Removed

The story Suamiku Ternyata Pembunuh Ibuku is no longer available here

Marni Granger Marni Granger

pas..ga bertele-tele, lebih suka dg details cerita spt ini

2025-09-19 21:23:27

Ibu sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Aku berlutut memohon pada tunanganku yang menjabat sebagai kepala dokter, agar dia yang menjadi dokter utama dalam operasi itu. Namun di luar ruang ICU, dia malah menangani lutut Isabel yang lecet dengan hati-hati. Dalam keputusasaan, sahabat masa kecilku sekaligus direktur rumah sakit, Rayner, mendorong pintu ruang operasi dan menyerahkan sebuah surat pernikahan kepadaku. "Menikahlah denganku, aku sendiri yang akan mengoperasi ibumu." Dengan tangan gemetar, aku menandatangani namaku. Aku hanya berharap dia bisa menyelamatkan nyawa ibuku. Namun, ibu tetap pergi selamanya di malam hujan itu. Rayner sendiri yang membantuku mengurus segala urusan setelah kematian ibuku. Pernikahan pun tetap berlangsung sesuai rencana. Tujuh tahun kemudian, aku malah mendengar percakapannya dengan wakil direktur di ruang arsip rumah sakit. "Rayner, waktu itu kenapa kamu memindahkan organ mendiang ibu mertuamu ke tubuh ibunya Isabel saat operasi? Apa kamu nggak takut ketahuan?" "Aku berutang pada Isabel." "Andai saja dulu aku nggak ragu-ragu, Isabel juga nggak akan memilih pergi ke Afrika untuk menjadi relawan medis dan Bibi nggak akan jatuh sakit karena terlalu khawatir."

Related Novels
Mawar Layu di Musim Dingin Kedua

Mawar Layu di Musim Dingin Kedua

Fiction·Yusfa

Selama 8 tahun, aku selalu menemani Farrel Grattino menapaki kariernya di dunia penerbangan dari seorang kopilot hingga menjadi kapten. Di tahun tersibuknya, aku bahkan rela mengundurkan diri dari pekerjaan untuk memasak sesuai jadwal penerbangannya. Pernah suatu kali aku bertanya, "Suatu hari nanti apakah kau bisa mengajakku melihat langit di ketinggian sepuluh ribu meter yang selalu kau lihat? Sekali saja." Dia bahkan tidak menghentikan sumpitnya. "Itu tempat kerja, bukan taman hiburan." Aku menjawab, "Baik." Sejak saat itu, aku tidak pernah mengungkitnya lagi. Hingga suatu malam ketika sulit tidur, aku tanpa sengaja menemukan album foto yang dikunci dengan kata sandi di ponselnya. Di dalamnya ada lebih dari empat puluh foto, semuanya diambil dari sudut pandang kokpit. Hamparan lautan awan, matahari terbenam, pelangi ganda setelah hujan, hingga galaksi di langit pada ketinggian sepuluh ribu meter. Setiap foto pernah dia kirim kepada orang yang sama, dengan nama kontak berupa emoji beruang kecil. Foto terbaru diambil tiga hari yang lalu. Senja menyelimuti langit, sementara setengah bulatan matahari menggantung di ujung sayap pesawat. Dia menuliskan sebuah kalimat: [Pemandangan hari ini juga sangat indah. Nanti kalau kau datang, duduklah di kursi observasi sebelah kanan. Itu sudut pandang yang terbaik.] Orang itu membalas dengan emoji pelukan dan empat kata: [Tunggu saat aku cuti.] Aku mengembalikan ponselnya ke tempat semula tanpa mengubah kata sandi ataupun menghapus album fotonya. Fajar menyingsing, aku menyeduh kopi seperti biasa, lalu meminumnya dengan tenang. Setelah itu, aku membuka laptop, menulis surat pengunduran diri, dan memesan tiket pesawat menuju Baili. 8 tahun sudah berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mengejar rute penerbangannya dan menunggu waktu makan bersamanya. Aku berhenti menjaga rumah yang kosong sambil menebak-nebak terbang ke mana dia saat ini. Jika langit di ketinggian sepuluh ribu meternya memang tidak memiliki tempat untukku, maka aku akan berpijak di bumi, menumbuhkan kehidupan dan menikmati senjaku sendiri.

21.0K views2026-07-06 18:34:47

12 Jam untuknya, 0 Detik untukku

12 Jam untuknya, 0 Detik untukku

Fiction·Vira

Tunanganku, Reno Wibowo, mempunyai kebiasaan yang aneh. Setelah pukul 9 malam, dia tidak akan pernah mengangkat telepon dari siapa pun. Bahkan saat kami sedang dimabuk asmara sekalipun. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, Reno akan langsung menutup telepon tanpa ragu. Pernah suatu malam aku pulang terlalu larut. Aku merasa bahwa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Dalam kepanikan, aku segera menelepon Reno. Namun, apa yang kudengar hanyalah suara Reno yang terdengar sangat tidak sabar. "Kamu ini nggak bisa menghargai jam istirahat orang lain ya? Kututup dulu." Malam itu, aku pergi sendirian ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, tanpa mempunyai alasan untuk menyalahkan Reno. Namun sekarang, ketika sedang menggunakan komputer Reno .... Aku tidak sengaja melihat riwayat panggilan yang tersinkronisasi dengan ponselnya. Di sana, tercatat sebuah panggilan yang berlangsung dari pukul 9 malam hingga pukul 9 pagi keesokan harinya. Total 12 jam penuh, setiap malam dan itu telah berlangsung selama lima tahun. Nomor itu tidak asing bagiku. Pemiliknya adalah murid dari calon mertuaku, sekaligus asisten Reno di tempat kerjanya. Di momen itu juga, seolah-olah seluruh kekuatan di tubuhku lenyap. Aku duduk terpaku sangat lama. Baru setelah kedua kakiku mati rasa, aku terdiam sambil mematikan komputer Reno. Kemudian, aku langsung membatalkan janji pendaftaran pernikahan kami. Panggilan telepon Reno tidak pernah ditujukan kepadaku. Kalau begitu, aku pun ... tidak menginginkannya lagi.

32.8K views2026-07-25 13:28:01

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - <a href="https://www.goodnovel.com/id/" >Goodnovel</a>. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Fantasi-novel" >novel fantasi</a>, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status