Se connecter"How can there be a perfect choice in this world—one that betrays neither the Sandharan Order nor the one you love?" It's a romantic line, but it has nothing to do with Rosalie Stone. Her fiance, Bradley Wakefield, is a man revered like Sandhara himself, but it's not because of her that he leaves the Sandharan Order. She thinks he will never fall in love. But later, she learns that it's just her that he won't fall for. And so, she gives up on him. She gives herself seven days to forget about Bradley.
Voir plus“Jangan menatapnya terlalu lama. Kau bisa lupa siapa dirimu.”
Ana mengangkat wajahnya dari cermin kecil di ruang rias. Suara itu datang dari pelayan tua di belakangnya—yang hari ini ditugaskan mendandani Putri Clarissa.
Ana hanya menunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bros emas yang tersemat di dada gaunnya. Gaun itu bukan miliknya. Nama ini pun bukan miliknya. Namun malam ini, ia akan melangkah ke tengah aula sebagai Putri Clarissa—dalam acara pertunangan politik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semuanya demi sang Ratu. Ia merasa terjebak di sana. Padahal ia hanyalah seorang koki yang ditugasi untuk membuat kue tart ulang tahun untuk sang putri. Tak dinyana, tiba-tiba ia diseret masuk ke dalam ruang rias sang putri.
Sebuah veil tipis menutupi wajahnya, menyamarkan identitas yang ia pinjam. Beberapa kali ia menghela nafas sesak. Ia tidak bisa melarikan diri seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Takdir sedang mempermainkannya.
“Yang Mulia menunggu di aula. Ingat, Ana Merwin, kau bukan siapa-siapa.” Wanita bersanggul Valmere Knot itu berkata dengan nada sinis.
Ana mengangguk perlahan lalu menegakkan punggungnya. Jantungnya berdentum keras di balik tulang rusuknya. Setiap langkah terasa berat seperti sedang berkelana di hutan belantara. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau justru malah tersesat.
Aula megah disulap begitu indah. Mata Ana menyipit tatkala disambut oleh cahaya berasal dari chandelier lilin yang berkilauan. Beberapa detik ia merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya. Semua netra langsung terpacak padanya. Bisik-bisik para tamu undangan pun mulai menggema ke udara.
“Putri Clarissa menjadi tumbal sang Ratu,” ujar salah satu duchess di balik kipas bermotif heraldik yang menutupi setengah wajahnya.
“Ratu Seraphina sangat mencintai Putri Clarissa sampai pernikahannya pun diatur,” jawab yang lain dengan nada satir.
“Kalian tahu, pangeran dari keluarga Ravensel itu monster. Tak ada satu wanita pun yang tertarik padanya. Dia hanya pangeran yang terbuang, keji dan pembunuh berdarah dingin,” imbuh yang lain ikut memprovokasi. Seketika gosip itu langsung memanas di telinga Ana.
Pantas, Putri Clarissa tidak bersedia dijodohkan dengan pria semacam itu. Sepengetahuan dirinya, gadis itu menyukai pria yang tampan.
“Aku dengar, dia bahkan membunuh ibu kandungnya sendiri,” kata yang lain sembari saling lirik penuh arti saat Ana melewati mereka.
Perasaan Ana makin tak karuan setelah mendengar gunjingan mereka. Ia merasa seperti sedang berada di tiang gantung. Seburuk itu kah calon suami Putri Clarissa?
“Kau tau, dia memakai topeng phantom karena wajahnya terluka saat perang. Ia cacat dan buruk rupa. Lengkap sudah, siapa juga yang mau menikah dengannya kalau karena bukan kepentingan politik,” lanjut wanita lain yang ikut bergabung bersama mereka.
Sebelum Ana sempat mundur, gadis bangsawan lain sudah menarik tangannya. Ia adalah sepupu Putri Clarissa dari sang raja, Lady Amber yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu hitung.
“Selamat ya! Aku harap kau bisa bersenang-senang dengan pangeran itu. Tak apalah dia berwajah jelek, tapi kau bisa mendapatkan kompensasi, kan? Kekuasaan, kekayaan… yah, apa pun yang diimpikan gadis-gadis istana.”
Amber tertawa pelan, manja, tanpa menyadari kekakuan Ana. Ia benar-benar tidak menyadari siapa gadis yang diajak bicara olehnya.
“Ayahku bilang kau sangat beruntung dijodohkan dengannya. Katanya, hanya karena dia cacat dan temperamental, kau bisa mendapatkan hak veto dalam istana kelak! Bukankah itu menguntungkan?” Amber terkikik. Ia memang gadis yang ekspresif.
Ana hanya menghela nafas pelan mendengar celotehan gadis berambut pirang itu.
Amber berjalan mendekatinya, berbisik pelan. “Asal kau kuat menahan baunya saja. Mulutnya bau seperti telur busuk dan bawang putih mentah. Dia jarang mandi dan lebih sering bermandikan darah,”
Ana semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Lady Amber meskipun dengan nada setengah bercanda. Bukan tanpa alasan, para putri bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama tentang pangeran itu.
Tubuh Ana membatu, bukan hanya karena rasa takut, tapi karena perasaan getir dan amarah yang menyesakkan dada. Ia hanyalah pelayan istana yang dipaksa mematuhi perintah sang ratu. Ia tidak bisa memilih.
“Lady Amber...” Ana akhirnya membuka suara, datar. “Apa kau selalu mengukur cinta dan pernikahan dengan fisik dan jabatan?”
Tunggu, Lady Amber merasa asing mendengar suara Putri Clarissa yang terdengar lain. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan Ana, ia langsung ditarik oleh ibunya, Lady Leoni.
“Aku pinjam dulu, Amber, Clarissa,” kata Lady Leoni tersenyum canggung pada Ana. Lalu ia menarik pergelangan tangan putrinya. “Kau harus berkenalan dengan putra bangsawan dari timur. Ayo!”
Ana hanya mendesah pelan tatkala melihat kepergian mereka. Ia hampir terpancing dan membongkar identitasnya sebagai Putri Clarissa yang palsu.
Semua orang membungkuk menghormatinya. Mereka menatap Ana dengan tatapan yang rumit. Di balik Veil, Ana justru menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia menekuri setiap orang yang berada di sana. Dalam hati, ia bertanya, apakah di antara mereka adakah yang masih berhubungan darah dengannya?
Tak berselang lama, para tamu undangan yang berasal dari para bangsawan tinggi itu menoleh dengan keheranan ke arah yang lain, saat Pangeran Leonhart Ravensel muncul dari balik lengkungan gerbang istana yang menjulang pongah dan diselimuti aura kelam yang membuat bulu kuduk meremang.
Para putri bangsawan yang hadir menahan nafas saat pria itu melangkah melewati mereka. Seakan pangeran yang dijuluki the Black Phantom itu adalah jelmaan dewa iblis yang bisa menghabisi siapapun yang tidak disukainya.
Topeng besi menutupi separuh wajahnya. Terlihat misterius. Sorot matanya tajam, tak bisa dibaca. Semua orang membisu—bukan karena terpana, tapi takut.
Menurut rumor yang beranak pinak, wajahnya cacat karena luka perang sehingga mengenakan topeng phantom. Ia juga pernah menghabisi seorang penjaga hanya karena melihat wajahnya tanpa izin. Ia bukan pangeran yang di elu-elukan oleh para wanita. Ia adalah pangeran yang terbuang.
Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti… tepat di hadapannya.
Tubuh Ana bergetar hebat. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa?
Bradley had been the same in the past. He hadn't been resolute in his love for Rosalie, so he'd repeatedly pushed her away and tested her, hoping that it would prove that she loved him. His devotion to Sandhara had also been half-hearted—that was why he'd left the Sandharan Order.In the end, it took Rosalie joining the Sandharan Order to make him truly see what his heart was like. It had also made him own up to his shamelessness.In that moment, Bradley had finally fulfilled Stanley's last words before his passing—that people had to follow what their heart said.And so, he found his Sandhara—Rosalie. That was why he'd chosen to join the Sandharan Order again. He wanted to stay by his Sandhara's side and protect his faith.The moment he decided to do that, his shattered devotion was pieced back together, and he found salvation.On the other hand, Rosalie spent seven years practicing and serving Sandhara. She thought she was firm in her devotion to him, but she'd actually never tru
To Lyra, Bradley was more well-learned in Sandhara's teachings than her. After all, she'd only been practicing for seven years. He'd done it all his life.And so, regardless of their past, she still respected him deeply when it came to understanding Sandhara's teachings.She nodded and said, "Go ahead. I'll answer based on what my heart tells me."Bradley asked, "Why did you first join the Sandharan Order, Rosalie?""I wanted to find inner peace," Lyra answered. "Sandhara's teachings brought me that, so I thought this was where my soul belonged. I also thought it was where my heart wanted to be.""Did the mortal world not bring you peace?" he asked.That stumped her. She wanted to answer that it didn't, but that wouldn't be an honest answer. The mortal world had never let her down, and she didn't think there was anything bad about it.From beginning to end, Bradley was the only one who'd disappointed her. He was the one who'd rendered her heart incapable of finding peace, making
The monks at the monastery arranged a grand funeral for Stanley.Lyra put on her white monastic robe as she sent him on his final journey. To her, he wasn't just the abbot. He was also her mentor and a guiding light in her life. Whenever she felt lost, she would go to him and ask for advice.But now, he was gone. She was still lost on the inside. She couldn't see the inner workings of her heart clearly. And yet, she no longer had anyone to point the way forward for her.After being cremated, Stanley's ashes transformed into nine sacred remains. Legend had it that only enlightened monks would leave behind sacred remains after their passing.The monks' reverence for him deepened even more. The sacred remains were stored in a prayer hall, and Lyra would burn incense for them daily. She hoped Stanley would give her some more guidance from the heavens."'People have to follow what their hearts say.'" She repeated the last thing Stanley had said to her before his passing. "But what shou
Lyra's still heart stirred slightly as she accepted the woven bracelet Lola held out. Red agate symbolized an eternal love, but could love truly last forever?She'd once loved Bradley so passionately and stubbornly, yet she'd still ended up losing hope and leaving him.People always looked forward to finding an everlasting love, but did that really exist? Only love and compassion for the world would last forever.Lola left the monastic courtyard after repenting, returning home with Josh. Lyra and Bradley were left alone in the quiet monastic courtyard.Lyra held her rosary with one hand and the woven bracelet with the other. For some reason, she felt solemn and gloomy."It's been seven years already." She sighed and turned to look at Bradley. "Are you praying to Sandhara now or me?"He smiled faintly. "You are my Sandhara."The monks prayed to Sandhara because they placed their faith in him. But to Bradley, Lyra was his faith. And so, she was his Sandhara."Love can't last for






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.