LOGINThree years after my death, my mother finally remembered my existence. As my older brother was having kidney failure, she wanted me to give him my kidney. To force me to make an appearance, she pushed my severely depressed wife into committing suicide and left my daughter roaming the streets to be killed in a hit-and-run. However, she still did not give up. She started making up things about me on the internet. In the end, my friend told her, “Mrs. Harding, Aiden died in the earthquake three years ago. A steel girder pierced him right through the heart after he saved you, and he died on the spot due to blood loss.”
View More“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”
Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatinya itu mendecak kesal. “Diam!” bentak Cade. Dia melepaskan jaring-jaring itu dari tubuh Rose, kemudian mengikatnya dengan tali tambang yang kasar. Ikatan talinya sangat kencang dan rapat, menjerat tangan Rose ke tubuhnya dengan sempurna. Meski begitu, Rose masih menggeliat untuk melepaskan diri. Melihat Rose yang tetap berusaha lepas walau mustahil, Cade merasa muak. Dia berjongkok di hadapan Rose, lantas mencengkram wajah Rose dengan tangannya yang besar. Tatapannya pada Rose sangat tajam, selagi bibirnya mendesiskan sebuah kalimat ancaman. “Jangan berpikir untuk kabur dariku, Kucing Kecil. Karena mulai dari sekarang, kamu adalah barang daganganku.” Beberapa menit yang lalu… “Astaga, matahari siang ini terik sekali.” Rose menyipitkan mata saat menengadahkan kepala ke arah langit. Cuaca hari ini sangat panas. Angin yang berembus kencang pun tidak sejuk, justru membawa serpihan pasir dan debu. Dari balik reruntuhan bangunan, Rose keluar setelah celingukan memastikan tiada siapa pun di sekitarnya. ‘Srak!’ Kaki Rose yang melangkah di tanah kering menginjak sesuatu. Dia menunduk, melihat di bawah kakinya ada sebuah kertas brosur yang dipenuhi noda tanah. Tidak ada gambar, hanya ada tulisan besar beserta deretan angka. [Sanctuary Dome Akan Membeli Wanita yang Kalian Bawa! Setiap Wanita Akan Dihargai 500 juta Goldyn!] Rose mendecak, “Mereka masih mengumumkan sayembara itu sampai sekarang? Memangnya, masih ada perempuan yang tersisa?” Sudah tiga tahun berlalu sejak wabah virus Dextron menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Peradaban lumpuh, petinggi dunia menyelamatkan diri mereka sendiri ke pulau di tengah laut yang mereka sebut Pandora. Populasi manusia nyaris punah, terutama wanita. Virus Dextron lebih rentan merenggut nyawa wanita, menyebabkan populasi wanita tersisa 20 persen. Itu yang Rose dengar tiga tahun lalu. Dan sejak saat itu, petinggi dunia di Pandora melancarkan pembangunan Sanctuary Dome dengan dalih memulihkan peradaban manusia. Apakah mereka ikut serta dalam pembangunan itu? Tidak. Rose pikir petinggi dunia ada di Sanctuary Dome, tapi nyatanya tidak. Dari awal virus datang, mereka hanya duduk manis di Pandora. Tanpa perlu khawatir terinfeksi. Mereka tidak hidup langsung di tanah yang tak layak huni ini, tapi berkuasa penuh atas seluruh manusia di sini. Mereka tidak pernah memperhatikan kondisi para warga di Wilayah Luar, tak peduli korban terinfeksi bertambah, tapi memaksa semuanya mengikuti kebijakan mereka. Salah satunya adalah ‘Program Kehamilan Massal’. Program untuk mengembalikan jumlah populasi manusia secepatnya, dengan memanfaatkan rahim para wanita yang tersisa. Program yang memaksa wanita hamil dengan minimal tiga pria. Rose menginjak-injak brosur itu dengan penuh kebencian, selagi mulutnya memaki tanpa henti, “Sialan! Mereka masih memperlakukan wanita layaknya mesin pencetak anak, hah? Dasar sampah!” Brosur itu lalu ditendangnya kuat-kuat hingga terbang bersama angin. Dia berjalan keluar reruntuhan dengan membawa sebuah botol minum kosong. “Laki-laki itu memang menjijikan!” sungut Rose, “gara-gara program konyol buatan mereka itu, aku jadi tidak bisa keluar dengan bebas! Cari makan saja harus menyamar!” Rose mendekati sumber air yang telah dipasangi keran dua tahun lalu. Orang-orang sekitarlah yang menggali sumber air, laku memasangnya dengan keran yang disertai alat penyaring dan penetralisir air sehingga bisa langsung diminum. Mereka mendapatkan alat itu dari bawah reruntuhan. Selama dua tahun, mengalirnya air bersih siap minum dari keran itu menjadi penyelamat banyak orang. Namun, tidak banyak orang yang bertahan hidup. Para wanita termasuk ibu Rose dibawa oleh Hunters, pasukan utusan Sanctuary Dome yang bertugas mencari penduduk wanita yang tersisa. Sementara para pria banyak yang mati kelaparan. Hingga kini hanya tersisa Rose seorang. Rose sebenarnya cukup beruntung karena orang-orang yang mengenalnya sudah tiada. Jika iya, dia sudah dibawa oleh mereka ke Sanctuary Dome untuk dijual. Tapi yang merepotkan, dia jadi harus berjalan kaki beberapa kilo menuju pasar untuk mendapatkan bahan makanan tiap minggu. Belum lagi harus menyamar menjadi laki-laki agar tidak terendus oleh para pencari wanita. Dirinya sepenuhnya aman hanya ketika berada di tempat tinggalnya. Itulah mengapa, Rose lebih memilih mendekam di bawah reruntuhan itu selama satu tahun terakhir. Berpindah tempat sama saja dengan menyerahkan diri untuk ditangkap. Rose meminum sebotol air bersih dalam lima tegukan cepat, seperti orang dehidrasi. Dia mengusap mulutnya yang basah, lantas mengisi botolnya kembali untuk persediaan air minum di rumah. Air yang keluar dari keran siang ini cukup deras, hingga percikannya mengenai celana longgar Rose yang berdebu. Dia tidak pernah lagi berpakaian layaknya wanita demi keselamatan nyawanya. Akan lebih mudah baginya untuk menyamar jika pakaian sehari-hari sudah seperti lelaki. Asalkan dia menyembunyikan wajah dan rambutnya, tidak akan ada yang tahu kalau dia wanita. “Saatnya kembali ....” Suara Rose seketika tercekat. Kakinya yang hendak melangkah mendadak kaku, saat matanya menangkap sesosok manusia yang tidak dia sadari telah berada di sekitarnya. Hanya berjarak beberapa langkah saja, seorang pria bertubuh tegap nan kekar tengah berjalan ke arahnya. ‘Gawat!’ batin Rose yang mulai berkeringat dingin, ‘aku harus kabur sebelum dia melihat—’ Terlambat. Belum sempat kaki Rose bergerak, pria itu sudah lebih dulu beradu pandang dengannya. Yang artinya, dia melihat penampilan Rose apa adanya. Penampilan Rose sebagai seorang wanita. Tanpa penyamaran. Rose berharap pria itu bukan pengincar wanita. Namun, jika melihat betapa nestapanya kehidupan manusia di Wilayah Luar, tidak mungkin ada seorang pun yang akan melewatkan kesempatan mendapat 500 juta Goldyn. Termasuk pria yang mempercepat langkahnya menuju Rose. ‘Sial! Kenapa aku tidak menyadari keberadaannya?!’ tukas Rose dalam hari sembari berlari menghindar. Tak pernah Rose tepergok seperti ini. Dia selalu waspada dan mencermati keadaan sekitar sebelum keluar tempat tinggal tanpa penyamaran. Selain itu, dia juga peka terhadap hawa keberadaan seseorang. Itulah alasan Rose bisa terus bersembunyi. Namun, entah mengapa, kali ini Rose sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan pria itu. Tiba-tiba, dia melihat pria itu sudah beberapa langkah saja darinya. “Hei! Kamu wanita, kan?!” Pria itu berseru. Rose yang lari masuk ke bawah reruntuhan tidak menjawab. Dia sibuk mencari tempat persembunyian. Sampai akhirnya memutuskan diam meringkuk di dalam lemari yang terletak di pojok reruntuhan. Dengan mengandalkan pendengarannya, Rose memperhatikan langkah si pria. Dari mengelilingi reruntuhan, mendekati persembunyian Rose, sampai perlahan menjauh. Lalu menghilang. ‘Apa dia sudah pergi?’ batin Rose.Anthony did not go home all month. Samantha shut herself in her room and kept holding onto the family photo. She kept apologizing and occasionally interjected with loud curses. It was like she had gone mad. When she got hungry, she would order takeout. She did not shower or clean herself, and she developed a stench. One day, her cloudy eyes suddenly gained clarity. She looked out the window. “If I cared more about you, would things have ended up differently? Would I have had a good and loving son, a sweet daughter-in-law, and an adorable granddaughter?”This supposition was pointless. There were no “what ifs” in life. She only felt regret because her reality did not match up with what she wanted. The hospital called Samantha. Due to the way Anthony had been eating, drinking, and staying out late, his kidneys were failing again. He might not survive the month. After hanging up, Samantha slapped herself hard. Then, she let out a laugh. “This is karma. This is all karma. We
Samantha was rooted to the spot, completely stunned. She looked like a puppet with its strings cut. After a moment, she ducked her head and went home. The next day, Arnold came by and rang the doorbell. “Mrs. Harding, Aiden left some of his things at my place. We’ve decided to move the whole family abroad, and we’re selling the house. That’s why I brought everything here to you.”Samantha thanked him numbly and then opened the box with all the things I had left behind. Anthony exited his room with a yawn. He looked at the box with disdain. “Aiden’s been dead for three years. What’s the point of bringing his things here now? This is unlucky stuff. You should throw it all away.”Samantha ignored Anthony. She reached into the box and took out three brand new pairs of gloves made of sheep’s wool. There were also several boxes of expired hand cream.There was even a sticky note with handwritten instructions. Samantha sobbed at the sight of it. “Aiden bought these specially fo
Anthony was not the type of person who could sit still and behave. After being discharged, he went against the medical advice given to him to stay home and rest. Instead, he went out late at night with his friends to go drinking. When Samantha arrived at the diner Anthony frequented for supper, she found him and his friends drinking. She was about to go over and tell him off, but then she heard Anthony saying something conspiratorially. He said, “You don’t know how hard I’ve been having it! It’s been so tough faking it! I never liked studying or being all nerdy. I like sports and playing basketball. But to keep up the act of being physically weak, I had to suffer for thirty whole years!“When I found out that my horrible little brother died a few days ago, I was overjoyed! I’ve hated him since he was born. I’ve been doing everything I can to frame him since I was a kid. I wanted my parents to either beat him up so badly that he wouldn’t survive or send him away, but he still kep
Early the next morning, when Samantha came to visit Anthony, she brought some chicken noodle soup. When she got to the door of Anthony’s ward, he was being pushed out in a wheelchair by a nurse. When the nurse saw Samantha, she immediately frowned and chastised her. “What’s wrong with you and your family? The patient is having his kidney transplant soon, but none of you are with him. Where have you been?”Samantha looked at Anthony in confusion. “How is it that you’re getting a kidney transplant? Didn’t you say only Aiden can be a donor and no one else can?”Anthony looked at Samantha coldly. He still remembered the slap she gave him yesterday. “I never said that no one else can donate. I only said that he would be a better match because we’re brothers. You were the one who misunderstood. Don’t blame everything on me.“Besides, I did the kidney matching long ago. If I’d known Aiden was dead earlier, I wouldn’t have waited so long for nothing and suffered so much. Since you’re












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.