Share

CEO Baru, Ternyata Dia

Saat berlangsung rapat dewan direksi, Mytha tersentak melihat Devan, diperkenalkan menggantikan Pak Dedy sebagai presiden direktur. Entah Mytha harus senang, bangga atau sedih pasalnya ia dinodai oleh presdir baru itu, namun tentu saja tanpa keinginan dirinya.

Devan yang sedari tadi mengetahui Mytha mengamati dirinya pun membalas senyuman, dan membuat Mytha salah tingkah antara kesal dan malu.

Hampir satu jam rapat dewan direksi berlangsung, setelah usai Mytha gugup membereskan berkas yang ada di hadapannya, karena konsentrasi Mytha tertuju pada Devan.

Kegugupan Mytha mengakibatkan berkas diatas mejanya jatuh kekolong meja, Devan hanya tersenyum melihat tingkah Mytha.

"Gue akan bertanggung jawab atas malam itu," bisik Devan lirih saat berpapasan, ketika Mytha akan berlalu keluar ruangan rapat. Mata Mytha membulat sempurna, akan tetapi dirinya tak berkata, memendam kesal di dada dan segera berlalu sebelum kekesalan itu tumpah.

Setibanya di meja kerjanya, Mytha meletakkan berkas laporannya dengan kasar, meluapkan emosi yang sedari tadi dibendungnya. "Aagrh...." teriak Mytha spontan.

"Ada apa Myth?" tanya Uci heran setelah mendekat ke meja kerja Mytha karena mendengar teriakan temannya barusan.

"Gak papa," ucap Mytha, celingukan salah tingkah karena semua orang dalam ruangan CFO memperhatikan tingkahnya.

"Nanti gue ceritakan pas jam rehat kantor," lanjut Mytha sembari berbisik pada telinga Uci.

"Ok," kata Uci dan berlalu menuju meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Mytha.

Setelah jam istirahat kantor, Uci pun tak sabar ingin mendengarkan curahan hati Mytha atas teriakan sahabatnya tadi. Uci menghampiri meja kerja Mytha, mengajaknya kekantin. "Yuk, buru kekantin," ajak Uci bersemangat.

"Bentar, gue save dulu laporan ini," jawab Mytha sembari meng-klik tombol save, memakai mouse yang ada digenggamannya kemudian men-shut down komputer kerjanya, mulai menggunakan jam istirahatnya.

"Buru, penasaran gue tadi denger loe berteriak."

Setibanya di kantin mereka langsung memesan makanan, tuk sekedar mengganjal perut yang mulai keroncongan minta diisi nutrisi. Mytha memilih duduk di meja pojok yang tak begitu ramai pembeli agar pembicaraan mereka tak begitu terdengar oleh teman sekantornya yang lain.

"Ayo buru cerita!" ucap Uci penasaran.

"Lo inget kemarin gue cerita bahwa yang sudah merenggut mahkota gue berada dalam kantor ini?" ucap Mytha serius namun pelan.

"Iya, giman? Dia kerja di kantor ini juga? Di bagian apa? Divisi apa dia?" cecar Uci dengan beberapa pertanyaan.

"Ih, satu-satu tanyanya," jawab Mytha agak kesal.

"Dia ternyata anak Pak Dedy, presdir kita yang lama. Dan kini dia menggantikannya," lanjut cerita Mytha serius.

"Apa?" seru Uci kaget, secara tadi dia tidak mengikuti rapat dewan direksi. Mytha sebagai wakil CFO di divisi keuangan menggantikan Bu Diyah, menghadiri rapat karena Bu Diyah sedang cuti melahirkan.

"Sstt... jangan keras-keras," Mytha menutup mulut Uci dengan telapak tangannya.

"Eh, maaf. Abisnya gue kaget,"  lirih Uci. "Beruntung bener lo langsung dapet CEO," lanjut Uci sembari menyenggol bahu Mytha dengan bahunya, secara mereka duduk berdampingan.

"Beruntung apa? buntung lah ia," jawab Mytha sedikit emosi.

"Eh, gimana dia? Cakep kan? Pak Dedy juga cakep, pasti anaknya lebih cakep dong," tanya Uci penasaran karena memang belum sekali pun melihatnya.

"Ntar juga loe liat sendiri," jawab Mytha datar.

Usai jam kantor Mytha masih saja sibuk mengerjakan laporan, rekapan laporan keuangan yang diminta Pak Dedy atas pergantian presdir. Pak Dedy sangat kritis, ingin melihat statistik keuangan perusahaan saat dialihkannya pada Devan.

Uci yang mengajaknya pulang pun diabaikan Mytha, hingga Uci meninggalkan Mytha sendirian dalam ruangan CFO. Tak terasa hari mulai senja, Mytha menggeliat seakan meregangkan ototnya yang kaku. "Dah sore, lanjut besok aja lah," gumam Mytha sembari merapikan meja kerjanya.

Ternyata Devan sedari tadi dalam ruangan itu memperhatikan Mytha sembari tersenyum. "Anak yang rajin. Tak heran prestasinya mengagumkan," guamam Devan.

Diam-diam Devan mencari tahu tentang Mytha melalui asisten pribadinya yang ditunjuk Pak Dedy untuknya. Satrio, sosok yang sedikit kaku dan usianya lumayan jauh diatas Devan.

"Tuan, dari tadi saya mancari Anda. Sudah sore Tuan, Saya pamit pulang dulu," ucap Rio sembari membungkuk pada Devan.

"Hei tunggu, Pak Rio," seru Devan tatkala Rio hendak berlalu.

"Ada apa Tuan?" Rio menghentikan langkahnya dan berbalik menuju Devan.

"Dah, gak usah panggi Tuan. Kaku banget, panggil aja Devan," pinta Devan pada Rio agar lebih akrab.

"Tapi Tuan."

"Dah, ini perintah," ujar Devan menegaskan.

Percakapan kedua orang itu menarik perhatian Mytha, memperhatikannya dengan tersenyum kecut. Melihat Devan mengingatkannya kembali akan kejadian malam itu. "Hemm...." Mytha menghembuskan nafas pendek tuk membuang rasa sesaknya mengingat telah menemukan orang yang menodainya, namun bingung mau berbuat apa.

"Habis ne mampir di apotik sebentar, untuk memastikan tidak ada benih lelaki itu dalam rahimku," gumam Mytha dalam hati.

Saat perjalanan pulang Mytha singgah di apotik tak jauh dari kantornya, membeli test-pack untuk memastikan hubungan badan malam itu tak membuahkan makhluk dalam rahimnya.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan apotik melihat mytha menghampiri etalase obat.

"Eh... a---nu, mo beli test-pack," jawab Mytha gugup karena malu seakan takut aibnya terbongkar.

"Tunggu sebentar," pelayan apotik itu membungkuk dan mencari pesanan Mytha. Sedangkan Mytha celingukan seakan malu, walaupun tak ada orang yang dikenalnya.

"Ini Mba, ada lagi?" ucap pelayan sembari memberikan beberapa merek test pack pada Mytha.

"O, ia... ini aja," jawab Mytha lagi-lagi gugup sembari memilih salah satu merek, dan menunjukkannya pada pelayan bahwa merek itu yang dia pilih.

"Maaf Mba, bayarnya di kasir," ucap pelayan apotik sembari menunjukkan tempat pembayaran, tempat kasir.

Setelah mendapatkan dan membayar barang itu, Mytha buru-buru memasukkannya dalam tas dan dengan langkah cepat keluar dari apotik.

"Asaalamu'alaikum," sapa Mytha saat memasuki rumah.

"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Tari menghampiri. "Ko sore pulangnya Nak?" lanjut Bu Tari bertanya.

"Iya Bu, nyelesein laporan dulu. Atasan Mytha sedang cuti sehingga kerjaanya dialihkan Mytha sebagian," jawab Mytha sembari menciup punggung Bu Tari, bersalaman.

"Assalamu'alaikum Yah," Mytha bersalam sapa dengan Pak Yuda, saat hendak menuju kamar melihat ayahnya sedang membaca koran di ruang tengah.

"Baru pulang Myth?" tanya Pak Yuda basa-basi.

"Iya Yah, Mytha ke kamar dulu," jawab Mytha singkat dan segera berlalu menuju kamarnya dengan perasaan cemas. Akhir-akhir ini Mytha takut berbincang bahkan bertemu dengan ayahnya, karena Mytha takut ketahuan bahwa dirinya sudah tak lagi perawan, dan merasa sangat bersalah telah mengecewakan ayahnya.

Saat Mytha masuk kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Seakan tak kuat lagi menahan masalah dalam hidupnya.

Sejenak Mytha memandangi langit kamarnya, seraya berfikir akan kejadian tadi siang di kantornya. Mytha terperanjat tak kala teringang perkataan Devan, bahwa dirinya akan bertanggung jawab,  Mytha buru-buru mengambil pakaian ganti di dalam lemari. Menyambar handuk yang tergantung, serta tak lupa memasukkan test-pack yang ia beli tadi dalam gulungan handuk tersebut dan berlalu menuju kamar mandi.

Didalam kamar mandi Mytha mulai mengeluarkan alat tes kehamilan itu, membaca petunjuknya dan mulai menggunakannya sesuai aturan yang tertera dalam bungkusnya.

Jantung Mytha berdetak kencang menunggu hasil yang akan ditunjukkan alat itu. Cukup lama Mytha memperhatikan garis merah dalam test pack,

To be continue,

Alat tersebut menunjukkan hasil positif atau negatif? Mari lanjut kisahnya. ☺

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status