Short
After the Unchosen Daughter Left, They Regretted Everything

After the Unchosen Daughter Left, They Regretted Everything

Oleh:  TJTamat
Bahasa: English
goodnovel4goodnovel
9Bab
5.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

When the wildfire reached our family’s vacation home, I dragged my younger sister, Chloe, out through the back door. By the time we circled around to the front, our parents were begging the firefighters to go inside. “We only have time to search one bedroom before the wind shifts,” a firefighter warned. “Which one?” “The upstairs bedroom!” Mom cried without hesitation. “Please save our younger daughter!” Dad gripped her shoulders. “She has asthma. She won’t survive the smoke.” Neither of them mentioned which room I had been sleeping in. My sister rushed past me. “Mom! Dad! I’m here!” Mom pulled her into her arms, sobbing, while Dad checked her for injuries and called for a paramedic. I stood only a few feet away, barefoot and bleeding. Neither of them looked at me. Finally, a firefighter noticed me. “Are you here with family?” I watched my parents cling to the daughter they had chosen. “No,” I said. “I came alone.” Then I opened the email offering me a year-long exchange at the University of Cambridge. I pressed Accept. My flight left in seventy-two hours. In three days, I would begin a new life in England. My family had no idea they were already losing their other daughter.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1

Setelah tabib istana pergi, aku meminta Ratna membuang semangkuk obat itu.

Ratna menahanku dengan mata memerah.

“Nyonya, bagaimana kalau diagnosis tabib istana ternyata salah?”

“Kalau begitu, biarlah ini jadi terakhir kalinya aku bertindak sesuka hati.”

Selama tujuh tahun terakhir, aku memang tidak pernah berhenti bertindak sesuka hati.

Lucunya, sekarang ketika semuanya benar-benar akan berakhir, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membalik mangkuk obat itu sendiri.

Aku membuka kotak rias dan mengeluarkan satu per satu barang yang pernah diberikan Sagara kepadaku.

Ada mutiara dari Laut Selatan, batu delima dari Kawasan Barat, juga taring harimau yang dibawanya pulang dari medan perang saat aku berusia enam belas tahun.

Saat itu, dia memasangkan taring itu di leherku sambil tersenyum dan berkata, “Kanaya Dipta, pakai ini. Selama kamu memakainya, tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu di ibu kota.”

Baru belakangan aku menyadari satu hal.

Orang yang paling menyakitiku justru adalah dia.

Aku meminta Ratna mencatat semua barang itu, lalu mengembalikannya ke kediaman depan.

Hanya taring harimau itu yang kusimpan.

Ratna menyeka air matanya dan bertanya, “Nyonya, masih berat melepaskannya?”

Aku mengusap retakan pada taring itu.

“Bukan.”

“Hanya saja benda ini tidak berharga. Kalau dikembalikan, toh cuma akan penuhi tempat.”

Sore itu, aku pergi ke kediaman kakakku.

Ketiga anaknya sedang berlatih memanah di bawah selasar.

Kalingga Mahawira, putra pertama Sagara dan kakakku, sudah berusia enam tahun. Alis dan matanya sangat mirip dengan Sagara.

Aku menyerahkan busur kecil yang kubuat semalaman kepadanya.

“Cobalah. Ini ringan, cocok untukmu.”

Kalingga tidak mengambilnya.

Dia menatapku, lalu tiba-tiba bertanya, “Bibi juga mau punya anak laki-laki, ‘kan?”

Suasana di halaman seketika hening.

Pengasuh yang berdiri di sisi kakakku menundukkan kepala, tetapi sudut bibirnya justru tampak menahan senyum.

Aku berjongkok.

“Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”

Kalingga mengerucutkan bibirnya.

“Pengasuh bilang Bibi tidak bisa punya anak sendiri, makanya Bibi selalu datang ganggu kami.”

“Katanya Bibi juga mau merebut Ayah dari kami sampai Ibu sakit karena marah.”

Dia meraih busur kecil itu, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke dalam kolam.

“Aku tidak mau barangmu!”

Busur kecil itu menghantam lapisan es tipis hingga pecah, lalu tenggelam.

Aku memandanginya cukup lama, tetapi anehnya, aku tidak merasa terlalu sedih.

Mungkin, bagian hatiku yang bisa merasa sakit sudah lama tidak lagi merasakan apa-apa.

Saat aku baru hendak pergi, suara Sagara terdengar dari belakang.

“Kanaya.”

Dia baru saja kembali dari istana. Jubahnya yang hitam pekat masih diselimuti salju di bahu.

Kalingga segera berlari menghampirinya dan memeluk kakinya.

“Ayah, Bibi memarahiku!”

Sagara lebih dulu mengusap kepala Kalingga, lalu menatapku.

“Kenapa kamu harus mempermasalahkan hal seperti itu dengan anak kecil?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Lalu, ada apa dengan busur itu?”

“Aku mau berikan padanya, tapi dia tidak suka.”

Alis Sagara sedikit berkerut. Ekspresinya mengingatkanku pada saat-saat dulu ketika dia membereskan masalah yang kubuat, selalu dengan wajah tak berdaya.

“Kalau kamu suka anak-anak, aku bisa minta Kalingga dan yang lainnya sering datang ke kediamanmu untuk menemanimu.”

“Untuk apa menggunakan barang-barang kecil seperti ini demi mengambil hati mereka?”

“Kalau Indira sampai tahu, dia juga akan merasa tidak enak.”

Selama tujuh tahun, dia selalu seperti ini.

Dia membereskan masalah yang kubuat, lalu memberitahuku bahwa kakakku telah diperlakukan tidak adil.

Seolah apa pun yang kulakukan, aku selalu dianggap sedang bersaing dengan kakakku.

Aku mengangguk.

“Mulai sekarang tidak akan lagi.”

Dia sempat terdiam, raut wajahnya terlihat seperti tidak menyangka aku akan menurut begitu saja.

Saat itu, Ratna datang membawa kotak kayu yang penuh dengan perhiasan.

Sagara meliriknya sekilas, lalu wajahnya menggelap.

“Ini mau diapakan lagi?”

Aku menjawab dengan datar.

“Barangnya terlalu banyak dan tidak terpakai. Mau dikembalikan ke gudang.”

“Kanaya.”

Suaranya terdengar lebih dingin.

“Indira cuma hamil lagi. Kamu tidak perlu sampai bersikap seperti ini.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa sangat lelah.

“Yang Mulia tidak perlu khawatir. Aku tidak berniat bersaing dengan Kakak.”

“Mulai sekarang, aku tidak akan bersaing lagi.”

Sagara menatapku beberapa saat, lalu mengulurkan tangan untuk merapatkan jubahku.

Gerakannya masih sama seperti biasanya.

Namun, nadanya terdengar seperti sedang membujuk seorang anak yang sedang mengamuk.

“Kembalilah ke kediamanmu. Jangan berkeliaran lagi.”

“Kalau nanti kamu sudah memikirkannya baik-baik, aku akan datang menemuimu.”

Aku menghindari tangannya.

“Yang Mulia tidak perlu datang lagi.”

Wajahnya seketika menjadi muram.

Saat dia hendak berbicara, kakakku keluar dari dalam dengan dibantu seorang pelayan.

“Yang Mulia, jangan marah. Mungkin Kanaya sedang rindu rumah,” bujuknya dengan suara lembut.

Kakakku menghampiriku dan menggenggam tanganku dengan penuh kasih.

“Kalau Adik memang mau kembali ke Keluarga Dipta dan tinggal beberapa hari, aku bisa mengaturnya.”

“Hanya saja, Yang Mulia sedang marah sekarang. Untuk sementara, jangan beri tahu dia dulu.”

Aku mendongak menatapnya.

Kakakku tersenyum lembut seperti biasanya.

“Kita adalah saudari kandung.”

“Kakak tidak mungkin mencelakaimu.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status