Second Woman
Second Woman
Author: Riska Vianka
Bab 01 - Bos Angkuh

“Kesempurnaan adalah segalanya.”

Pukul 08.00.

Suasana depan kantor Rayn kontruksi terlihat cukup ramai. Kabarnya ada CEO muda yang akan menggantikan posisi CEO lama. Mobil mewah merek pininfarina Sergio Ferrari berhenti di depan kantor. Semua mata tertuju ke pengemudi yang keluar dengan memakai hem hitam berbalut tuxedo hitam, serta celana kain hitam. Pria itu berjalan dengan tatapan mata tajam. Aroma vanilla menyerua hingga ke rongga hidung beberapa pegawai yang sudah berbaris dengan rapi menyambut kedatangannya.

Kiano Rayn. Dia adalah pewaris tunggal Rayn Konstruksi Grup. Rumor yang beredar kalau CEO baru itu bertangan dingin, tapi memiliki pesona yang mematikan. Pria bertubuh professional dengan tatapan mata elang. Pria itu juga memiliki seorang istri bernama Savira Halim. Wanita yang telah dipungut keluarganya dari sebuah panti asuhan. Lalu, dijadikan menantu di keluarga Rayn.

“Pagi, Pak!” sapa para karyawan.

Kiano hanya berjalan dengan mencondongkan tatapan matanya ke depan.

*

            “La!”

            “Hadeh! Apaan sih?”

            Danilla Anatasya. Dia adalah perempuan yang bekerja di Rayn Grup. Dia memang terkenal cuek dan enggan bersosialisasi. Ia bahkan menghindari pergaulan dengan orang-orang yang suka bergosip.  Dia berbanding terbalik dengan Kiano. Dia hanya lahir dari seorang petani ketela di kampungnya.

            Danilla mengelembungkan permen karetnya, ia berjalan dengan santai. Ia bahkan masih menggunakan sandal jepit. Ia terlalu malas menggunakan sepatu high hels. Padahal ia sudah mendapatkan peringatan dari HRD. Tetap saja Danilla dengan gayanya yang cuek.

            “Kamu dari mana saja?” tanya Karen.

            Karen Esmeralda. Dia berpenampilan sangat rapi, ia juga menggunakan make up super blood. Dia adalah salah satu penggemar dari Kiano Rayn.

            “La, kamu kenapa telat?”

            “Ya, jalanan macetlah! Kan, aku harus naik angkot!” ucap Danilla yang masih mengunyah permen karetnya.

            Danilla pun berjalan bersama  dengan Karen.

            “La, buang tuh permen karet!”

            “Enggak!” tolak Danilla yang masih tetep keras kepala.

            Di depan lift mereka berdua pun berhenti.

            TING.

            Lift pun terbuka. Danilla pun masuk ke dalamnya sambil menunggu lift terbuka hingga menuju ke lantai 8.

            *

            Celline terlihat mulai menyisir rambutnya, bahkan ia merapikan make up-nya. Ia memoles kembali bibirnya dengan lipstick matte berwarna peach. Ia berkaca sambil menyambut datangnya bos baru.

            “Penampilan udah ok banget,” Celline pun mengunggahnya dengan berselfie, lalu mengunggahnya di instragram miliknya. Ia juga tidak lupa menambahkan caption ‘Pagiku akan datang, setelah matahariku  terbit’.

            Ehem.

            Celline pun tersentak, ia segera memasukkan kaca dalam laci meja kerjanya.

            “Mampus!” cetus Karen. “Lagian, jadi perempuan kok centil banget!”

            “Maklumlah, dia itu kan janda muda! Jadi, haus kasih sayang,” sambung Danilla yang mulai menyalakan laptopnya.

            Celline pun ikut masuk ke dalam ruangan CEO baru itu. Ia terlihat memerah wajahnya.

            “Taruhan, kalau CEO baru kita lebih terkutuk dari bos lama kita,” cetus Danilla.

            “Ya, enggak mungkin Danilla. Jelas-jelas bu Joana ibarat itu titisan mak lampir, sedangkan CEO baru kita hot banget!”

            “Dasar otak kamu sama saja dengan otak Celline!” Danilla pun memutar bola matanya, lalu ia memilih mengerjakan beberapa proposal untuk meeting nanti siang.

            “Cie, nanti bakalan nemenin Pak Kiano,” ledek Karen.

            “Nggak usah mulai!” sungut Danilla yang sibuk dikejar deadline siang ini juga.

            “Biasa aja, La. Nggak usah pakai ngegas segala,” kekeh Karen.

            “Hemm.”

            “Jangan lupa nanti sampaikan salam ke Pak Kiano ya. Kalau aku pasti mau menunggu dudanya!”

            “Pagi!” sapa Reihan.

            Reihan Pratama Rayn. Dia adalah wakil CEO. Padahal banyak yang mengira kalau pria tampan dan ramah ini bakalan menggantikan posisi Joana Alexandra, mantan CEO lama yang pensiun minggu lalu.

            Joana Alexandra memang terkenal sangat otoriter dan menuntut kesempurnaan. Dia tidak ingin ada kecacatan dalam sebuah pekerjaan. Dia juga berhati batu.

            “Pagi, Pak Rei,” balas Karen dengan melengkungkan senyuman bulan sabit. Tapi, bagi Karen Reihan itu biasa aja. Dia kurang keren dibandingkan dengan Kiano.

            BRAK!

            “Bu Celline, apa-apaan ini?” sungut Danilla.

            “Ini kamu selesaikan, lalu kamu berikan ke Pak Kiano. Hanya lima belas menit saja!” ketus Celline dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia pun membuang mukanya, lalu pergi.

            “ISH!” desis Danilla yang mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali menonjok sekertaris itu yang memiliki sikap seenaknya.

            “Sabar, La. Ini ujian,” tahan Karen.

            Celline memang selalu menyebalkan di mata karyawan lain.

*

            “Pagi Bu!” sapa karyawan dengan gemetar melihat wanita paruh baya dengan potongan rambut pendek sebahu.

            “Bu Joa-ana,” Celline pun berusaha mencuri perhatian wanita itu, ia memasang senyuman palsu.

            “Mau ber…. “

            Joana langsung masuk ke dalam ruangan CEO sebelum Celline melanjutkan kalimatnya.

            Danilla hanya menahan tawa. Ia merasa kalau Celline memang hobi cari muka di mata atasan.

            “Mampus!” umpat Danilla dengan senyuman setengah meledek.

            Danilla sudah selesai mengecek beberapa berkas yang diberikan Celline. Ia akan segera memberikan ke Kiano.

            “Hoam!” Danilla menguap. Ia merasa masih mengantuk, karena seharian kemarin menonton marathon drama korea hingga subuh.

            “Kebiasaan!” ceplos Karen. “Pasti kamu marathon drama korea lagi, kan?”

            “Ehem,” Danilla mangut-mangut. “Aku ngantuk banget, Ren. Apa bisa aku tidur lima menit saja.”

            “Gila! Ini ada banyak cctv!”

            “Tapi, aku ngantuk banget, Ren,” Danilla menguap berulang kali, ia juga menutup mulut dengan punggung tangannya.  “Mata aku rasanya masih lengket.”

            BRAK!

            Celline kembali datang, ia mengebrak meja Danilla dengan tumpukkan file dokumen untuk dicek kembali.

            “Bu Celline yang terhormat. Kenapa ini berkas dikasih ke saya? Ini jelas-jelas bukan bagian dari job desk saya!” protes Danilla dengan mengembang kempiskan hidungya.

            Celline hanya melirik ke Danilla. “Ini memang bukan tugas kamu, tapi kamu di sini bekerja bukan malah…. ”

            “Ingat, ibu sendiri juga ngaca-ngaca mulu. Ini tugas ibu, tapi malah melempar ke saya!” Danilla memotong kalimat yang belum diselesaikan oleh Celline. Beberapa karyawan menoleh ke mereka.

            Suara deheman membuat Danilla dan Celline diam. Ia melihat Kiano berdiri di belakangnya sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana.

            “Celline, bagaimana pekerjaan yang saya berikan ke kamu? Apa sudah beres?”

            “Hemm, Ehhh,” Celline pun berpikir.

            “Sudah, Pak. Ini saya yang disuruh Bu Celline buat mengerjakan!” sahut Danilla, lalu menyodorkan semua berkas ke Kiano.

            “Ok. Sepertinya, saya harus memberikan kamu surat peringatan,” ujar Kiano.

            “Syukurin! Mangkannya jadi orang jangan suka songong dan sok berkuasa!” Danilla mengumpat dalam batinnya.

            “Pak, maaf. Hari ini akan ada meeting siang ini dengan klien dari Malaysia,” ujar Danilla.

            “Celline, kenapa kamu tidak kasih tahu ke saya jadwal meetingnya? Kamu itu saya gaji bukan untuk santai-santai saja!”

            Celline hanya menundukkan kepala, ia sangat takut sekali apabila karirnya berakhir sampai di sini. “Sialan, kenapa aku yang jadi terpojok? Semua ini karena pegawai baru ini!” umpat dalam hati.

            “Kamu ikut ke ruangan saya,” ujar Kiano.

            “Iya, Pak.”

            “Sama bawa semua berkas untuk meeting dengan klien. Saya ingin kamu jelasin konsepnya secara mendetil,” ujar Kiano.

            “Baik, Pak.”

            Joana masih berada dalam ruangan Kiano. Ia menikmati minuman secangkir kopi yang telah disajikan oleh OB di kantor.

            “Ayo masuk!” perintah Kiano.

            Danilla mengikuti di belakang Kiano.

            “Nama kamu siapa?” tanya Kiano.

            “Danilla Anatasya, Pak.”

            “Tapi, saya tadi kok tidak melihat kamu?”

            Danilla pun hanya tersenyum. Karena sudah pasti Kiano tidak melihatnya. Dia tadi datang terlambat ke kantor.

            “Kiano, ingat. Kamu nanti pulang makan malam bersama istrimu,” ujar Joana. “Aku akan pulang dulu,” imbuhnya.

            “Iya, Ma.”

            Joana pun keluar dari ruang CEO. Dia pun menatap tajam ke setiap penjuru ruangan. Beberapa karyawan pun menundukkan kepala untuk menghormati.

            *

            Di dalam ruang kerja, Kiano sedang mengetuk-ketuk jemari tangannya di atas meja sambil menunggu karyawannya datang untuk menanyakan proposal penawaran atas tender yang diberikan oleh pemerintah.

            Danilla berdiri di hadapan Kiano, ia hanya mampu menelan salivanya. Ia nampak gugup sekali. Apalagi pria itu mulai membaca setiap lembar proposal yang diberikan oleh Danilla.

            BRAK!  Kiano melempar proposal di depan wajah wanita itu.

            “KAMU ITU NGERJAIN PROPOSAL SAMPAH!” suara berat dari mulut Kiano membuat wanita itu merinding.

            “Ma-“

            “KAMU ITU LULUSAN TERBAIK DI UNIVERSITAS TERBAIK DI INDONESIA, TAPI KAMU BUAT PROPOSAL INI ASAL!”

            “Pak, saya bisa jel…. “

            “Kamu sekarang angkat kaki dari sini cepat!”

            Danilla hanya tertegun dalam bayangan lamunannya.

            “Danilla Anatasya.”

            “Iya, Pak.”

            “Proposal kamu sangat menarik. Saya suka.”

            “Astaga, ternyata tadi cuman lamunan. Dan, Pak Kiano suka sama proposal yang aku buat,” binar mata Danilla, ia padahal sudah membayangkan kalau dia harus terlempar dari perusahaan sekelas Rayn Grup. Ia merasa ingin menyalakan kembang api karena proposalnya berhasil membuat seorang pria bernama Kiano menyukai proposalnya.

            “Danilla, kenapa kamu bengong?” Tanya Kiano dengan menatap Danilla begitu datar. Pria itu tanpa ekspresi, bahkan tidak pernah tersenyum seumur hidup.

            “Saya bahagia, karena proposal saya bisa menarik bapak,” Danilla nampak gugup hingga menelan salivanya sendiri. Padahal ada bayangan buruk yang merasukinya. Ia merasa dewi fortuna sedang berpihak kepada dia. Apalagi cari kerja saat ini cukup sulit sekali.

            “Ya. Besok jangan lupa siapkan semuanya untuk presentasi dengan pihak pejabat rumah sakit,” ucap Kiano dengan nada sangat dingin sekali dan berat.

            “Siap, Pak!” seru Danilla memasang senyuman, ia merasa lega dengan kenyataan yang dia terima.

            Danila pun memutar langkahnya, lalu ia keluar dari ruangan panas dengan aroma sejuk. Dadanya yang tadi sesak sudah longgar buat bernapas.

            “Danilla.”

            Seluruh karyawan mengkerumuninya. Mereka nampak penasaran dengan apa yang terjadi dengan Danilla di dalam. Mereka pun mulai mengintrogasi bagaikan wartawan yang haus berita.

            “La, Gimana?”

            “Apa kamu baik-baik saja?”

            “Terus Pak Kiano?”

            Danilla menarik napas, ia pun menatap semuanya dengan menaikan sudut bibirnya.

            “La, Aku penasaran dodol,” cetus Karen yang terjebak penasaran.

            Danilla pun menunjukkan barisan kedua giginya rata, ia pun menatap semua rekan-rekan kerjanya yang mulai penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.

            “La, Buruan cerita. Sumpah aku penasaran banget,” desak Karen yang diselimuti rasa penasaran.

            “Berhasil!” seru Danilla sambil memeluk sahabatnya.

            “Seriusan?” tanya Karen yang nggak percaya.

            “Iya, beneran Karen Esmeralda.”

            Mendadak Celline pun datang. Ia menghampiri Karen.

            “Karen, kamu barusan dipanggil HRD.”

            “Untuk apa?” tanya balik Karen ke Celine.

            Celine hanya mengangkat kedua bahunya, lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Karen.

            “Dasar nenek sihir!” umpat Karen dengan sangat lirih. Ia merasa sangat sebal dengan Celline yang terlihat tidak suka melihat keberhasilan Danilla.

            “Sabar Karen. Ini cobaan hadapin Bu Celline yang titisan nenek sihir,” Danilla menepuk pundak Karen.

            “La, aku pamit dulu ke HRD. Nanti aku pasti cerita sama kamu,” ujar Karen.

            “Siap, aku akan menunggu cerita kamu,” balas Danilla dengan mengunyah permen karet kembali.

            “Tenang aja aku bakalan traktir lu seblak terenak sepanjang masa,” ujar Karen.

 “Awas sampai kamu nggak cerita sama aku,” ancam Danilla seraya mengunyah permen karet yang ada di mulutnya.

            “Iya, bawel amat kamu jadi anak!”

            “Biarin!” Danilla menjulurkan lidahnya.

            “Perempuan itu sangat mirip dengan dia,” gumam Kiano dalam hati, ia menatap Danilla dari jauh. Ia seperti melihat wajah seseorang yang sangat ia rindukan selama ini.

            “Ki,” Reihan menepuk bahu Kiano hingga tersentak.

            “Apa, Rei?” Kiano pun terbangun dari lamunannya.

            “Kamu lagi ngelihatin siapa sih?”Reihan terlihat sangat curiga dengan apa yang dilihat oleh sepupunya.

            “Lagi ngelihatin kinerja karyawan,” jawab Kiano bernada datar.

            “Pikiran kamu mulai kongslet!”

            “Ya, itu namanya pria normal, Ki.”

            “Oh. Kirain ada yang enak dipandang,” kekeh Reihan.

            “Nanti kita makan siang bareng?” tawar Reihan

            “Sorry, nanti pas makan siang. Aku sedang ada meeting sama klien. Lain kali saja,” tolak Kiano.

            “Ok.” Reihan pun tersenyum. “Seharusnya aku yang mendapatkan proyek itu, kenapa dia yang malah tante Joana pilih! Padahal ini adalah perusahaan milik kakek. Sial!” gumam Reihan dalam hati.

            -

Riska Vianka

"Selamat membaca. Semoga betah di ceritaku. Jangan lupa kritik & saran ya....

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status