LOGINI am Pearl Gem Valley. An omega. From one of the lowest tribes in the Wolf Empire. A world ruled by a cruel system where omegas are spat on and branded as slaves from birth. Five years ago, I saved the life of the Alpha Prince, Kade King Majesty, and he repaid me with a proposal, right in the middle of the omega ghetto. Obsessed at first sight. In love at first glance. I said yes. Little did I know I was just a pawn used to provoke his longtime lover. I was used. Betrayed. Abandoned after my role was served by Kade King Majesty himself while his mother, the ruthless Queen of the Wolf Empire, made my family pay for daring to dream that I could ever be anything more than an omega. All was lost… or so I thought. Until the cruelest revelation came from a doctor. Five years of grief had shrunk my heart, leaving me with only 90 days left to live. Stunned by fate. Abandoned by destiny. I decided to take the law into my own hands. I will make him pay… tenfold. I will make sure using me becomes his last regret. And as if the Moon Goddess herself supported my quest, Kade King Majesty returned but this time, as the King of the Wolf Empire. His eyes softened. Possession burned in them. And then he said those words. “I want you back, Omega. This time, I am claiming you for myself.”
View MoreKEBANGKITAN PASCA BERCERAI
"Kenapa kamu menalakku, Mas?""Maaf, Pus, aku tidak kuat punya istri gendut dan jelek sepertimu."Mas Aldi menunduk, merasa bersalah. Namun, tetap saja. Kata-katanya terdengar begitu menyakitkan di telingaku."Pulanglah, Pus, aku sudah bukan suamimu."Aku hanya bisa menitikan air mata. Walaupun di hati rasanya masih cinta. Tujuh bulan kami menikah, tapi mas Aldi tak pernah sedikitpun mau menyentuhku. Jangankan bermesraan, berbicara berdua saja hanya seperlunya.Sekarang, aku sudah tahu jawabannya. Kenapa mas Aldi tidak sudi menyentuhku.Kami memang menikah dari hasil perjodohan. Karena ibu mas Aldi tidak mampu membayar hutang, dan almarhumah ibuku juga sedang sakit-sakitan, akhirnya kami terpaksa dijodohkan. Untuk memenuruti permintaan almarhumah ibu, melihat anaknya menikah, juga untuk membayar hutang-hutang ibu mas Aldi yang belum sempat terbayar.Awalnya mas Aldi mengira bahwa yang akan menikah dengan dirinya adalah adik perempuanku yang bernama Pita. Tubuhnya lebih ramping, cantik, dan kelihatan manis. Tidak sepertiku yang sudah terlanjur bengkak dan berjerawat. Kesalahan beli foundation, bukannya tambah mulus malah tambah parah.Akhirnya pernikahan itu terjadi, mas Aldi tampak shock setelah melihat mempelai wanitanya adalah aku. Alhasil aku tidak pernah diperlakukan selayaknya seorang istri oleh mas Aldi.Rasanya sakit, lebih sakit lagi melihat kebohongan yang mas Aldi pendam selama ini. Bahwa dia tidak mau menunaikan nafkah batin karena tidak berselera menyentuhku. Bukan karena belum siap menjadi seorang suami.Rumah almarhumah ibu sudah dijual. Hasilnya aku bagi dua dengan Pita. Jatahku diserahkan kepada mas Aldi untuk modal usaha. Dan, usahanya bangkrut. Keren sekali. Kini aku dicampakkan oleh mas Aldi.Sementara Pita sudah menikah dengan seorang pria pas-pasan. Karena dia satu-satunya saudara yang kupunya, terpaksa aku numpang bersama dia. Sebagai seorang janda perawan."Mbak Puspa makan, ya." Pita terlihat sangat prihatin melihat kondisiku. "Mbak Puspa kok jarang makan, sih?"Aku sudah benci pada diriku sendiri setelah bercerai dengan mas Aldi. Jangankan nafsu makan, nafsu untuk hidup pun juga berkurang.Merasa hidupku sudah tamat sampai di sini. Tidak perlu memulai bab baru. Karena bab pertama sudah dipindahkan ke bab terakhir.Pita sebagai adik begitu khawatir. Perempuan yang sedang hamil muda itu sangat perhatian kepadaku selayaknya sedang mengurus mendiang sang ibu.Sampai beberapa minggu, aku tetap terdiam murung. Malas makan dan malas ngapa-ngapain.Sampai pada suatu ketika, Fano, suami Pita mulai jengah dengan kehadiranku.Benar memang, walaupun jarang makan, kehadiranku memang sangat menjengkelkan. Bantu masak tidak, bersih-bersih tidak. Kerjaannya hanya melamun, karena meratapi nasib tragisku."Kakakmu itu daripada hidup gitu-gitu terus mendingan suruh bunuh diri aja kenapa."Tak sengaja aku mendengar perbincangan mereka di dalam kamar.Hatiku terasa sakit luar biasa."Mas, jangan kencang-kencang dong ngomongnya. Nggak enak kalau kedengaran mbak Puspa.""Biarkan! Biarkan dia dengar sekalian. Aku udah muak lihat wajah kakakmu. Rasanya pengen muntah tahu nggak! Udah gendut, jerawatan, kerjaannya nglamun terus."Aku hanya bisa menitikan air mata."Mbok ya tahu diri, numpang di rumah orang kok kayak gitu. Nyenengin yang punya rumah dikit kan bisa. Owh iya, deng, wajah jerawatan gitu mana bisa nyenengin orang."Aku sudah tidak sanggup lagi, mendengar cacian dari adik ipar. Masuk ke dalam kamar, kemudian menenggelamkan wajah pada bantal sambil menangis terisak-isak. Cukup lama aku tahan sampai tidak bersuara dari luar.Baru ketika Fano, berangkat bekerja aku mulai berkemas-kemas memasukan pakaian ke dalam tas, untuk pindah tempat tinggal entah kemana. Aku tahu sejak pertama tinggal di sini, Fano selalu menampilkan wajah tidak suka terhadapku.Aku harus sadar diri dan segera pergi.Sambil membawa ransel, aku keluar dari kamar. Menghampiri Pita yang sedang berada di dapur mencuci piring."Pita, Mbak mau ...." Bibirku bergetar, susah sekali untuk mengucapkan."Mau ke mana, Mbak, kok bawa tas?"Tubuh bulatku memeluk Pita dengan erat. Adik tercintaku, dialah perhiasaan berhargaku. Kita tidak akan bisa lagi sama-sama berjuang seperti dulu. Karena dia sudah menjadi hak suaminya.Aku menyeka peluh yang ada di pipi setelah melepas pelukan Pita. "Mbak mau melanjutkan petualangan hidup, Pit.""Ke mana, Mbak?" Pita juga ikut menangis. "Tinggal di sini aja Mbak untuk sementara waktu. Kalau tidak tinggal di sini, Mbak mau tinggal sama siapa. Yang mbak punya kan cuma aku."Aku kembali memeluk Pita kemudian menciumnya, gemas."Mbak punya kehidupan sendiri yang harus dijalani Pit. Nggak bisa sama kamu.""Iya ih, terus Mbak mau tinggal di mana?!" Pita bergindik sebal, sambil mengencangkan tangisnya. Adik kecilku, tetaplah adik kecilku. Yang tidak pernah tega melihat sang kakak menderita.Aku mencoba tersenyum sebisa mungkin, walau air mata ini terus mengalir. Tidak ingin Pita semakin sedih."Mbak jawab, dong! Mbak mau tinggal di mana?""Adalah pokoknya, nanti Mbak kabarin.""Tinggal di sini nggak papa, lho, Mbak. Nanti Fano tak gampar kalau ngomong aneh-aneh. Biar bagaimanapun mbak Puspa itu adalah mbakku. Satu-satunya Mbak yang aku punya."Aku kembali memeluk Pita, kali ini cukup lama. Kemudian berkata. "Enggak, Pit. Sudahlah, mbak bakalan baik-baik saja. Mbak pengen menikmati dunia baru yang lebih indah."Akhirnya Pita mengikhlaskan aku pergi dari rumah sederhananya.Sebenarnya aku tidak tahu harus ke mana. Berjalan kaki sejauh mungkin meninggalkan kenangan, meninggalkan pemukiman yang tak henti-hentinya menayangkan masa lalu.Kulihat Fano menunggangi motornya. Lelaki itu sedikit bingung melihatku yang berjalan sambil membawa ransel. "Hey, Gendut, mau ke mana? Pindah?"Aku hanya diam saja. Adik ipar nggak ada akhlak.Fano memelankan laju motornya, mengimbangi langkahku. "Alhamdulilah, kalau kamu pindah, Ndut. Sepet gue ngliat lo di rumah."Aku menghela napas."Mau tak anterin. Takut bannya bocor, lo kan gendut, jerawatan lagi, idih." Fano