Gone With My Quadruplets Billionaire Exhusband Wants Me Back

Gone With My Quadruplets Billionaire Exhusband Wants Me Back

last updateLast Updated : 2024-11-09
By:  Camilla EverGreenCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
9
6 ratings. 6 reviews
200Chapters
51.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Congratulations.” “Mrs. Miles, you're pregnant with quadruplets, two boys and two girls. The doctor announces it to Estella. It’s quite uneasy for Estella to believe that such a beautiful thing could happen to her after all the sufferings and emotional turmoil she's been through. It’s been five years since she became the wife of a famous billionaire Capitalist. With this good news, she returns to her husband in a haste to spread it. She believes it would be the most beautiful birthday present she could give him as it’s his birthday. Cameron shocks her however. He gets the parcel containing the pregnancy result, the supposed surprise by his wife and shreds it to pieces. He hands her a divorce letter and then takes in her twin sister to be his wife. After a fight with her sister, she goes into a coma. Waking up she finds a hot, man treating her. He saved her life, he is a doctor, and at the same time, happens to be her boss, the billionaire owner of the hospital. She falls for him. Her ex-husband soon regrets his action after thr truth about her pregnancy reveals. “I must find her.” When he eventually finds her, will Estella give him a second chance or will she stick to the billionaire, doctor and boss who's now getting hormonal sparks?

View More

Chapter 1

Chapter 1

Ravika memandangi hasil test pack di tangannya seperti surat panggilan takdir, setelah seminggu terakhir ia sering mual muntah. Dua garis merah. DUA... GARIS... MERAH... Tertera jelas.

"Ya Tuhan..."

Untuk sepersekian detik, dunia seperti kehilangan gravitasi, melayang tanpa jangkar. Suara kipas angin berisik seakan berhenti, bunyi motor lewat seolah diterbangkan, dan jantungnya... hampir menolak kerja.

Ayahnya paham lebih dulu sebelum ia sempat menyusun kata-katanya.

Marno, lelaki yang biasanya pulang sore dengan bau semen dan debu proyek, berdiri di ambang pintu rumah petak dengan wajah yang bukan hanya marah ke anak semata wayangnya, tapi juga... patah berkeping.

“Ini… apa?” suaranya pecah, bergetar, lontaran pertanyaan yang ia sendiri tak mau dengar jawabannya.

Ravika tak bisa menyembunyikan apa pun. Tangannya gemetar di pangkuan duduknya.

“Ayah…”

“Dari siapa?!”

Pekik tertahan pertanyaan itu lebih seperti palu godam daripada kata-kata.

Ravika menggigit bibirnya sampai terasa asinnya darah. Nama itu berputar di kepalanya, nama yang tak berani ia ucapkan, nama yang masih membawa hangat sekaligus pedih. Nayottama. Lelaki yang dua bulan lalu diwisuda, sebelum benteng status sosial dan dunia yang terlalu timpang memisahkan cinta mereka secara paksa.

“Ayah nggak perlu tahu,” ucap Ravika dengan suara lirih yang bahkan ia sendiri hampir tak dengar.

Marno meremas rambut di kepalanya yang memutih.

“Ravika! Anak siapa?!”

Nada itu bukan cuma marah, tapi juga refleksi ketakutan. Takut kehilangan wibawa sebagai orang tua, takut omongan tetangga, takut masa depan anaknya hancur.

Ravika justru menggenggam test pack lebih kuat.

“Anak orang yang aku cintai, Yah.”

Kalimat itu malah bikin Marno tersentak, seperti BBM yang disiram ke bara api.

“Cinta? Kamu pikir cinta bisa bayar beras? Bisa bikin kamu nggak dikatain orang kampung?! Kamu itu perempuan, Naaakk...!”

Ravika memotong, tanpa teriak, tapi tegas. “Aku betul perempuan, Yah, bukan barang. Dan aku yang tanggung semuanya.”

Marno menatapnya, rahangnya tegang. “Kuliahmu? Beasiswamu? Kerja keras kamu selama ini? Buat apa kalau ujungnya begini?!”

“Buat hidup...” jawab Ravika cepat dan tegas. Tapi suaranya tetap gemetar. “Buat jalan hidup yang aku pilih.”

Marno membalikkan badannya, menendang kursi plastik di depannya sampai mental hancur di dinding.

BRAAKKK!!!

“Kamu bikin malu ayah!”

Ravika berdiri, lalu mundur satu langkah, tapi bukan kabur. Dadanya naik turun cepat.

“Aku juga malu, Ayah. Tapi aku lebih malu kalau buang darah dagingku sendiri.”

Kata-kata itu membelah amarah Marno jadi serpihan kecil.

Marno berhenti. Seperti seseorang yang baru kena hantaman di bagian yang paling rapuh. Bahunya yang kaku turun perlahan, napas tersengalnya melemah.

“Jadi kamu pilih anak itu… daripada masa depanmu?” suaranya serak, nadanya menurun.

Ravika mengangkat wajahnya. Ada ketakutan, itu pasti. Tapi ada sesuatu yang lebih keras daripada takut.

“Aku pilih keduanya, Yah,” jawab Ravika. “Tapi kalau Ayah cuma bisa nerima salah satu… aku pilih anak ini.”

Kalimat itu seperti air yang akhirnya menyurutkan bara api. Marno terdiam, menutupi wajahnya yang kusut dengan kedua tangannya yang belepotan adukan semen. Napasnya berat, seperti setiap tarikan adalah perlawanan terhadap kenyataan di depannya.

Tapi ia tidak langsung luluh. Ia lalu hanya duduk di lantai, punggungnya menyandar ke dinding bercat kusam yang mengelupas, seolah tulang-tulangnya mendadak lembek. Tangannya masih menutupi wajahnya.

“Ayah capek, Vik…” katanya pelan, sedikit pecah. “Ayah cuma takut kamu hidup susah kayak Ayah.”

Ravika perlahan mendekat, tapi tetap jaga jaraknya.

"Mungkin aku akan hidup susah, Yah. Tapi aku akan tetap hidup. Dan aku punya alasan untuk terus jalan demi anak ini.”

Marno menggeleng-gelengkan kepala kecil, suaranya berat. Ia belum seratus persen menerima kenyataan pahit ini.

“Kalau kamu mati-matian mau lahirin anak ini… Ayah...Ayah nggak akan tega suruh kamu pergi, Nak. Kamu milik Ayah satu-satunya.”

Ravika menahan napasnya. Sudut matanya mengembun.

“Tapi jangan minta Ayah senyum dulu,” sambungnya. “Ayah perlu waktu.”

Ravika mengangguk, bulir air matanya akhirnya jatuh, bukan karena penuh kelegaan, tapi setengahnya saja sudah cukup untuk membuatnya berdiri tegak.

Di titik itulah, tanpa kata manis, Marno akhirnya luluh, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sadar anaknya tak lagi bisa dibenturkan agar berubah. Nasi sudah menjadi bubur. Dunia sudah memilih jalannya sendiri.

Rumah sempit itu mendadak jadi arena perang tanpa suara. Ibu sudah meninggal bertahun-tahun lalu, jadi tak ada pelukan yang menengahi, tak ada suara lembut yang bisa melarutkan amarah dan frustasi.

Malam itu, Ravika tak tidur. Perutnya memang belum tampak apa-apa, tapi ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya jauh lebih besar dari ukuran janin yang masih sebesar titik. Sebagai mahasiswi beasiswa yang selama ini dielu-elukan kampus, ia hancur dalam satu hari.

Keesokan paginya...

Ia memutuskan menghadap ke pihak kampus.

“Saya mengajukan cuti dua tahun, Bu,” ujarnya datar.

"Ada apa, Vik?"

"Cuma urusan keluarga yang nggak bisa ditunda, Bu."

Dosen pembimbing memandangnya lama, seolah menimbang apakah Ravika kelak masih akan kembali seperti dirinya yang dulu.

Jelas ia tidak akan kembali, setidaknya bukan sebagai orang yang keadaannya sama.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan ritme yang sunyi, bangun tengah malam, muntah, menahan sakit pinggang, menghindari bisik-bisik tetangga, mengumpulkan dan mencatat tabungan seadanya, mengurus pemeriksaan ke puskesmas, berdebat dengan ayahnya lagi yang sekarang tampak seperti lelaki yang bertambah tua sepuluh tahun hanya dalam seminggu.

Kadang Ravika mendengar tetangganya berbisik,

“Kasihan Pak Marno, udah tua tapi anak yang cuma satu malah bikin susah…"

"Yaa, begitulah...anak zaman sekarang...” sahut lainnya.

Kadang ia melihat ayahnya duduk di bale bambu teras rumah melamun sampai malam, hanya memandangi langit seperti mencari jawaban yang tak pernah turun.

Meski begitu, Ravika tidak menyerah. Tidak untuk anak itu. Tidak juga untuk cinta ke lelaki yang tak pernah sepenuhnya padam di dadanya.

Seperti kejadian dua bulan sebelumnya...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviewsMore

sm_young
sm_young
It was a good book
2024-12-11 04:49:06
0
0
Simora
Simora
Very nice book
2024-12-04 00:39:54
0
0
Kimberly Larkin
Kimberly Larkin
I like the book but it jumped from her taking nap to them living together I am a bit confused.
2024-11-21 13:04:46
3
0
Joharia
Joharia
it looks interesting,let m add it in my library am to read it wen its complete
2024-10-26 14:34:10
2
0
Calista Shine
Calista Shine
Story really hooking so far.........
2024-09-20 21:20:28
1
0
200 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status