Share

Teman Sejati

Dalam perjalan pulang mengendarai motor maticnya, Mytha pusing  memikirkan alasan apa yang akan dikemukakan nanti kepada orang tuanya jika tiba di rumah. Untungnya sebelum menemui Bayu, Mytha sempat bertukar pesan dengan Uci. Memohon seandainya orang tuanya menelepon atau sekedar menanyakan dirinya, Mytha meminta Uci berdusta bahwa dirinya sedang dengannya. Walau Uci tadinya menolak dan menasehati Mytha agar tidak menemui Bayu, namun Mytha tak menghiraukannya. Kini sesal yang ia dapat.

Sesal Mytha begitu dalam, tidak patuh terhadap ayahnya, berdusta pada ibunya, serta tak menghiraukan nasihat Uci pada dirinya. Namun semua itu sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana Mytha menjadikan bubur itu menjadi bubur ayam special.

Jarum jam pendek di pergelangan tangan kiri menunjukkan angka 10, Mytha belum juga menemukan alasan apa nanti yang akan dia kemukakan saat ibunya bertanya. Hari ini pun tak mungkin dia berangkat kerja. "Ya ampun, gini banget seh nasib gue," sesal Mytha sembari menangis sendu.

Ketika tiba di rumah, Mytha hendak saja langsung menuju kamarnya tanpa bersalam seperti biasanya. Namun karena berpapasan dengan Bu Tari, maka mau tidak mau Mytha pun mengucapkan salam. "Maaf, Bu. Tadi malam acaranya sampai larut sehingga Mytha disuruh menginap, terus pulangnya motor Mytha mogok," dusta Mytha setelah mengucapkan salam sembari menundukkan wajahnya.

"Mata kamu kenapa, Sayang?" tanya Bu Tari melihat manik mata Mytha sedikit memerah.

"A-anu... tadi kelilipan, Bu," dustanya lagi.

"Dari mana jam segini baru pulang!" seru Pak Yuda.

"Mytha ta---," belum sempat menjawab pertanyaan Pak Yuda, sang ibu memberi penjelasan kepada suaminya itu. Bu Tari menenangkan suaminya karena tak ingin hypertensinya kambuh lagi. Mytha bingung dan dilema, kemudian lebih memilih pamit ke kamarnya.

Masih terdengar perdebatan antara kedua orang tuanya. Pak Yuda menganggap ibunya terlalu memanjakan dirinya, Mytha bersender di balik pintu sembari menangis menyesali perbuatannya.

Suara ponsel berdering membuyarkan lamunan Mytha, ia pun ngeyeka air matanya dan mulai mengangkat ponsel. "Ya, halo," ucap Mytha setelah mengangkatnya.

"Gila lo yah! td malem lo kaga pulang apa? nyokap lo teleponin gue mulu. Gue merasa bersalah berbohong pada ibu lo tau!" ucap Uci tiada henti. Cerocos Uci di seberang telepon berhenti ketika mendengar tangisan lirih Mytha.

"Myth, Mytha lo kenapa?"

Uci terdiam, menunggu jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya. Namun dirinya masih saja mendengar isakan Mytha, "Menangislah jika itu membuatmu lega, Myth."

"Gue bingung Ci, aturan tadi malam gue nurutin nasihat lo," sesal Mytha masih dalam isakannya.

"Ada apa Myth? Cerita ma gue," ucap Uci khawatir. "Ok, gini aja. Nanti malam gue maen ke rumah lo, ngak enak ngobrol lewat telepon. Dah yah, gue lanjutin kerja dulu takut kena SP Bu Diyah," tutur Uci mengakhiri percakapannya.

*****

Uci menepati janji untuk mengunjungi Mytha selepas pulang dari kantor. Salam Uci disambut dingin Pak Yuda.

"Wa'alaikumsalam." Pak Yuda menjawab salam Uci. "Kemari, duduk sebentar. Mengapa Mytha pulang sampai pagi? Ada acara apa selarut itu?" cecar pertanyaan dari Pak Yuda.

"Buju busyet, makanya pada kabur cowo yang deket ma Mytha. Belum apa-apa dah dibrondong pertanyaan gini," ucap Uci dalam hati. "Gue kudu bohong gimana yah? Bikin masalah aja ne Mytha," lajutnya masih dalam hati.

"Maaf, Oom. Tadi malem acaranya mulur karena ---," belum sempat Uci menjelaskan Bu Tari datang dan memotong percakapannya. Uci lega, tak usah merangkai kata untuk berdusta.

"Eh, ada nak Uci. Dah lama Ci?" sapa Bu Tari.

"Baru aja, Tante," jawab Uci dengan lega. "Mytha ada, Tante?" lanjut Uci.

"Ada di kamar, masuk aja gih," jawab Bu Tari mempersilahkam Uci menemui Mytha.

"Makasih Tante, Misi Oom," kata Uci sembari berlalu menuju kamar Mytha.

Mytha sedang memandang keluar dengan tatapan kosong, walau sudah menjelang malam, Mytha belum jua menutup jendela kamarnya. Uci yang mengetuk pintu dan mulai masuk kamarpun tak disadari Mytha yang sedang terlarut dalam lamunannya.

"Woy, jangan ngelamun. Ntar berabe jika kesurupan," canda Uci sembari menepuk pundak Mytha, namun Mytha hanya datar tak bereaksi. "Myth, ada apa seh?" Lanjut Uci mulai penasaran dengan tingkah aneh Mytha.

"Hei, ada apa?" tanyanya lagi sembari mengguncangkan bahu Mytha dengan kedua tangannya. Mytha menangis tersedu dan memeluk Uci.

Setelah sedikit reda sesak dalam dadanya, Mytha mulai melepaskan pelukannya. Kini mereka berdua duduk di atas ranjang, saling berhadapan. Uci menenangkan Mytha dan menganggukkan kepalanya seakan memberi kode agar Mytha segera menceritakan kejadian semalam.

Mytha pun menceritakan peristiwa semalam ketika menemui Bayu hingga kejadian naas yang merenggut mahkotanya.

"Gila lo yah, jadi lo gak kenal siapa pemuda itu?" Uci kaget karena Mytha belum mengenal sosok yang mengambil mahkotanya, yang tak lain Devan

"Kanal siapa?" ucap Bu Tari tiba-tiba. Beliau sedikit mendengarkan dibagian akhir pembicaraan mereka saat mengantarkan minuman beserta dua toples biskuit untuk Uci.

"It---u, Tante. Ada orang baru di kantor ganteng Tante, ya kan Myth?"

"Eh, i---aa," Jawab Mytha gugup karena takut jikalau Bu Tari mendengarkan semua pembicaraannya dengan Uci.

"Ya udah, ayo diminum Ci. Tante tinggal dulu yah."

"Makasih Tante."

Speninggal Bu Tari, pembahasan tentang Devan berlanjut kembali.

"Eh, tadi sampai mana?" tanya Uci. "Oia, nyampe pemuda yang ngambil makhota lo itu gimana?" lanjutnya, menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan.

"Gue kaga kenal dia, namun sepertinya gue pernah bertemu dengannya. Entah di mana, gue lupa," ucap Mytha sembari mengingat Devan. "Tapi gue pernah liat dia di kantor, entah divisi apa. Sepertinya orang baru soalnya belum pernah liat," lanjut Mytha.

"Ok, besok klo lo liat cowo brengsek itu. Bilang ma gue. Biar gue yang adepin kalo dia gak mau tanggung jawab!"

"Jangan gitu ah, mudah-mudahan aja gue kaga hamil." Mytha mulai berfikir jikalau peristiwa itu menyimpan benih dalam rahimnya. 

"By the way, bokap nyokap lo dah tau masalah ini?"

"Belum, gue takut Ci," ungkap Mytha.

"Secara bokap loe guaalak banget ya Myth?"

"Sebenernya seh nggak galak, cuman beliau tegas. Yaa, tau ndiri kalo bokap gue mantan ABRI. Tapi beliau juga bijaksana ko, beliau gak gitu maksain gue dijodohin ma anak temennya," bela Mytha pada Pak Yuda, beliau bersedia bertemu dengan kekasih Mytha namun sang kekasih yang tak bernyali.

"Maka dari itu penyesalan gue dalem banget," lanjut Mytha sembari menunduk.

Uci sebagai temen deket Mytha menghibur Mytha dan menguatkan, karena empatik Uci sebagai sahabat seperti merasakan apa yang dirasakan Mytha.

Perasaan Mytha pun sedikit lega bercerita pada Uci, membagi sedikit keluh kesahnya. Kini Mytha seakan tak sendirian menghadapi masalahnya ini, ada teman sejati yang siap membantu memberikan solusi.

Uci berpesan cek kehamilan, walau Mytha juga akan melakukannya tanpa diminta Uci, namun belum sempat.

"Makasih ya Ci, dah ngedengerin keluh kesah gue," tutur Mytha sembari memeluk Uci."

"Ia sama-sama, kita kan sahabat. Dah ah, gue pulang dulu," pamit Uci.

Mytha pun mengantar Uci sampai ambang pintu depan rumahnya. Saat berpapasn dengan Pak Yuda, Mytha menundukkan wajahnya. Sepertinya Pak Yuda memperhatilan sesuatu dari Mytha. Untungnya Pak Yuda tidak berkata apapun, mungkin beliau udah penat menasehati Mytha yang selalu dibela istrinya.

 *****

Keesokan harinya Mytha pun bersip berangkat ke kantor, dengan stelan hem dan celana dongker panjang serta flat shoes-nya. Mytha menuju lantai tiga ke ruangannya sembari memperhatikan jikalau ia melihat pemuda itu lagi, namun nihil yang didapatkan Mytha.

Saat berlangsung rapat anggota direksi, Mytha tersentak....

To be continue ,

Mytha kaget, kaget kenapa kah ? Yuk ikuti kelanjutannya ☺☺

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status