Share

Memilih Menjemput Cinta
Memilih Menjemput Cinta
Author: Lia Lintang

Lily Gadis Desa

Hidup tak sederhananya mata menatap. Selalu saja ada ombak, badai, bahkan angin yang berhembus kencang mengiringinya.

Ini adalah kisahku. Aku seorang gadis desa bernama Lilyana Atmaja. Suatu ketika, aku melangkahkan kaki jenjangku untuk pertama kali, di sebuah perusahaan swasta yang lumayan tenar di kota B.

Bukan tanpa alasan, aku sengaja melamar pekerjaan untuk menggantikan ayahku yang usianya sudah paruh baya, sebagai tulang punggung keluarga. Siapa sangka, jika semua petualangan kisahku akan di mulai di sini.

Aku masih duduk dengan perasaan tak nyaman di kursi tunggu, tepatnya di sebuah koridor dekat ruang satpam menerima tamu.

"Lilyana Atmaja," panggil seorang security menggunakan pengeras suara.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku, merapikan kemeja dan rambutku yang mulai kusut akibat menunggu terlalu lama.

"Saya, Pak," sahutku, kemudian berjalan mengekor memasuki sebuah ruangan bertuliskan 'Manager Operasional' tepat di depan pintunya. 

Sang security meninggalkan aku sendirian di sana. Awalnya aku ragu, tetapi aku mencoba menenangkan diri dan pikiranku.

Jantungku berdegup kencang, gugup dan juga canggung bercampur jadi satu. Takut jika harapanku pupus jika saja interview ini gagal nantinya.

Aku memberanikan diri mengetuk pintu sebelum akhirnya memasuki ruangan. Menghela napas panjang dan membuangnya secara kasarpun aku lakukan demi mengurangi rasa gugup ku.

"Permisi," sapaku, mencoba bersikap ramah meski gugup menderaku. Aku bahkan sengaja menarik sedikit bibirku agar melengkung indah dan terlihat ramah.

"Silahkan masuk, tutup pintu sebelum duduk," ucapnya, terdengar dingin namun berwibawa.

Aku mengangguk pelan menyetujui perintah seorang pria yang terlihat berkharismatik di hadapanku. Postur tubuhnya tegap, badannya tinggi besar. Sungguh pria idaman banget pokoknya.

"Dengan —" ucapannya terhenti, mencoba mengingat namaku. 

"Lily, Lilyana Atmaja," sahutku, mulai menjabat tangannya yang sedari tadi ia ulurkan untukku. Kemudian, telapak tangannya mulai erat menjabat jemari lentikku.

Senyumnya yang semula tipis mulai mengembang, "Saya Teguh Wicaksono, Manager Operasional di sini."

Aku mengangguk, lalu menarik kursi agar aku bisa duduk. Sorot matanya yang terus menatap tanpa kedip, membuatku semakin tidak bisa menguasai diri. Ah … sial sekali, aku terpukau dengan kharisma calon Managerku.

"Sudah tahu kenapa aku memanggil Mbak Lily ke sini?" tanyanya, lagi. Pria ini menampakkan senyuman maut, yang membuatku salah tingkah karena pesonanya.

"Ya, um … interview," sahutku, disertai anggukan kepala sambil tertunduk menghindari tatapan matanya yang menambah kegugupan. Membuat jawabanku tidak tegas meski terdengar lugas.

"Ya, misalnya diterima kerja di sini, kapan siap bekerja?" tanya Pak Teguh. Sebenarnya itu bagian dari interview, tetapi ia memang sengaja menciptakan suasana santai serasa mengobrol biasa.

Ya. Dia berhasil mengurangi kegugupan yang aku rasakan. Sepertinya saat berjabat tangan tadi, dia menyadari jika ujung jemariku terasa dingin.

"Kapanpun, saya siap, Pak," sahutku cepat. Aku mengangkat wajah, berusaha mengumpulkan tenaga memberanikan diri menatapnya.

Kini sejenak, mata kami beradu pandang. Ia tersenyum simpul menatapku. Aku menyadari jika senyuman itu senyuman tak biasa. Bibirku terkatup seketika. Namun, aku tetap membeku karenanya.

"Gajinya, minta berapa?" tanya Pak Teguh, kembali membuyarkan lamunanku yang masih memaku. Entah hal gila apa yang melintas di benakku tentang pria di depanku.

"Um … sesuai kreativitas kinerja saya, Pak," sahutku. Lagi. Aku gugup, ketika ia membuyarkan lamunanku. Bahkan mataku mengerjap berulang kali.

Waktu berlalu cepat. Siapa sangka, setelah interview itu beberapa jam kemudian aku telah resmi menjadi karyawati di perusahaan itu. Tidak butuh waktu lama, aku duduk di cubicle milikku. Rona bahagia di wajahku terpancar saat itu. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Aku segera menghubungi keluarga memberikan kabar melalui pesan singkat, pada keluarga jika aku diterima bekerja dan tidak akan pulang hari itu.

Ada rasa senang, tetapi di sisi lain hatiku terasa nyeri. Ini pertama kalinya aku jauh dari keluarga. Usai pulang kantor, seorang teman merekomendasikan sebuah kost dekat wilayah kampus dan juga pusat kota. Aku menyetujui saja, lagi pula aku ingin cepat-cepat merebahkan diri untuk meregangkan otot punggung yang sedari tadi terasa kaku.


Di sebuah rumah kost sederhana, aku menapakkan kaki jenjangku. Terlihat minimalis, tetapi juga tidak jelek. Aku merasa betah karena anak-anak yang kost terlihat bersahabat. Terlebih, rumah pemilik kost berada di tengah-tengah hunian kost. Membuatku merasa aman di awal aku memasukinya.

Sampai akhirnya, malam itu aku terlelap dalam lelah. Bahkan, aku melewatkan waktu makan malamku. Aku bahkan tidak sempat membersihkan diri terlebih dahulu, hanya meletakkan koper besar yang sebelumnya aku bawa beserta beberapa barang lainnya.

Tak lama kemudian, menjelang subuh aku terbangun dari tidurku. Mengingat aku penghuni baru, terbesit pikiran takut kesiangan karena lama antri di kamar mandi.

Aku segera bangkit dari ranjang nyamanku yang kecil namun empuk, kuraih handuk dan peralatan mandi. Perlahan ku tarik gagang pintu, agar tidak menimbulkan derit suara yang menggangu penghuni lainnya.

Mataku terbelalak, ketika dikejutkan dengan kehadiran seorang pria paruh baya yang sudah duduk di tengah pintu kamarku sambil asyik mengotak-atik motor bututnya.

"Halo … pagi, penghuni baru ya? Saya bapak kost di sini," sapa pria paruh baya itu. Diiringi senyum menyeringai tak bersahabat.

Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala, "Nama bapak, Pak Narko. Kamar mandinya berjarak dua kamar dari kamar kamu."

Pak Narko mengulurkan tangannya ke arahku. Aku tidak berani menggapainya, karena canggung aku hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja. Lagi pula aku baru bangun tidur. Tentu saja malu. Maklum, aku adalah seorang gadis desa yang berpegang teguh dengan segala aturan yang diajarkan oleh keluargaku.

Mungkin hanya dugaan ku saja, sorot matanya menatap nakal tanpa kedip ke arahku. Setelah aku perhatikan diriku di dalam kamar mandi, benar saja aku menjadi sorotan bapak kost. Aku masih mengenakan pakaian kerja dengan rok span rempel seksi selutut.

Sekembalinya dari kamar mandi, pria itu masih berada di sana. Benar-benar tidak nyaman. Bagaimana mungkin, ia betah sekali di sana. Bahkan mentari saja belum menampakkan sinarnya. Seperti unsur kesengajaan.

Aku mempercepat langkahku memasuki kamar. Kemudian bergegas berganti pakaian, bersiap untuk pergi kerja.

Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Tanda pesan masuk dari seorang pria yang mencintaiku. Dia sahabat lama sejak SMA. Namanya Priyo. Pria kaya raya yang terbilang sombong, tetapi tidak padaku.

Segera kuraih benda pipih berbentuk persegi yang tergeletak di atas nakas. Lalu segera ku baca isi pesannya.

[Aku sudah menunggu di depan, lekas keluar]

Begitulah isi pesan via W******p yang aku terima darinya. Dengan gerakan cepat, jemari lentik ku menari membalas pesan itu.

[Aku segera keluar]

Kumasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas, ku pakai sepatu runcing milikku, kemudian aku membuka pintu dengan perlahan.

Mengejutkan, bapak kost sudah duduk bersandar tepat di depan kamarku. Membuatku terlonjak kaget saat itu. Wah … aku jadi tidak tenang. Ancaman baru terasa datang tiba-tiba. Tatapan matanya yang menjelajahi seluruh tubuhku membuatku risih dan jijik.

"Mau berangkat, Li?" sapanya, menghentikan langkahku.

Aku menoleh sejenak ke arahnya. Cukup singkat. Aku hanya mengangguk emudian aku berjalan setengah berlari menghampiri Priyo yang sudah lama menunggu di luar pintu gerbang.

— To Be Continued

Salam cintaku.

Lintang (Lia Taufik).

Found me on IG: lia_lintang08

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status