Share

HOPELESS ROMANTIC
HOPELESS ROMANTIC
Author: Kumara

SANG PUTERA MAHKOTA

Hujan yang sudah seminggu lebih kerap mengguyur kota Jakarta membuat suhu udara lebih dingin dari biasanya. Awan gelap masih merajai cakrawala, tampaknya hujan disertai petir akan segera turun lagi seperti semalam.

Seorang gadis bertubuh ramping keluar dari sebuah kafe dengan tangan kiri memegang sebuah cangkir kopi hangat sedang tangan kanannya masih erat menggenggam ponsel pintar yang menempel pada daun telinga. Angin menerbangkan ujung anak rambutnya yang mencuat dari ikatan ekor kuda. Sebentar dia rekatkan jaket kelabu yang menutupi tubuh mungilnya.

“Iya ... iya, ini aku udah di jalan, kok! Sebentar lagi juga aku sampe!” pungkasnya pada si penelepon.

“Buruan dong, Bel! Kamu tau kan kalau hari ini tuh bos kita bakal datang?! Bisa-bisanya telat!” Terdengar omelan dari ujung panggilan.

“Bos? Bos siapa?!” kening gadis bernama Bella itu mengerut, sesaat dia mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang dia lupakan.

“Tuh kan! Udah aku duga, pasti kamu lupa lagi! Anaknya bos kita kan bakal datang hari ini dari Turki! Yusuf! Yusuf!”

Kaki kanan Bella tepat berhenti di ujung bahu jalan, matanya yang dibingkai kaca mata rabun jauh terbelalak. Sebuah ingatan dari rapat minggu lalu mendadak berputar di kepalanya, hari ini anak sulung direktur majalah mode tempat Bella bekerja memang akan datang!

Tepat saat itu sebuah taksi berhenti di dekat bahu jalan, di depan Bella.

“Bel?! Bella?! Kamu dengar aku, kan?!” Si penelepon bertanya lagi.

“Gila! Aku lupa banget! Bentar, ini jam berapa?!” Bella melirik jam tangan kecil di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan hampir pukul 10. “Dia belum datang, kan?! Aku tutup teleponnya sekarang!”

Tanpa berpikir panjang, Bella bergegas menutup panggilan itu kemudian cepat-cepat membuka pintu taksi yang seolah telah ditakdirkan untuknya.

“Pak! Tolong ngebut, Pak!” serunya kepada sang sopir.

Beberapa waktu lalu saat rapat direksi dengan para atasan, memang diumumkan bahwa Yusuf yang selama ini menetap di Turki akan datang untuk mengecek perusahaan milik ayahnya yang ada di Jakarta, dan sebagai seorang editor baru, tentu Bella semestinya berada di kantor saat ini untuk ikut menyambut sang putera mahkota dengan karpet merah.

Untuk berada di posisinya sekarang jelas bukan perkara mudah, Bella masih bisa mengingat jelas segala perjuangannya untuk dapat membuktikan diri, dengan segala drama rivalitas yang menyita energi dan kadang membuatnya tak bisa tidur bermalam-malam. Akan sangat lucu bila gara-gara persoalan sepele ini dia akan diturunkan dari jabatannya sebagai editor. Terlebih sekarang dia bekerja untuk majalah GLAM, majalah mode nomor satu di Asia yang telah memiliki banyak cabang di berbagai negara mulai dari Eropa sampai Amerika, Bella tak bisa melakukan kesalahan sedikit pun.

Selama di dalam taksi, Bella terus mengecek jam tangan yang seolah tengah memburunya. Bella bahkan tak pernah tahu seperti apa rupa dan karakter Yusuf, tapi menurut pengakuan beberapa karyawan yang pernah ditugaskan ke Istanbul, Yusuf bukan pribadi yang mudah.

Pria yang katanya berusia akhir 20-an itu berdarah campuran, ibunya asli Indonesia sedang ayahnya yang juga merupakan bos besar Bella adalah pria asli Turki. Keluarga mereka telah bertahun-tahun mewarisi perusahaan yang bergerak di bidang mode dan fashion.

Namun, meski keluarga itu begitu terkenal dan berada, sampai saat ini Bella belum pernah bertemu langsung dengan istri sang direktur, ibu Yusuf, wanita itu masih menjadi misteri. Hampir tak pernah ada karyawan yang membicarakannya.

