LOGINThe most popular girl from my high school is getting married. She invites everyone in our class to the wedding. I want to act like I don't see the message, but she deliberately tags me in the group chat. "You kept pretending to be a rich girl like me in high school, but I don't hold it against you. In fact, I'll allow you to attend my wedding tomorrow to see what the rich life is like." The other classmates speak up. "You're so generous, Haley. It's no wonder you can marry someone from the Baumer family. I can't believe you can even forgive someone as materialistic as Emma!" "Does someone like Emma Larkin even deserve to attend Haley's wedding? She's so full of herself." As the insults become worse, Haley Stockwell steps forward to keep the peace. "Come on, let's put this behind us. I'm not bothered by these things since it's been so long. Anyway, let's not bear a grudge against Emma when she's already so poor and ugly." Everyone in the group chat starts singing her praises and calling her kind and innocent. I sneer. Haley is the one who kept pretending to be rich—I'm the true heiress from an affluent family, yet she made me out to be a liar. She turned me into the target of everyone's insults. I check the digital wedding invitation to see that the venue is my villa. The groom looks familiar—isn't he my husband's driver? I smile at the thought of what's going to happen. I reply, "Sure! I have to attend your wedding!"
View MoreMADU KUJADIKAN BABU
Part 1"Mas, masa Mbak Intan cuma ngasih aku 20 ribu buat belanja, mana cukup, aku 'kan mau beli beras hari ini," rengek Nia yang tak lain adalah maduku sendiri.Mas Iwan yang sedang menyelesaikan berkas kerjanya sebelum ke kantor langsung menoleh ke arahku yang tengah duduk santai sambil menonton acara televisi pagi."Duitnya gak ada lagi, udah tuh cukup-cukupin aja, udah syukur aku kasih duit tambahan buat belanja. Lagian boros amat, masa duit belanja buat sebulan udah habis aja, ini masih tanggal 27 loh, harusnya masih ada sisa buat 3 hari lagi," responku santai, sambil kugoyang-goyangkan kaki yang tengah bertumpang sebelah ini."Sekarang apa-apa serba mahal Mbak, jangankan jatah 20 ribu sehari, 50 ribu aja temenku masih suka ngeluh kurang. Segitu dia cuma belanja sayuran sama ikan doang, lah aku? Masa 20 ribu buat beli semuanya. Ya bumbulah, minyaklah, gas, galon, sayuran dan lainnya juga. Ngira-ngira dong Mbak, Mas Iwan 'kan ngasih duit itu nggak sedikit," protesnya kesal.Sebenarnya ini bukan kali pertama dia protes. Nia maduku yang tak lain adalah sepupuku sendiri seringkali protes soal uang belanja yang kuserahkan padanya.600 ribu. Tak kurang tak lebih. Sudah setahun ini kujatah dia sebesar itu. Cukup? Tentu saja tidak. Aku tahu sekarang apa-apa serba mahal. 600 ribu, jangankan untuk membeli semua kebutuhan dapur selama satu bulan, untuk dipakai beli sayur saja belum tentu cukup.Tapi aku memang sengaja memberinya jatah sekecil mungkin. Aku ingin dia merasakan penyesalan karena sudah berani mengacau di dalam rumah tanggaku. Dia pikir enak jadi maduku?Tepat satu tahun Nia hidup seatap denganku. Aku memang sengaja menyuruhnya tinggal di sini setelah dia sah menjadi istri kedua Mas Iwan, alasannya tentu saja agar aku bisa membalas rasa sakit yang aku rasakan di dalam sini.Satu tahun lalu."Oh jadi ini kerjaan kalian selama di kedai? Pantas saja pelanggan sering protes karena katanya rolling kedai sering tutup di siang bolong, ternyata ini yang kalian lakukan di dalamnya!"Mas Iwan langsung berhambur di kakiku."Maafkan Mas Tan, Mas khilaf."Senyumku tersungging miring, walau aku tengah porak poranda, tapi aku berusaha menguatkan kaki agar tetap berdiri tegak, "khilaf katamu, Mas? Sudah sering kamu melakukan ini dan kamu bilang khilaf? Lebih parahnya kamu melakukan semua itu di tempat kita mengais rejeki, apa kamu nggak malu? Gak takut kamu rejekimu mati setelah kalian melakukan hubungan haram kalian itu, hah?!"Aku baru saja tiba di kedai usaha bakso kami ketika kudapati mereka tengah memadu kasih tepat di atas meja pelanggan. Menjijikan."Iya Mas ngaku salah Tan, Mas janji gak akan melakukannya lagi."Omong kosong! Muak, refleks kusiramkan saja sambal satu wadah penuh pada bagian 'aset' berharga mereka."Aaaww panaaas panas, Mbak!" Nia menjerit."Aku tunggu kalian di rumah!" tandasku sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan kedai.Tak lama aku sampai di rumah. Mereka juga datang dengan wajah meringis-ringis sambil terus memegangi aset mereka."Lihat itu Bibi, anak Bibi yang selama ini Bibi bangga-banggakan malah berani-beraninya menusuk di belakang dan bermain api dengan suamiku."Bibi yang langsung kusuruh ke rumah ketika aku pulang dari kedai itu menatap sinis, "halah, kamu ini bisanya cuma nyalahin orang lain. Suami selingkuh itu karena ada alesannya. Kamu udah intropeksi diri belum?"Aku menyeringai. Sungguh saudara yang tak tahu malu. Bibi malah menyalahkanku alih-alih mengakui kesalahan dan menghukum anaknya."Bener Bu, Mas Iwan juga ngomong begitu. Mas Iwan itu bosan sama Mbak Intan yang sehari-harinya cuma pakai daster dan kelihatan kucel kayak nenek-nenek, padahal umurnya 'kan cuma beda 2 tahun sama Nia," sambar Nia, ikut membela diri.Ekor mata ini refleks menatapnya. Dia persis sekali seperti ibunya, sungguh tak tahu malu. Sudah salah bukannya minta maaf malah membenarkan perbuatannya."Udahlah Intan. Kamu itu gak usah membesar-besarkan masalah, toh semuanya udah terjadi 'kan? Ya udah, mau gimana lagi. Yang jelas Bibi mau suamimu itu bertanggung jawab karena sudah melakukan 'itu' dengan Nia."Mas Iwan yang sejak tadi hanya tertunduk ciut kini mengangkat wajah."Tapi Bi, kami melakukannya atas dasar suka sama suka dan kami-""Baiklah," potongku cepat."Kalau Bibi mau anak Bibi ini menikah dengan Mas Iwan, silakan. Akan kuizinkan mereka menikah," lanjutku."Nah gitu dong. Masa gitu aja repot. Itung-itung balas Budi kamu tuh Intan. Sedari kecil kamu itu diurus sama Bibi, berbagilah sedikit kebahagiaan, dengan cara membiarkan Nia jadi istri kedua suamimu misalnya," cerocosnya lagi.Hmm, rupanya ini yang bibi inginkan, pantas saja saat dulu aku akan menikah dia seolah tak ikut bahagia. Mungkin saat itu dia merasa anaknyalah yang lebih cocok menikah dengan Mas Iwan.Tapi tak apa-apa, akan kukabulkan keinginannya itu sekarang, akan kuberikan suami tak tahu diri itu pada anaknya, dan akan kutunjukan bagaimana hidup anaknya nanti setelah dia menikah dengan suamiku yang dia pikir akan membawa kebahagiaan itu."Tapi dengan syarat. Nia harus tinggal seatap dengan Intan dan akan selalu tunduk juga patuh pada aturan yang Intan buat di rumah ini," tegasku.Si Nia baru akan bicara saat ibunya menyela, "baiklah, Nia setuju."--"Kamu nggak usah banyak protes Nia, lupa kamu sama perjanjian kita dulu? Kamu akan selalu tunduk dan patuh pada apapun aturan yang aku buat di rumah ini," tegasku sambil terus menggoyang-goyangkan kaki dengan santainya."Tapi Mbak, aturan yang Mbak buat itu lama-lama bikin aku stres. Bukan cuma soal uang belanja, tapi soal kerjaan rumah yang semuanya harus kuhandle juga. Nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, nyapu halaman dan lainnya yang bikin aku bener-bener stres. Padahal aku ini istrinya Mas Iwan loh Mbak, bukan babu yang seenaknya bisa Mbak suruh-suruh."Hmmh bukan babu katanya? Dasar gak tahu diri. Dia belum sadar juga rupanya selama setahun ini dia memang kujadikan babu gratisan. Kasihan."Terus kamu maunya apa? Ongkang-ongkang kaki macam nyonya besar begitu? Ngaca dong Nia, kamu itu cuma istri kedua,"Dia menyeringai, kulihat sekilas rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia teriak pada Mas Iwan."Mas, kamu kok diem aja sih? Mbak Intan ini udah keterlaluan Mas, masa aku diperlakukan seperti ini kamu gak tegur dia? Yang adil dong Mas jadi suami, aku ini juga 'kan istrimu."Pria yang sedang bekerja rodi itu menutup laptopnya."Udah diem! Pagi-pagi bikin rusuh aja, kamu tahu gak? Kepala Mas pusing dari semalem karena kerjaan gak beres-beres. Ini lagi, kamu malah bikin tambah pusing aja," responnya kesal sambil melengos pergi ke luar.Aku cekikikan dalam hati. Puas rasanya. Rasain kau madu babu. Kena omel lakimu baru tahu rasa kau.Aku memang menyuruh Mas Iwan bekerja di perusahaan temanku ketika mereka sudah menikah. Selain aku tak sudi lagi mempercayainya mengurus usaha kedai baksoku, alasan lainnya tentu agar aku bisa memeras tenaganya supaya pria itu terus bekerja rodi, mengumpulkan uang yang banyak untukku.Gajinya selama satu bulan masuk ke rekeningku tanpa potongan sedikitpun, juga gaji lembur dan kerjaan tambahan lainnya. Semua jadi milikku, dan hanya kuserahkan 600 ribu pada Nia untuk kebutuhan makan. Makan untuk mereka berdua lebih tepatnya, karena aku seringkali makan di luar tanpa sepengetahuan mereka.Maklumlah, si madu babu itu cuma mampu masak kangkung dan tempe setiap harinya, jadi aku kadang bosan juga.Aku benar-benar menikmati hidup setelah mereka menikah. Merawat diri, olah raga, makan enak, pergi jalan-jalan, shopping dan bersantai ria seharian. Kerjaan rumah semuanya dihandle oleh Nia dan urusan nyari duit tugasnya Mas Iwan. Sementara bisnis baksoku kuserahkan pada adikku, aku hanya terima bersih dari bagi hasil saja. Hmm nikmatnya."Loh Mas, Maaas! Kamu mau kemana kok malah pergi sih?!" teriak Nia kesal. Sayang tak digubris oleh Mas Iwan."Heh Nia, kamu dengar 'kan tadi? Jangan berbuat onar yang bikin kepala pusing pagi-pagi begini. Jadi nggak usah banyak protes apalagi teriak-teriak. Kamu pikir rumahku ini hutan apa? Sana pergi belanja, bikin sarapan terus sikat tuh cucian yang masih menggunung di dekat pintu kamar mandi," ketusku."Tapi Mbak, aku capek. Aku bangun dari sebelum Subuh langsung gosek kamar mandi, terus nyapu, ngepel dan cuci piring. Masa iya sekarang aku harus nyuci juga, mana nggak pake mesin pula," tampiknya lagi."Ya itu sih risiko kamu, salah siapa mau jadi maduku?" balasku santai lalu bangkit dan melengos pergi dari hadapannya.Haley was stunned. She screamed and shouted behind me, "You're extorting me! Seven million dollars for just a few outfits? You can't bully me just because you're Thomas Siegel's wife. I won't let this slide—"I had no interest in listening to her nonsense. I got into my car and left without another word.That evening, however, a video of the incident went viral online.Haley had conveniently edited out the part where I said she hit me. The footage only showed her accusing Thomas of assault and me threatening her to repay the debt.She followed up with another video, where she played the victim. "I can't take this anymore. The powerful are terrifying. With just one word, they can crush the lives of ordinary people like me… Thomas Siegel's wife has been trying to ruin my life, all because he looked my way that one time!"What am I supposed to do? Please, someone help me…" Her story was riddled with contradictions and full of plotholes.Still, the mention of the Siegel family in h
I spent a week recovering in the hospital.Joel tried to visit me several times, but Thomas chased him away every single time.On the day I was discharged, Joel waited at the hospital entrance. He couldn't hold back when he saw me and dropped to his knees. He begged for mercy, "Mr. Siegel, I'm begging you to forgive me this once. Whatever punishment you want, just say the word! If you're still angry, let Mrs. Siegel hit me herself—anything! Just please… Don't treat me like this…"I knew Joel had worked for Thomas as a driver for years. He was always loyal and faultless. Thomas had even spoken highly of him many times.Unfortunately, his judgment failed him because he chose a woman like Haley.Thomas looked at him without any emotion."Joel, I spared you considering your years of service. Don't push your luck. Get out of my sight and never appear in front of me again."With that, Thomas carried me straight to the car.From the rearview mirror, I could see Joel still kneeling o
When I arrived at the hospital, I was rushed straight into the emergency room.Thomas immediately contacted the city's top dermatologist to consult on my injuries. He stayed by my side the entire time.We had dated for three years. Then, he proposed to me right after graduation. In our four years of marriage, he treated me like a child, supported my career, and showed me the utmost love and care.Now, seeing the state I was in, his eyes turned bloodshot, and he looked as though he might cry. I couldn't bear to see him like that, so I tried to comfort him, "It's okay, honey. I just got into a fight with a few wretched women. A few days of rest, and I'll—" I broke off, coughing uncontrollably.No matter how hard I tried to downplay the situation, my suffering revealed the truth.Thomas clenched his jaw. His voice was cold and filled with fury. "Anyone who hurts my woman is asking for trouble."The doctors soon performed a thorough checkup on me. Other than some inflammation in
Haley stormed over to Thomas and pointed at me while yelling, "Mr. Siegel, look at this wretched woman! It's bad enough she came here to ruin my wedding, but she's pretending to be your wife. How despicable and shameless can she be?"Thomas was here today as a guest of Joel, who had invited him to the wedding. Joel might be just a driver, but he had served Thomas for over a decade.Thomas looked in the direction of Haley's finger to check out the woman who was accused of impersonating his wife.The moment his eyes landed on me, his expression froze.He couldn't believe the bloodied and battered figure before him was the same poised, elegant woman he knew as his wife."Is she that woman you just called shameless?"His voice trembled. That was a clear sign that he had recognized me.Truthfully, I didn't want Thomas to see me in such a miserable state, which is why I had kept my head down and avoided his gaze.But I underestimated the depth of his feelings for me. Despite my dishe






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore