Masuk“You will do as told. After all, you pushed her down the stairs and she is in there because of you. Donating this bone is the price you have to pay.” “But why, Liam.” Her voice sounded broken. “Why did you never believe me? I didn't touch Sophia.” “And how is that my business?” He hissed and grabbed her arm. “For someone who stole another person’s life, you sure do have some mouth on you.” He pushed her roughly into the moving elevator. “Please Liam… believe me.” “Shut the fuck up!” He hissed. “You’re a filthy liar and I’ll never believe a word that comes out from you. Now, move!” *** Three years ago Charlotte Windsor was framed for a crime she didn’t commit. She was thrown into jail by her ex-husband and her entire life went down the drain. Now, three years later, she is freed but an even worse fate awaits her. Will she let her nemesis trample over her again? Or will she fight back? Let’s find out.
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGCHARLOTTETHREE MONTHS LATERToday was my wedding day. As I walked down the hall towards my husband, my eyes watered, lips stretched into a smile.I took one step after another, and my mind flashed back to the day he officially proposed to me.*“Come on, get ready. I want to show you something,” Nathan said as he tugged me out of bed.I frowned.I had been feeling sluggish today and wasn't particularly interested in going out.Besides, I wanted to finish the romance novel I was reading, but Nathan didn't budge as he tugged me up.“I promise it will be worth your time. Please?” he pouted, and I laughed at his cute appearance.I gave in and got dressed.He waited patiently for me, and since it was almost dusk, I decided to wear a beautiful strapless gown he got for me the other day.Nathan whistled as he took in my appearance.“I don't know where we are going though. Is this alright?” I asked, and Nathan just nodded.“You're perfect. Come on, let's go.”Nathan was in a perfectly good m
NATHANI met Lucy the day after Charlie found her, and she explained everything she knew.Lucy explained how sad and heartbroken my mother was and how she tried to hide all of her broken feelings from me.She told me how my father and his wife, Melina, killed my mother to take over the company, which was rightfully hers.When my parents got married, my mother was just the rich daughter of rich parents. But after her parents' death, the company automatically passed to her.I guess that was when William started to abuse her.As her husband, he had rights to the company, but my mother held all the power.The company was to be mine when I came of age, but William and Melina killed my mother and took over, making me a CEO while still having the company in their grasp.I thanked Lucy profoundly for agreeing to talk to me.She permitted me, so I recorded all the information and took it to the police as evidence.William was arrested, along with his wife, Melina.My father was furious that I
NATHANThe sun rose before us, and I was still sleepy when the doorbell rang. I frowned as I glanced at the time.It was seven in the morning.Who could be at our doorstep this early?I groaned at the relentless ringing, and Charlotte's body became aware of mine.She opened her eyes and met my gaze, a smile on her lips. My heart skipped a beat as she smiled at me.She was so gorgeous, damn. Her smile, sleepy eyes, and messy hair made my head flutter, and I leaned in to kiss her.“Good morning,” I whispered. She nuzzled against me.“Good morning. I thought I heard the doorbell ringing,” she yawned as she sat up.As if on cue, the doorbell rang again.Charlotte wrapped a robe around her body, and we padded to the living room to see who it was.I asked her to step back while I opened the door.It was a delivery man.Several delivery men.The one closest to me glanced up at me before looking back at his clipboard.“Hello. Is this Ms. Charlotte's residence?” he asked, and Charlotte walked
CHARLOTTEWe spent some time with my new family, and when it got late, we decided to leave.Selina was sad to see us go. She tried to get us to stay overnight, but we told her we would come and visit her soon.Besides, we needed to get home for Charles.The drive home was silent. Nathan was focused on the road, and I kept thinking about what happened.I recalled the day's events, from the hospital visit to the massive feast, and almost combusted from the emotions running through me.By the time we got home, I was still too shell-shocked to speak, and Nathan embraced me.“You've been quiet, my love. Are you alright?” his brows were furrowed with worry, and I rested my head on his chest before I answered.“I'm fine. I am. I just can't…it's so hard to believe,” I said softly.“What is?” he asked.I had a feeling he knew what I was talking about, but he needed me to say the words, to articulate them, so that I could better understand myself.“That I finally found my new family. And they'r
CHARLOTTENathan held me for a long time, and we stayed in the restroom.During this time, I reflected on the reason I’d come here in the first place.The dawning news of my new family—my new beginning, my new home.My chest constricted, and in seconds, tea
CHARLOTTEWhen I returned home, I couldn’t stop thinking about Julian's comment about Nathan's company.Julian had hinted about Nathan losing everything he worked for.What did that mean?Was someone trying to overthrow him? I wanted to call him, but I didn't.
CHARLOTTEA few days later, Selina called me to inform me that the DNA test results were ready.Nathan drove my nervous self to the hospital.When we got there, we saw Selina outside. She was bouncing on the tips of her legs and immediately embraced me when she saw me.
NATHANAs Charlotte brooded in the silence about her mother, I held her tight.“Why would she say all those…terrible words to me?” She muttered, her words vibrating against my chest.I stroked her hair.“I'm so sorry, my love.”“And why did you ask her to do a test? I don’t think she took it too we












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan