LOGINShe agreed to marry the man she had been promised. She woke up beside the man she was never meant to choose. By the time she realizes the truth, it is already too late. The vows have been spoken. The documents signed. The marriage is legal, binding, and irreversible. The man she married is not gentle, nor apologetic. He does not explain himself. He does not beg for forgiveness. Instead, he watches her with calm authority and tells her what no one else will. This was never a mistake. Trapped in a marriage she never consented to, she is pulled into a world ruled by power, silence, and family secrets that refuse to stay buried. Every step she takes is measured. Every decision has consequences. And every attempt to escape only tightens the grip around her life. Between two brothers bound by rivalry, resentment, and unfinished history, she becomes the center of a war she never saw coming. One brother wants her back. The other refuses to let her go. What begins as fear slowly turns into something far more dangerous. Something that blurs the line between control and desire, resistance and surrender. In a marriage born of deception, the most dangerous question isn’t how she ended up here. It’s whether she will ever be able to leave… or if she will choose to stay.
View MoreBAB 1
“Mari kita makan, Pangeran ...,” canda Airin pada lelaki yang telah menikahinya hampir sepuluh tahun yang lalu. Hidangan makan malam yang ia racik sendiri untuk suaminya ini merupakan makanan kesukaan mereka berdua. Gurami asam manis.Bram Indrawan—sang suami—tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan. Airin Sukma, kini berusia 31 tahun, sedangkan Bram sudah kepala enam. Perbedaan usia mereka tiga puluh tahun. Sepuluh tahun yang lalu Bram yang waktu itu merupakan seorang duda yang ditinggal istrinya meninggal karena penyakit leukemia, menikahi Airin yang seorang kembang desa.Pernikahan yang tak didasari cinta dari Airin karena niatnya menikah dengan Bram hanya untuk berterima kasih karena lelaki paruh baya itu telah menyelamatkan nyawa ayahnya yang mengalami kecelakaan kerja dan harus segera menjalani operasi bedah kepala. Sementara sang ayah hanya seorang tukang bangunan di proyek pembangunan gedung bertingkat milik Bram.Bram yang terkenal dermawan dan selalu peduli dengan semua pekerjanya, langsung menandatangani surat pernyataan untuk operasi ayah Airin juga membiayai semuanya tanpa syarat apa pun. Airin yang saat itu datang dari kampung bersama ibunya, menangis tersedu seraya mengucap kata terima kasih yang tak terhingga pada Bram. “Terima kasih, Sayangku.” Bram menjawab dengan senyum merekah dan dada berdebar-debar setiap kali memandang wajah cantik istrinya yang selalu merah merona.“Kamu itu hebat. Semua serba bisa. Masak makanan menjadi sangat enak, membuat kue, mengurus rumah, mengurus bisnis bisa, mengurus anak dan suami apalagi. Terima kasih, ya, Sayang,” ucap Bram seraya mengelus lengan istrinya penuh cinta.Airin tersenyum dan memandang laki-laki yang sangat dihormatinya. Ia sangat bersyukur mendapatkan suami begitu menyayanginya, dan mengerti dirinya yang terkadang bersifat kekanak-kanakan. Bram tak pernah melarang Airin untuk bertemu teman atau arisan di luar rumah, asal Airin begitu dimanjakan.Bagi Bram, melihat Airin selalu tersenyum ceria saja ia sudah bahagia. Bram menyadari kalau dirinya tak lagi muda dan sangat jauh perbedaan usia dengan istrinya itu yang membuat Bram berjanji akan selalu mengerti apa mau Airin.“Tambah lagi ikannya, ya,” tawar Airin pada suaminya.“Sudah, Sayang. Sudah cukup,” tolak Bram karena merasa sudah cukup banyak makanan yang masuk ke perutnya.Selesai makan malam, mereka duduk santai di balkon atas seraya menikmati sinar bulan yang malam ini menampakkan seluruh isinya, bulat sempurna.Airin duduk di ayunan rotan yang sengaja ia pasang untuk bersantai dan Bram duduk di kursi rotan seraya menikmati teh panas buatan tangan cekatan istrinya.“Dua bulan lagi ulang tahun pernikahan kita yang kesepuluh, Airin. Mau minta apa sebagai kado?” Bram bertanya pada Airin yang dijawab Airin dengan kerlingan dan senyum menggemaskan.“Jangan seperti itu, aku tak tahan.” Bram mendekati Airin.“Tak tahan kenapa?” Airin semakin menggoda suaminya.“Tak tahan untuk tak ....” Bram tak melanjutkan ucapannya, tetapi ia malah menggendong tubuh mungil Airin dan membopongnya menuju tempat tidur.Direbahkannya tubuh mungil Airin yang selama ini memberikan kepuasan untuk Bram. Tatapan keduanya saling bertemu dan menghadirkan pijar-pijar panas untuk keduanya. Bram semakin mendekatkan wajahnya pada Airin yang sudah siap menerima serangan apa pun yang akan dilakukan lelaki itu padanya. Napas Bram semakin memburu dan tak lama terdengar rintihan dan desahan khas dari suatu ajang pertempuran yang menghasilkan kenikmatan tiada tara.***“Terima kasih, Sayangku,” bisik lembut Bram di telinga Airin pagi harinya, seraya memeluk dari belakang. Airin yang tengah mengaduk susu untuk Kenzo—putra semata wayangnya—refleks menghentikan aktivitasnya.“Terima kasih untuk apa, Yank?” tanyanya sedikit heran.“Terima kasih untuk suguhan setelah makan malam kita tadi malam.” Bram menjawab seraya terkekeh dan menarik kursi kemudian mendudukinya.Airin tertawa mendengar gurauan suaminya, “Itu bukan suguhan, tapi penyerangan.” Lalu tertawalah mereka berdua di pagi itu. Sungguh indah rumah tangga yang mereka jalani meski sering kali orang memandang salah terhadap Airin.Tak sedikit orang yang memandang Airin sebagai perempuan matre karena bersuami Bram yang sebaya dengan ayahnya, bahkan tak jarang saat jalan berdua, orang mengira Airin adalah anak pertama Bram, karena perawakan Airin yang mungil dengan wajah baby face.“Biar aku yang antar Kenzo sekolah, ya.” Bram mengutarakan niatnya seraya meneguk teh pahit kesukaannya.“Mau keluar?” Airin bertanya pada suaminya.“Sudah.”“Sudah? Kapan? Baru juga keluar kamar.”“Tadi malam ‘kan? Kamu yang buat,” jawab Bram yang langsung mendapat cubitan dari Airin. Sementara lelaki itu meringis sebelum akhirnya tertawa hingga hampir tersedak.“Nakal, sih, masih pagi juga!” Airin berkata seraya menepuk-nepuk pelan tengkuk suaminya.“Papi, kenapa?” Kenzo yang baru saja datang hendak sarapan heran melihat papinya terbatuk-batuk.“Nggak papa, Sayang, papimu cuma tersedak.” Airin mencoba menjelaskan.“Makanya, Pi, kalo minum itu pelan-pelan. Kata ibu guru Kenzo di sekolah, kalo minum itu harus tiga teguk berhenti dulu, terus minum lagi tiga teguk. Begitu, Pi,”“Iya, Sayang. Tadi Papi tersedak juga karena Mami kamu, tuh.”“Lho, kok, Mami?” Airin tak terima, sementara Bram malah terkekeh melihat Airin yang sedikit sewot.“Iya, Mami.” Bram mempertegas lagi yang membuat Airin melotot.“Sarapan dulu, Sayang,” Airin menyodorkan segelas susu dan sepotong sandwich kesukaan Kenzo.“Allahumma bariklana fima rozaktana wakina adzabannar.” Kenzo membaca doa sebelum makan. Bram dan Airin tersenyum bangga melihat anak semata wayangnya sudah bisa membaca doa-doa harian.“Kenzo, hari ini sekolah Papi yang antar, ya.” Bram berbicara pada Kenzo yang tengah mengunyah sarapannya.“Iya, Pi.”“Mami, hari ini ke butik?” Bram bertanya pada Airin yang tengah memotong sandwich di piringnya.Bram memang membiasakan memanggil Mami pada Airin kalau di hadapan Kenzo, tetapi jika sedang berdua saja ia lebih nyaman memanggil Airin atau Sayang.“Iya, Pi, ada beberapa desain baru yang harus Mami cek, juga ada janji dengan pelanggan butik siang ini.”“Ya sudah, hati-hati, ya. Kenzo sudah selesai sarapannya, Nak?”“Sudah, Pi.”“Yoklah, kita berangkat nanti kesiangan.”Kenzo menghabiskan sisa susu di gelasnya kemudian pamit pada Airin untuk berangkat ke sekolah dengan diantar Bram. Dua laki-laki beda generasi itu terlihat sangat akrab sekali sebagai ayah dan anak.Setelah suami dan anaknya pergi, Airin termenung sendiri di meja makan. Hidupnya memang sempurna. Memiliki suami yang sangat memanjakan dirinya, memiliki anak yang manis dan pintar, serta materi berkecukupan.Orang tuanya pun semenjak dia menjadi istri Bram, hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya karena Bram mencukupi segala kebutuhan orang tua Airin. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, tak ada yang tahu kalau sebenarnya jauh di sudut hatinya yang terdalam, dia merasa hampa. Rasa yang tak terbaca oleh siapa pun, termasuk suaminya. Hanya Airin sendiri yang merasakannya.Terms Already Written“Close the door.”Evelyn did not look up when she said it. The phone was still in her hand, the screen dimmed now, but the words remained sharp in her mind, etched there with an accuracy that made her chest feel tight.Behind her, the door clicked shut.Adrian stayed where he was. She could sense it, the way he chose stillness when he was calculating. His brother, on the other hand, moved. The faint sound of footsteps crossed the room before stopping a few feet away.“You weren’t supposed to see it like that,” he said.Evelyn finally raised her eyes. “Like what. In writing. With my name already assigned a role.”Adrian spoke before his brother could respond. “It was a draft.”“A draft?” Her laugh was quiet, almost restrained. “Drafts are erased. This was signed.”His brother exhaled slowly. “Not by you.”“But by people who assumed they had the right,” she replied. “And apparently by a husband who thought silence would soften the impact.”Adrian’s expression hard
The Meeting That Wasn’t Scheduled“You shouldn’t be here.”The words were low, clipped, spoken before the elevator doors had fully opened.Evelyn stopped anyway.The conference floor was nearly empty at this hour. Glass walls, muted lights, the city stretched wide behind them like a witness that refused to blink. Adrian stood near the long table, jacket off, sleeves rolled back, phone still in his hand as though he had been caught mid decision.“I didn’t come for permission,” she said, stepping fully into the room. “I came because you’ve been making choices that involve me.”His jaw tightened. “This wasn’t meant to reach you yet.”“That’s your problem,” she replied. “You keep assuming timing belongs to you.”He set the phone down slowly, deliberately, as if any sudden movement might fracture what little control remained. “You’re walking into something you don’t understand.”“I understand enough,” she said. “Enough to know that your silence is not protection. It’s strategy.”Adrian la
Lines That Do Not BlurShe did not answer him right away. The room felt smaller now, as though the walls themselves had leaned in to listen. Adrian stood in front of her, close enough that she could see the tension in his jaw, the careful way he kept his hands at his sides, as if touching her might undo whatever control he still believed he had.“Say something,” he said.“I’m deciding what matters,” she replied.“That sounds like a delay.”“No,” she said calmly. “It sounds like I’m no longer reacting on command.”His expression tightened. “You think this is a game.”“I think you’ve been playing one,” she said. “And I was never told the rules.”He turned away, pacing once across the living room before stopping near the window. “You don’t understand what you’re stepping into.”“Then explain it,” she said. “Without managing my reaction. Without editing it down to something you think I can swallow.”Adrian laughed once, short and humorless. “You always ask for honesty like it’s clean.”“I
The Shape of a ThreatShe did not sleep. Even after Adrian turned off the light and settled beside her, even after his breathing evened out, her mind refused to follow. His last words replayed themselves over and over, not as a warning, but as a promise she could not yet understand.By then, it won’t be just him you’ll need protection from.She lay still, staring at the faint outline of the ceiling, listening to the quiet sounds of the apartment. Adrian shifted once in his sleep, an unconscious movement that brought his arm closer to her side. She did not move away, but she did not lean into him either.The space between them felt deliberate now.In the morning, Adrian was already awake.He stood by the window, shirt half-buttoned, phone pressed to his ear. His voice was low, controlled, the tone he used when conversations mattered. She caught fragments as she moved around the room. Names she did not recognize. A pause. A firm refusal.“No,” he said. “That won’t be necessary.”He ende
She did not see the other brother until it was too late to pretend she hadn’t.He was already in the sitting room when she entered, seated with an ease that suggested familiarity, one leg crossed over the other, a glass of something amber catching the light in his hand. He looked up at her and smil
She did not go to the west wing again.Not because she accepted his warning, but because the house had made its point. Doors that had been open the day before now sat closed. Corridors felt narrower. Even the light seemed more selective, lingering in some rooms and avoiding others. It was as if the
She woke before dawn, not because of a sound, but because the house felt too aware of her presence.The silence was different at that hour, heavier, as if it had settled deliberately. She lay still for a moment, listening, then sat up slowly. The clock glowed faintly beside the bed. Too early to be
She woke before the house did. Not because she was rested, but because the quiet felt temporary, like something that would be taken from her the moment she let herself relax into it. Light crept in through the narrow gap between the curtains, pale and undecided.Her phone lay where she’d left it, f
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.