Jodoh Untuk Nona Manja
Jodoh Untuk Nona Manja
Author: Indahsaira
Diantar Pulang Pria Asing

Ellysia pulang dengan kondisi mabuk. Kaki sempoyongan berusaha berdiri tegak dan berjalan menuju mobil. Namun belum sampai pintu mobil itu terbuka. Ellysia terjatuh pingsan.

Seorang pria asing berhasil menangkapnya. Karena melihat kondisi Ellysia yang tak memungkinkan, ia pun berpikir untuk mengantarnya pulang.

Berbekal identitas di tas Ellysia. Pria asing itu mengetahui nama dan alamat yang bisa dituju.

Tiba di depan sebuah rumah mewah yang sangat besar. Pagar tinggi menyambut kedatangan Ellysia. Seorang tenaga keamanan mengintip dari bilik kecil yang tersedia khusus untuknya. Agar mampu mengetahui siapa yang datang.

Melihat mobil Ellysia yang sedang menunggu. Ia pun segera membukakan pintu pagar. Membiarkan mobil itu melaju sedikit kencang dan terparkir sempurna di belakang mobil lainnya yang terparkir di halaman.

"Kencang banget bawa mobilnya," ucap penjaga rumah tadi. Ia pun berjalan mendekat dan membukakan pintu mobil seperti yang sering ia lakukan pada majikan mudanya.

Seorang yang asing muncul dari balik pintu. Mengejutkan mata satpam rumah kediaman keluarga Prayogi. 

"Anda siapa?" tanya satpam tersebut.

"Saya bawa majikan kalian. Lebih baik tunjukan, di mana pintu masuk rumahnya?" ucap pria asing tersebut.

Setelah penjaga itu menunjukkan pintu masuk kediaman keluarga Prayogi. Sementara penjaga lain melaporkan apa yang sedang terjadi pada Nona Ellysia. Ada seorang yang terlihat sangat dewasa turun dari tangga melingkar di dalam rumah kediaman Ellysia.

Sosok itu mengenakan setelan piama santai. Tapi tidak dengan langkah kakinya yang sangat tidak santai. 

"Pak, Nona Ell sudah pulang," ucap seorang asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Pak David ayo bi tak lain merupakan Papa dari Ellysia.

"Mana pria asing yang membawa putriku?" tanya David. Suaranya seketika menggema memenuhi ruang tamu yang sangat luas itu.

"Sedang menuju ke sini Pak!" jawab si asisten rumah tangga yang selalu berucap dengan menundukkan wajah.

David pun segera menuju sofa di ruang tamu. Diperhatikan pintu besar yang sudah terbuka. Ia menunggu kedatangan putrinya yang sudah sejak tadi dinanti sambil menahan emosi.

Emosi yang terpendam dan kembali tersulut karena ulah putri tunggalnya itu.

Pria asing itu mulai masuk ke pintu utama. Berjalan cepat sampai di sofa ruang tamu keluarga Prayogi. Diletakkan perlahan tubuh Ellysia di sofa.

"Tunggu!" ucap David mencegah pria asing tadi yang langsung berhenti melangkah.

David semakin mendekat ke tempat putrinya yang tak sadarkan diri. Diperhatikan tiap inci tubuh Ellysia. Kemudian ia melihat dengan dekat sosok yang membawa putrinya. 

Pria asing itu terlihat berpendidikan dan dingin. Ada juga ketenangan yang terpancar dari matanya. Setelan jas dan sebuah jam tangan yang terlihat mahal sangat cocok melekat sempurna. Sepertinya dia bukan pria sembarangan. Meski begitu, David tidak akan melepaskan siapapun yang pernah menyentuh kulit putrinya. Termasuk pria di depannya.

"Sudah kamu apakan anak saya. Bagaimana bisa dia pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya David. Ia semakin mendekat ke arah putrinya yang sedang tak sadarkan diri.

"Saya tidak melakukan apapun. Saya tidak sengaja melihatnya akan mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Maka dari itu saya berusaha menolongnya. Ini kunci mobil putri Bapak. Saya, lebih baik pamit. Ini sudah malam," ucap pria asing itu dengan santai.

"Baik. Tapi, tolong sebutkan nama dan anak siapa kamu. Kalau kamu mau pergi dari sini dengan selamat. Sebab, jika nanti terjadi sesuatu sama anak saya. Saya tinggal cari kamu," jelas David tegas.

"Anda tidak perlu khawatir. Putri Bapak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, kalau Bapak berniat ingin tahu nama saya."

"Sudah sebutkan saja, siapa namamu! Aku tidak akan melepas kamu begitu saja."

"Nama saya, Alvan Raditya Anderson. Saya anak dari Tomi Pratama. Pemilik dari perusahaan Anderson yang ada di kota ini."

"Maksud kamu, Anderson Group?"

"Iya Pak. Kalau begitu, saya permisi," ucap pria yang mengaku bernama Alvan itu. Ia lalu pergi menuju pintu utama untuk keluar.

"Jadi, dia anak tunggal Tomi," pikir David mulai mencerna keadaan. "Kalian, cepat bawa Nona Ell ke kamarnya!" perintah David pada asisten rumah tangga yang sedang bersiap menunggu perintah.

**

Pagi cerah mulai menyapa bumi. Dingin embun sudah hilang sejak tadi. Matahari bersinar terang, sinarnya masuk melalui jendela kaca yang tirainya sudah dibuka.

"Aku masih mau tidur!" ucap Ellysia di atas tempat tidurnya. Ia menarik tubuhnya agar merasa rileks. Selimut kembali menutupi dirinya menghalangi cahaya menyilaukan matanya.

"Nona Ell, ayo cepat bangun. Ini sudah siang!" pinta Tita, asisten rumah tangga yang usianya hanya di atas Ellysia dua tahun. Wajahnya cantik, namun tinggi badannya cukup mungil.

"Aku masih mau tidur!" teriak Ellysia dari tempat tidur.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan sangat keras. Seorang pengawal yang sekaligus menjadi sopir pribadi David bernama Alan masuk tanpa permisi. Langkahnya diikuti David dari belakang.

"Selamat pagi Tuan David!" sapa Tita pada papa Ellysia. Tampak sekali wajah majikannya itu geram.

"Cepat bangun dan ikut Papa, Ell!" pinta David di tepi tempat tidur Ellysia.

Ellysia tak menjawab, ia bahkan tak peduli kehadiran sang Papa di kamar.

"Cepat bangunkan Ell, suruh dia siap-siap. Aku mau mengajaknya keluar pagi ini. Ada urusan penting yang harus segera dilakukan," terang David lagi.

"Baik Tuan!" jawab Tita sambil menundukkan wajah memberi hormat.

**

Mobil yang dikendarai David dengan sopirnya telah sampai di depan sebuah gedung. Kini mobil tersebut mulai mencari tempat untuk parkir.  

"Pa, Papa mau ajak Ell ke mana sih?" tanya Ellysia yang masih belum tahu apa-apa.

"Ke restoran seafood dekat kantor Papa," jawab Pak David datar.

"Hah, ngapain? Aku kan udah sarapan, terus di sana ada apa, sama siapa? Papa jangan aneh-aneh deh!" 

"Di sana ada dokter sama psikiater!"

"Ngapain ada dokter sama psikiater? Pa, mereka bukan buat Ell kan?" Ellysia makin cemas. Ia sedang mencerna apa rencana sang papa untuk dirinya.

"Ya buat kamu lah!"

"What, are you sure Pa?"

"I am sure honey."

**

Tiba di sebuah restoran, Ellysia dan Papanya menuju ke sebuah bagian restoran yang berada sedikit jauh dari keramaian. 

"Papa!" panggil Ellysia, gadis itu berharap akan mendapatkan sedikit penjelasan.

"Hemb!" sahut Papanya tak peduli.

"Kita ngapain sih Pa, ke sini?"

"Papa cuma pingin tahu, apa pria yang semalam pulang sama kamu. Benar-benar nggak ngapa-ngapain kamu!"

"Maksudnya, ngapa-ngapain gimana?"

"Jangan-jangan kamu sudah ditiduri sama pria itu."

Ellysia mengingatnya. Ia semalam diantar seorang pria yang bahkan wajahnya pun sudah ia lupakan.

"Pa, ya nggak mungkin lha itu terjadi!" Ellysia menyangkal. Padahal tak ada satupun yang diingat selain dirinya hampir pingsan saat akan masuk ke dalam mobil.

"Kamu pulang dalam keadaan pingsan. Mana mungkin kamu tahu! Itu dia, mereka yang akan memastikan apa kamu masih gadis," ucap David sambil mengarahkan pandangannya ke sebuah meja yang sudah dihuni oleh dua orang.

"Papa, udah gila. Mending aku kabur!" batin Ellysia menyusun rencana.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status