LOGINAn ocean between them didn't kill what they had. It just put it on ice. The first time Mia Conti saw Elias Weston, she didn't even know his name. He was just the stranger at the airport who lifted her suitcase without a word. She never expected to see him again—until she walked into the Toronto Raiders' locker room as their new medical intern. Face-to-face with the league's most untouchable, arrogant superstar, Mia realized her "helpful stranger" was actually her biggest professional nightmare. A fiery romance ignites between them, but keeping it alive across oceans and time zones is a different game. As the Chief Sports Medicine Specialist for the Winter Olympics, Mia is busier than ever. Her absence from his games has the media convinced their relationship is dead, painting Elias as a billionaire bachelor who has long moved on. But the tabloids don't see what happens behind closed doors. When Elias arrives in Milan, the world expects a hockey captain strictly focused on gold. Yet, the second they are alone, his hand closes around her waist with a grip of steel. "Long time no see, Mia." The flashbulbs are still going off, but all she can hear is his jagged whisper. "I came back for you." Elias Weston has never been afraid of thin ice. And this time, he's ready to let it all crack just to keep her.
View More"Agni.., cepetan udah telat nih!" seru, Axel seraya melirik ke jam tangannya. Giginya mengertak, tidak tahan menunggu Agni yang selalu ngaret.
"Agni.., gue jalan duluan nih!" pekiknya kembali. Seorang gadis yang sejak tadi namanya di panggil langsung keluar meski riasan wajahnya masih berantakan."Jangan tinggal gue dong!" wajahnya memelas dengan bibir yang sedikit cemberut"Ahk..., Ha ha..." Axel tak bisa menghentikan gelak tawanya. Yah masa sih Agni mau ke kampus dengan lipstik menor gitu. Kayak tante-tante tau gak."Mending lo hapus deh lipstik lo itu!" Axel turun dari motornya. Berjalan mendekati Agni. Dengan tangannya ia membelai bibir Agni bermaksud menanggalkan warna merah pada birai menggoda itu berganti kembali ke warna alaminya."Nah..,cantik,'kan juga kayak gini lo," tuturnya, terus menatap Agni lekat. Entah mengapa membuat perasaan Agni berdebar tak karuan. Gadis itu tak bisa menjawab sepatah katapun. Alih-alih protes dengan sikap Axel. Agni justru hanya mematut iris matanya terus mengarah ke wajah tampan Axel. Wajah yang selama ini ia lihat, tak pernah seharipun mereka terpisah selama lebih dari delapan belas tahun menjadi sahabat. Akankah perasaan itu harus berganti ke romansa cinta. Ahk, membayangkan Axel menjadi kekasihnya saja membuat Agni mau tertawa."Kenapa Lo?!" Axel memincingkan matanya keheranan dengan sudut bibir Agni yang sedikit terangkat."Gue! gue kenapa emangnya?!" Agni berpura-pura bisa saja. Tapi itu mengundang senyum manis di lengkapi lesung pipi milik Axel."Gue tau Lo.., gak usah pura-pura. Lo tadi mau ketawain gue,'kan?!""Enggak.., siapa juga. Kurang kerjaan banget!" Agni tak lagi mau menatap wajah Axel. Karena ia takut, seandainya Axel menatap matanya. Maka pemuda itu juga akan tahu betapa besar rasa cintanya ke Axel. Perasaan yang Agni pendam, bahkan sering kali ia ingkari. Namun.., sebesar apapun usaha Agni. Ia yakin getaran di dadanya itu bernama cinta.Sayang.., Agni tidak bisa mengungkapkan secara gamblang perasaannya ke Axel. Ia hanya takut Axel malah memilih menjauh darinya. Apalagi Axel itu sudah memiliki..."Ni.., cepet dong Sherly ngajakin gue sarapan di kantin bareng ini" gerutunya. Yah, ini adalah salah satu alasannya. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena Axel sudah memiliki pujaan hatinya."Bentar, gue ijin sama Ibu dulu dong," kata Agni mencoba biasa saja. Axel menarik tangannya. "Gue udah ijinin tadi sekalian buat lo!" sahutnya, tidak sabaran.***Motor Axel parkir di area kampus. Seperti biasanya, Agni dengan setia menunggu Axel selesai meletakkan kendaraan ber-cc tinggi itu. Tapi kali ini kesenangannya harus tergores karena Sherly juga datang menunggu Axel.“Sayang.., cepet dong! Aku udah laper ini." Wanita itu terlihat sangat manja pada Axel. Ia bahkan memegangi perutnya seolah benar-benar kelaparan bak korban pengungsian. Tetapi sikap itu hanya ia perlihatkan pada Axel. Sementara dengan Agni, Sherly sangat judes. Ia seolah ingin mengukuhkan jika Axel adalah miliknya“Kamu ngapain di sini?” tanyanya curiga. Matanya memincing tak suka. “Axel udah ada aku, jadi lebih baik kamu pergi deh dari sini!” lanjutnya seraya mengibaskan rambutnya yang tergerai liar. Secara naluri Agni mundur selangkah dan bermaksud pergi dari sana. Sebetulnya Agni memaklumi sikap Sherly, tak ada seorangpun wanita yang mau berbagi kasih pujaan hatinya kepada wanita lain. Meski sahabatnya sekalipun, terlebih Agni menyadari ia telah menodai hubungan ini dengan perasaannya itu, Agni pun tidak mengerti. Bukankah cinta tak pernah salah. Dan ia sendiri tak pernah meminta pada Tuhan meletakkan perasaan cintanya ke Axel. Ia hanya mengikuti arus takdir, dan jika takdir membawanya untuk mencintai sahabatnya sendiri. Agni ikhlas, meski perasaan itu hanya ada dalam hatinya.Agni kembali mengenang kejadian yang membuat ia menyukai Axel.“Pa.., papa, bangun, Pa." Tangis Agni pecah sesaat mengetahui ayahnya harus gugur di medan perang. Meski Agni sangat jarang bertemu dengan Gunawan. Tetapi ia sangat-sangat mencintai pria itu. Hanya Papa'nyalah keluarga yang Agni miliki satu-satunya setelah sang ibu meninggal sekitar tujuh tahun yang lalu.“Papa.., papa gak bisa ninggalin aku kayak gini, Pa. Papa bangun” Ia menggoncangkan tubuh kaku Gunawan yang diletakkan di kamar jenazah. Tangannya perlahan menyentuh luka tembak yang terdapat di dada Gunawan, hatinya remuk redam ketika memperkirakan inilah penyebab ayahnya meregang nyawa di tanah orang. Kini setelah Panglima tersebut terbujur dingin tak ada lagi pelindung bagi Agni. Ia menunduk terus menyanyikan alunan pilu yang keluar dari sudut bibirnya. Seandainya Agni bisa memutar waktu dan meminta sang ayah untuk tinggal saja bersamanya. Atau seandainya Agni diberi waktu satu detik saja untuk mengucapkan kata betapa ia menyayangi ayahnya. Maka Agni rela mempertaruhkan seluruh hal yang ia punya. Tapi sayang.., apa yang telah berlalu tidak mungkin kembali. Kata penyesalan, hanya akan menambah derita tanpa pernah menemui titiknya.“Agni.., udah, Ni!” Axel menarik lengan Agni, pemuda itu mau membangunkan Agni karena sebentar lagi jenazah Gunawan mau dimandikan. Tapi Agni menolak, ia menghempaskan tangan Axel “Jangan sentuh aku! Jangan pisahin aku sama Papa. Papa...” Axel pun sangat sedih. Tak pernah ia melihat Agni sehancur ini Agni yang ia kenal adalah wanita yang mandiri. Ia yang seorang anak tunggal apalagi ditinggal sosok ibu menjadi pribadi yang sedikit tertutup dan kaku. Hanya kepada Axel, Agni menunjukkan keceriaannya sebagai gadis remaja pada umumnya.Axel membeku di tempatnya. Berkali-kali ia mengacak wajahnya sendiri. Air mata seakan terus menutupi penglihatannya, Menjadikan matanya berkabut kepedihan. Ia berusaha tegar untuk Agni. Sayang.., kehilangan Gunawan, sosok kebanggannnya juga membuat Axel hilang arah.Untuk meredam rasanya, Axel menumpuhkan dirinya di lutut kakinya, ia membalikkan tubuh Agni menghadapnya dan memeluk sahabatnya itu erat.“Agni... Agni...” rancaunya disela isak tangis yang keluar dari bibir keduanya. Pelan, Agni membalas pelukkan Axel. Ini pertama kalinya Axel mendekapnya. Meski mereka sudah lama bersahabat tetapi mereka selalu mencoba menjaga batasan.Agni jadi tahu, betapa nyamannya berada dipelukkan lelaki. Atau karena lelaki itu Axel, seseorang yang menemaninya baik suka dan duka. Dekapan mereka semakin erat sampai salah satu petugas menarik brankas berisikan jenazah Gunawan.“Pa... Papa aku mau dibawa kemana?”“Agni.., cukup Agni, lo harus kuat!” tekan, AxelPemakaman secara negara dilangsungkan. Penghormatan terakhir diberikan kepada pahlawan yang gugur di medan perbatasan itu. Sedang Agni, hanya menatap acara dengan pandangan yang kosong. Sejak mengetahui kepergian ayahnya sampai detik inipun ia tidak makan sama sekali. Mungkin Agni berniat menyusul kedua orangtuanya, entalah... Yang pasti Axel tak akan pernah membiarkan itu terjadi.“Ni.., lo makan dong. Nyokap udah buatin roti nih!” ia menunjukkan roti keju buatan Ningsih di tangannya, kebetulan itu roti kesukaan Agni.“Gue suapinnya?” Agni hanya menggeleng lemah“Lo harus makan, Ni!” Axel nampak kesal. Tapi Agni tak jua mau membalas. Ia bagaikan mayat hidup.“Gue tau lo sedih. Tapi lo harus bangkit demi bokap lo. Dia pasti sedih banget ngliat lo jadi kayak gini” Axel menggoyangkan tubuh Agni, Agni sedikit memberikan reaksinya. Tatapan mereka bersiborok.“Gue udah gak punya siapa-siapa lagi, Xel” lirihnya sambil menggeleng. Tangan besar Axel menangkup wajah Agni.“Kata siapa? Lo punya gue. Punya nyokap Ningsih. Dan gue akan selalu ada untuk lo!” janji Axel. Semenjak itu Agni menjadi lebih manja dengan Axel. Tak mau sedikitpun Axel menjauh darinya. Beruntung Axel memahami perasaan Agni.Saat Agni membutuhkan sandaran. Dengan senang hati Axel meminjamkan bahunya. Lama kelamaan, Agni merasa tidak bisa hidup tanpa Axel. Dan ia mendefiniskannya menjadi cinta. Cinta yang tak perlu di balas, cinta yang bahkan berusaha ia sembunyikan karena takut Axel merasa tak nyaman.The scene shifts seamlessly to the winding mountain roads of Cortina d'Ampezzo. Outside the passenger window, the majestic, snow-draped peaks of the Dolomites slowly emerge from the morning mist, their jagged limestone ridges cutting through the sky.Mia sits in the passenger seat, subtly rubbing her stomach under her puffer jacket, her mind swirling with a mix of deep satisfaction and immediate regret.Lunch at a rustic mountainside trattoria had been her downfall. Confronted with authentic Milanese ossobuco and rich, creamy saffron risotto, she had completely thrown all dietary restraint to the wind.Now, she feels so stuffed she could practically roll out of the car."What route are we taking today?" Elias breaks her silent self-reproach, glancing at the navigation screen. "How's the difficulty?"Mia props her chin on her hand, casting him a sly look. "The standard tourist path is easy, but boring. Today, we're taking the actual alpine hiking trail.""So, it's going to be exhausting
Dawn breaks over Milan, painting the cobblestones in soft, golden hues.Having strictly managed a certain alpha's boundless energy last night just so they could actually get out of bed, Mia drags a freshly showered Elias out the door.She bypasses the tourist-heavy Duomo, leading him directly into the Navigli district—a labyrinth of ancient canals and quiet, breathing streets she grew up in. The morning air is crisp, filled with locals walking dogs and carrying fresh groceries.Elias's towering frame looks almost comical as they squeeze into a tiny, unassuming corner cafe. The wooden bar is worn smooth by decades of ceramic cups. It's a local secret run by a mother and daughter. When the morning pastries run out, the doors lock.Mia drops his hand to order in rapid, fluent Milanese dialect, then turns back to her giant of a boyfriend. "Alright, time for a real Milanese breakfast."The owner slides a tiny cup of pitch-black liquid, a golden, flaky croissant, and a small dish of marinat
With the Olympic gold safely secured, the roaring tension begins to settle. For Elias and the Raiders, the months of suffocating pressure finally dissolve. They are officially on vacation.Inside the Olympic Village, Elias wraps up a light core maintenance routine and steps out of the shower. He picks up his phone from the nightstand just as it lights up.[Mia]: The worker bee is officially on duty.A lazy, devastatingly handsome smile spreads across his face. He types back.[Elias]: Don't worry. I'm up early to keep you company.A mischievous glint in his eyes. [Elias]: Just making sure my stamina is up to par for tonight, babe. You seemed pretty obsessed with how my core felt under your hands yesterday. Gotta keep this body tight if I want to keep you helpless beneath me.Mia stares at her screen, her cheeks bursting into a furious, violent blush.[Mia]: ......"Mia, good morning!"Mia jumps as a fellow medical colleague suddenly calls out from behind her. With lightning speed, Mia
Two souls finally collide at the exact same starting line."I never actually thought we would last this long," Mia murmurs, her gaze drifting toward the floor-to-ceiling windows where a sparkling river of Milan's night lights stretches into the horizon.She rests her head back against his solid chest. "At the beginning, I just had a day-by-day mindset. I figured we would just see how far we could go before the distance broke us."Accepting his confession back then is a decision she made after intense deliberation, but she never dares to dream of a permanent forever.She turns around in his embrace. "Thank you for everything you've done. For giving me the courage to finally hand my future over to you. Trust is a terrifying thing, Elias."For a woman as fiercely independent as Mia, learning to rely on a man is the ultimate testament to his devotion.From the moment he ruthlessly uproots his life, shifting his corporate empire to Milan just to plant his roots where she stands, she feels
"Mia," Elias stares into her eyes. "Eighteen months. At most. Or less, if I can swing it. Once the contract extensions are signed and the Weston Group's restructuring is finalized, I'm coming for you."He speaks with the gravity of a king swearing an unbreakable oath before his deity. "I promise."
The rain has finally stopped, leaving behind the heavy, intoxicating scent of damp earth and cooling asphalt.For Mia, the air feels different today. The victory of the night before still hums in the city's veins, but for her, the clock is ticking.Every second in this city is now a treasure, a gra
The massive screens lining the bar are a strobe-light blur of silver and ice, looping the Raiders' Stanley Cup-winning goal over and over.Tonight, the city is bleeding Raiders blue."Our names are finally going on that trophy, boys!" Lucas bellows, hoisting a pint of beer high enough to splash the
The room gasps.The patriarch's face reddens, his grip tightening on his mahogany cane. "You dare curse this family? You speak of ruin while standing in the house I built?"Mia feels the heat radiating from Elias—a fierce, protective energy. She reaches out, her small hand covering his on the table












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews