MasukAfter a painful breakup, Selena finds herself in a vulnerable moment, seeking comfort in the arms of a mysterious stranger. However, when she discovers that he is Justin Branson, a billionaire playboy CEO, she is shocked. Their secret encounter has gone viral, threatening her already fragile reputation and Justin's. To divert attention from the scandal and salvage the situation, Justin proposes a fake relationship. Selena agrees, but soon finds herself drawn to his charismatic charm and undeniable attraction as they work closely together. She struggles to trust him, despite his playboy ways, which seem determined to destroy her. As they navigate their fake relationship, real feelings emerge. Will their fake relationship turn into something real, or will secrets and complications tear them apart?
Lihat lebih banyakTITI POV
Pemakaman bibi baru saja kulaksanakan seminggu lalu, dan aku lega karenanya. Nah, jangan mengira aku itu ratu tega! Andai kalian tahu betapa kejam perlakuan bibi padaku, mungkin kalian bisa memaklumiku.
Dia suka menyiksaku dan menyuruhku bekerja keras seakan aku adalah pembokatnya. Aku tinggal bersama Bibi semenjak Papa dan Mamaku meninggal terkena wabah campak di desa kami, ketika itu aku berusia delapan tahun.
Bibi terpaksa memboyongku ke kota karena dia satu-satunya keluargaku. Yeah, aku disekolahkan, sekalian dijadikan pembantunya. Hidupku dari tahun ke tahun hanya berkisar antara sekolah sebagai siswa dan di rumah sebagai pembantu. Itulah drama sedih kehidupanku.
Hingga dua tahun belakangan ini bibiku mulai sakit-sakitan, otomatis aku mendapat tugas tambahan sebagai suster perawatnya. But now.. I'm done! Bye-bye pada kehidupanku sebagai pembantu dan suster! Aku merasa lega dan bebas... yipiiieee!!!
Tapi kelegaanku hanya sesaat, sepertinya hidupku ditakdirkan hanya berkutat untuk melayani orang.
Me... baby sitter?
Aku menatap pria arogan di depanku dengan sebal. Ck! Mentang-mentang lu ganteng jangan seenaknya, Mas! Berani sekali dia berniat mentahbiskanku menjadi baby sitter adiknya!
"Mas nawarin atau maksa kerjaan sih? No way, thanks!" kataku angkuh.
Cowok arogan mesti dihadapi dengan harga diri tinggi! Itu pelajaran PPKN kan?
"Saya tidak memberikan penawaran, itu keharusan buat kamu!" pria itu berkata dingin.
"Cih! Atas dasar apa, Mas Aro? Suami bukan! Pacar bukan! Selingkuhan juga bukan! Enak aja mengatur hidup orang!" sanggahku ngotot.
Dia mengernyitkan dahinya dan menatapku dingin. Lalu menyodorkan dokumen di hadapanku. Aku segera membacanya. Ajegile!! Sialan Bibiku, bukannya meninggalkan harta, kenapa dia justru mewariskan hutang segajah?! Wajahku berubah pias.
"Setelah semua harta dan rumah bibimu disita pun, hutang bibimu masih banyak. Jadi kami mengambil kebijaksanaan untuk mempekerjakanmu sebagai baby sitter adik saya. Gajimu dipotong untuk mencicil hutang bibimu."
Bisa apa aku? Rumah gak ada, harta ludes. Kini ada yang menawarkan tumpangan hidup, meski sebagai baby sitter anak kecil. Toh aku juga pecinta anak kecil. Mungkin gak apalah.
"Tapi Mas Aro, bagaimana dengan kuliah saya?" tanyaku berharap.
Ngerti dong maksudku, kali aja bisa dibiayaiin!
"Nama saya Xander Edisson. Bukan Aro!" katanya dingin. Bukannya menjawab kegalauanku, dia justru mempermalahkan panggilanku padanya.
La iyalah. Mas Aro itu panggilan kesebalanku. Dari julukan Mas Arogan yang kupotong asal. Hehehe...
"Jadi Titik, saya tahu kamu tinggal menyelesaikan skripsi kan? Kerjakan saja di rumah saya sambil menjaga adik saya. Konseling dengan dosen bisa melalui email. Nanti saya atur. Ngerti?"
"Iya Mas Aro dan ralat Mas Aro. Nama saya Titi, bukan Titik! Titi gak pakai 'K'. Ngerti, Mas Aro?"
"Nama saya bukan Aro, Titik!"
Sudah tahu! Sudah tahu! Tapi di hatiku kamu tetap Mas Aro! Kita impas kan.
==== >(*~*)< ====
Aku menatap rumah yang bakal kutempati dengan mulut ternganga. Ini rumah apa istana? Besar sekali, Ya Lord! Dari pintu gerbang, kami masih naik mobil selama 15 menit. Bayangin deh betapa luasnya! Jadi inilah penjara emas buatku. Ya penjaralah, berhubung aku gak boleh keluar sama sekali.
"Titik, keluar!" Tahu-tahu Mas Aro berdiri menjulang didepanku hingga menghalangi pandanganku akan rumah indah itu.
Ck! Menganggu saja. Meski kamu ganteng, tapi sungguh menyebalkan, Mas. Jadi gak indah dipandang mata!
"Iya, Mas Aro," sahutku sambil keluar dari mobilnya.
Dia melotot geram padaku, namun bibirnya mengatup erat. Mungkin dia udah bosan meralat bahwa namanya bukan Aro. Hihihi.. Aku mengikutinya masuk kedalam rumah besar itu.
"Mana adik Mas? Moga-moga manis, gak jutek seperti kakaknya," sindirku dengan senyum dikulum.
Mas Aro cuma mendengus dingin. Ih, dasar kulkas hidup! Mungkin kalau air masuk kedalam mulutnya bisa menjadi es saking dinginnya. Saat memasuki ruang keluarga, mendadak Mas Aro menghentikan langkahnya, akibatnya aku yang berjalan di belakangnya menabrak punggungnya.
’’Dih, sakit kepalaku. Ini punggung apa batu sih?” gerutuku sebal. Aku mengusap jenongku. Eh, bukan berarti aku nonong seperti ikan lohan lho.
"Ini Choco, adikku,” cetus Mas Aro datar.
Jadi namanya Choco? Dari panggilannya momonganku terkesan imut dan lucu. Dengan penasaran aku mengintip dari balik punggung lebar Mas Aro. Hanya ada satu cowok yang tengah duduk di pangkuan bapak tua. Aku langsung syok. Dia kah anak asuhku?? Begitu tampannya. Bahkan lebih tampan dari kakaknya yang jutek!
Astaga naga, dia sempurna sekali! Belum pernah aku berjumpa cowok setampan dirinya. Tahu begini, mending aku memilih jadi pacarnya daripada baby sitternya! Eh, emang boleh memilih? Batinku terkagum-kagum.
Bocah ganteng itu menatapku seakan berusaha mengenaliku. Yaelah, tatapan matanya membuatku terbius. Peluk aku sini, Dek. Ih, gemes!
"Choco," spontan aku memanggil bocah itu dengan sepenuh kasih. Ia menatapku bingung sebelum mengalihkan tatapannya pada kakaknya.
"Kak Ander!" sapanya sumringah, lalu berlari menuju kakaknya.
Wajahnya yang cerah terlihat semakin tampan berkilau, membuatku sangat terpesona. Saat Chocho memeluk kakaknya manja, aku termangu menatapnya. Mengapa gaya pelukannya seperti kelakuan anak balita? Tadi aku mengabaikan kenyataan ini gegara saking terpesonanya diriku pada ketampanan hakiki milik bocah ini.
"Gendong, Kakak! Gendong !" rengeknya manja.
"Chocho sudah besar. Mulai sekarang tak ada gendong lagi!" tegas Mas Aro.
Sumpah! Rasanya aku pengin pingsan menyadari hal ini. Jadi dia ini yang harus kuasuh? Bayi besar yang autis ini? Pikirku kalut. Seharusnya sejak awal aku mencurigai keanehannya begitu melihatnya duduk di pangkuan bapak tua itu! Seakan memahami isi pikiranku, Mas Aro berinisiatif menjelaskan.
"Choco berusia 18 tahun tapi kelakuannya seperti anak delapan tahun. Dia bukan autis, dia hanya mengalami keterbelakangan mental. Retardasi mental, atau awam mengenalnya dengan istilah tuna grahita."
Aku membulatkan mata kaget. Mengapa ada cowok setampan dirinya yang bernasib malang seperti ini?! Tuhan pasti sedang bercanda!
"Kamu bertugas menjaganya, menyuapinya makan, memandikannya, menemaninya tidur sambil membacakan dongeng," ucap Mas Aro menginstruksikan apa yang harus kukerjakan.
Harus seperti itukah? Meski mentalnya seperti anak kecil, tapi body Chocho tetap cowok banget! Yaelah, aku ini masih gadis polos tak bernoda. Pacaran aja kagak pernah! Masa aku harus memandikannya segala? Pipiku terasa panas memikirkannya.
"Choco, ini Titik, baby sitter kamu yang baru. Dia akan menggantikan Pak Frans yang sebentar lagi akan pensiun dan balik ke kampungnya,” ucap Mas Aro memperkenalkan diriku pada adiknya.
Choco mengamatiku dengan malu-malu, sedang aku nyengir seperti orang bego padanya. Canggung atuh menghadapi anak asuh yang fisiknya begtu ganteng tapi mentalnya persis anak kecil, berasa akan pedofilin anak orang. Njir, pikiranku.. plis deh, belum apa-apa mengapa dia berubah laknat seperti ini? Tak sadar aku menjitak kepalaku sendiri.
Sadar, Tik. Eh, kok jadi tertular virus Mas Aro yang suka memanggil namaku Titik! Sekali, dua kali, kujitak kepalaku sendiri. Hingga ada tangan hangat yang menahan tanganku.
"Sakit, Kak Titi. Jangan!" gumam Chocho lirih.
Aku melongo mendengar Chocho memanggil namaku. Dia memanggilnya dengan benar! Astaga, aku sangat terharu dibuatnya. Dia menatapku lembut sambil tersenyum malu-malu. Dimataku dia nampak seperti malaikat.
"Chocho!" pekikku spontan seraya memeluknya sayang.
Tubuh Chocho menegang dalam pelukanku. Dia memandangku aku dengan tatapan bingung. Dia nampak sangat polos hingga membuatku tak tahan ingin lebih menyayanginya.
"Chocho, sayang. Ih, Kak Titi jadi sayang banget," dengan gemas aku mencubit pipinya.
Tiba-tiba Chocho tersenyum sumringah dan balas memelukku.
"Sayang, sayang, Chocho sayang.. sayang Chocho," racaunya berulang-ulang.
Dan itulah perkenalanku dengan sosok istimewa yang nantinya akan mengubah hidupku dengan drastis.
==== >(*~*)< ====
Bersambung
Selena's POVThe image of Justin, shirtless, Bella’s lipstick stains on his chest, burned behind my eyelids. He’d stormed into my apartment, a raging fire of accusations, only to be entangled with Bella moments later. Was his anger just a performance? A way to justify crawling back to her so easily? A bitter taste rose in my throat. Every time I let myself get close to him, my heart ended up shattered on the cold, hard floor. I had to stop this cycle.I ran each footfall in a desperate attempt to outpace the suffocating weight in my chest. As soon as I stumbled into the car, I choked out, "Drive. Now." But the need to escape wasn't just physical.Minutes into the ride, the city lights blurring into streaks of meaningless color, a wave of nausea washed over me. "Please stop the car," I mumbled, my voice barely a whisper. I was trying so hard to stop the tears from falling.Michael’s gaze flickered in the rearview mirror, his brow furrowed with concern. "Stop the car," I practically
Justin's POVI scrubbed at my eyes with the heel of my hand. Was I hallucinating? But the image was seared into my mind: Zayn had handed over a damn gift basket to be delivered to Selena and she had accepted. She wouldn’t even accept a penny from me. How long had this been going on? Had their connection never truly severed after that mess a while back? He’d practically vanished after locking eyes with me, like a guilty rat scurrying into the shadows. Every shade of red imaginable seemed to explode behind my eyelids. My instinct screamed to chase him, to ask why the heck he was delivering gifts to her. Instead, I fumbled for my phone, Jaden’s number a desperate lifeline. He was the only one who could possibly talk me down from doing something I’d regret.“Hey man,” Jaden’s voice, calm and steady, answered on the first ring.“You would not believe what I just saw,” I growled, my nostrils flaring with each ragged breath.“What happened, Justin?” Jaden asked, a note of wary curiosity
Selena’s POV"You're invited to my housewarming." I read the note aloud, the words dripping with a forced cheerfulness that sent a shiver down my spine."Who the heck sends a mystery basket with a housewarming invitation?" I asked, closing the door with a sharp click and turning to Hailey, the basket feeling heavy and ominous in my hands.She practically teleported from the dining table, her footsteps quick and sharp against the tile floor as she yanked the basket from my hands. "How did they even know your favorite cookies and chocolates?" she mumbled, her fingers digging through the basket's contents, the rustling of cellophane and the faint, overly sweet scent of vanilla filling the air."The other day it was flowers, today it's goodies. I had no idea someone had even moved into this neighborhood," I hissed, eyeing the basket with suspicion. The brightly colored candies and perfectly arranged cookies felt like a taunt, a silent, unsettling message."I guess our secret admirers ar
Justin’s POVThe darkness of my bedroom felt heavy, like a suffocating blanket. I lay there, eyes wide, the day's events replaying in my mind like a broken record, the same scene looping over and over. Helping Selena with the eviction… should have been a relief, a weight lifted. Instead, it stirred a restless energy within me, a burning need to make her life better, to smooth out the rough edges,… without getting too close. Too close meant danger, a constant, gnawing fear, but not forever. I'd deal with the looming issue, and then I'd ask her out. My feelings for her were a force, a driving need, and I was determined to make her life better, to give her the peace she deserved.Then, the idea struck me, a sharp, clear solution. An interior design competition. Prestigious, high-profile. A platform to showcase her undeniable talent, and a substantial financial reward – a prize she would win, I knew it. Selena was a rockstar in the event planning world, a force of nature when she set












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan