My-Ex
My-Ex
Author: Ashley Abraham
Bab 1

Seorang wanita sedang duduk dan bercanda tawa dengan sahabatnya, dia pun benar-benar sangat senang saat bersama sahabatnya.

"Rin, lo bahagia kan?" tanya Keyla pada sahabatnya itu.

Irin tersenyum tipis, teringat yang telah berlalu namun masih membekas luka di hatinya dan mungkin tak akan pernah bisa terhapus. Luka yang sangat menyayat hati, luka yang benar-benar membuat hidupnya merasa hancur.

"Lo nggak usah khawatirin gue, Key. I'm okay," Irin menggenggam tangan Keyla dengan senyuman manisnya.

"Tapi, gue khawatir lo nggak akan bahagia. Kalo emang nggak suka, lebih baik lo tolak aja," ujar Keyla memberi saran.

"Tenang aja ya, Key. Gue nggak bakal diem aja kok, tapi gue juga nggak bakal ngelawan. Gue bisa jaga diri,"

"Hubungi gue kalo ada apa-apa ya?"

"Iya, lo tenang aja."

Tak lama kemudian, seorang laki-laki tampan dengan wajah arogan mendatangi mereka.

"Key, gue pergi dulu ya, lo hati-hati pulangnya,"

"Oke, Lo juga hati-hati ya?" Lalu mereka berdua pun bercipika cipiki membuat laki-laki yang melihat mereka memutar bola mata jengah.

"Ayo," ucap Irin pada laki-laki itu.

"Jangan ke geer-an, gue jemput lo karena perintah bokap gue,"

"Gue tau kok," jawab Irin singkat.

Sejak dulu kan kamu memang begitu, ucap Irin dalam hati.

"Dan jangan berharap gue bukain pintu mobil buat lo, lo punya tangan sendiri." ucap laki-laki bernama Dante itu pada Irin.

Irin pun terkekeh kecil, dia langsung membuka pintu mobil Dante dan duduk dengan tenang.

"Gue bukan supir lo, jadi pindah lo ke depan."

Karena malas berdebat, akhirnya Irin menuruti perintah Dante, dia pun berpindah duduk menjadi di sebelah Dante.

"Gue males banget berhubungan lagi sama lo,"

Kalo lo tau, gue jauh lebih males sama lo. Batik Irin menjawab.

"Kalo bukan karena paksaan orang tua, gue nggak sudi buat nikah sama lo,"

Irin pun tertawa kecil, tanpa menjawab ucapan yang sangat menyakitkan dari mulut Dante.

Dante hanya mengernyit bingung.

Dia melihat banyak perubahan dari Irin, tubuhnya yang jauh lebih kurus sekarang, bahkan wajahnya sedikit murung. Bahkan, dia menjadi lebih cuek dan lebih banyak diam.

Berbanding balik dengan dulu, dia sangat manis dan manja. Terlebih tubuhnya sedikit berisi, membuatnya jauh lebih cantik. Yah, walaupun sekarang pun Dante tak bisa berbohong jika Irin masih tetap cantik.

Hingga beberapa puluh menit kemudian, tibalah mereka di rumah orang tua Dante. Irin dan Dante keluar dari mobil dan berjalan masuk secara bersamaan, disana ternyata sudah berkumpul.

Mulai dari kedua orang tua Irin dan juga orang tua Dante.

Senyum hangat menyambut mereka berdua.

"Ayah, bunda…" Irin menyalami tangan kedua orang tuanya, lalu beralih pada tangan kedua orang tua Dante, lalu bersalaman dengan Darren kakak Dante.

Darren menatap Irin dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Dante melirik tajam padanya.

Sial, dasar perjaka tua yang nggak laku-laku lo. Batin Dante mengumpat.

"Begini, berhubung kalian berdua sudah berada di sini, jadi sebaiknya kita bahas saja agar lebih cepat selesai."

Dante hanya memutar bola mata jengah mendengar ucapan sang ayah.

"Tidak usah banyak bicara, yah… katakan saja," Dante meringis saat mendapatkan cubitan di pinggang oleh ibunya.

Irin menebalkan hatinya dari sekarang, ah bukan… dari tiga tahun lalu dia sudah berusaha untuk menebalkan hatinya.

"Sepertinya putramu sudah tidak sabar untuk menjadi menantuku," ucap ayah Irin dengan senyum miring pada ayah Dante.

Ayah Dante pun tersenyum tipis, sebelum melanjutkan ucapannya.

"Begini, Dante dan Irin… niat kita mengumpulkan kalian di sini adalah untuk membicarakan tentang pernikahan kalian,"

"Hm, baiklah…" ucap Dante dengan malas.

"Pernikahan kalian akan dimajukan lima hari lagi, jadi kalian bersiaplah…" 

Mata Irin dan Dante melotot bersamaan saat mendengar ucapan ayah Dante.

"Ayah, tidak bisakah di tunda untuk satu atau dua tahun lagi?"

"Kau ini bodoh, huh… kau ___ " ucapan sang ayah terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari seseorang.

Dante mengernyitkan dahi dan menatap sang ayah bingung.

"Aku kenapa, ayah?"

"Ah, Ti..dak, tidak apa-apa." Jawab sang ayah dengan gugup.

Dante melirik sinis pada Irin yang memang sejak tadi diam membisu tanpa memberi respon apapun.

Ia sendiri pun tak tahu mengapa ia bisa dijodohkan dengan Dante, yang notabenenya adalah mantan kekasih Irin.

"Irin…" panggil Emy --- ibu Dante dengan memegang lengan tangan Irin.

Sontak Irin pun meringis kesakitan.

"Awww…"

Emy pun terpekik dan segera melepaskan pegangannya di lengan Irin.

"M..maaf, Tante… Bu...kan maksud Irin,"

Cih, pakai acara akting segala. Kau benar-benar memuakkan Irin. Batin Dante mencemooh.

"Ah, tidak apa-apa, nak. Jangan panggil aku Tante, panggil aku Ibu. Karena aku akan menjadi Ibumu, nak."

"Ah, baiklah. Bu.."

"Darius, Emy… sepertinya kami harus cepat pulang, karena masih ada urusan lain,"

"Baiklah, terimakasih, Arman. Dan Irin, ayah sangat berharap kamu mau menikah dengan Dante."

Irin hanya tersenyum tipis tanpa melihat Dante yang sedang menatap tajam padanya.

Berbeda dengan Darren, ia masih terus memandang wajah cantik Irin. Darren adalah seorang duda, ia bercerai dengan mantan istrinya karena setelah menikah sang istri hamil oleh pria lain.

"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Emy dan Darius. Ah, Dante dan juga… ?"

"Darren, Tante…" jawab Darren dengan sopan.

"Iya, Darren. Kami pamit pulang dulu, dan Dante jangan lupa besok kalian harus ke toko perhiasan untuk mengambil cincin pernikahan kalian,"

"Baiklah, Tante…"

"Panggil bunda saja,"

"Baiklah, Bun." jawab Dante dengan canggung.

Setelah kepergian Irin dan juga kedua orang tuanya, Dante berusaha keras untuk menentang kedua orang tuanya.

"Ayah, ini benar-benar menyebalkan. Kenapa aku harus dijodohkan dengan dia, kenapa nggak Darren aja?"

"Kau tidak perlu banyak bicara, terima saja takdirmu." Jawab Darius dengan tatapan tajam pada sang putra lalu berlalu meninggalkannya.

"Sebaiknya kau sadar diri, aku tidak masalah jika harus menikahi Irin. Tapi, sayangnya ini bukan takdirku," ucap Darren dengan santai. Dia pun ikut berlalu meninggalkan sang adik seorang diri.

"Br*ngsek!" Umpat Dante dengan mengusap rambutnya frustasi.

Dia pun dengan penuh rasa jengkel ikut berjalan menuju kamarnya, kamar yang selalu membuatnya tenang.

Dante merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size miliknya.

"Sialan, kenapa gue harus di jodohkan sama dia, gadis sialan. Gue bakal buat hidup lo menderita,"  ucap Dante karena masih memiliki rasa benci terhadap Irin.

"Lo tunggu aja waktunya, gue bakal buat hidup lo hancur, Irin. Gadis yang nggak tau di untung, gue jijik sama lo,"

"Takdir yang sangat menyebalkan, gue yakin ini semua udah lo rencanakan jauh-jauh biar orang tua kita menjodohkan kita,"

..

Tbc

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status