Share

Bab 6 Berapa Hargamu Per Menitnya?

Malam ini, semangkuk mie instan mengenyangkan perut kecilnya Fanny yang juga sudah sangat letih itu.

Dia langsung terlelap tak lama sesudahnya.

Sementara itu di rumah mewah keluarga Hussein, Adam masih tak bisa memejamkan matanya sedikitpun.

“Kenapa dia terus mengisi otakku?” ucap Adam sambil berguling bolak balik di ranjangnya.

Adam kemudian bangun dari tidurnya, dia segera duduk dan melangkah turun setelahnya. Dia kini berjalan menuju balkon kamarnya, lalu membuka pintu dan melangkah ke luar kamar.

Pandangan Adam tertuju ke arah pusat kota di bawah sana. Ya,kediaman Hussein berada di sebuah bukit pribadi yang memang hanya bisa diakses oleh keluarga tersebut. Pusat Kota San Marine sendiri memang memiliki sejumlah kenampakan alam yang eksotis di mana wilayahnya terdiri dari dataran berbukit-bukit yang sangat indah.

Jari tangannya kemudian menekan dial khusus yang akan langsung menghubungkannya dengan John.

Cukup lama, John pun akhirnya mengangkat teleponnya itu.

“Ke rumahku sekarang juga, temani aku ke klub,” ucap Adam kepada John.

“Baiklah, teruskan saja tidurmu itu karena aku bisa mencari lagi asisten yang baru,” ucap Adam sambil mematikan ponselnya.

Kalimat itu adalah kalimat paling ampuh yang selama ini digunakan Adam untuk mendapatkan keinginannya terhadap John.

Jangan tanyakan, betapa kesalnya John saat ini, dia benar-benar merutuki hidupnya yang hampir di setiap jam nya ini selalu mengurusi masalah Adam.

“Untung saja Adam selalu memberiku gaji fantastis, itu memang sesuai dengan pekerjaannya yang selalu tak tahu aturan jam kerja seperti ini!” ucap John sambil bersiap.

Sementara itu Adam sendiri justru kembali tertidur karena merasa nyaman berbaring pada bangku panjang di balkonnya itu.

John yang sudah sangat familiar dengan keluarga Hussein ini pun tidak mendapat hambatan yang berarti meski harus masuk ke dalam rumah mewah berkeamanan ekstra ketat itu karena semua orang di sana memang mengenalinya.

“Tuan Muda ada di kamarnya,” ucap seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.

John pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar Adam.

Dia tak bisa menemukan Adam, dia kemudian mencarinya ke kamar mandi dan ruangan ganti, namun Adam tak juga terlihat batang hidungnya.

Gemuruh angin malam yang menyapu gorden pun akhirnya mengalihkan John, dia melihat Adam tengah meringkuk di kursi panjang yang berada di luar kamar.

John sangat lega. Namun saat melihat tidurnya Adam yang begitu nyenyak, John pun tak mau mengganggunya.

Lelaki itu kemudian mengambil bantal dan langsung menggelar tikar di bawah kursi Adam. John yang memang sangat mengantuk itu pun segera merebahkan lagi tubuhnya di atas tikar tersebut.

Keesokan paginya, Adam yang terbangun karena silaunya mentari pagi itu pun menjadi sangat terkejut saat mendapatkan John tengah memegangi tali boksernya dengan sangat erat.

“John!” teriak Adam.

“Yes Boss!’ jawab John sambil melompat bangun dari tidurnya.

Tatapan galak Adam pun menusuk John.

“Aku datang sesuai perintah Anda, dan karena Anda tertidur, aku juga tidur,” ucap John sambil memoleskan sedikit senyuman di wajahnya.

“Apa itu berarti kau juga harus mementil tali bokserku!” ucap Adam sambil menatap ke arah tangan John yang masih menarik tali celana pendeknya itu hingga saat ini.

“Upz!” ucap John sambil melepaskan pegangannya.

Dia baru menyadari jika tangannya sedari tadi menarik tali celana bokser Adam hingga terlepas.

“Dasar lelaki aneh!” ucap Adam sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.

John, meneguk salivanya dengan sangat kasar.

Setengah jam berlalu, Adam sudah sangat siap dengan stelan kantornya. Demikian juga dengan John yang memang selalu membawa pakaian ganti dan atribut ini itunya di mobil terlihat sudah mengimbangi penampilan Adam pagi ini. Keduanya berpapasan di tangga.

“Kau mandi di mana John?” tanya Adam sangat dingin.

John tak menjawabnya. Dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari segera melepaskan rangkulannya di pundak Nenna, pelayan paling seksi di rumah keluarga Hussein ini.

Adam hanya tersenyum tipis, sambil melanjutkan langkahnya ke meja makan.

Seperti biasanya, ritual sarapan adalah sebuah jadwal wajib di keluarga ini. Karena mereka semua akan sangat sulit berkumpul di jam lainnya selain pada jam sarapan seperti saat ini.

Tidak ada percakapan sepatah kata pun di sepanjang acara makan yang dipimpin langsung oleh Kepala Keluarga Hussein yaitu Ayah dari Adam.

“Aku sudah memesan Alhira Boutique untuk menjadi desainer pakaian pernikahanmu, kunjungi designer itu siang ini sesuai janji Ayah, mereka butuh lebih banyak waktu untuk menyiapkan semuanya,” ucap Juna kepadanya.

“Ayah, kukira kita sudah sepakat bahwa aku tidak akan bisa menikahi Sharena!” ucap Adam menimpali.

Juna terdiam, lelaki paruh baya itu kemudian melepaskan lap tangan di tangannya sebelum kemudian menatap lurus wajah putra semata wayangnya itu.

“Kau menolaknya? Apakah kau memiliki wanita lain?” tanya Juna dengan sangat serius.

Gleg.

Adam meneguk salivanya dengan sangat kasar, sesungguhnya dia tidak mengerti dengan apa yang kini dirasakannya. Namun menikahi Sharena pun bukanlah hal baik untuknya.

“Adam, jawab pertanyaan Ayahmu?” ucap Lucy kepadanya dengan suara meninggi.

Adam tak menjawab.

“Jhon, ayo kita berangkat ke perusahaan!” ucap Adam sambil menenteng tas kerjanya.

Melihat majikannya pergi, Jhon pun langsung berpamitan kepada dua wajah di depannya itu.

“Tuan, Nyonya, aku pamit,” ucap Jhon sambil mengejar Adam setelahnya.

“John! Jangan lupa untuk mengirimkan jadwal Adam hari ini kepadaku,” ucap Lucy mengingatkan John dengan suara yang sedikit ditekan.

Adam sendiri semakin mempercepat langkahnya, dia tidak mau berdebat lagi dengan kedua orang tuanya mengenai perjodohan itu.

“Buatkan jadwal sepadat mungkin untukku! Aku benar-benar tidak punya waktu untuk mengurusi perjodohan itu!” ucap Adam sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya.

Adam mengemudikan sendiri Bugatti La Voiture Noire miliknya itu, sementara John duduk di kursi penumpangnya.

Sebuah pemandangan yang aneh mengingat Adam adalah CEO nya.

Namun begitulah dua orang teman ini selama ini menjalani hidup mereka. John menganggap dirinya beruntung karena meski dia tak pintar-pintar amat, namun bisa mendapatkan pekerjaan hebat dan sangat diidam-idamkan banyak orang di Hussein Group berkat kedekatannya dengan si putra mahkota bisnis tersebut.

“Dia menggunakan ojek?” ucap Adam yang melihat Fanny baru saja menikung di sebelah nya dengan membonceng ojek online.

Fanny sendiri, dia tidak mengetahui jika Adam melihatnya.

“Makasih ya Pak,” ucap Fanny sambil menyerahkan bayarannya.

“Kembaliannya Neng,” ucap pengemudi ojek online tersebut kepada Fanny.

“Ambil saja Pak, makasih ya, saya masuk dulu,” ucap Fanny sambil bergegas menaiki anak tangga di halaman gedung perusahaan tersebut.

Dengan semangat pagi yang begitu menyenangkan, Fanny terus melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan, hingga dia akhirnya terhenti pada anak tangga yang tengah di naikinya.

“Dasar jalang rendahan! Senang sekali kamu ya, baru saja deket-deketan sama tukang ojek?” ucap Adam dengan suara khasnya yang sangat lantang.

Gleg

Fanny terdiam, awalnya dia mengira jika Adam berbicara kepada orang lain, sehingga dia pun memilih melanjutkan langkahnya.

“Fanny Cesa! Berapa harga kamu per menitnya? Aku akan membayarnya!” ucap Adam dengan suara yang semakin lantang.

Gleg.

Fanny terdiam, dia segera menghentikan langkahnya lagi.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status