Short
Hold Me, Then Hurt Me

Hold Me, Then Hurt Me

By:  BagelCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When I opened my eyes again, I was pinned against the floor-to-ceiling window of the skyscraper by my stepbrother, Rocco. The man I had been infatuated with for a decade. He panted, his hot lips and tongue trailing along my collarbone as he murmured, "Don't go." In my past life, on the night I received my acceptance letter from London Business School, Rocco got blind drunk. Late that night, I gave in to his pleas for me to stay. I willingly gave myself to him. After a debauched night, his cherished fiancée, Clara, caught me walking out of his room the next morning, my clothes in disarray. She ran out in tears, her parting words ringing in the air, "I'll let you have each other." A month after she disappeared, the family search party found her engagement ring at the edge of a cliff. At the bottom of the cliff lay mangled remains, battered by the waves until they were unrecognizable. Rocco clutched that ring and didn't sleep all night. On the surface, he acted as if nothing had happened, even arranging a trip for me to Sicily, telling me to go and relax. The night I landed, I was kidnapped by assassins from a rival family. I screamed for him to pay the ransom, only to hear him give the order himself over the phone: "Don't make her death a quick one. The Costello princess? She's nothing but a damn liability. Torture her. Break every bone in her body. " "This is what she owes Clara." You like playing games, Rocco. But in this life, I refuse to play along.

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Bu, kenapa rasanya jantungku nggak berhenti berdebar?” Zara memegang dadanya, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.

Ibunya, Bu Sari, yang tengah merapikan gaun Zara berhenti sejenak, memandang wajah putrinya yang penuh kegelisahan. “Itu wajar, Nak. Semua pengantin pasti gugup.”

Zara mengangguk pelan. Ia menatap cermin di hadapannya, mencoba tersenyum, namun bayangannya membuatnya merasa asing.

“Zara, tamu sudah berdatangan. Kamu siap?” suara lembut ibunya membuyarkan lamunan.

“Ya, Bu,” jawab Zara, tersenyum canggung menutupi kegelisahannya.

Hujan pagi itu seharusnya menjadi latar hari paling bahagia bagi Zara. Gaun putih dengan renda halus melekat sempurna di tubuhnya, tetapi firasat ganjil sejak pagi tak mau hilang.

Segalanya tampak sempurna. Musik klasik mengalun, dekorasi gereja memukau, tetapi sebuah ketukan di pintu ruang rias mengubah segalanya.

“Kecelakaan?” Zara menatap pria berjas formal yang berdiri di ambang pintu, tubuhnya terasa kaku. Suaranya gemetar, nyaris tak keluar. “Jerry… kecelakaan?”

Pria itu mengangguk, wajahnya datar namun serius. “Benar, Nona Zara. Mobilnya tergelincir karena hujan. Kondisinya kritis.”

Tubuh Zara melemas. Ia terhuyung ke belakang, mencoba berpegangan pada meja rias untuk tetap berdiri. Matanya mencari kepastian pada sosok ibunya, Bu Sari, yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat pasi.

“Ini nggak mungkin…” bisiknya hampir tanpa suara. “Jerry bilang dia akan datang tepat waktu. Dia pasti baik-baik saja… Dia pasti…”

Bu Sari segera menopang pundak Zara, berusaha menenangkan putrinya yang hampir ambruk. Suaranya lembut, namun bergetar. “Sayang, tenang dulu. Kita bisa ke rumah sakit sekarang. Kita lihat dulu kondisinya…”

“Tidak ada yang pergi ke rumah sakit.”

Suara berat itu memotong suasana. Tuan Arman, ayah Jerry, berdiri di ambang pintu ruang rias dengan ekspresi dingin. Wajahnya tegas tanpa ada sedikit pun tanda duka.

Ia melangkah masuk, tubuh tegapnya seperti memancarkan aura tekanan. “Dengar baik-baik, Zara. Pernikahan ini harus tetap berlangsung.”

Zara menatap Tuan Arman, bingung sekaligus marah. “Apa maksud Anda? Jerry butuh kita! Aku harus ke sana! Dia sedang sekarat, dan Anda masih memikirkan pernikahan?”

“Saya tidak bercanda,” Tuan Arman menjawab dengan tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Pernikahan ini tidak boleh dibatalkan. Kamu tahu konsekuensinya kalau ini gagal. Nama keluarga kita jadi bahan omongan. Bisnis kita hancur.”

Zara tertawa pendek, tawa yang lebih menyerupai isakan. “Omongan orang? Nama keluarga? Apa itu lebih penting dari nyawa putramu sendiri?”

“Zara!” Bu Sari mencoba menenangkan, menarik tangan putrinya. "Tuan Arman hanya berusaha menjaga keadaan. Kita harus berpikir panjang…”

“Panjang?” Zara menoleh cepat ke ibunya, matanya memerah. “Bu, ini nyawa seseorang! Ini hidup Jerry, calon suamiku! Bagaimana kalian bisa sedingin ini?”

Ruangan itu mendadak hening. Bahkan suara hujan deras di luar terdengar samar.

Lalu, Tuan Arman membuka mulutnya lagi, kali ini dengan suara lebih rendah namun penuh tekanan. “Jerry tidak akan menikahimu hari ini.”

Zara mematung, menatap dengan kening berkerut. “Apa… maksud Anda?”

Tuan Arman menatap tajam ke arah seorang pria yang berdiri di sudut ruangan. Rian, adik Jerry.

“Kamu yang menggantikannya,” ujar Tuan Arman.

“Tidak,” jawab Rian dingin. Ia menatap ayahnya dengan tatapan tajam.

“Ini bukan permintaan,” tekan Tuan Arman.

“Pernikahan bukan keputusan yang bisa dipaksakan, Ayah,” jawab Rian, menatap ayahnya dengan penuh perlawanan. “Aku tidak akan melakukannya.”

“Cukup, Rian!” suara Tuan Arman meninggi, membuat suasana semakin tegang. “Kamu akan melakukannya!”

Rian terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Zara sekilas, lalu kembali menatap ayahnya dengan penuh amarah yang tertahan.

Jantung Zara terasa berhenti berdetak. Ia butuh beberapa saat untuk mencerna kata-kata itu. “Rian? Adik Jerry?”

“Benar.” Wajah Tuan Arman tidak menunjukkan emosi apa pun. “Dia akan menikahimu, di altar, hari ini.”

“Tidak! Ini gila!” suara Zara bergetar, matanya liar mencari dukungan. “Bagaimana aku bisa menikah dengan Rian? Aku bahkan tidak mengenalnya. Aku… aku hanya ingin Jerry… ”

“Kamu tidak punya pilihan, Zara,” sambung Bu Sari. “Jika kamu kabur sekarang, semua tamu akan tahu, semua investor akan melihat keluarga kita hancur.”

“Investor?” suara Zara melemah, tubuhnya terasa lemas. “Ibu… kau benar-benar menjual aku demi uang?”

Bu Sari mendekatkan diri, menatap putrinya dengan tatapan penuh prihatin. “Ini bukan tentang uang, Zara. Ini tentang kehormatan keluarga. Kamu harus mengerti.”

“Tidak!” Zara berteriak. “Aku tidak mau! Aku tidak bisa!”

“Aku siap,” ucap Rian akhirnya. 

Pandangan Rian menelusuri Zara sebentar, menyiratkan perasaan enggan, namun tak bisa ia tolak.

“Bagus,” Tuan Arman mengangguk, lalu melirik Zara dengan tajam. “Kamu juga harus siap.”

Zara menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. “Kamu benar-benar akan melakukannya? Kamu mau menikahi aku, calon istri dari kakakmu sendiri? Kamu nggak punya hati, ya?”

Rian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Zara dengan ekspresi dingin, seolah mencoba mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. Setelah jeda panjang, Rian keluar tanpa sepatah kata.

“Zara… maafkan ibu,” Bu Sari memanggilnya dengan lembut, mencoba mendekat.

Namun Zara menepis tangan ibunya, ia merasa tubuhnya hampir ambruk. Ia mendekap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Zara memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang terus mengalir. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apakah ini takdir, atau kutukan?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status