FAZER LOGIN"Ela queria um novo começo, mas acabou presa em um destino cheio de segredos, ameaças e uma paixão inesperada." Zara sempre suportou os abusos e humilhações de sua tia e prima invejosa. Quando decide recomeçar, conquistando um emprego em uma renomada empresa, ela acredita que finalmente terá a chance de viver em paz. Mas sua vida toma um rumo inesperado ao se apaixonar pelo CEO, apenas para ser obrigada a abrir mão de sua felicidade. O retorno de seu pai do exterior traz consigo um ultimato: Zara deve se casar com um completo desconhecido para quitar uma dívida com uma perigosa organização criminosa. Sem escolhas, ela se vê no centro de uma trama cheia de perigos e traições, enquanto enfrenta as constantes sabotagens de sua própria tia e prima. No entanto, quando a verdadeira identidade de seu noivo é revelada, Zara percebe que o destino tem planos muito maiores para ela. Entre ameaças, sacrifícios e uma paixão avassaladora, ela descobrirá que o amor pode ser sua maior arma para vencer o passado. "Quando o coração e o destino se cruzam, não há sombras que possam apagar a luz do amor."
Ver maisDalam redupnya cahaya koridor hotel yang hening di malam hari, Adelia Putri Asmarini, seorang gadis berumur 22 tahun, menggandeng seuntai kunci kamar dan sebuah jas pakaian yang sudah dicuci bersih dan digosok dengan rapi.
Jas itu milik tamu VIP di kamar nomor 1808, Hotel Mutiara Internasional- tempat dia bekerja selama dua tahun ini sebagai Hotelier.
"Aku harus menggantikan shift malam Melinda lagi. Betapa menyebalkan harus mengantar jas malam-malam," ujar Adelia dengan langkah kesal.
"Mudah-mudahan tidak bertemu dengan pria hidung belang," gumam Adelia sambil berjalan menuju ke lorong kamar hotel yang sunyi dengan perasaan tidak enak, tetapi dia harus professional dalam menjalankan tugasnya.
Adelia mengambil shift malam menggantikan Melinda, meski merasa lelah dan terus menerus bekerja sejak pagi, Adelia tidak berani mengeluh. Dia membutuhkan bonus tambahan dalam gajinya.
Ayahnya memiliki hutang judi yang sangat banyak, karena itu dia harus bekerja sekuat tenaga untuk bisa melunasinya. Bila tidak menerima shift malam, maka dia harus mencari pekerjaan sampingan yang lain di malam hari.
Pada saat malam tiba, kebanyakan tamu hotel telah larut dalam mimpi mereka yang damai, tetapi pekerja hotel harus tetap waspada.
Adelia, dengan senyuman ramahnya hendak mengetuk pelan pintu kamar VIP dengan nomor 1808. Adelia merasa sedikit aneh karena daun pintu dalam kondisi sedikit terbuka.
Adelia mengetuk dan memanggil tapi tidak ada jawaban.
"House Keeping," katanya agak keras, mencoba memanggil lagi.
Dia berpikir sejenak, karena permintaan tamu sesuai pesan yang dia terima dari Melinda, tentu tamu ini benar-benar membutuhkan jas ini, bukan? pikir Adelia dengan cepat. Tanpa ragu ia mendorong pelan daun pintu, sedikit kaget karena lampu kamar yang gelap gempita.
Adelia berusaha meraba dinding samping pintu dan mencari saklar lampu dan menemukannya, tetapi lampu tidak berfungsi sama sekali sehingga ruangan itu tetap dalam keadaan gelap.
"Permisi? Saya mengantarkan jas, ...," kata Adelia berjalan masuk ke dalam kamar dengan cahaya minim dari luar pintu, lalu meletakkan jas tersebut ke atas ranjang.
Bam!
Terdengar pintu tertutup. Ruangan menjadi gelap dan tanpa pencahayaan apa pun.
Adelia terkejut dan memutar tubuhnya dengan segera. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya ke atas ranjang dan menindihnya.
"Akh!" pekiknya dengan panik.
Bau alkohol tercium dari tubuh pria tersebut. Adelia merasa detak jantungnya berdegup kencang dan mencoba melawan sekuat tenaga.
Adelia sadar dia adalah seorang pria dan dia mencengkeram lengan Adelia dengan kuat, menghalangi setiap upayanya untuk melarikan diri.
Ketakutan mencengkeram Adelia. Dia mencoba memanggil bantuan, tetapi suaranya terdengar lemah dan getir di dalam ruangan yang sunyi.
"To-tolong, Tuan. Saya hanya pekerja hotel biasa. Bukan wanita bayaran. Lepaskan saya! tolong!"
Dalam keadaan linglung dan panik Adelia hanya bisa berteriak dan mencoba melepaskan cengkraman dan himpitan pria yang menciumi seluruh tubuhnya!
Mata pria itu bersinar penuh nafsu dalam gelapnya kamar, dan Adelia merasa seperti dia berada di hadapan kejahatan yang tidak bisa dia lawan sendiri.
Bau alkohol tercium dari mulut pria yang menciumnya, menandakan bahwa pria itu dalam kondisi mabuk. Saat pangutan terlepas, Adelia segera berteriak, "Tidak, jangan! Kumohon! Lepaskan saya!" Jeritan Adelia sama sekali tidak ditanggapi oleh pria yang sedang mencumbunya.
"Jangan, Tuan. Saya mohon jangan lakukan!" seru Adelia sambil berusaha untuk melepaskan diri dan mendorong tubuh pria itu dari atas tubuhnya.
Hancur sudah duniaku! Rintihnya dalam tangis. Besok aku akan menikah dan sekarang kehormatanku akan direnggut pria ini, isak Adelia dalam hati.
"Hentikan, saya mohon... "
Tapi pria itu tidak berhenti menyalurkan hasratnya. Perih, kesakitan menguasai dirinya. Adelia berusaha menolak, tetapi pria itu tidak berhenti dan menuntunnya dengan cara yang aneh.
Sesaat kemudian ada perasaan yang membuat Adelia menginginkan lebih. Cumbuan dari pria itu mengundang gairah terpendam dirinya yang dia sendiri juga tidak mengerti. Sentuhan penuh kelembutan di beberapa titik senditif pada tubuhnya terasa seperti sengatan listrik kecil yang menimbulkan sensasi aneh dalam diri Adelia.
Detik-detik berlalu dengan cepat dan Adelia menikmati cumbuan yang diberikan, malah dia membalas cumbuan dari pria asing tersebut. Adelia memeluk tubuh pria tersebut dan membalas ciumannya. Mereka terbuai dalam lautan asmara yang tidak mereka sadari.
Adelia menutup matanya dan merasakan sentuhan dari tangan kekar milik pria tersebut. Gelora kenikmatan yang luar biasa. Adelia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri dan seolah-olah hanyut dalam ilusi yang diperankan pria tersebut.
Desah napas dari pria tersebut begitu mengairahkan dan Adelia tidak berdaya menolak sama sekali.
"Ini gila! Ada apa denganku!?" tanya Adelia dalam hati sambil mengerang dan ingin pria itu bergerak lebih.
Adelia menuntut lebih!
Adelia terkesiap saat pria itu berhasil merenggut kehormatannya tanpa perasaan berdosa.
... Ugh!
Dalam kegelapan kamar VIP tersebut, Adelia masih tidak dapat melihat dengan jelas. "Aku harus menunggu dia tidur, nyawaku bisa terancam," gumam Adelia sambil menahan air mata yang sudah hampir penuh tertampung di kedua matanya.
Adelia berusaha bertahan dan tidak bergerak sama sekali dari pria yang memeluknya sampai terdengar dengkuran halus dari pria di sampingnya.
Namun, sial sekali. Semua tidak berjalan sesuai dengan rencana Adelia. Tubuhnya yang sudah kecapekan malah merasa nyaman dalam pelukan pria tersebut dan akhirnya terlelap sampai pagi.
...
Keesokkan paginya, Adelia terbangun dengan pikiran linglung dan sangat panik setelah menyadari apa yang telah terjadi kepadanya!
Adelia membuka mata dan mulai gelisah. Ruangan masih gelap, tetapi sinar matahari mulai mengintip di balik tirai jendela kamar. "Aku menikah hari ini!" jerit Adelia dalam hati.
Adelia segera bergerak turun dari ranjang secara perlahan dan mengumpulkan semua pakaian yang berserakkan di lantai, lalu bergerak dengan buru-buru memakai semua pakaian tersebut.
"Sial! Kemejaku robek semua! Dasar pria biadab!" geram Adelia sambil melihat ke arah pria yang masih tertidur tersebut.
Pandangannya terhalang karena pria itu sedang terlelap dengan keadaan telengkup dan memeluk bantal, samar-samar Adelia melihat bagian belakang punggung pria tersebut.
"Lukanya besar sekali, sepertinya dia seseorang yang mengerikan," gumam Adelia sambil bergidik ngeri lalu mempercepat langkahnya dan segera bergerak keluar dari kamar yang sudah membawa kesialan baginya sambil menangis.
Dia berjalan sedikit tertatih-tatih menyusuri koridor hotel dengan rasa was-was bila ada yang melihatnya sambil berusaha menghindari letak kamera CCTV agar tidak terekam.
Adelia berjalan sambil merutuk kesialan yang dia alami.
"Apa jadinya nanti kalau calon suamiku mengetahui dosa yang sudah kulakukan? Apakah aku akan diremehkan dan tidak dianggap olehnya? ... Ahh, aku harus buru-buru," jeritan Adelia dalam hati dengan panik, memegang kemejanya yang tidak beraturan dan melangkah dengan gelisah sambil menghapus air mata yang mengalir turun membasahi kedua pipi dengan punggung tangannya.
༺ Zara Stevens ༻Observo serenamente o padre molhando a cabeça do meu filho, enquanto Pietra o segura em seus braços, e do outro lado está o irmão de Rodrigo segurando a vela como padrinho. Finalmente, o batizado do meu filho havia acontecido. Hoje era um dia muito feliz e especial para nós.O padre continua orientando Pietra a dizer as palavras. Meu pai olha tudo emocionado, minha mãe, nem se fala, está tão chorosa. Eu me controlo, mas confesso que, por dentro, estou me sentindo abobalhada com tudo. Assim que o padre termina, ele dá a última bênção.— Que Deus abençoe essa criança e traga muita felicidade para sua vida. Você foi apresentado hoje à casa de Deus e batizado pelo Espírito Santo!Assim que o batizado termina, Pietra me entrega meu filho, emocionada. Talvez ela não esperasse se tornar madrinha de um filho meu tão cedo.— Aqui está o meu afilhado. Agora é oficial, meu amor. Sou sua dinda. Obrigada por me deixar participar desse momento tão emocionante, amiga!— Foi como eu
༺ Aaron Stevens ༻Finalmente havia chegado o grande dia do meu casamento com Pietra. Me encontrava ansioso. Aconteceu muita coisa. Yoko havia me dado o divórcio. Percebi que não adianta insistir em algo que não é recíproco de ambas as partes.Talvez ela tenha se tocado de que não adianta você ficar forçando algo que não é recíproco da outra parte. Tem horas em que precisamos entender que a vida segue seu curso, e não podemos prender uma pessoa que não deseja mais permanecer ao nosso lado.Ela também já estava com outra pessoa, e agora estava na hora de eu me unir à mulher que amava e contava os segundos para isso acontecer. Nada mais impedia a minha união com Pietra.Ando de um lado para outro, estou muito nervoso. Finalmente vou me casar. Sinto um frio na barriga, igual antigamente, pois lembro da sensação da primeira vez que me casei. Ao perceber isso, minha filha se aproxima, colocando a gravata borboleta no meu pescoço, e comenta séria enquanto ajusta meu terno.— Pai, pelo amor
༺ Yoko Muchin ༻O salão onde minha exposição está sendo realizada encontra-se movimentado, porém estou triste, acredito que minha filha não conseguirá vir para prestigiar meu trabalho. Temos conversado muito por telefone ultimamente, mas ainda não cheguei ao ponto dela me perdoar.Respirei fundo e coloquei aquela máscara de mulher poderosa. Aproximei-me de outros convidados que chegavam para prestigiar o evento. Muitas das obras já estavam praticamente vendidas, restando apenas exposições.A obra mais cara que vendi para um dos colecionadores tinha o nome "Uma dor que atormenta", inspirada no sentimento causado pela depressão. Muitas pessoas olhavam curiosas para aquela obra e me perguntavam como eu conseguia transmitir todos os sentimentos que essa doença causava. Apenas sorri e afirmei ser uma sobrevivente dela.Algumas pessoas me olhavam surpreendidas pela coragem de expor meus sentimentos mais escuros. A verdade é que nos últimos dias eu havia me inspirado na tristeza da rejeição
༺ Rodrigo Garcez ༻Depois da chegada de Rafael, eu me sentia mais tranquilo e podia trabalhar sem me preocupar com o que aconteceria em casa. Zara continuava em repouso e havia contratado uma "babá" para ajudá-la a cuidar do nosso filho. Eu não queria que ela ficasse exausta.Eu deixei claro que não queria que Zara se preocupasse com assuntos relacionados à empresa até que passasse o período de seis meses. Eu só queria que ela curtisse nosso filho, e eu também queria passar bastante tempo ao lado dela, não perdendo nenhum minuto do crescimento do meu filho. Mas um de nós dois precisava trabalhar, então comecei a adiantar as coisas na empresa.No segundo dia em que cheguei na empresa, a dona Verônica ficou brava porque eu não havia enviado uma foto do meu filho para ela. Com toda a correria, acabei esquecendo, então mostrei algumas fotos que eu tinha no meu celular para ela. Ela ficou fascinada com meu filho e me deu parabéns. No dia seguinte, meu pai apareceu para ver o neto e também












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.
avaliações