LOGIN“Ini belum terbukti,” katanya cepat. “Kalian tidak bisa langsung menyatakan saya melakukan penggelapan.”“Benar,” jawab penyidik dengan tenang. “Karena itu kami masih melakukan pemeriksaan. Status dan kesimpulan hukum akan ditentukan berdasarkan alat bukti serta hasil penyidikan. Saat ini kami membutuhkan keterangan Anda mengenai transaksi-transaksi tersebut.”Hartono menggeleng keras. “Saya komisaris. Saya juga punya kewenangan di perusahaan ini.”“Jabatan Anda tidak menghapus kewajiban untuk memberikan keterangan apabila nama Anda berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.”Penyidik kemudian menjelaskan prosedurnya dengan suara tetap tenang.“Anda berhak mengetahui alasan tindakan ini, berhak mendapatkan salinan dokumen yang berkaitan dengan tindakan tersebut, dan berhak didampingi penasihat hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk sekarang, kami meminta Anda mengikuti petugas dengan tertib.”Hartono terdiam.Ia kemudian menoleh kepada Clarissa. “Nona Clarissa...”Cla
Kalimat terakhir Haris—bahwa seluruh bukti aliran dana mencurigakan telah diserahkan kepada pihak kepolisian—seolah mematahkan keberanian orang-orang yang sejak tadi masih berusaha mempertahankan diri.Beberapa direktur yang duduk di barisan belakang mulai saling berpandangan. Sebagian tampak gelisah, bahkan ada yang buru-buru menundukkan wajah. Mereka tahu, jika dugaan penyelewengan dana benar-benar diperiksa sampai ke akarnya, bukan hanya Hartono yang akan terseret.“I-Itu fitnah! Kamu mencoba mengkriminalisasi anggota dewan!”Suara Hartono terdengar panik. Sangat panik. Pria paruh baya itu kemudian menoleh kepada Clarissa, seolah masih berharap perempuan tersebut akan membelanya.“N-Nona Clarissa... katakan sesuatu! Ini akal-akalan dia untuk menjatuhkan kita!”Clarissa tidak menjawab. Ia justru berdiri kaku dengan rahang mengeras. Perempuan itu tak mampu menemukan kalimat yang tepat untuk membalas Haris.Di balik wajah dinginnya, kepanikan mulai menjalar.Ada rahasia yang se
Suasana di ruang rapat semakin menegang. Keheningan membuat suara jarum jam di dinding terdengar jelas. Para anggota dewan komisaris dan jajaran direksi saling berpandangan dengan kening berkerut, sementara Hartono terpaku di kursi pimpinannya. Tatapannya tertuju pada map dokumen yang terbentang di atas meja.Clarissa yang sejak tadi berdiri dengan angkuh mulai kehilangan ketenangannya. Senyum kemenangan yang semula menghiasi wajahnya telah menghilang. Bibirnya terkatup rapat, sementara tatapannya berubah tajam.“Dokumen apa yang kamu bawa? Jangan mencoba-coba memalsukan surat kuasa untuk mengelabui dewan! Nona Ghea sudah tidak sadarkan diri. Dia tidak mungkin sempat menandatangani apa pun!”Haris tetap tenang. Ia membalikkan lembaran dokumen tersebut agar dapat dilihat oleh seluruh anggota dewan.“Anda keliru, Nona Clarissa.” Tatapannya lurus kepada perempuan itu. “Nona Ghea sudah mempersiapkan kemungkinan seperti ini sejak tiga bulan lal
Gedung VC GroupKeesokan harinya, meja rapat oval di gedung itu sudah dikelilingi jajaran direksi dan dewan komisaris yang mulai berbisik-bisik satu sama lain. Di ujung meja, Clarissa duduk dengan postur tegak dalam balutan blazer putih berpotongan tegas. Di sebelah kanannya, Hartono, salah satu anggota dewan komisaris VC Group yang diam-diam menjadi kaki tangan rahasia Clarissa di lingkaran atas perusahaan selama ini, memimpin jalannya rapat darurat.Di barisan kursi staf eksekutif, Haris tetap duduk tenang sejak rapat dimulai. Wajahnya terlihat kaku. Bayang-bayang hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman karena harus memastikan kondisi Ghea di rumah sakit tetap terpantau.Namun, rasa lelah itu tidak membuat kewaspadaannya berkurang. Haris tahu persis celah yang sedang dimanfaatkan Clarissa.“Seperti yang kita ketahui bersama, Direktur Utama kita, Nona Ghea, sedang mengalami musibah dan untuk sementara tidak mampu menjalankan tugasnya. Di sisi lain, Pak K
Ruang Instalasi Gawat Darurat masih dipenuhi aktivitas ketika Haris berdiri beberapa langkah dari ranjang tempat Ghea sedang ditangani. Bau antiseptik bercampur dengan aroma darah masih terasa di udara. Beberapa alat medis terus berbunyi, sementara dokter dan perawat sibuk memastikan kondisi Ghea tetap stabil.Ghea terbaring tanpa daya di atas ranjang. Setelah ditemukan dari sungai, hampir seluruh tubuhnya terutama kepalanya, mengalami luka cukup serius akibat benturan. Perban membalut bagian kepala dan pelipisnya yang robek. Selang bantu napas terpasang setelah tim medis melakukan tindakan darurat untuk menjaga jalan napasnya.Haris berdiri dengan wajah tegang. Pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari Ghea.Di sisi lain ruangan, seorang perwira polisi sedang berbicara dengan petugas medis sambil mencatat beberapa keterangan awal. Polisi tersebut sesekali melihat ke arah Ghea, lalu kembali mencatat informasi yang diberikan.Haris menarik napas panjang sebelum menghampiriny
Haris tidak tahu harus mencari ke mana lagi. Sejak menerima kabar bahwa Ghea meninggalkan rumah sakit dalam kondisi yang sangat buruk, pikirannya hanya dipenuhi satu hal: menemukan perempuan itu sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Ia bahkan tidak sempat memikirkan kemungkinan bahwa Ghea mungkin sengaja menghindarinya. Kondisinya saat ini jauh lebih penting daripada apa pun yang sedang terjadi di antara mereka. Haris terus mengemudikan mobil menyusuri jalan yang diduga dilalui Ghea. Beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel Ghea, tetapi tidak ada jawaban. Panggilannya hanya berakhir tanpa respons. Sampai akhirnya, dari kejauhan, Haris melihat kerumunan orang di sebuah jembatan yang membentang di atas sungai. Ada beberapa kendaraan berhenti di sisi jalan. Lampu kendaraan darurat terlihat menyala, sementara sejumlah petugas berdiri di sekitar tepian sungai. Perasaan tidak enak langsung muncul di dada Haris. Ia segera menepikan mobil dan turun tanpa memedulikan pintu







