LOGIN"I didn't do anything wrong," I choked out. "You stuck your nose into my private matters," he hissed. "No one can sentence me without proof," I challenged him. He straightened up. Any traces of a smile abruptly disappeared from his face. "You still don't get it, do you? I own this city. It means that if I say you go to jail, that means you go to jail." He leaned over me again, his stare piercing right through me, "And if I say that I want you, that means you are already mine." My jaw tensed as I resisted an urge to talk back. This wasn't a battle I could win, and this wasn't a man I could win against... How did I get myself into all that mess?! *** My name is Cora Bell, and I'm about to marry Aren Lan, New York's most wanted bachelor. A dream come true? I highly doubt that. The guy is an arrogant, wealthy beyond imagination, asshole. Not to mention that our relationship is based solely on a contract, a contract I was forced to sign when I accidentally ruined this guy's engagement... I used to dream of a simple life. I wanted to graduate from university and work as a software programmer, but my fate chose a different path for me to follow. First, I had to give up on my studies to take care of dear Grandma, and now I'm forced to play the role of a manipulative jerk's loving fiancée! The problem is that my husband-to-be is insanely sexy and enjoys teasing me a bit too much. How the hell am I going to survive being close to him throughout the two years of our fake marriage?!
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGI didn't answer Aren right away. I held my poker face still, resisting the urge to smile. I waited until the smug smirk slowly left his mouth, enjoying every second of his uncertainty. "Say it again," I said. He raised his eyebrows questioningly. "Will you marry me?" His confusion made my lips gently curve. "Not this, but your words before that." "I love you." He grinned, reaching for my hand. "I love you." He took out the ring from the box and put it on my finger. It fitted perfectly. "I love you," he breathed, leaning closer and placing a gentle kiss on my chin, on my cheek, and my lips. I wish I could say that it was a perfect, romantic moment, but my hormones ruined it all by making me cry again. He chuckled softly, sitting beside me and pulling me onto his lap. He kissed every tear away while gently stroking my hair with his fingers. "I want you forever as my wife. Nod if you agree," he said, giving me the sweetest smile I saw on his face. Of course, I nodded. It was much e
I had been dreaming about this moment for the last five months. No. Scratch that. I had been having nightmares about this moment. From the moment I found out that I was pregnant, there wasn't a single day I didn't think about how I was going to tell Aren. Initially, I wanted to call him immediately. This situation was changing everything between us. I grabbed the phone while tears flooded my eyes. I picked Aren's number... and I froze.The baby I had growing inside my belly would become the future heir of the Lan family. This meant that as soon as I told anyone, I would become the future mother of the future heir... Chills ran down my spine. Would I be forced to live in Shanghai and become nothing more than Aren Lan's wife? I instantly felt nauseous, and not only because I had morning sickness. Something was crushing my chest, and I was scared. I was terrified. And then later, what if someone decided that I wasn't the best mother for my child and would take my child away? I knew that
It'd been over six months since Cora walked out the door of the Lan family mansion. That day was the last time I saw her, the last time I felt her, and the last time I could focus on anything. From that moment, I had been merely existing, surprising myself each time I got up to see another morning. Funny, isn't it? The cold son of the bitch who wasn't supposed to have a heart was suffering from agonizing heartache. If Nanny Mei Lien had seen me like this, she would have called me pathetic.Since my Mother died a little after I was born, Mei Lien was the only parent figure around me. James Winton most likely wanted me to die as well, but Mei Lien did everything she could to keep me safe. She contacted my Grandfather on her own and begged him to grant me and her his protection. He refused. He was soaked with hatred for the daughter who betrayed him, and it was only natural that he would hate that daughter's son as well. It's ironic that right before the daughter whom he hated died wishe
I started packing the second I walked into our room. Aren looked at me, shocked. Within a heartbeat, he surged between me and my suitcase. "What are you doing, sunshine?" His steady voice had a rough edge painted with anxiety. "I'm going back to New York. I had already booked a plane on our way to the mansion." I tried to keep my tone composed, but every piece within me was shaking. He huffed nervously. "When are you coming back to Shanghai?" His eyes darkened; he knew what I was going to say. "I'm not coming back," I muttered, lowering my gaze. "Sunshine... don't..." He shook his head, pain and desperation surfacing in his features wildly. I brushed away the tears that had uncontrollably fallen down my cheeks. "Give me a reason why I should stay?" I pushed him away from my suitcase and continued packing. "I know that I'm selfish, but I can't lose you." His voice was soft, nearly cracking. Before I knew it, his arms were wrapped around me, and I surrendered to the warmth of his b












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore