LOGINA month with two of her exes in a reality show. What could possibly go wrong? When Deena joined Ex-Factor, she expected a scripted drama and forced moment with Trenton, her ex-husband who promised her forever, but ended up cheating on her instead. She didn't expect an unexpected twist and that is to meet Ethan, her first love and other ex! And now she's trapped in a house to reminisce about the past, recall memories she wanted to bury, expose secrets every game and reveal some truths she wanted to escape from. Sparks will fly and old wounds will reopen as she faces the ghosts of her past. When the camera stops rolling, who will she have another chance at love with?
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
ETHAN'S POVMy whole world revolved around one woman.When I met Deena, I wanted it to be her until the end of time. I was so happy when she gave me the chance, but we had to be separated.I never forgot about her, however. I will always search for her in every lover I meet. And that is when I met Allyson, a woman who had the same smile as hers. I admit that at first, I liked her because she reminded me a lot of Deena, but I genuinely liked her. I thought I could convince myself to like her without seeing Deena, and when I realized I was being an asshole for giving her hope, I broke up with her.And that is when I met Deena again in the reality show, Ex-Factor."Do you think I won't notice? Did you really think I won't know that you only approached me because I resemble Deena, Ethan?" Allyson exclaimed when we were in the forest with no camera or mic."Allyson..." "I always felt like you were distant even when we're close to each other and when I saw her, that is when I confirmed it
TRENTON'S POV"Congratulations on achieving the title of a billionaire at the young age of thirty-five, Mr. Outlaw! Wow! I'm half your age, but I still have a long way to go. Anyway, how do you feel about joining the billionaire's club?" "Oh, I honestly feel honored. When I started doing business, I had one goal in my mind—and that is to produce good projects that will inspire the whole world. I am not even kidding. It is flattering to have the title, but I think I'm already the richest man alive just by having my family beside me." "And that is true. Our family is our greatest treasure in life. So, Trent, what can you advise to younger people who want to become like you one day?" "When you choose to pursue your dream or something you've been wanting to do, you have to make sure that you are good at it, that you know your platform. Once you choose a path, bite it and never let it go. It's okay to lose, but once you give up, that is when you really lose your chance.""Thank you for
DEENA'S POV"Hon, I want to write our own story and let everyone know about our love story." I opened up to Trenton one day while we were walking Tristan."And I can be the producer of it, love. Just do whatever you want and I will support you as always. If only I could act, then maybe I can be an actor." I laughed and wiped the drool from Tristan's face. "Nah, I want to see it from another's point of view. I want to see it as though we were watching another couple's love story." "Sounds good." Trent kissed my hand and pushed the stroller while we admired the beauty of the sunset.The next day, I gathered everyone and told them about my plan."Ooh, that would be dramatic as hell." Kim snorted and Cassie agreed."With a lot of twists and conflicts." "Then is it a long series or a movie?" Jane teased me as well.I smiled and shook my head. "I'm planning on packing it all in a movie. Of course we will only include all the exciting parts." "What's the title?" "Another Chance at Love
TRENTON'S POV"Thank you for understanding me. I miss you. We all do. I hope you are not suffering wherever you are. I hope you're at peace and happy. Don't worry about us, I will take care of our family." I placed my hand on the tomb stone, tracing the name with my fingers and removing all the dirt covering her name.A warm hand touched my shoulder and I turned around, smiling at my wife. I pulled her closer to me so we could greet her mother together. "I miss her every day, hon. Sometimes, it didn't feel like she left. I can feel her around us and I know she's protecting us from above." Our heads pressed together and we silently offered our prayers. A few minutes later, we were interrupted by a loud cry coming from our infant who's now awake."Now, now. Did you have a nightmare, little one?"I picked up my one-month old son and kissed his head. He instantly stopped crying and cooed in my arms."I carried him for nine months and almost died, but look at him choosing you as his fav
TRENTON'S POV"It must have been hard on you, Trent. But I'm glad that everything has been solved," Mom said and sat beside me on the ten-seater kitchen table.Even though it was mostly her and Dad at home, they still included everyone so we could sit together when the family was gathered at once.
DEENA'S POV"How did you find out what she did?" Trenton asked me after a minute of silence between us.After the whole drama with Denise and after she admitted it. Trenton and I filed a case against her, her brother and her family. And somehow, we just found ourselves in his home or maybe our ho
TRENTON'S POV"Sir, there is a sea of reporters and people outside protesting." My secretary reported and it added to my already aching head. A week after the supposed wedding, my family and I's names are still all over the news. Angry people, especially women, are demanding to boycott us and all
DEENA'S POVI woke up with my head pounding—as if I was hit in the head. My mind started to clear up and what happened came back to me. I remember someone hitting me, hearing Trent's voice before everything went black."Ugh." I groaned and clutched my head. I opened my eyes but winced when the li






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews