BEHIND
BEHIND
Author: Ira Yusran
Grace

"Grace, tunggu!"

Kuhentikan langkah dan segera menoleh pada sumber suara. Lagi-lagi, wanita yang sama.

"Ada apa?"

"Bisakah kaupertimbangkan lagi tawaranku tempo hari?" tanyanya yang telah mendekat, sembari mengatur napas.

Terang saja, bisa jadi dari ujung jalan ia membuntutiku sambil berlarian kecil.

"Ah, tidak, Deasy. Tak ada alasan bagiku untuk mempertimbangkannya. Masih banyak, kok, benih model yang lebih mumpuni."

"Ayolah, Grace, kaki jenjang dan tulang selangkamu itu pasti akan sangat begitu menggoda."

Kulangkahkan kaki hendak menjauhi, tapi tekad kembali membawanya berlarian kecil menyamakan langkah. Tingginya yang hanya sepertiga dari tinggi badanku, membuatku sedikit geli. Apalagi rambutnya yang kribo sering mengenai ujung lengan.

"Aku tak tertarik menjadi bagian dalam dunia entertain, Deasy."

"Kau hanya perlu berpose, Grace, lalu pundi-pundi uang akan mengalir begitu saja mengisi hari-harimu."

"Kautahu, aku tak butuh banyak uang. Aku hanya butuh bahagia dengan hidupku, agar kecantikanku tak mudah luntur," ujarku yang menarik simpul senyum.

"Apa salahnya bahagia karena banyak uang?"

"Apa salahnya jika aku menolak penawaranmu?"

Kini, ia menarik lenganku dengan kuat, lalu mendudukkanku di kursi. "Kesempatan tak datang dua kali, Grace!"

"Kesempatan apa maksudmu? Kesempatan untuk terlihat murahan di majalah? Berpose panas ala adegan ranjang sembari memamerkan lekuk tubuh? Atau kesempatan untuk selalu mendapat komisi tinggi saat ada seorang pengusaha yang hendak membayar jasaku untuk sekedar menuntaskan hasratnya?"

Kini, wanita itu membeliak tak percaya. "Bisakah kauucapkan itu dengan suara rendah? Banyak orang di sini!"

"Kau yang memaksaku untuk bersuara keras, Deasy!"

"Baiklah, lupakan! Penawaranku berakhir di sini. Jika saja duniamu telah terbalik, semua uangmu telah habis terbakar angkuh, aku tak akan sudi memberimu kesempatan ini!" Matanya menatapku tajam, lalu berdecak kesal sebelum akhirnya mengentakkan kaki dan melenggang pergi.

Bahkan dunia telah terbalik sejak satu abad yang lalu, Deasy. Kau tak akan pernah tahu rasanya.

Kembali, kulangkahkan kaki mengarungi kota. Mencari segala macam sudut gambar terbaru dengan kamera yang setia menggantung di leher. Topi berwarna jambon pun tak luput dari aksesori yang kugunakan.

Menjadi fotografer di kota sebesar ini, memanglah bukan hal yang mudah. Selain karena banyaknya pesaing, pun karena tanpa kontrak kerja yang mengikat. Beberapa hasil bidikan, terkadang hanya dibeli dengan harga yang sama untuk sebuah sandwich isi.

Beruntung, aku tak terlalu kesusahan untuk masalah keuangan. Hidup selama hampir satu abad, membuatku punya banyak tabungan untuk masa-masa sulit. Selain dari hasil keringat, pundi-pundi uang itu juga berasal dari beberapa pria yang pernah kuhisap gairahnya.

Sebuah toko roti mengalihkan perhatian, saat di depannya banyak warga yang berbondong-bondong mengantre untuk mendapat roti hangat yang nikmat. Seorang pria tua lain tengah mengais kotak sampah di samping toko.

Penampilannya yang kumuh, bahkan terlihat tak terawat serta bau yang menyengat menambah kontras yang sangat memilukan. Segera, kutangkap gambar dari beberapa sudut untuk bidikan terbaik. Malam penuh pesona memanglah waktu yang tepat untuk mencari gambar-gambar yang menyentuh nurani.

Sayangnya, manusia kini tak banyak yang punya hati suci nan bersih. Kuderap langkah perlahan, mendekati sang pria lusuh.

"Pak, kau mau makan?"

Sontak, pencariannya terhenti. Dikeluarkannya tangan dan wajah dari dalam tempat sampah, lalu menatapku tajam. "Iya, aku lapar."

Kusunggingkan senyum, lalu menggamit dan membawanya masuk ke toko kue. "Aku tak punya uang, Nona."

"Aku yang traktir." Entah binar dari mana yang dipetik dan diletakkan dalam kedua matanya saat kukatakan hal itu, yang pasti ada sesuatu yang menghangat di lubuk hati.

Kuambilkan nampan dan memilihkan beberapa roti untuknya. Setelah membayar dan memberikan bungkusan penuh roti, lekas kuderap langkah tergesa sebelum ia kian menamatkan pandangan pada wajah.

Bukan tanpa sebab, hidup yang kujalani mungkin akan sangat lama. Usiaku tak ada batasnya, itulah sebabnya sebisa mungkin orang-orang tak mengenalku dengan baik. Setelah sepuluh tahun, maka aku akan segera pindah dari satu kota ke kota yang lain. Membuat identitas baru, lingkungan, bahkan sikap dan sifat yang berbeda pula.

Kecantikan yang abadi, membuatku mau tak mau menjalani kehidupan terkutuk ini. Selain aura kecantikan yang kudapat secara ilegal, pun makanan juga. Memakan sandwich isi, meski harus menghabiskan sepuluh porsi tak pernah mampu membuatku merasa kenyang.

Untungnya, aku hanya butuh asupan setidaknya tiga hari sekali. Jika aku harus mencukupi asupan selayaknya manusia biasa, sudah pasti dunia akan heboh dengan kehadiran monster cantik.

Kualihkan pandangan ke arah belakang. Kurasa, seseorang tengah membuntutiku sejak tadi. Kulangkahkan jejak tergesa, menyusuri jalanan ramai tengah kota, menghindari rute yang tampak lengang.

Sayangnya, secepat apa pun aku melangkah dan sejauh mana menghindar, sinyal bahaya tak kunjung menghilang.

"Duh, lewat mana, nih," ucapku cemas.

Melewati jalanan tak sesuai rute arah pulang, membuatku kian tersesat. Di depan sana terlihat sebuah taman yang temaram, sekumpulan muda-mudi mungkin tengah asyik memandang bintang. Lekas kudekati, meski tak ada cahaya lampu penerangan.

"Permisi, sepertinya aku tersesat. Bisa tunjukkan padaku Boulevard st.?"

Mereka memandangku lekat bersamaan. Tampaknya, tak ada pemudi di antara mereka. Aroma alkohol pun tercium tak kalah hebatnya.

"Sesuai keinginan kalian, Guys! Mari kita berpesta!"

Kualihkan pandangan pada sosok pria yang menyeru dari arah belakang. Rupanya, mereka satu komplotan. Kurang ajar!

"Kau tersesat, Nona? Kau warga baru di sini, kan?"

Pria putih bertubuh tegap penuh tato itu menyeringai, menampilkan deretan gigi serta bau mulut yang menyeruak ke rongga penciuman. Dasar pemabuk ulung!

"Aku lebih menakutkan dari yang kalian kira," ucapku datar.

"Ohoo, rupanya gadis berponi ini lebih berani, Guys. Tujuh lawan satu, Cantik! Jackpot!" seru pria lain yang mulai mendekat.

Sementara mereka memandangi sekujur tubuh, kuperhatikan tiap sisi bangunan di sekitar. Berharap, tak akan ada kamera pengintai, atau bahkan saksi mata.

"Apa yang kaucari, Nona? Kamera?"

Semuanya terbahak bersamaan, membuatku kian mual menghidu bau alkohol yang menguar pekat.

"Menjijikkan!"

Sontak, mereka berdiri mengelilingiku dalam sekejap. Kini, satu per satu wajah mereka telah mampu kulihat. Kuulas senyum tercantik, memanjakan birahi mereka.

"Lihatlah, kau lebih nakal dari yang kami kira! Seret dia ke gudang!"

"Tak perlu. Aku bisa jalan sendiri jika hanya ke gudang. Sebaiknya kalian bersiap."

Lagi, mereka terbahak kian lantang. Mengapitku dari berbagai arah. Salah satu tangan terasa di belahan daging kenyal belakang, sedang yang satu lagi terasa menari-nari di punggung dan pinggang.

Aku meludah, tepat setelah memasuki gudang yang mereka sebut. Dua di antaranya menutup pintu dan memutar anak kunci, sedang yang lain mulai meninggikan birahi. Kuhidu aroma birahi yang menguar, sungguh besar dan pekat. Begitu lezat.

Kulihat mereka semua telah bersiap untuk membuka celana masing-masing, saat kusulut sebatang rokok yang berada di meja tak jauh dari tempatku berdiri.

"Lakukan yang kalian mau. Tapi setelah sebatang rokok ini habis, maka bersiaplah untuk sebuah kenikmatan yang lain."

Mereka bersorak dan bersiul menanggapi ucapanku. Tanpa menunggu, mereka mulai menjamah, bermain-main dengan gelora nafsu yang membara.

Aku masih menyeringai sembari menghisap lintingan tembakau terbalut nikotin, saat pria pertama mulai rakus pada bagian tengkuk. Aku melenguh sebentar, lalu tanpa gerakan berarti kuhisap semua energi yang menguar pekat secara pelan. Begitu pula pada para pria lain yang bergantian menjamahku dengan gairah besar.

Sedetik setelah rokok telah habis, aku menyeringai. Lantas kupejam mata sembari mengisap banyaknya energi dari semua pria yang hendak menggagahiku secara perkasa. Nyatanya, mereka langsung terkulai setelah kehabisan energi darah. Dalam nafsu yang membara, mereka pun menderita.

Kini, tinggal satu pria yang tak ingin menjamahku bersamaan. Ia terlihat duduk di pojok gudang. Dipeluknya lutut erat. Mungkin hendak menyembunyikan keperkasaannya yang menciut ditelan ketakutan. Kedekati ia pelan, lalu menunduk, memperlihatkan lekuk tubuh agar ia tak lagi diperam gelisah.

"Beri tahu aku, di mana Boulevard st.?" Ia menunjuk ke arah utara, kemudian kuulas senyum sebagai tanda terima kasih. "Kuberi kau dua pilihan. Aku yang akan memuaskanmu atau kau yang akan memuaskanku?"

Lantas, bau pesing menguar, membasahi lantai bahkan bagian bawah sepatu baruku. Kuembuskan napas setelah berdecak kesal, lalu menghabiskan sisa kudapan terakhir hingga tanpa jejak.

Tak perlu waktu lama, ketujuh pria asing itu telah terkapar tak berdaya tanpa busana. Lekas kutinggalkan tempat kejadian perkara, sebelum ada yang melihat. Kini, hingga lima hari ke depan mungkin aku tak akan lagi mencari asupan. Aku begitu kekenyangan.

Ira Yusran

Halo, Readers 💚 silakan beri aku kritik dan saran ya biar cerita si Grace bisa semangat ku-update. Jan lupa, tinggalin lima bintang 💚 Salam Hisap 💚

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status