Chapter 5: The Father-Daughter Relationship

Makasi untuk antusiasnya di bab 4 :* Ti amo!

Enjoy!

-----

Langkah kaki berbalut sepatu scarpin hitam milik Liora seketika terhenti ketika ia baru saja tiba di ruang tengah penthouse-nya. Vierra yang berada di gendongan sang ibu segera memekik menggemaskan, mengetahui kedatangan pria dewasa yang sedang berdiri di tengah ruangan tersebut.

Pria dewasa dengan gurat keriput di wajahnya itu pun mengembangkan senyum pada Vierra. Dengan pakaian jas biru gelapnya, ia berjalan menghampiri Liora.

Mata Liora melirik pada sebuah amplop di tangan pria itu. Lalu ia berdecak.

“Kapan Dydy sampai kemari?” tanya Liora sekadar basa-basi pada sang ayah.

Hubungan keduanya yang tak begitu bagus membuat Liora tak tertarik dengan kunjungan ayahnya kemari. Meski ia tahu sang ayah datang jauh-jauh dari Manhattan.

“Sekretarismu berkata kau bertemu dengan Gavriel Arvezio beberapa hari lalu.” Dexter tak menanggapi dan mengambil alih cucunya untuk ia gendong.

“Aku bisa menanganinya,” pandang Liora tajam. Ia muak mendengar sang ayah yang selalu berusaha mengorek segala aktivitasnya.

“Apa kau bercinta dengannya?” balas Dexter tak kalah tajam seraya menunjukkan amplop di tangannya yang tadi ia ambil dari salah satu buket bunga.

“Apakah kau serius menanyakan hal itu?” Mata perak Liora membulat lalu membuang wajah kesal. “Aku menolak kerjasama dengan perusahaannya, karena itu ia mengirimkan segala barang-barang ini padaku!” tunjuk Liora pada setumpuk barang, termasuk buket bunga yang ia kumpulkan di sisi ruangan.

“Kalau begitu biar aku yang mengurusnya mulai dari sekarang.” Dexter melangkah melewati Liora begitu saja. “Grandpa membawakanmu boneka, Vierra. Kau pasti menyukainya. Grandma yang memilihkannya untukmu.” Suara Dexter berubah melembut pada sang cucu.

Liora menoleh, melihat sang ayah yang mengambil sebuah boneka beruang di sofa seberang. Tangan kecil Vierra pun segera terentang ingin memeluk boneka itu dengan suaranya yang menggemaskan.

“Aku sudah bilang bahwa aku bisa menanganinya.” Tangan Liora menyilang di depan dada bersama garis rahang lancipnya yang mengeras.

Dexter mengembuskan napas kasar. Ia segera memberi kode pada Anna untuk mendekat dan memberikan Vierra pada babysitter tersebut. Ia kemudian berbalik badan menghadap putri tunggalnya.

Little Angel, Gavriel adalah bos Prospero,” terang Dexter berusaha sabar.

“Aku bukan Little Angel lagi!”

Liora melangkah dengan deru napasnya yang memburu oleh gelagak amarah. Ia benci selalu dipandang seperti bocah kecil dan kekangan proteksi terus-menerus oleh sang ayah. “Aku tahu siapa dia dan aku bisa mengatasinya. Mengapa kau tak pernah percaya padaku?”

“Ini bukan tentang kepercayaan.” Dexter membingkai sisi wajah putrinya dengan pandangannya yang nanar. “Dydy hanya ingin menjagamu.”

Liora menggerakkan kakinya mundur selangkah dengan tertawa getir. “Seperti kau menjagaku dari Alex dan membuat pria itu kecelakaan sampai kehilangan kelingkingnya? Seperti itukah kau menjagaku dengan melukai orang yang aku cintai?”

“Aku masih berbelas kasih dengan hanya menghilangkan kelingkingnya. Bajingan itu mempermainkan perasaanmu, Liora!” sentak Dexter.

“Dan bajingan itu adalah ayah dari cucumu!” balas Liora tak kalah keras dengan matanya yang seketika berkaca-kaca. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai bibir itu bergetar. Pantang baginya untuk menangis di depan sang ayah.

“Ya dan di mana bajingan itu sekarang, huh? Di mana pria yang selama ini kau bela itu?”

Pertanyaan itu berhasil memukul jantung Liora dengan telak. Lidah Liora seketika membeku, tak lagi dapat membalas perkataan ayahnya.

Dexter membuang napas kasar dan mengusap wajah, melihat penderitaan putrinya. Ia kembali mendekati sang anak dan mengusap lengan itu dengan lembut.

