ログインWhen struggling waitress Elira Cruz was forced into entering a contract marriage with cold, ruthless billionaire Caelan Ferrer, she thought she was sealing just another business deal: one year, no emotions, no strings. But behind that icy stare lay hurtful memories Elira unknowingly played a part in. Snowed in by her messy kindness, the man who swore never to love again slowly began to thaw. Secrets begin to unfold underneath. A hidden link ties them much closer than either one would have imagined. Will their fake marriage survive the truth...or will love become the price of revenge?
もっと見るPlag!
"Bodoh!" teriaknya geram.
Dengan sekuat tenaga tamparan Faruq mendarat di wajahku. Seketika pipiku terasa sakit, panas bak terbakar. Kepala terasa berputar karena pusing. Kebodohan aku, bagaimana aku tanpa berpikir panjang mengibaskan jas itu di depannya. Sontak saja bersin-bersin Faruq semakin parah.
"Kamu bukan saja bodoh tapi juga jorok! Bagaimana banyak bulu kucing di jasku? Malah dikibaskan di depanku, otak itu dipakek!" bentaknya.
Tangannya yang besar itu mencengkeram dengan kasar pipiku. Sehingga bibirku mengkerucut dan sakit. Kini bukan saja wajahku yang panas dan perih, ditambah cengkeraman Faruq membuat ngilu rahangku.
"Kamu sengaja ya?" bisik Faruq sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku terdiam, tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Faruq. Sekilas mataku menangkap Ruby, Sena dan Markamah tertawa puas penuh kelicikan. Tiga orang teman pembantu itu selalu saja ada cara untuk membuat aku dalam masalah.
"Maafkan aku Tuan Muda, aku tidak sengaja. Bagaimana bisa ada bulu kucing, padahal jas itu kuambil dari lemari," kataku membela diri.
"Kok malah curhat? Itu karena kamu tidak becus bekerja, tau!" bentak Faruq makin emosi.
Dia menarik rambutku yang terbungkus hijab dengan kuat, sontak tubuhku terdorong ke belakang.
"Sakit Tuan Muda!" pekikku menahan tangis.
"Abi,...!" teriak Iqbal anakku yang tiba-tiba muncul.
Faruq bersin, sehingga tanpa disadari dia melepas cengkeramannya. Iqbal berlari mendekap tubuhku. Terdengar suaranya bergetar memanggil,
"Umi," sambil tangannya semakin erat memeluk pinggangku.
Dia adalah anakku, yang terlahir karena perkosaan yang dilakukan Faruq saat dia masih kuliah. Hampir setiap hari aku harus melayani nafsu bejatnya, dan itu masih dilakukannya hingga sekarang.
Kini anakku sudah berusia sembilan tahun. Dia selalu memberikan badannya untuk melindungi aku dari siksaan abinya maupun neneknya.
"Abi, jangan siksa Umi terus, kasihan Umi kesakitan!" pekik Iqbal menangis.
"Umi kamu bodoh sih!" jawab Faruq ketus.
"Tapi Iqbal sangat menyayangi Umi, Abi! Umi juga sayang sama Iqbal. Apakah Abi tidak sayang sama Umi, sama Iqbal?" Iqbal bertanya dengan lembut diiringi isak tangis.
"Tentu saja Abi menyayangi Umi maupun Iqbal," jawab Faruq tampak terpaksa karena gengsi.
Kehadiran Iqbal di tengah-tengah keluarga mereka sanggup menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Tuan dan nyonya juga sangat menyayanginya, apalagi Faruq, abinya.
"Cepat siapkan jas yang lain! Aku sudah terlambat rapat, Fahim!" pintanya datar.
"Baik, Tuan Muda," jawabku pelan sambil bergegas mengambil jas yang lain dari dalam lemari.
Aku melirik kearah Faruq yang mulai melepas jas dan celananya sambil sesekali masih terdengar bersinnya.
Kini dia hanya mengenakan boxer dan kaos dalam. Terus terang setiap kali aku melihatnya seperti ini, ada getar-getar bak listrik yang menjalar sampai ke ubun-ubun. Untung saja ada anakku Iqbal, kalau tidak, pasti otak cabul Faruq juga muncul. Dia akan meraih tanganku dan menuntunnya menjelajah kemana-mana.
"Iqbal, bujuk Umimu, agar mau dinikahi Abi! Umimu keras kepala dan sombong. Apa kurangnya Abi coba, ganteng, kaya, iya kan?" tanya Faruq sombong.
"Abi galak sih,... kasar!" sahut Iqbal.
"Umimu saja yang bodoh! Di luar sana banyak wanita cantik ingin Abi nikahi ... Umimu sombong dan jual mahal!" kata Faruq sambil menepuk pundak Iqbal, tapi pandangannya tajam menatapku.
Aku yakin dengan tatapannya yang tajam ke arahku, menandakan kata-kata itu ditujukan langsung kepadaku.
"Baik Abi, biar Umi aku yang urus!" jawab anakku dengan lembut.
"Kuberi waktu satu bulan, mau tidak mau penghulu datang ke sini menikahkan kita!" bisiknya kepadaku kemudian pergi.
Aku terdiam, percuma aku berontak toh dia sudah pergi ke luar.
"Umi, kenapa Umi tidak mau menikah dengan Abi. Iqbal ingin punya keluarga utuh kayak teman-teman. Demi Iqbal, Umi!" pinta Iqbal memohon kepadaku.
"Iqbal sayang, Umi minta waktu berpikir ya!" kataku menenangkan.
Padahal dalam hatiku menolak keras, aku tidak mau menikah dengan orang kasar dan kejam serta ringan tangan. Dia sudah lama membuat hidupku dalam penderitaan. Pernah aku berpikir mempunyai seorang imam yang berhati lembut, romantis dan pengertian. Semua itu tidak ada padanya.
Iqbal berjalan pergi meninggalkan kamar abinya. Aku hanya menatap punggung mungilnya. Satu-satunya yang membuat aku bertahan di sini hanyalah dia.
Kini aku seorang diri merapikan kamar Faruq.
Sena dan Ruby adalah TKW dari suatu negara lain. Tiba-tiba dia datang dan menggelandang aku keluar kamar dan menyeret ke ruang loundry.
"Cuci korden dan baju-baju ini, setelah itu masakkan makan siang buat kita semua!" perintah Sena dan Ruby menekan.
"Baik," jawabku pelan penuh kepasrahan.
Satu-satunya temanku sesama Indonesia adalah Markamah. Tapi dia lebih memilih membantu TKW dari negara lain, daripada aku sesama orang Indonesia. Mungkin karena dia takut kena intimidasi sama seperti diriku. Satu-satunya yang bisa aku ajak bicara adalah TKW dari negara Banlada, dia Priya.
Aku sudah sepuluh tahun bekerja di suatu negara sebut saja Inagara, di rumah Tuan Muhammad Hussein seorang polisi yang berpangkat Jendral. Sedang dua orang pembantu dari negara Arcada sudah dua belas tahun bekerja.
Faruq adalah putra tunggalnya yang ketampananya bikin para wanita meleleh. Banyak wanita memimpikannya, termasuk Sena dan Ruby.
Entah kenapa aku tidak bisa jatuh cinta padanya. Jujur, terkadang aku melihat ketampanan sesekali tergetar. Tapi saat mengingat perangainya yang kasar, kejam dan selalu ringan tangan membuatku tersiksa. Selain diriku, dia juga suka merendahkan orang lain, itu yang aku benci.
Sepuluh tahun bekerja di Inagara tak sekalipun Faruq mengijinkan aku cuti pulang ke Indonesia.Berbeda dengan pembantu yang lain, dua tahun sekali mereka mendapat cuti satu bulan pulang ke negaranya.
Ini sangat tidak adil bagiku, tapi apa dayaku. Jangankan untuk pulang cuti, ke luar rumah saja aku tidak bisa. Mereka menjagaku dengan ketat seolah tahanan. Faruq takut kalau aku melarikan diri. Padahal pasporku sudah sejak awal ditahan oleh Faruq. Andai saja aku bisa kabur dari penjara ini, tentu hanya anakku yang ingin aku bawa pulang ke Indonesia.
***
"Fahim, buatkan susu kurma hangat!" perintah nyonya, mamanya Faruq.
"Baik Nyonya," jawabku bersemangat.
Aku segera pergi ke dapur membuatkan minuman untuk nyonya maupun Iqbal. Kebetulan dia sedang libur sekolah.
Aku berjalan dengan nampan di tanganku, tiba-tiba saja kaki Ruby menjulur tepat dibawah kakiku.
Pyaar!
Suara gelas jatuh, dan aku terjerembab bersama nampan dan minumannya.
"Oups jatuh!" ujar Ruby tersenyum puas kemudian pergi begitu saja.
"Ya Allah, ceroboh sekali kamu! Jalan pakek mata, setiap hari selalu membuat kesalahan. Heran deh, bagaimana anakku bisa menyukai kamu?" Katanya sambil tangannya menampar wajahku dengan kuat.
Plag!
"Oma!" teriak anakku. "Jangan pukul Umiku!" pekik Iqbal memohon.
"Umimu ceroboh sekali! Ayo kita pergi dari sini banyak pecahan kaca, Iqbal!" ajak nyonya sambil menggandeng anakku. "Cepet bersihkan!" teriaknya sambil melangkah pergi.
Aku masih meraba pipiku yang panas karena tamparan majikanku. Bekas cap tangan dari Faruq belum sembuh, kini sudah ditambah lagi tamparan majikanku perempuan.
***
Di rumah ada pesta, aku tidak tahu pesta apa itu? Karena hampir setiap bulan para kerabat berdatangan makan bersama. Mereka bersenang-senang menari dan bernyanyi. Saat-saat seperti ini aku selalu disembunyikan dan disekap oleh Faruq. Bahkan aku dikunci di kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamar Faruq dibuka, Faruq datang bersama dua orang wanita disisinya.
"Dandani dia yang cantik!" perintah Faruq kepada kedua wanita itu.
"Baik Tuan,' jawab mereka serempak.
"Ada apa, Tuan Muda? Kenapa saya berdandan?" teriakku bertanya.
"Diam!" jawabnya membentak.
Sontak terbersit dalam ingatanku bahwa Faruq akan menikahiku. Dia memberiku waktu satu bulan untuk berpikir. Tapi dia belum minta jawaban dariku, setuju atau tidak? Ini berarti dia memaksaku meskipun aku tidak setuju.
Dua wanita itu mulai memoles wajahku, satu orang yang lain menyiapkan make up, kemudian baju. Tak terasa air mata yang lama aku tahan akhirnya bergulir di pipiku.
"Kalau Nona terus menangis, bagaimana saya bisa meriasnya. Pipi Nona basah dan bedaknya akan berantakan!" tutur perias.
Bagaimana aku tidak menangis mereka memperlakukan aku seperti ini? Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, tapi nafsu. Dia hanya ingin menghalalkan kegiatan berhubungan suami istri. Karena yang ada di otaknya hanya nafsu sexnya. Hampir setiap hari aku diperlakukan bagai budak pemuas nafsunya. Ayahnya yang seorang polisi, membiarkan anaknya melakukan ini.
"Nona cantik sekali, seperti boneka India," kata perias kepadaku.
Aku menatap wajahku di cermin, inikah Fahim Roesaline? Seorang TKI yang menjadi budak sex majikannya, hingga melahirkan seorang anak diluar nikah? Gadis bodoh yang hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah.
Aku terdiam, pikiranku sedang melayang, bersiasat. Bagaimana cara aku bisa lepas dari acara pernikahan ini?
"Kak, bisa minta tolong panggilkan Iqbal, anakku?" kataku meminta tolong.
Ketika salah satu perias keluar kamar, Ruby masuk dengan membawa segelas jus jeruk.
"Ini jus segar buat kamu, agar kamu fresh." Katanya sambil tersenyum sinis menatap aku dengan tajam.
Aku bisa membaca pikirannya, ada sesuatu yang sedang dia rencanakan. Aku pasrah, karena pikiranku benar-benar buntu. Aku tidak mau pernikahan ini terjadi.
"Tuan Kecil Iqbal sedang makan, sehabis makan dia akan kemari, Nona!" kata perias itu.
Selesai merias, mereka pun pamit pulang meninggalkan aku dan Ruby di kamar.
"Minumlah!" kata Ruby sambil menyodorkan gelas jus.
Tanpa berpikir panjang aku meneguk jus jeruk yang segar sebagai pelepas dahagaku. Sedari tadi aku menahan tenggorokanku yang mulai mengering.
Tiba-tiba aku mengantuk hebat, kepalaku berat sekali. Terasa pening menggigit, dan ...
Apa yang terjadi padaku?
Bersambung ...
..
5:52 AM — Bluebar Trace Transit Node The rust to blue line was a shadow in the early morning, a proposal instead of an edge. Elira's footsteps sounded differently on either side—the blue provided a harder snap, the rust a muffled bump. They sipped in silence, the bitter heat anchoring them to the cold. Beyond, the distant hum of people preparing for the day wafted in, the clatter of crates, the crunch of fabric on stalls. "Council will ask again today." Elira did not have to ask what. "And we'll tell them the same thing. Until we know it stands." --- 6:48 AM — Outer Walkway, Bluebar Trace The market was just coming to life—shadows still lingering long, bread still in rise, and fishmongers only beginning to lay out their day's catch. The air reeked of salt and brine. Marino beckoned them over from across the street, a tray of cooling flatbreads on the counter. "Block E enjoyed the previous batch," he told her, handing two over to a cloth wrapping. "Explain to them it's
6:12 AM — Sector B, Bluebar Trace The blue to rust line had remained in Elira's periphery well after the stylus started tracing. The pages of the notebook captured each bend, each fissure, the manner in which the blue tile held onto its color while the rusty portion seemed to slide into the ground as if it was embarrassed about itself. Caelan didn’t speak at first. He stepped to her right, his gaze following hers toward the strip of junction where history had decided to divide itself. “You’re mapping again,” he said quietly. She gave a small nod. “Not just where things are. Where they’ve been left.” The dim hum of the overhead lights was punctured only by the scuff of their boots. Outside the transit node, day had already begun for others—the canteens steaming, the children crying as they hauled supplies to makeshift kitchens—but in here, it seemed as if the air had not moved in decades. --- 7:03 AM — Bluebar Trace Outer Walkway They walked along the broken pavement, Ca
5:41 AM — Sector B, Bluebar Trace Dawn had tempered itself against the chill of the ancient transit node's tile. Signage had flaked off in spots, but the center remained sound—firm bones waiting to be remuscled anew. Elira stood at the line dividing blue from rust, notebook clutched in one hand, stylus idle. She hadn't even jotted down a word yet. Caelan approached from the trackway edge, hair still damp from an early wash. “You’re already mapping?” She shook her head. “Just… testing if it feels like a beginning.” He glanced down. The tiles beneath their feet were arranged in a herringbone pattern, once used to direct foot traffic during high-volume commutes. Caelan knelt to trace it. “It holds direction. Even now.” “That’s what I’m hoping for.” --- 7:10 AM — Mid-sector Archive, Hall C The box titled Transit-B2 Patterns: Legacy Systems weighed more than it should have. They opened it on a communal table, dust settling into light. On the inside were floor plans, mo
5:46 AM — Sector G, Skyrest OutpostThe wind was hushed this morning. It wasn't absent—simply stilled, like it had folded itself in respect. Elira stood atop the raised railing of Skyrest, where horizon met ridge of boundary. She observed the demarcation where blue bled into morning.Caelan was at her side, arms resting on the railing, his breath visible in the chill."Doesn't feel like it's stopping," he said."It's not," she said. "It's just changing again."Below them, the early crews trudged along the long bend of the perimeter—double-checking lines, passing on adjustments. From up above, their routes seemed like veins of light running through debris and bloom.7:18 AM — Sector D, Rootcast CommonsOn the boundary of a rebuilt public space, a child was relearning to walk—step by purposeful step across retextured pavement. Her grandmother sat silently on a bench that had been cut into the newly planted wall, fingers loosely entwined in her lap.Elira caught the detail from a distanc
5:41 AM — Sectorless Edge, Return WayThe ground was different under their feet this morning.Not wet. Not dry. Just settled—as if it had finally accepted the steps they had given it last night.Caelan knelt, laying his hand on the path. "Still warm.""Residual?" Elira asked."Maybe. Or welcoming."
5:42 AM — Sector C, Dawnturn StepsThe sky was a softening gray when they arrived. The steps—half-cut into slope, uneven—were wet from last night's drizzle. Not hazardous, just prudent.Every one had small markings on it: not numbers, but impressions. Shoe soles, pieces of pressed leaf, the occasio
5:38 AM — Sector H, Ashroll Terraces (Lower Reach)Morning dawned warmer than anticipated, dew already beginning to recede from the leaves. The terraces retained the form of shadow yet, but seedlings had found purchase in more locations. Dappled ground lay beneath, soft.Elira circumvented a low re
5:41 AM — Sector E, Palevine Access RidgeThe morning came with clarity. Fog had receded from the ridge, and what was left was the soft sheen of dew-attracted vines, quivering but standing tall.Elira strolled down the side path where root tendrils curled from the ground like writing. The ridgeline






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー