Share

Menyusun Rencana

 Suara mobil mas Yoga memasuki bagasi rumah, aku segera membukakan pintu. Akhirnya dia pulang juga.

 Mas Yoga memasuki rumah, tapi wajahnya seperti memendam kemarahan. Aku tau, mungkin dia marah setelah kejadian tadi.

 "Mas marah padaku?"

 "Iya, mas sangat marah Riana!"

 "Seharusnya aku yang marah, kamu bilang ibu yang memaksa menikahi perempuan itu, nyatanya apa? Semua itu karena kamu tergoda akan rayuannya?"

 "Ya, aku memang tergoda akan rayuannya. Tapi ibu juga merestui pernikahan kami! Karena dia ingin secepatnya punya cucu"

 "Sekarang aku telah hamil, aku bisa memberikan cucu untuk ibu dan anak untukmu, aku mau kamu tinggalkan dia!"

 "Tidak semudah itu Riana, dia juga hamil, di perutnya ada calon anak ku juga!"

 "Lalu mas mau beristri dua selamanya?"

 "Iya, mau bagaimana lagi? Semua ini sudah terlanjur!"

 "Tapi aku tidak sudi hidup seperti ini!"

 "Mas tolong mengerti lah Riana, mas akan mencoba berlaku adil pada kalian berdua!" Mendengar kata-kata adil aku menyeringai geli.

 "Adil apanya mas? Apa dengan begini kamu pikir adil? Seharusnya kamu pulang kerja langsung kesini, nyatanya apa?"

 "Hanya untuk kali ini saja, semua ini mas lakukan karena dia masih baru disini"

 "Baik, sekarang tentukan hari untuk kami berdua. Kapan kamu denganku? dan kapan kamu dengannya!"

 "Mas akan di rumah Rindu, senin sampai rabu. Sedangkan denganmu kamis sampai minggu. Apa kamu puas?"

 Mendengar pembagian harinya aku tersenyum puas, berarti lebih banyak waktu denganku daripada perempuan itu.

 "Baiklah, aku setuju. Tapi ketika kamu denganku, jangan sekali-kali bertemu dengan perempuan itu. Aku tidak suka!"

 "Tapi mas mohon, jaga sikapmu kedepannya Riana, jangan suka menganiaya Rindu. Mas tidak mau sesuatu terjadi pada kandungannya!"

 "Iya, mas. Aku minta maaf"

 "Mas mau Riana yang dulu, yang lembut dan penyayang. Mas benar-benar tak menyangka kamu bisa berubah seperti ini!"

 "Semua itu karena aku tidak sudi di duakan mas"

 "Maafkan mas ya sayang?"

 "Ya"

 Dia memelukku erat, mencium keningku. Menatap mataku yang jelas sekali ada kilatan kecemburuan padanya. Aku tak bisa menyembunyikan perasaan itu. 

 "Mas akan selalu menomor satukan kamu sayang"

 Aku tak menolak saat mas Yoga menggendongku ke kamar. Meminta haknya sebagai suamiku. Hasrat yang juga bergelora di dadaku tumpah ruah mengikuti irama kepuasan yang dia suguhkan. Aku mencintainya. Walau apapun yang telah dia lakukan padaku. 

 Tapi rasa itu tak bisa ku tepis, aku mengaguminya semenjak dulu. Saat pertama sekali dia membawaku ke rumahnya. Saat dia menjadikan aku ratu di rumahnya. Walau sekarang bukan hanya aku di hatinya.

 Paginya, aku terbangun. Lalu mandi dan sholat subuh. Membangunkan dia yang masih terlelap.

 "Mas, bangun. Sholat dulu, keburu siang nanti!"

 Dia menggeliat bangun. Mengucek kedua matanya. Setelah itu aku keluar, menuju dapur. Membuatkan sarapan untuknya. Setelah sarapan ku hidangkan di meja makan, aku menuju kamar.

 Dia sedang bersiap untuk ke kantor. Baju-bajunya sudah aku setrika sejak kemaren, jadi dia tinggal memilih apa yang mau dia pakai.

 "Mas, sarapan sudah siap. Ayo sarapan dulu"

 "Tunggu bentar sayang, mas pake kaus kaki dulu"

 "Ya mas"

 Aku beranjak kembali ke ruang makan duduk disana menunggu suamiku. 

 "Ma, bikin sarapan apa?"

 "Nasi goreng mas, ayo duduk!"

 Mas Yoga duduk, dan menikmati sarapannya.

 "Nanti siang, mas jemput kamu di rumah ya. Mas mau ngajakin kamu ke dokter. Periksa kandungan"

 "Siang ini mas? Bukannya mas kerja"

 "Mas izin sebentar nanti. Mas sudah bikin janji sama dokter. Jadi tidak akan lama nanti. Kamu siap-siap ya, setelah mas datang kita langsung berangkat!"

 "Baiklah mas"

 "Kalau begitu, mas pergi kerja dulu ya. Hati-hati di rumah. Kamu segera sarapan. Jangan di tunda-tunda" 

 Dia mencium kening dan kedua pipiku, aku menyalaminya dan mencium tangannya. Setelah itu dia pergi bekerja.

 Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Pergi ke dokter nanti siang, masih banyak waktu. Aku kepikiran tentang perempuan itu. Sepertinya, aku harus siap di madu untuk selamanya. Kepalaku pusing. Membayangkan hidup seperti ini. Apakah aku sanggup atau tidak.

 Aku beranjak ke lemari, sepertinya mulai sekarang aku harus menyelamatkan harta benda milikku. Apa yang aku punya sekarang tidak boleh jatuh ke tangan perempuan itu. Untuk seterusnya aku akan meminta mas Yoga berlaku adil padaku. Bukan hanya masalah waktu tapi juga materi. Dia harus adil. 

 Aku mencari sertifikat rumah, BPKB mobilku dan mobil suamiku, deposito, tabunganku serta perhiasan yang aku miliki. Semua atas namaku. Baik sertifikat, mobil ataupun deposito dan tabungan. Jadi mas Yoga tidak akan bisa berbuat macam-macam.

 Yang tidak aku pegang cuma kartu tabungan suamiku. Ya, dia punya tabungan sendiri. Tabungan itu berasal dari uang lembur dan bonus yang selama ini dia dapatkan. Aku tak masalah sedikitpun, selama ini dengan uang itu mungkin dia membiayai hidup perempuan itu. 

 Tapi, mulai sekarang aku akan meminta itu dibagi denganku. Aku rasa, rumah yang dia belikan untuk perempuan itu uangnya dia ambil dari sana. 

 Kali ini akan aku biarkan, tapi untuk seterusnya. Aku akan memantau apapun yang dia berikan pada perempuan itu. Semuanya harus adil.

 Tapi aku tidak mau, harta benda yang aku miliki sebelum kehadiran perempuan itu di ganggu gugat. Semua itu adalah hak milikku. Aku tak akan sudi berbagi.

*****

Aku sudah siap berkemas, memakai dress berwarna maron. Berlengan pendek dan menjuntai setinggi lututku. Rambut ku terurai sepanjang bahu. Hiasan make up tipis menghiasi wajahku.

 Sebentar lagi seharusnya suamiku sampai. Aku melihat jam di dinding. Jam dua belas siang. 

 Bunyi klakson di luar pagar, berarti suamiku sudah datang. Aku segera menyambar tas kecil dan handphone ku, mengunci pintu. Dan keluar pagar untuk menaiki mobil suamiku.

 Saat aku membuka pintu depan, dan naik. Aku tiba-tiba mendengar suara sapaan dari arah belakang.

 "Siang, mbak!"

 Sontak aku menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya aku saat melihat perempuan itu duduk dengan manis di bangku belakang. 

 "Apa-apaan ini mas? Kenapa mengajak dia?" Emosiku seakan naik ke ubun-ubun melihat perempuan itu.

 "Sekalian aja, ma. Kalian kan sama-sama hamil. Jadi periksa sekalian saja. Mas tidak perlu repot-repot dua kali ke dokter untuk menemani kalian"

 "Tapi mas, mau di taruh dimana mukaku nanti? Jalan beriringan dengan perempuan ini!"

 "Sudahlah mbak, nggak baik membantah perkataan suami. Lagian apa salahnya sih kita barengan periksa kandungan? Kan kita sama-sama istrinya mas Yoga?"

 "Ya, jelas saja berbeda. Aku istri sahnya mas Yoga secara hukum dan agama. Sedangkan kamu cuma istri siri, yang tidak terlalu penting!"

 "Sudah Rania, mas nggak mau dengar kalian bertengkar lagi! Ingat peringatan mas Rania!"

 "Aku benci kamu mas!" Aku menutup pintu mobil dengan sangat keras. Duduk menghadap ke depan. Rasanya netra ku memanas. Aku tak mampu menahan tangis. Aku benci perlakuan suamiku. 

 Seharusnya dia hanya menemaniku saja sekarang. Untuk pertama kali dia akan menemaniku periksa kandungan. Tapi malah mengajak perempuan menyebalkan itu. Rasanya aku tak kuat menahan emosi.

 Tapi aku sedikit takut akan ancaman mas Yoga, aku takut dia bertindak nekat karena aku selalu bertengkar dengan perempuan itu. Akhirnya aku hanya diam sepanjang jalan. 

 Sesekali kulihat kebelakang melalui kaca spion, perempuan itu duduk dengan manis tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku benci melihatnya.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Risma
kok gw ikut nyesek ya bacanyaūü•≤
goodnovel comment avatar
Loanita Theresia
penasaran kelanjutan nya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status