Mag-log inOn the day I get promoted to the department manager, I take my parents on a trip during the holidays. But my dad invites my older brother, Jacob Hunt, and his family over as well. He even posts on social media about the event. "My oldest son really is amazing. The first thing he does is sponsor a trip for me right after he receives his salary." Jacob comments on that post, "It's my duty to care for my parents." All of my relatives compliment Jacob right away. They even text me on the family's group chat and tell me to learn from Jacob. As I quietly stare at my dad's social media post, I decide to unlink the family sharing account from my credit card right away. This time, I want to see how Jacob will care for our dad without my money.
view moreSetelah memastikan semua makanan keluar dengan menu yang komplit untuk kenduri, aku masih harus berjibaku dengan tumpukan dandang, panci dan banyaknya piring kotor bekas memasak. Beberapa tetangga yang ikut membantu siang ini pulang lebih dulu karena azan Duhur sudah berkumandang.
Kugosok pantat panci dengan abu dan sedikit sabun colek untuk membersihkan kerak yang menempel karena terpanggang di atas tungku perapian. Menata kembali wadah bersih ke tempatnya sebelum nanti di pakai lagi untuk memasak nasi dan sayur.Hari ini tujuh bulanan Sinta, adikku. Suaminya yang seorang pelayaran, meminta diadakan acara besar hingga nanti malam, aku yang mengurus segalanya sejak kemarin, belanja di pasar, mengupas bawang, mencuci ayam dan perabot kotor bekas memasak.Ya tentu saja harus begitu, jika yang lain datang membawa banyak bingkisan dan sembako, aku hanya mampu mengupayakan tenagaku agar meringankan beban ibu di rumah ini."Hey, jangan dibuka-buka! Itu untuk pengajian nanti malam!"Suara mbak Tri memecah heningku, suara istri kakak tertuaku itu membuatku berdiri dan melihat apa yang terjadi di dalam ruang makan. Nadia, putriku menunduk dengan takut, piring berisi nasi putih di tangannya bergetar."Ada apa mbak?" Aku usap tangan basahku di ujung daster, mendekati Nadia yang tak bergerak dari tempatnya."Tuh anakmu, diajari sopan santun bisa kan wi, bukan asal comot saja makanan orang, seperti kucing!" Umpatnya dengan mata membelalak.Astaqfirullah!Hatiku bagai dipecut mendengar ucapan kakak iparku itu, setelahnya mbak Tri berlalu pergi, namun sempat melirik tajam pada Nadia.Aku berjongkok, gadis tujuh tahun itu tertunduk takut, kusibakkan rambutnya yang tergerai, lalu mendudukannya di kursi makan."Nadia mau ayam ini?" Aku menunjuk ayam kecap di dalam baskom putih, sedikit terkejut saat gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, wajah sendu itu terangkat menatapku."Kuahnya saja buk, Nana mau kuahnya saja"Deg! Jawaban Nadia membuat hatiku teremas, Gadis kecil ini begitu suka makan ayam kecap masakanku, dan sekarang dia hanya meminta kuahnya, hati ibu mana yang tak terlucuti mendengar penuturan lirihnya."Gak mau ayamnya?" Aku kembali menawari, ada potongan kecil-kecil kulit ayam yang terlepas dari dagingnya."Kuah saja buk, nanti bude Tri marah lagi" Ucapnya polos.Mendengar kalimatnya, bulir bening lolos juga dari netra, terlebih memandang dua kelopak matanya yang berbinar, gadisku begitu berbesar hati menerima. Kutuangkan dua sendok kuah kecap ke dalam piring, dan dia duduk dipojok dekat tempatku mencuci."Ke depan saja makannya, nanti kalau ibu sudah selesai, kita bisa pulang dulu"Dia menggelengkan kepala. "Di sini saja bu." Ucapnya lalu memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut.Aku berjalan mendekat, duduk kembali ke tempatku dan menyelesaikan pekerjaan yang ku tinggal. " Buk, burger itu enak nggak ya?" Nadia tiba-tiba saja bertanya.Deg!Aku menangkap nada sedih dalam kalimatnya. "Memang siapa yang makan burger?" Tanyaku tak tega menatap netranya yang sendu"Semua buk. Mbak Lisa, mas Bagas, adek Juan juga makan di piring kecil. Bude bilang ke Tante Ratna, Nana gak boleh makan, lidahnya gak cocok, suruh ibu belikan sendiri makanan lain. tapikan ibu kan belum punya uang ya bu?"Allah!Lemas sudah kakiku mendengar kalimatnya, mengapa bocah sekecil ini harus menanggung kebencian semua orang pada kemiskinan kami. Aku mencoba tersenyum,k kini aku mengerti sekarang, kenapa Nadia memilih makan di sini, entah dari mana burger itu berasal, tapi itu sudah membuat hati putriku terluka.Apa salahmu nak, sehingga begitu berbeda mereka memperlakukanmu, batinku serasa menjerit melihat ini semua."Gak apa, nanti kalau Ayah dapat uang lebih, kita beli burger besar ya, yang ada telur mata sapinya." Aku coba membesarkan hatinya yang patah.Gadis itu tersenyum menganggukkan kepala, memasukkan kembali dengan lahap nasi kecap berbau ayam ke dalam mulutnya yang kecil.Brak!Mbak Tri meletakkan kasar tumpukan piring kotor di dalam wastafel dapur. "Memang kapan mau beli burger ? Makan enak saja numpang di rumah ibu, mimpi mau beli burger yang ada telurnya. Jangan percaya Nad, ibumu bohong!""Mbak!" Aku segera berdiri dan menutup kedua telinga Nadia."Apa? Jangan suka sesumbar tinggi sama anak lah Wi, nanti dia manja. Lagian kita ini bukan gak mau kasih burger yang di bawa Hendra ya, tapi takut saja anakmu gak cocok makan makanan begitu, nanti muntah disini, siapa yang repot?" Dia berkilah sembari berkacak pinggang."Sudah cukup mbak! " Aku menarik tangan Nadia menjauh, keluar dari dapur, menghindari mulut pedas mbak Tri.Sebenarnya, bisa saja aku menjawab, namun bukan di depan Nadia. Dia tak boleh melihat pertengkaran diantara aku dan budenya. Bagaimapaun Nadia tak boleh menaruh rasa benci pada keluarganya sendiri."Wi, mau kemana?"Ibu yang tiba-tiba datang membuatku menghentikan langkah, kuseka air mata di pipi dan tersenyum mendekati ibu."Pulang sebentar bu, sepertinya Nadia gerah, mau mengantikan bajunya juga yang basah."Namun mata ibu justru tertuju pada piring ditangan putriku. "Nadia sudah makan?"Gadis itu menganggukkan kepalanya."Enak ya ayam buatan ibu? Ibu Nadia kan memang pintar masak ya nak, mau nambah?" Ibu mengusap rambut Nadis."Sudah mbah ti, nanti bude marah lagi"Ucapan gadis ini membuat mbak Tri melirikku tajam.Sepertinya ibu tak mendengar, ibu hanya diam dan membuka plastik besar di sampingnya."ini baju muslim untuk Nadia, nanti dipakai buat ngaji disini ya?"Ibu memberikan plastik merah kepada Nadia, gadis itu menyambutnya dengan senyum mengembang. Sementara aku semakin tak enak hati dengan sikap ibu, terlebih mbak Tri tak berhenti menatapku tak suka.***Malam tiba, mereka semua mengaji dengan tenang, aku bersama beberapa tetangga sibuk di dapur sementara dua menantu ibu yang lain duduk di luar untuk menyambut tamu yang datang, mereka bahkan memakai gamis senada dengan warna biru kehijauan.Aku adalah anak ke dua di keluarga ini dan menikah dengan Mas Alif yang kini bekerja jadi seles makanan ringan. Kakakku Mas Aziz seorang ASN di kantor kabupaten, mbak Tri istrinya seorang menejer di sebuah pabrik garmen di kota ini. Sedangkan Hendra, Adik lelakiku adalah karyawan Bank swasta, punya usaha toko sepatu dan alat tulis, istrinya Ratna yang membantu mengurus usahanya."Lho mbak, kok disini? gamisnya kenapa gak di pakai?" Sinta adik terkecilku ke dapur dan melihat aku masih sibuk dengan makanan yang akan disajikan." Gak mau katanya, gak cocok buat dia! Sudah ayo ke depan saja! " Ratna yang melihat langsung menarik Sinta keluar."Gamis apa maksudnya? Ah, nanti akan aku tanyakan pada Sinta." Aku bergumam sendiri.Setelah acara selesai, mereka semua duduk di ruang tengah, aku masih sibuk membersihkan piring kotor di atas tikar."Acaranya lancar ya Sin, semoga lahirannya juga lancar, ibu dan bayinya sehat ya." Mas Alif mendoakan adik perempuanku, doanya terdengar tulus.Sinta tersenyum. "Amin, terimakasih ya mas doanya""Ya jelas lancar, sehat, suami sinta punya banyak uang, kalau cuma bayar lahiran tak akan membuatnya berhutang ke sana kemari!" Mas Aziz menimpali.Mas Alif tersenyum menganggukkan kepala. "Alhamdulillah mas, Sinta dapat suami yang bisa mencukupi kebutuhannya""Iya bukan sepertimu yang masih kurang saja memberi istri!" Mbak Tri menyela ucapan mas Alif."Maaf mbak, kenapa mbak Tri bilang begitu?" Mas Alif masih dengan lembutnya bertanya."Yaa kalau cukup, tak perlulah ibu belikan baju muslim untuk Nadia, Ibu beli karena kasihan sama kamu dan istrimu itu cuma kasih pakaian layak buat anak saja tak bisa!"Aku terdiam, menatap wajah mbak Tri yang nampak puas menghina mas Alif. Meski hatiku menjerit mendengarnya merendahkan kami, aku masih diam menghargai ibu sebagai pemilik rumah ini."Nadia dibelikan baju muslim mbak? Ih, kok ibu pilih kasih! Lisa, Bagas dan Juan juga cucu ibu lho, masak cuma Nadia yang dibelikan!" Ratna berdecak kesal, dia menantu yang banyak maunya."Ibu belikan Nadia kan karena kasihan Na, buat apa nunggu ibu belikan Juan! Kita masih bisa beli sendiri, kalau Mas Alif kan beda, dia tak bisa belikan Nadia baju bagus, makanya minta ibu belikan untuk anaknya !" Hendra menambahkan."Ibu belikan bukan karena kasihan, ibu beli karena Nadia sudah rajin mengaji, sudah belajar Iqro 4 juga. Lagian apa salahnya ibu memberi Nadia baju muslim? Dia tak meminta kalung baru seperti Lisa, Jaket dan sepatu baru seperti Bagas, Tak juga minta stroller baru, Kasur baru seperti Ratna ibunya Juan. Jangankan meminta ibu, di sini Dewi saja tak mengambil apapun bila tak di beri!"Kami semua terdiam, ibu yang kami kira masih di belakang ternyata sudah berdiri di ambang pintu, menatap kami satu persatu.Dad threatened, "I'll go to your hotel to cause a scene if you don't help Jacob!""Go ahead and cause a scene, then! You ought to know that our hotel's popularity has improved since the last time you caused a scene—and I even got a promotion out of it! You're more than welcome to go back and try again!" I stated earnestly.Dad was instantly silenced.I felt a brief sense of regret, wishing that I hadn't spoken up earlier if I had known that Dad would stop. I had been mentally cycling through various strategies to capitalize on his tantrum and push the hotel's visibility to new heights, after all. I ignored Dad after that, though I still called the police to help with Jacob's situation. Jacob had already left the country, though, so there wasn't much the police could actually do besides keep an eye on things.I eventually got sued by Dad over the matter. I provided the court with years of financial statements showing how I had bankrolled him and Jacob, along with evidence of his b
Upon seeing that I wasn't buying it, Dad immediately came clean. "Jacob took out a loan using explicit photos of himself as collateral. They threatened to post those photos online and reveal them to Katie if he defaulted. "You're aware that Jacob has a four-year-old child who needs a mother, and Jacob can't survive without Katie either."I immediately grasped the situation; the final remark was the most important point. Jacob was completely infatuated and had insisted on marrying Katie, even though she was an alcoholic. He and Katie even became freeloaders at his mother-in-law's house once they got married.Dad had been against the relationship from the start, but every time he tried to pull them apart, Jacob would go into a total tailspin and even tried to slit his wrists a few times.It made sense now why Jacob was desperate enough to go to Northern Morthaven for work. "Jacob met a friend who told him there was a way to make a lot of money. He unexpectedly got lured to Norther
Dad snapped, "Why are all of you taking his side? Do none of you care about familial bonds?"It was then that one of the onlookers yelled indignantly, "Why aren't you making your oldest son pay the younger one back if you're so big on family? Why don't you pay for the expenses yourself instead?"Dad, with no defense left, resorted to sitting on the ground and wailing. "Why is my life so miserable? How could I have such an ungrateful son who has no respect for his parents? I'm better off dead!""Do you intend to remain silent, Mom?" I asked, spotting Mom trying to keep her distance.Mom stood there, hesitating for a long moment before eventually yelling at Dad, "Please stop embarrassing us, Kevin!"Upon seeing her reaction, Dad pointed at Mom and snapped, "How can I have such an ungrateful son and an unreliable wife?""You're being so unreasonable!" Mom barked before she turned on her heel and walked away.I merely sneered, thinking that Mom had always been this way—keeping her
"Get over here this instant, Elijah!" Dad yelled, pointing at me.In that instant, everyone in the vicinity turned to look toward Dad.Dad snapped, "You insolent brat! You think you're so independent now, huh? What's the big deal about spending some money on your family? You're probably really happy right now, all while Jacob got beaten up! How did I ever raise a son like you?"Mom chimed in as well, saying, "I'm certain that your father knows that you feel wronged, but that's your brother we're talking about here, Elijah. You shouldn't be so petty when it comes to family. You can't care so much about money; family ties have to come first!"Those around me, ignorant of the truth, pointed at me and talked among themselves.Upon seeing the crowd's reaction, Dad doubled down and yelled, "Do you guys see this ungrateful brat over here? He won't even take care of his own parents! He has no conscience!"It was then that a nearby security guard saw what was happening and approached me.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.