“Kau memiliki hati yang jernih seperti ibumu, Liora. Namun, hati itu pula yang membuatmu begitu naif.”

“Jadi kau berkata bahwa Mom juga terlalu naif dengan memilihmu sebagai suaminya?” Senyum Liora tertarik sinis.

“Aku memang pria yang buruk, tetapi aku hanya mencintai ibumu sampai ajal nanti.”

Dexter menjatuhkan tangannya dari kedua lengan sang anak lalu berjalan meninggalkan ruang tengah. Liora memperhatikan punggung lebar sang ayah yang perlahan mulai menghilang dari jarak pandanganya.

Liora lalu menjatuhkan diri di sofa panjang beledu dengan kesal. Ia menunduk menutup wajah.

Ia menyadari perkataannya terlalu kasar pada sang ayah. Namun, amarah seringkali merenggutnya.

Terkadang ia merindukan saat-saat masa kecilnya dahulu, ketika ia dapat berbagi tawa dan manja pada ayahnya. Masa di mana sang ayah tak membatasi pergaulannya dengan para pria dan melarangnya melakukan banyak hal.

Liora terlalu sering mendengar pertengkaran kedua orangtuanya karena sang ibu tak pernah sependapat dengan cara ayahnya memperlakukannya. Namun, sang ayah selalu memiliki cara untuk dapat melakukan apa yang dianggapnya benar.

Kepala Liora kemudian menegak, membuat ia kini dapat melihat berbagai barang mewah yang Gavriel kirimkan padanya beberapa hari ini. Tidak hanya itu, Gavriel juga melancarkan segala urusan bisnis Liora, seakan Liora tengah melaju di jalan tol.

Bibir Liora pun segera membentuk senyum sinis. Ia tak terkesan sama sekali dengan perlakuan pria itu.

“Kau pikir dengan melancarkan urusan bisnisku dan segala barang ini akan membuatku menyesal dan ingin bekerja sama denganmu?” gumam Liora sinis.

Liora dengan segera mengambil ponselnya dari saku rok dan menghubungi Daniel. Liora sadar bahwa ini adalah bentuk gertakan Gavriel, karena ia tahu dengan Gavriel mampu melancarkan segala urusan bisnisnya seperti ini, itu berarti Gavriel juga mampu menghambat bahkan mengacaukan bisnisnya.

Segala barang kiriman ini juga membuat harga diri Liora tersayat. Pria itu pikir ia dapat dibeli dengan barang-barang mewah ini?

“Saya akan mengirim kembali semua barang-barang dari chairman Anda ke kantor GStrom Company pagi ini juga. Saya tak akan pernah menyepakati kerja sama bisnis yang perusahaan Anda tawarkan. Jadi hentikan seluruh cara sampah ini!” sentak Liora ketika panggilan tersebut baru terangkat.

Ia lalu memutus panggilan telepon itu dan melemparkan ponselnya ke sofa. “Shit!” umpat Liora dengan mengusap wajah. Mengapa pagi ini terasa begitu memuakkan?

Namun, berselang beberapa hari setelah telepon itu pun, Gavriel tak menghentikan pengiriman barang itu sama sekali. Seakan perkataan Liora tak pernah sampai di telinga Daniel.

“Apa yang sebenarnya pria itu inginkan?” kesal Liora di meja kerjanya, setelah mendapatkan kabar bahwa salah satu tambangnya di Afrika Selatan secara tiba-tiba bersedia melakukan perpanjangan kontrak. Padahal sebelumnya, pemerintah setempat begitu kuat untuk menolak perpanjangan kontrak mereka.

“Kau sudah mendapatkan jadwal Gavriel Arzevio?” tanya Liora pada sang sekrektaris yang baru saja masuk atas izinnya.

Sekretaris wanita itu mengangguk. “Mr. Arvezio besok dijadwalkan berada di Denver. Ia mengadakan pesta di salah satu mansion-nya.”

Liora mengangguk. “Jadwalkan dan urus keperluanku untuk ke sana. Semua ini harus berakhir.”

...To Be Continued...

Denver? Pesta di mansion? Pembaca "Something Between Us" ngerasa familiar nggak? Wkwkw

Makasi banyak sudah baca sampai bab ini. Novel lain karya saltedcaramel:

- My Devil Bodyguard (orang tua Liora)

- Trapped By Obsession (Jake, sahabat ayah Liora)

- Something Between Us (anak Jake)

Yuk gabung di grup WA pembaca. Link grup WA, segala info dan visual novel, cek

di IG @saltedcaramely_

Comments (5)
goodnovel comment avatar
Elga
jjhhgjojfyfe
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
emg bakal luluh? 🤭
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
stay tuned 😘
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status