LOGINWhen my father asked me to choose between the two Lewis brothers I had grown up with to get married to, I chose Joseph Lewis. He was the man I had secretly loved for 13 years. But on the day of our wedding, his stepsister, Jessica Lewis, leaped off the rooftop of the hotel. She left behind a letter written in blood, blessing Joseph and me with a lifetime of love and happiness. It was only then that I learned that the two of them had been secretly in love for years. At the wedding, Joseph lost control in front of everyone, declaring that he would no longer be concerned with any worldly affairs. I was left standing helplessly in place. For the rest of his life, he lived in guilt, keeping vigil beside Jessica's grave. I resented his deceit, yet stubbornly clung to our marriage, and we tormented each other for years. This went on until we were kidnapped one day. To save me, he perished together with the kidnappers. Before he died, he looked at me and said, "Evelyn, it was wrong of me to keep it from you. But now that both Jessica and I are gone, that should settle the debt, shouldn't it? If there's a next time, don't choose me again." Then, I reopen my eyes to see that I have returned to the day when my father asked me to choose my fiance. This time, I will firmly choose his elder brother, Theodore Lewis.
View More"Kamu Wanita cacat! Kamu pikir aku dan keluargaku gila mau menjadikanmu istriku, hmm?"
Bagaimana bisa pria seperti Reiko Byakta Adiwijaya yang begitu terpelajar, terlihat bijaksana dan dewasa menyentaknya dan bicara seperti itu?"Jadi semua sandiwara? Pernikahan ini karena kalian menuruti kakek Adiwijaya saja?""Hmm. Jadi jangan berpikir aku menyukaimu! Maaf ya, aku pria normal. Wanita tanpa dua yang menonjol, sangat menjijikkan! itu kayak aku tidur sama laki-laki."Perih tak berdarah di hati Aida ketika mendengar desis Reiko. Pria yang tampak sangat penyayang dengan senyum selalu merekah, bahkan datang ke keluarganya bersama kakeknya Adiwijaya dan orang tuanya ke rumah Aida baik-baik untuk mempersuntingnya begitu lembut tutur katanya. Aida juga jelas sekali mendengar dia tak sama sekali keberatan dengan kondisi fisik Aida.Tapi lihat sekarang. Baru beberapa jam rasanya ijab qabul berlalu dan Aida diboyong ke Jakarta oleh keluarga Adiwijaya, semua berubah. Di rumah orang tua Reiko, dia sudah disentak saat memasuki ruang tamu. Kedua orang tua Reiko langsung meminta putranya menjelaskan status Aida di balik pengetahuan Adiwijaya.Bagaimana Aida tak murka dirinya hanya diperalat?"Kalau begitu aku tidak mau terikat permainanmu dan keluargamu. Ceraikan aku!" sengit Aida menantang tak mau kalah."Hmm. Menceraikanmu, artinya kamu tidak akan mendapatkan biaya sekolah untuk adikmu Lingga, Arum dan Lestari."Nah, ancaman ini membuat Aida bagai tersambar petir. Adiwijaya, kakek Reiko berjanji, selama Aida mau menikah dengan cucunya, maka biaya ibu dan adik-adiknya termasuk sekolah mereka akan ditanggung. Kalau Aida batal menikah, apa yang akan terjadi dengan pendidikan adiknya?'Kenapa juga kakek Adiwijaya harus begitu baik pada kami dan begitu yakin aku paling cocok buat cucunya padahal banyak kekuranganku dan cucunya juga ga mau sama aku?'Aida tak tahu apa alasan pria paruh baya itu selalu menyokong anggota keluarganya selepas ayahnya jatuh sakit hingga pria itu meninggal. Bahkan setelah semua harta mereka habis, untuk berobat dan operasi Aida yang terkena penyakit seperti ayahnya, hanya bedanya ayahnya kanker hati dan Aida di payudara bisa sembuh karena semua disokong Adiwijaya."Lagi mikir, hmm?"Aida tersentak lagi dengan Reiko yang menyindirnya."Pernikahan bisa batal. Tapi bagaimana ibumu yang sudah menikahkanmu dengan saksi pak RT, wakil RT juga keluargamu itu? Apa mereka tidak akan malu di kampung?"Nah iya, Aida memang tak bisa egois. Saat tadi malam Aida ingin membatalkan pernikahan karena insecure fisiknnya, asma ibunya kambuh. Ratna sesak napas, pucat dan hampir pingsan. Ibunya sudah berpikir kalau Reiko adalah pria sempurna. Keluarga mereka juga banyak berhutang budi pada keluarga Adiwijaya."Harusnya kamu menolak kalau memang tak mau menikah denganku!""Kakekku hampir mati karena kena serangan jantung karena aku menolak. Sampai akhirnya papa aku membuat skenario ini." Reiko kembali menegaskan sambil menatap Aida yang duduk di seberangnya."Keluarga intiku tahu aku sudah punya kekasih. Mereka juga sudah menerima kekasihku. Tapi karena kakek bersikeras dengan ribuan alasannya, jadi kami sengaja mengikuti keinginan kakek tapi aku akan membuat perjanjian denganmu.""Bilang aja, kamu takut ga dibagi warisan, kan? klise gitu alasannya sih?" sindir Aida yang membuat wajah Reiko memerah padam"Jangan banyak bicara!" sentaknya sedetik kemudian.Reiko mengambil map di meja yang membuat sofa yang diduduki Aida bersebrangan dengan Reiko."Ini surat perjanjiannya.Tandatangani dan kamu aku tetap dapat benefit dari pernikahan kita sesuai janji kakekku, Adiwijaya!"Sebetulnya saat mendengar kalimat pertama, Aida Tazkia, ingin bersikeras meminta suaminya menceraikannya saja demi harga dirinya.Tapi mendengar kata benefit, gadis itu terngiang sindiran Reiko. Uang biaya pendidikan Lingga yang sudah diterima di Aero Flyer Institute, biaya masuk SMA dan SMP untuk Arum dan Lestari itu seakan terpampang nyata seperti serial horor dalam benak Aida."Apa yang kamu tunggu? Cepat tandatangani!"Aida kembali disadarkan dengan suara bariton tegas yang membuatnya fokus pada surat perjanjian itu."Boleh aku membacanya dulu?" Aida menurunkan intonasi suaranya, mulai melunak.Tapi justru membuat Reiko memberikan senyum menyindir dan membuat Aida kembali dihinakan.'Benar-benar manner-nya buruk banget! Apa susahnya memberikan kertasnya tanpa di lempar, sih? Dia ingin aku memungut lembaran itu seperti pengemis?'Aida mengomel dalam hatinya saat dia memunguti satu persatu lembar kertas yang dilemparkan Reiko. Pria itu tersenyum menghina. Aida sungguh tak habis pikir.Masih berbekas dalam benaknya apa yang terjadi saat ijab qabul. Reiko yang begitu romantis. Kecupan di dahi itu, cara pria itu merangkul dan menggenggam tangannya tiba-tiba membuat Aida yang bergidik ngeri.'Untuk mengambilkan lembaran di dekat sepatunya saja dia tak mau membantu.'Semua berlawanan. Tak ada lagi kelembutan Reiko. Aida harus berusaha sendiri memungut lembaran itu bahkan ada kertas yang berjarak kurang dari setengah meter dari tempat Reiko duduk. Padahal agak sulit Aida bergerak dengan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.Aida belum mengganti pakaian pengantin karena memang saat sampai di rumah keluarga Reiko, Endra Adiwijaya menunjukkan penolakannya pada Aida. Istrinya dan adik-adik Reiko juga tampak mencemoohnya sebelum Endra meminta Reiko menjelaskan kontrak perjanjian. Di kamar itulah Reiko membuat Aida mengerti tentang statusnya berdasarkan poin perjanjian yang membuat kepala gadis itu berdenyut."Tandatangani cepat! Sudah setengah jam kamu baca itu. Penanya ada di meja!"'Tapi ini semua demi impian dan pendidikan adik-adikku.' Aida mengingatkan dalam benaknya sebelum pena di tangannya bergerak menggoreskan tinta di kertas perjanjian."Ini sudah, mas Re--""Panggil aku pak! Kecuali di depan umum dan di depan kakekku, kamu boleh memanggilku begitu untuk menutupi rahasia yang hanya diketahui keluarga intiku."Lihatlah, betapa Reiko memang sudah tak lagi menganggap Aida sebagai istrinya. Hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis sesuai dengan surat kontrak yang sudah dikembalikan oleh Aida."Baik Pak. Tapi apa boleh saya bertanya beberapa hal tentang poin di kontrak itu?""Yang mana?"Reiko baru mau menyerahkan surat-surat yang digenggamnya supaya wanita itu membacanyaTapi"Pasal ke empat poin ketiga, tentang pihak kedua akan tinggal bersama pihak pertama di tempat tinggal yang sudah ditentukan pihak pertama dan tidak diizinkan menolak. Poin ke empat, Pihak kedua wajib berperilaku baik selama tinggal bersama, menuruti semua perintah pihak pertama selaku seorang istri dan tidak boleh membantah pihak pertama dalam permasalahan apapun. Lalu poin kelima, Pihak kedua akan bersama pihak pertama selama maksimal lima tahun tanpa boleh mencampuri urusan pihak pertama baik dengan urusan pribadinya ataupun pekerjaannya dan tidak boleh mengganggu pihak pertama, membuat malu, menjatuhkan harga diri pihak pertama, dilarang memicu keributan yang mengganggu ketenangan pihak pertama serta harus tetap menjaga rahasia perihal perjanjian yang sudah disepakati kedua belah pihak serta poin keenam, pihak kedua tidak boleh berhubungan dengan pria manapun selama kontrak berlangsung."'Bagimana dia bisa hapal, bahkan tak ada kalimat yang ditambahkan dan disortir?'Tanpa membaca isi dari surat perjanjian, Aida baru saja menanyakan sesuatu yang membuat Reiko diam-diam tak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri.Wanita di hadapannya hanya membaca surat perjanjian dan setelah tanda tangan, Aida tak diizinkan untuk memegang salinannya.Tapi Aida mengingat penuh pasal dan butir-butirnya."Apa pelayan di rumah Anda tidak akan curiga atau mereka sudah tahu rahasia ini, pak Reiko?"Tapi karena Aida sudah bertanya, Reiko berusaha kembali fokus menjawab."Tidak ada pelayan di apartemenku. Harusnya ada, house keeping datang setiap pagi. Tapi karena kamu akan tinggal di sana, aku tidak bisa membiarkan pihak luar tahu rahasia hubungan kita. Jadi kebersihan dan semua yang harusnya tanggung jawab mereka, harus kamu yang menggantikannya. Aku suka kebersihan dan tidak mentolerir sedikitpun berkurang di apartemenku meski cuma satu persen."Kalau tidak ingat biaya sekolah adiknya dan kondisi ibunya yang bisa drop dan shock karena sudah sangat bahagia dengan pernikahan Aida, ingin rasanya gadis itu membuka selopnya dan melemparkan ke kepala suami rasa iblis di hadapannya detik itu juga."Ah, dinikahi untuk jadi pembantu?""Gitu kira-kira. Tapi bayarannya setimpal kan? Mana ada pembantu di bayar miliyaran buat penuhin biaya sekolah adiknya?" Reiko tak kalah sinis menanggapi Aida yang baru menyindirnya."Ingat, kalian bukan orang kaya lagi! Duit kalian sudah habis untuk berobat kan?""Benar sekali. Terima kasih untuk bayarannya dan semoga kerjasama kita tidak ada yang mencederainya.""Aku orang yang memegang janjiku.""Hahaha!" Aida jutru menyindir Reiko dengan tawa terbahak-bahak yang membuat wajah Reiko memerah marah."Apa yang lucu? Kamu tidak mempercayaiku, hmmm?""Janji ijab kabul di depan Tuhan saja Anda cederai, pak Reiko Byakta Adiwijaya. Bagaimana saya bisa menaruh kepercayaan seratus persen pada Anda?"The day Theodore and I officially announced our engagement, Joseph and the other two were formally charged.On our wedding day, they were each sentenced to several years in prison.After I got married, I learned how to manage the business from Dad. Meanwhile, Theodore led the Lewis Group to even greater success.We became the kind of deeply devoted couple that everyone envied.Two years later, I gave birth to our daughter, just as Joseph completed his sentence.We were just celebrating our daughter's birth when Joseph showed up at the hotel.He fell to his knees before Theodore and pleaded remorsefully, "Theo, it all happened because of a moment of recklessness. It was my fault, but I've already paid for it. I really regret what I did now. Please, let Jess out."Jessica's sentence had been harsher because she had encouraged Adam to assault me.I sneered. "If you'd just told your father earlier that the two of you were in love, you might have had a happy ending."Martha was d
Seeing the firm resolve in my eyes, Dad finally relented and said, "Since this is your choice, I'll respect it. But remember—you're my daughter. You don't need to marry for the sake of the company. From the very beginning, I only asked you to consider the Lewis family because we've always been close."Of course, I knew that. I pouted and said playfully, "I know that I'm your most precious treasure, Dad! As long as you're around, no one can ever force me to do something I don't want to do."Dad laughed at that and seemed to find Theodore more pleasing to the eye.He said, "Alright. Get up. You're not like your brother. I trust your character, and I believe you won't let Eve suffer. But don't misunderstand, I won't compromise one bit on what happened today."His tone hardened at the end and carried a faint edge.Theodore said solemnly, "You have my word. I'll give you a satisfactory response."Then, Theodore looked at me reluctantly, as if asking me to wait for him before he left.
Theodore, ever the cold and unsmiling CEO, now looked like a pitiful little puppy who had been abandoned.Seeing him like that made my heart melt. I reached out and pinched his cheek gently, then said seriously, "Alright."Only then did he carry me away with a satisfied look on his face.Meanwhile, Joseph, who had just been dragged up from the floor, watched how intimate we were being. He felt a sudden surge of despair.He mumbled, "You two can't be together…""Jo, save me!" Jessica cried out in panic.Joseph's attention immediately snapped toward her. When he saw that she was being restrained, he shouted angrily, "Let her go! She's the daughter of the Lewis family. How dare you treat her like this?"Standing at the doorway, Theodore stopped in his tracks. Without looking back, he said coolly, "She won't be for much longer."And with that, he left with me in his arms, never once turning around.We returned to my home not long after.By then, Dad had already rushed back after
A tall figure dressed in black burst through the door. It was Theodore who had rushed in, covered in dust.He looked at me in distress. His eyes were burning red with anger as he ground out each word through clenched teeth. "Joseph, who gave you the courage to do something like this to your sister-in-law?"Sister-in-law?Joseph froze in disbelief, as if he couldn't fathom that Theodore could actually be interested in me.I glanced at Jessica, who looked pale and terrified, then turned my gaze to the man I had once been so madly in love with.I asked hoarsely, "Joseph, what kind of prayers were you uttering all those years? Why has your heart become even darker than before?"Joseph's eyes widened in shock as he looked at me. "Were you reborn, too?"I didn't answer as I leaned weakly into Theodore's arms with tears streaming down my cheeks. I buried my face against him, sobbing as I choked out, "Theo, I feel awful."Theodore pressed a gentle kiss on my forehead and murmured softl












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.