Chapter 6: Tough Offer?

Enjoy!

-----

Denver, Colorado-USA

Liora melangkah dengan dagu terangkat memasuki suasana pesta di salah satu mansion milik Arvezio. Pandangannya lurus membelah keramaian, meski ekor mata perak itu tak bisa lari dari pemandangan menjijikkan para tamu yang hadir.

Ia tak terkejut dan tidak pula berharap ini seperti layaknya pesta elegan pada umumnya yang biasa ia datangi. Meski pada awalnya ia sempat terkecoh dengan suasana berkelas dan musik opera, tetapi ketika ia memasuki mansion ini lebih dalam, pesta sesungguhnya baru terlihat. Ini lebih tepat dikatakan sebagai pesta seks.

Sepanjang langkah Liora, sepanjang itu pula ia melihat para tamu yang saling bercinta tanpa mengenal tempat. Di tengah mereka yang berpakaian gaun dan tuxedo mahal, beberapa di antaranya ada yang mengenakan seragam berpangkat dan beberapa yang lainnya juga Liora kenal sebagai politisi terkenal.

Pemandangan itu semakin lengkap dengan orang-orang yang sibuk menghisap kokain dari nampan-nampan pelayan. Bahkan para pelayan wanita di sini hanya mengenakan rok yang tak benar-benar menutupi bokong mereka tanpa pakaian di atasnya. Begitu pula dengan para pelayan pria yang hanya mengenakan celana dalam.

Namun, pemandangan itu segera berakhir ketika Liora telah mencapai sebuah pintu yang dijaga ketat oleh para serupa bodyguard. Melihat penjagaan ini, sudah dipastikan bahwa Gavriel berada di balik pintu tersebut.

“Aku harus bertemu dengan bos kalian.”

“Maaf, Miss. Mr. Gavriel tak bisa ditemui saat ini,” jawab salah seorang pria berjas hitam.

“Katakan padanya bahwa Liora Quinton ingin menemuinya sekarang juga,” tegas Liora seraya melangkah semakin mendekat, tetapi kedua bodyguard di depan pintu segera mencegahnya.

“Kubilang katakan pada bosmu itu bahwa Liora Quinton ingin menemuinya sekarang!” geram Liora.

“Dan aku sudah bilang Mr. Gavriel tak bisa ditemui saat ini!” Bodyguard berkepala botak itu mengeraskan rahangnya.

“Kalau begitu aku yang akan menemui di dalam.”

Kesabaran Liora rasanya telah menipis. Ia sudah muak dengan pria bernama Gavriel itu. Ia rela terbang jauh kemari, lalu melewati pemandangan menjijikkan sepanjang mansion, dan masih harus melalui perdebatan tak penting dengan para bodyguard ini?

“Jangan membuat kami membuat riasan wajah Anda berantakan karena pukulan kami.”

Liora seketik terkekeh geli. “Kau kira bisa mendaratkan pukulan padaku?” Senyum Liora tersungging remeh.

Bodyguard berkepala botak itu menggeram kesal. “Menjauhlah dari sini, Miss!” Ia mencengkeram lengan Liora dan mendorongnya mundur dengan kasar.

Namun, sebelum bodyguard berjas hitam itu menghempaskan lengan Liora, wanita itu lebih dahulu meraih pergelangan tangan di sana dan memutarnya dengan cepat, hingga bodyguard itu mengerang kesakitan. Belum sempat memberikan perlawanan, Liora dengan gesit menghantamkan lengan bawah pria itu ke siku dinding hingga suara retakan terdengar bersama erangan yang lebih nyaring. Pria itu pun terjatuh dengan memegang tangannya.

Bodyguard lain segera menarik Liora ketika wanita itu hendak menghajar kawannya. Ia tak menyangka seorang berwajah cantik dan anggun itu mampu melakukan tindakan tersebut. Terlalu banyak pria yang terkecoh, tetapi bukanlah keturunan seorang Quinton, jika tak bisa bela diri dan menggunakan pistol dengan baik.

“Biarkan aku masuk atau aku akan membuat patah tulang seperti kawanmu itu!” seru Liora seraya melepaskan cengkeraman tangan bodyguard itu.

Keduanya sudah siap saling berkelahi di depan pintu itu, sebelum akhirnya pintu terbuka dan menampakkan sosok Gavriel. Wajah pria itu begitu santai di tengah napas Liora yang memburu karena amarah. Mata keduanya segera bertemu.

"Miss Quinton, Cara Mia (Sayangku). Apa yang membuatmu datang jauh-jauh kemari dengan kemarahan? Apakah mereka baru saja berlaku tak sopan padamu?" tanya Gavriel lembut, penuh empati dengan gayanya yang khas seraya mengusap kedua lengan Liora.

Bibir Liora seketika terbuka tak percaya. Bagaimana pria itu dapat begitu tenang tanpa dosa dan menyapanya dengan panggilan seperti itu?

Sementara Gavriel melirik sesaat pada satu orangnya yang memegang tangan dengan kesakitan. Ia tak menyangka Liora benar-benar mampu membuat made guy-nya kewalahan. Mengesankan.

Liora dengan cepat menepis kedua tangan Gavriel dan tersenyum sinis. "Kita perlu bicara, Mr. Arvezio."

"Tentu saja. Aku akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk berbicara denganmu. Namun, sebelum itu, aku harap kau mau bersabar menunggu, karena aku masih memiliki tamu di dalam. Maafkan aku, jika kita membuat janji terlebih dahulu, aku pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi."

Liora semakin tak menyangka, bahasa yang Gavriel ucapkan semakin santai, seakan menghilangkan jarak formalitas di antara mereka sebelumnya. Pria itu pikir siapa?

Pria itu ingin menghilangkan kesan formal dalam bahasa mereka? Baiklah! Kalau begitu ia bebas berkata tak sopan.

"Jika kau tak menggangguku dengan segala barang kirimanmu itu dan menyepelekan pesan yang sudah aku sampaikan kepada orangmu, aku juga pastikan tidak akan kemari! Kau harus berhenti, Mr. Arvezio!" tegas Liora tajam. Jemarinya terkepal erat.

Gavriel tersenyum tenang mendengar perkataan penuh kemarahan itu. "Aku mengerti." Ia mengangguk. Baginya, Liora semakin menggemaskan dengan kemarahannya itu.

Gavriel lalu menoleh pada satu made guy yang berjaga di sampingnya. "Antarkan Miss Quinton ke meeting room dan pastikan dia nyaman selama menunggu."

"Si (Ya), Don Gavriel." Made guy berkepala plontos itu mengangguk hormat dan langsung membimbing Liora pada koridor di sayap kiri.

Namun, ketika Liora hendak melangkah, matanya melihat celah ruang di antara lengan Gavriel dan bingkai pintu yang membuat manik itu melebar. Ia melihat pria yang ia kenal di dalam sana dengan seorang wanita yang butuh beberapa saat untuk Liora cerna, dan berakhir dengan ketidakyakinan Liora, karena dandanan wanita itu sangat berbeda dengan yang ia kenal.

Jika ia tak salah menduga, wanita itu di sana sekilas terlihat seperti anak dari kawan ayahnya, Starley. Hubungan keduanya sudah terjalin layaknya saudara sepupu sejak kecil.

‘Jika itu benar Starley, lalu untuk apa Starley dan Zev bertemu dengan Gavriel? Bagaimana mereka dapat saling mengenal?’ batin Liora. Ia kira Starley sedang berada di safe house seperti yang ayahnya ceritakan, mengingat permasalahan rumit yang sedang dialami kekasih dan adiknya itu.

Starley dan Zev bersitatap dengan Liora sepersekian detik, sebelum Liora kemudian hilang bersama made guy Gavriel menuju meeting room. Sedang Gavriel yang sempat melihat tatapan terkejut Liora tersebut, menyimpan tanya dalam benak seraya menoleh pada dua tamunya di dalam. Ia kemudian kembali menatap punggung Liora yang sudah berjalan menjauh dan membuat garis bibirnya menggoreskan senyum yang serupa seringai. 

*****

Seperti yang Gavriel janjikan, beberapa waktu kemudian pria itu menemui Liora yang sudah menunggunya di sebuah meeting room. Wanita bergaun pendek warna merah itu tengah berdiri di dekat tirai dengan lirikan tajam ke arahnya.

Liora dapat melihat langkah tenang, penuh wibawa sekaligus kuasa seorang Gavriel di tengah pakaian berkaus hitam dengan bagian kerah tinggi, berpadukan jas senada yang membungkus tubuh pria itu dengan sempurna. Berat untuk Liora mengakui bahwa Gavriel memang mafia yang sialnya begitu tampan.  

“Kau sangat cantik hari ini. Terima kasih untuk beberapa kejutan manismu. Kau membuat pesta di sini tak lagi membosankan untukku,” ujar Gavriel dengan gayanya yang tenang dan senyum di bibir.

Gavriel berhenti tepat di depan Liora. Jarak itu terlalu dekat untuk orang yang sama-sama asing seperti mereka. Namun, Gavriel terlihat begitu nyaman, berbeda dengan Liora yang menahan diri untuk melangkah mundur, agar tak terkesan terintimidasi oleh kehadiran pria itu. Meski sejujurnya ia lebih terganggu dengan aroma tubuh pria itu yang luar biasa nikmat.

Namun, Liora kemudian terkekeh rendah seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada, membuat bahu indahnya terlihat tegap dari potongan off shoulder dress berwarna merah tersebut. “Maksudmu sudah membuat orangmu patah tulang? Aku mengerti. Para pria memang banyak menyelepekan kemampuan seorang perempuan.” Seketika pikiran Liora terlintas pada sang ayah yang tak pernah memberikan ia kepercayaan dengan segala kekangannya.

Gavriel semakin melebarkan senyumnya. “Hmm … terdengar seperti suara hatimu. Siapa pria itu?”

Liora segera membuang wajah. Terlebih ia benci dengan gaya pria itu tersenyum. Senyum itu terlalu menawan untuk seorang kriminal licik.

Mata perak Liora pun melihat pada tiga kursi yang berjajar di bagian paling pusat meja rapat berleter U di sana. Apakah itu berarti Gavriel bukan satu-satunya yang menjabat posisi tertinggi di Prospero?

“Saya tahu Anda sudah memprediksikan kehadiran Saya, Mr. Arvezio.” Nada suara Liora berubah tegas, bersama bahasa yang ia gunakan. Ia tak ingin membuang waktu pada tujuan awal ia kemari.

Liora kemudian mengembalikan pandangan pada Gavriel. Ia harus sedikit mendongak untuk membuat mata mereka bertemu, meski sejujurnya ia benci bertatapan dengan mata Gavriel. Mata biru di sana terlalu indah, sampai terasa seakan memanipulasinya.

“Mendengarmu memanggilku seperti itu membuatku juga ingin memanggilmu, Mrs. Arvezio,” goda Gavriel. Ia ingin melihat menggemaskannya wajah itu lagi ketika marah.

Mendengar itu, seketika wajah Liora pun memerah semakin kesal. Pria itu pikir semua ini adalah lelucon?

Liora menghela napas, mencoba mengatur kesabarannya. “Anda salah jika mengira segala perbuatan Anda membuat saya berubah pikiran. Saya tak bodoh untuk tak mengenali cara Anda menggertak, Mr. Arvezio, dan jawaban saya tetap tidak,” tutur Liora yang telah mengembalikan tatapan dingin dan datar khasnya.

Liora kemudian melangkah menjauh. Memilih duduk di kursi dekat jajaran tiga kursi khusus petinggi. Mata sebiru sapphire Gavriel mengekori pergerakan anggun wanita itu dan membuatnya turut mengayunkan kaki dengan memasukkan kedua tangan pada celana panjang berwarna hitamnya.

Sejak awal ia memang ingin mengetahui bagaimana Liora merespon gertakan halusnya dan tanpa ia tahu mengapa, ia menemukan dirinya senang mendapati Liora meresponnya seperti ini. Ternyata seorang Liora memang secerdas dan seberani itu. Wanita itu merenggut perhatiannya.

Gavriel menarik mundur satu kursi terdekat Liora, lalu menumpukan kedua tangan di meja seraya menunduk, menyatukan kembali mata mereka. “Aku meragukan bahwa kau akan tetap berkata hal yang sama jika aku mengatakan tawaran yang satu ini.” Senyum di bibir Gavriel berubah menjadi seringai yang seketika membawa perasaan Liora waspada.

“Alex, right?” sebut Gavriel yang seketika membuat pupil Liora melebar. Seringai Gavriel pun kian melebar. “Kau telah mencarinya selama ini, bukan? Bagaimana jika aku menemukannya untukmu? Sebagai gantinya kau menyetujui penawaran bisnis kita.”

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca sampai bab ini. Novel lain karya saltedcaramel:

- My Devil Bodyguard (orang tua Liora)

- Trapped By Obsession (Jake, sahabat ayah Liora)

- Something Between Us (anak Jake)

Yuk gabung di grup WA pembaca. Link grup WA, segala info dan visual novel, cek

di IG @saltedcaramely_

Comments (4)
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
😘😘😘😘😘😘😘
goodnovel comment avatar
penikmatkopi
lagi lagi
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
hmmm 🤔🤔🤔
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status