LOGINWhoever thought that I will end up sleeping with a-19-year-old Johnny, maybe considered wrong but, I did. My name is Becky and I'm a 36-year-old divorcee. It all started when I returned to Kingstown from Charlottesville to reunite with my loved ones, after going through a bitter divorce. I had given love a ride red card but, a part of my heart melted when I saw him again, after being apart for more than five years. Just one thing was not right, Johnny is the son of my closest best friend, Melinda, and also happens to be the boyfriend of my only daughter Stephanie. Nevertheless, it was the same Johnny that I lusted after. I couldn't keep myself away from him, eventually, I seduced and slept with him even though, I was 17 years older than him. I got pregnant for him, only a few weeks before his wedding with my daughter, who was also pregnant for him. Now, I'm in mess, what will I do? Follow my epic story to discover what happened at last.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGLate in the afternoon, I walked to the grocery where I hoped to buy some food items which I will be needing to make a nice meal for Steph, the next day when she comes back.No doubt, I was very excited to have her after a long time, although we do speak on the phone often for me, that was not enough. Simeon, my ex-husband could have adopted Steph as his Steph daughter but he wouldn't do that. His answer when asked, always remains vague. He wouldn't go straight to the point. Sometimes he initiates a cover-up! The one he often gives as his defence was that, Steph was an adult and that it would not make sense anymore to have her in his home. He suggested that my daughter should stay with any of my siblings, close relatives or even her boyfriend!'How dare Simeon!' I would rebuke him back then but sadly, I had no authority to decide what happens in our home. He is the head of my household and his final decision is mine as well even though, it may not be in my interest. I was following Si
I knew that there was something wrong because Melinda wouldn't have changed the happy expression on her face to a saddened one. There was absolute silence between us for a few seconds. I wondered what she was going to say next about Johnny, I hope it's not what I'm thinking.At last, he broke the silence between us by speaking up. "Johnny has been acting weird ever since he returned home yesterday. I tried to source a piece of information from him concerning his surly mood but, he wouldn't speak out. You know, Becky, I felt bad about that. I can tell you that it has been a long since I saw him in such a state of mind."I listened carefully to all she was telling me. There was no distraction whatsoever, I. Everything I got at that moment was on her as was speaking. Nevertheless, after her brief pause, I asked her a question. "Did you try to talk to him or just kept staring without taking any action?" "Yes, I tried Becky!" Said Melinda as she gets to her feet and walked across the liv
The corps that Melinda was calling on the phone never answered. She dialled the number for a second time, almost a minute interval. It was at that moment that I began getting suspicious of her. Was she really calling the cops on me or was this one of her expensive jokes? I couldn't figure out actually, what he was up to. I just remained in silence and watched as the phone kept ringing."Oh, shit! What happened to the corps today? Their line is not going through, I will have to call them again to come and pick up!" She was not laughing, all the smiles on her face had disappeared.I became worried at that moment because, obviously, this is not my friend. The Melinda I knew will never do such but, why is she behaving this way? Again, all these questions were not easy to answer. But then, she dialled the number for the third time. I could not take it anymore, I stood to my feet and began talking to her. "You are not calling the cops on me, are you?" "Of course, I'm calling the cops to co
I had a good time with the little boy called David. He was indeed fascinated by the sand hut I built. We talked about it for a long time before my cell phone began ringing unexpectedly. I excused myself from him to answer my call. Who else could be calling if not Melinda of course? Just the reason why she was calling at the moment was what I will find out when I pick her call."Hi, Melinda," I began with a sweet voice."Hello, Becky, are you there?" She sounded like she couldn't hear all I have said. Perhaps, a poor service network has a way of ruining things. Yes, I blamed the poor network service. "Hello, Melinda, can you hear me now?""Yes, of course, I can. Where are you at this moment?" She asked with a tone that I would like I classify as an excited one"Hey, I went for a walk, you know it's been a long time since I have walked around the neighbourhood.""Oh, that's true! No doubt about that. Take your time honey but, where are you exactly, because I'm standing right in front
Thomson went straight to the point. "Hell yeah! Come on and don't pretend like you don't know what happened the other night. You know you are better than this. Yes, you are better at speaking the truth instead of pretending, Becky!" His voice was meant to deceive me again but I was on my guard this
When Johnny left that evening I found myself all alone once again. The thought of what we have done never stopped hunting me. I kept thinking every-now-and-then. It seemed like I was judged by my conscience, this time around; has no good news for me. I was been judged in the wrong direction. I guess
I obeyed the little force he applied to pull my head. I turned to face him. God! He was looking lusty and hot. It seemed as if his lips were yearning for my kiss but, how can I do that when he is my best friend's son?It wasn't easy to find myself in that position. It was really hard for me because,
Mrs Moore fixed her eyes on me and almost ignored the existence of all other important things in the living room. One of those important things was her Television. Although it was news time and the anchor of the news station seemed to have some interesting event to report, Moore still ignored all an


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.