Roh Pusaka Kalimedeni

Barata menghela nafas. Dia tidak beranjak dari posisinya ketika menyaksikan bangunan itu menghilang dari pandangannya.

Barata mengambil belati di pinggangnya, dan dia merasakan adanya kekuatan yang terasa akrab. Perasaan itu mengalir ke dalam dirinya saat dia menggenggam belati itu.

Ketika dia merasakan kekuatan yang mengalir dari belati yang kemudian masuk ke dalam dirinya, Barata mengernyitkan dahi. Perasaan itu sangatlah kuat hingga urat-urat di tubuhnya seakan mencuat keluar.

Pada awalnya, Barata menggenggam belati dengan satu tangan, tapi setelah merasakan aliran energi yang masuk ke dalam dirinya, dia mulai menggenggam dengan kedua tangannya.

Ketika dia melakukannya, riak-riak energi yang masuk ke dalam tubuhnya mulai memengaruhi area sekitarnya.

Perlahan, Barata merasakannya, dan dia mencoba untuk memahami kekuatan itu. Ketika dia semakin tenggelam saat merasakan energi itu, samar-samar dia melihat sosok yang sama seperti yang ia lihat ketika mengambil belati itu.

“Argh!!” teriakan Barata begitu pilu saat dia tenggelam dalam energi itu.

Dia sama sekali tidak mengerti mengapa tiba-tiba rasa sakit di tubuhnya menderu-deru dengan hebatnya. Dia memegang belati itu sekuat tenaga saat tubuhnya gemetar. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Ada rasa perih yang menjalar di tubuh ketika lukanya terkena keringat.

Barata berusaha untuk fokus, dan dia mulai melihat bayangan samar-samar itu. Meski rasa sakit yang ia rasakan begitu menyakitkan, fokusnya sama sekali tidak goyah.

Setelah memastikan jika bayangan itu merupakan sosok yang sama dengan apa yang dia lihat di altar, dia menghela nafas lega.

Tubuhnya gemetar bukan karena takut dengan bayangan itu, melainkan karena ia terlalu letih, dan juga rasa sakit yang menerjang tubuhnya saat menggenggam belati itu.

Setelah melalui peristiwa tersebut, Barata baru mengetahui jika belati ini merupakan manifestasi dan juga tempat dari roh berbentuk setengah manusia dan setengah laba-laba bernama Kalimedeni.

Begitu dia menyadari hal ini, Barata kemudiam mengatur nafasnya. Selain mengetahui nama serta senjata apa itu, dia juga mendapatkan pemahaman baru jika senjata itu disebut pusaka dengan kemampuan membuat ilusi.

Barata terduduk lemah tak berdaya, lalu darah mulai menetes lagi dari tubuhnya. Tubuh lelaki itu serasa menerima hantaman ribuan palu dalam sekejap mata, dan ia dipaksa roboh. Barata hanya bisa duduk lemas sembari menggenggam belatinya kuat-kuat sebelum dia tak sadarkan diri.

Bagaimana dia tidak pingsan, tubuhnya saja sudah kehilangan cukup banyak darah, apalagi dia juga kelelahan. Semua beban itu bersatu padu menjadi satu, dan menghajar tubuhnya secara bersamaan. Sudah pasti tubuhnya tidak bisa menahan semua itu.

Setelah tak sadarkan diri dalam waktu yang tak sebentar, Barata membuka matanya. Dia merasa sekujur tubuhnya nyeri dan lengket. Ia pun merasakan ada energi yang mengalir di dalam tubuhnya. Namun, semua energi itu berpusat pada belati yang ia genggam. Dia menyadari kalau dia bisa menggunakan kekuatan yang besar itu asalkan dia menggenggam belati ini.

Barata memaksakan diri untuk duduk bersila. Dia meletakkan Pusaka Kalimedeni tepat di dadanya, lantas dia memejamkan mata layaknya seseorang yang sedang bertapa.

Barata tidak peduli dengan area sekitarnya maupun tubuhnya. Dia berusaha untuk berkomunikasi dengan roh yang ada di dalam Pusaka Kalimedeni. Dia mencoba untuk mengonfirmasi apa yang ia lihat dan rasakan sesaat sebelum dia tak sadarkan diri.

Perasaan yang ada di dalam dirinya terus berkecamuk ketika dia berusaha berkomunikasi dengan roh yang mendiami Pusaka Kalimedeni. Pikirannya menajam, dan menjadi jernih agar dia bisa berkomunikasi dengan roh yang ada di dalam Pusaka Kalimedeni itu.

Dia berada dalam posisi itu cukup lama. Perlahan, dia mulai melihat bayangan itu kembali. Pada awalnya hanya berbentuk kabut yang memperlihatkan siluetnya saja. Namun, semakin ia fokus dan semakin lama waktu berjalan, bayangan itu terlihat lebih nyata, dan wujud sosok itu semakin jelas. Barata tidak mengendurkan fokusnya, dan dia terus berkonsentrasi penuh.

“Oh ... kau tau bahwa ini adalah cara untuk berkomunikasi dengan Ratu? Menarik. Apa yang kau inginkan manusia? Cepat katakan, jangan membuang waktu Ratu," ucap sosok itu. Suaranya begitu datar tanpa ada jejak emosi. Namun, saat Barata mendengarnya, dia merasakan kedinginan yang luar biasa, dan membuat tubuhnya menggigil dalam sekejap mata.

“Ratu? Aku tidak tahu apakah aku harus memanggilmu seperti itu? Aku hanya ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini? Mengapa kekuatan yang aku miliki sirna tak bersisa?” tanya Barata. Dia berusaha keras menekan perasaan takut yang entah dari mana muncul di dalam hatinya, dan dia memaksakan diri untuk mengajukan pertanyaan pada makhluk tersebut.

“Tidak ada yang bisa aku beritahu padamu manusia, kau tidak pantas untuk mengetahui semua ini. Ratu ini tidak bisa mengatakan apa yang tengah terjadi pada duniamu. Adakah hal lain yang ingin kau ketahui? Ratu ini tak memiliki banyak waktu,” ucap makhluk itu, matanya sedikit berfluktuasi saat dia mendengar pertanyaan Barata, seolah-olah ada ketakutan besar di matanya.

“Kalau begitu, siapa kamu? Bangunan itu, benda yang aku terima beberapa waktu lalu, apa sebenarnya mereka semua? Bagaimana mereka bisa muncul di tempat ini? Aku harap kau bisa memberiku petun, wahai Ratu,” tanya Barata.

Dia tidak bisa mendapatkan jawaban yang jelas tentang situasi di dunia ini dari makhluk tersebut. Satu hal yang menjadi pertanyaan terbesarnya, dia pun menanyakan hal lain yang tidak kalah pentingnya dari hal ini.

Barata merasa jika dunia sudah berubah, dan menjadi sesuatu yang tak ia ketahui. Kemunculan bangunan aneh, benda yang disebut Pusaka ini, serta kekuatannya yang sirna begitu saja telah membuatnya sangat kebingungan.

Barata menatap serius makhluk itu. Dia menantikan jawaban yang akan diberikannya, dan berharap agar makhluk itu mau memberikan jawaban yang pasti.

Tak lama berselang, makhluk itu menatap Barata dengan tenang, seolah-olah dia sudah tahu jika Barata akan bertanya hal itu. Ia lantas berucap, “Bangunan yang kau masuki tadi, itu disebut Pilar Ilahi. Di dunia ini, ada banyak bangunan yang sama seperti itu. Setiap insan yang mampu menaklukkannya akan mendapatkan sebuah benda yang disebut Pusaka. Setiap Pusaka memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Dan kau manusia, kau terlalu beruntung. Kau bisa melewati persidangan yang Ratu ini berikan. Kau mampu mengambil pusaka itu, salah satu benda yang Ratu ini sukai.”

Setiap Pusaka yang ada di dalam Pilar Ilahi merupakan sebuah benda yang disukai ataupun benda yang terikat dengan roh yang ada di dalamnya. Setiap benda itu mengandung kekuatan dari sang Roh. Pusaka merupakan senjata sekaligus wadah kekuatan untuk setiap orang yang memilikinya.

“Kau beruntung bisa mendapatkan dan menggunakan kekuatan Ratu ini. Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kehormatan ini. Manusia, kau tidak bisa membuat Ratu ini turun. Buat semua orang yang ada di duniamu merasakan keputusasaan sejati. Buat Ratu ini bahagia. Ratu ini ingin melihat semua makhluk bersujud. Kau mendapatkan anugerah ini dariku. Buat mereka semua bertekuk lutut padamu, manusia!!!”

Begitu makhluk itu telah menyelesaikan kata-katanya, Barata mulai tersadar, dan bayang-bayang itu menghilang entah ke mana. Namun, dia masih merasa menggigil saat mendengar suara terakhir yang datang dari makhluk itu. Sebuah suara yang hanya menginginkan kekejaman serta kesuraman mutlak.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status