***

Suasana kantor majalah GLAM berbeda dari biasanya, pagi-pagi yang lazim diisi dengan sapa dan senda gurau dibarengi gosip terhangat kini tak terlihat, berganti dengan kegiatan merapikan meja kerja masing-masing serta mengecek penampilan masing-masing.

Seorang karyawan perempuan muda terlihat berulang kali memastikan rambutnya telah disisir rapi sambil sesekali mengecek jam dinding. Kegelisahannya yang terlihat jelas mengundang perhatian seorang karyawan laki-laki yang justru tampak santai menyesap kopinya.

“Tenang aja kali, By. Sesangar-sangarnya Yusuf, nggak bakal kali dia makan orang,” celetuk pemuda tinggi berkulit pucat dengan name-tag bertuliskan Taufan di dada kiri kemeja putihnya.

Gadis bernama Ruby itu menatap balik dengan tajam, tanda tak senang dengan sikap sepele Taufan. “Bukan soal Yusuf! Kamu nggak sadar?! Bella belum datang juga!” sungutnya.

Barulah saat itu Taufan mengedarkan pandangan, tak terlihat si gadis ceroboh yang biasanya pagi-pagi sudah asyik menonton video klip musik K-Pop di meja kerjanya.

“Udah gila kali dia, baru aja diangkat jadi editor junior, udah bikin masalah! Kenapa kamu baru ngomong sekarang?” Taufan yang panik buru-buru mengeluarkan ponsel pintar dari saku celana khakinya.

“Nggak perlu, tadi juga udah aku telepon kok, dia udah di jalan sekarang,” sahut Ruby datar. Matanya memicing. “Lagian, tumben kamu nggak perhatian sama dia, biasa juga kamu nggak mau lepasin mata dari dia!” ledeknya memancing.

Gosip soal perasaan bertepuk sebelah tangan Taufan kepada Bella memang bukan rumor baru di kantor, sampai OB pun sudah tahu kabar itu.

Taufan mendecakkan lidah kesal. “Ini waktunya buat bahas kayak gituan, ya? Males banget!”

“Jadi bener nih ... kamu emang ada perasaan sama dia?” pancing Ruby lagi.

“Bodo, ah! Nggak usah dipanjangin!” tandas Taufan tak nyaman.

Ruby tersenyum miring penuh arti lalu membuang muka tanpa melanjutkan pembicaraan. Dia sendiri enggan mengakui bahwa Taufan sudah menarik perhatiannya sejak pertama bertemu, tapi dia tak mungkin mengatakannya sebab selama ini mata Taufan hanya terarah pada Bella, sahabatnya, dan Ruby tak akan merusak persahabatan mereka bertiga hanya karena satu sisi perasaannya saja.

***

Dari sebuah mobil BMW X4 berwarna hitam mengkilap yang baru berhenti di depan gedung majalah GLAM, turun seorang pria tinggi berjas dengan warna serupa. Tubuhnya yang tegap berisi terlihat tinggi menjulang, dengan rambut klimis tebal berwarna hitam pekat. Kulitnya kecokelatan bersih, dengan rambut-rambut halus tumbuh subur menghias wajahnya yang berpahatan tegas. Bola matanya berwarna cokelat terang, dengan bulu mata lentik dan alis yang tebal dan tinggi. Hidungnya pun mancung terbilang besar, tidak terlihat seperti tipe hidung orang indonesia kebanyakan.

Seorang wanita muda ber-blouse biru terang menghampiri, lalu membungkuk ramah. "Selamat datang, Pak Yusuf! Akhirnya Anda sampai juga di Jakarta!" sapanya dengan kikuk dibarengi senyum yang dipaksakan. "Saya Ana, saya yakin Anda sudah mengenal siapa saya, saya adalah pemimpin redaksi yang bertugas--"

"Tolong siapkan kopi," potong Yusuf dengan cueknya. Dari dialek dan caranya bicara yang agak tersendat, bisa dipastikan bahwa bahasa indonesia bukanlah bahasa pertamanya.

"Hah?" Ana melongok tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.

"Ya. Kopi, gulanya dikit aja. Saya mau langsung ketemu karyawan yang lain, saya tunggu kopinya di dalam," pungkas Yusuf cepat, kemudian buru-buru meninggalkan Ana yang masih diam membeku di tempat semula.

Sial! Dia kira aku ini office girl apa?! gerutu Ana dalam hati sambil memandang tajam punggung lebar Yusuf yang perlahan menjauh di balik pintu kaca.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status