tidak percaya dan kagum. Rasa-rasanya jika melihat perangai Smith yang mirip singa jantan itu sulit dipercaya kalau gadis itu suka dengan anak-anak, namun entah benar atau tidak, rasa kagum dalam diri Janu pada Smith semakin bertambah.

"Bi Ipah, apa Bibi sedang repot?" tanya Janu saat Bibi Ipah hendak meninggalkannya, kembali ke dapur.

"Ada apa, Mas?" kata Bibi Ipah dengan wajah sangat serius.

"Sebenarnya, saya sedang dalam masalah," ujar Janu setengah berbisik, membuat wajah Bibi Ipah menjadi tegang.

"Saya menjadi teman satu kelompok Smith. Kami hanya berdua. Ini tugas untuk kelompok kecil. Tapi, saya sangat takut, Bi."

Janu sengaja memenggal ucapannya untuk membuat Bibi Ipah masuk dalam suasana yang ia bangun.

"Takut kenapa, Mas?"

"Smith itu sangat menakutkan. Dia sangat galak dan tidak banyak bicara. Apapun yang saya katakan selalu saja salah. Apa menurut Bibi, saya harus mencari teman lain saja?" ujar Janu tidak sepenuhnya jujur. Ia berkata demikian hanya untuk memancing Bibi Ipah supaya menceritakan soal Smith.

"Hahahaha, apa Mas..."

"Janu," sahut Janu mengenalkan namanya.

"Apa Mas Janu tahu, saya berani bertaruh, Mas akan jatuh cinta jika tahu seperti apa Non Smith sebenarnya. Hahaha."

Bibi Ipah yang sudah tidak muda itu melanjutkan tawa lantangnya, merasa lucu mendengar pengakuan Janu. Lantas pergi berjalan menuju dapur sambil mengusap titik air di ujung mata. Tanpa memberikan informasi lainnya.

Sebenarnya itu cukup mengecewakan sebab Janu sudah kadung berharap bisa mendapatkan informasi lebih banyak. Namun, tidak dipungkiri, perkataan Bibi Ipah menambah rasa penasaran dalam dirinya.

***

Pukul 20.55 Smith tiba di rumahnya. Ia sangat terkejut saat membuka pintu rumahnya karena Janu sedang duduk di lantai sambil mengoperasikan laptopnya.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Smith dengan nada malas.

"Seperti yang sudah aku katakan padamu, aku akan datang ke rumahmu. Apa kau sudah lupa kalau aku ini teman satu kelompokmu? Kita belum berdiskusi sama sekali. Aku tidak ingin mendapat masalah hanya karena tidak mengerjakan tugas."

Smith menghembuskan nafas berat. Janu bisa melihat ada lelah di wajah gadis itu.

"Sudah aku katakan padamu, aku akan mengerjakan tugas itu sendiri dan namamu akan aku sertakan dalam tugas itu. Jadi, pulanglah. Aku sedang tidak ingin menerima tamu malam ini."

Smith berdiri masih dengan wajah malas. Sedari tadi Smith juga berbicara dengan suara yang cenderung pelan.

Tok, tok, tok!

Suara pintu diketuk. Mengagetkan Smith dan Janu.

"Haaah, siapa lagi orang sinting yang bertamu malam-malam begini?" kata Smith sambil mendengus dongkol. Ia tahu itu bukan Hendry. Sebab jika yang ada di balik pintu adalah sang ayah, biasanya Hendry akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status