melesat pergi dengan motornya.Aku hanya menggeleng pelan. Bukan caciannya yang ku permasalahkan, tapi kelakuannya. Pamit bekerja sudah dari pagi, sekarang masih berkeliaraan di jalan.Kakiku sudah mulai pegal, berjalan terus tidak tahu arah tujuan. Perut lapar juga tak kupedulikan. Setelah cerai dari mas Aldi aku jarang makan. Makan paling cuma sesendok dua sendok saja.Tampak dari kejauhan sana, mas Aldi sedang membonceng seorang perempuan. Aku terbelalak. Belum sempat mencari tempat untuk bersembunyi, motor itu sudah melaju kencang melewati genangan air hingga muncrat ke pekaianku.Aku hanya menghela napas, melihat pakaianku yang basah terkena cipratan genangan air di pinggir jalan. Aku tahu pasti mas Aldi sengaja. Mantan suamiku itu pasti hafal bentuk dan rupaku dari kejauhan karena kita pernah tinggal bersama selama tujuh bulan.Aku berkaca pada jendela sebuah rumah di balik pagar. Ingin melihat seberapa parah cipratan air yang menempel di pakaian ketat yang aku kenakan. Bukannya ketat, sih, emang tubuhku saja yang terlalu bengkak. Walaupun sekarang terasa longgar dikit.Benar. Aku sedikit menganga lebar melihat pantulan diriku sendiri di kaca jendela rumah orang. Berat badanku sedikit menurun. Apa karena jarang makan, ya? Atau karena terlalu banyak pikiran?Aku langsung mengerucutkan bibir, melihat pakianku yang kotor. Serta jerawat di wajahku yang semakin menggila, karena meletus dan tumbuh lagi. Andai aku orang kaya, aku akan facial ke salon ternama, dan mengusir jerawat-jerawat ini.Aku kembali meneruskan perjalanan, entah ke mana. Semoga sampai ke Zimbawe sana dan bertemu orang-orang yang bisa menerimaku dengan baik.Semua orang yang kutemui melemparkan tatapan aneh. Mungkin karena melihat pakaianku yang kotor.Kangen dengan ibu, tapi beliau sudah tenang di alam sana. Kangen dengan Pita, tapi suaminya menyebalkan. Kangen dengan mas Aldi tapi dia benci dengan diriku.Aiiihh, bayangkan saja aku menikah dengannya tapi tidak pernah disentuh sama sekali. Padahal aku selalu ada untuk dirinya. Bahkan memberikan modal usaha dari hasil warisan ibu. Dia bangkrut pun aku tetap mensupport.Sekarang aku ditelantarkan, dan mirisnya lagi beberapa waktu yang lalu melihat mas Aldi berboncengan dengan perempuan cantik.Bahkan dengan sengaja melewati genangan air untuk mengenai pakaianku. Dia tidak pernah sedikitpun menyayangiku."Aarghhhh!" Aku menangis lagi. Di sebuah jembatan.Ini lebih baik. Lebih baik aku terjun ke sungai saja, daripada tidak tahu arah tujuan. Menyusul ibu. Semoga saja. Takutnya aku malah gentayangan dan tidak bisa kembali ke alam yang semestinya karena bunuh diri. Semoga Allah menerimaku.Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup.Aku menghela napas sambil memejamkan mata. Di bawah sungai sana ada batu besar. Kuperkirakan agar jatuh tepat sasaran batu itu. Biar tidak merasakan sakit apa-apa. Pita maafin, Mbak, ya.Saat aku hendak melompat ke sungai, ada sebuah mobil hitam mengkilat yang berhenti.Pria berjas hitam rapi buru-buru turun dan menghentikan niat burukku."Puspa, kamu ngapain?"Aku menelan ludah mendengar ucapan pria tampan itu. Kenapa dia bisa tahu namaku?"Kamu mau bunuh diri?" ucap pria berambut jambul itu khawatir.Setelah kupandang lamat-lamat wajahnya, aku baru sadar kalau dia adalah Reno. Teman sekelasku di SMA dulu.Aku menyeka air mata yang menetesi pipiku.Reno menghela napas. "Ayo ikut aku, jangan bunuh diri di sini."Dia menarikku memasuki mobil mewahnya dengan paksa. Tanpa merasa jijik menggenggam tanganku.Padahal mas Aldi mantan suamiku tidak pernah melakukan itu.Bersambung...Kade King It has been confirmed under the clear crystal moonlight that crowns the sacred altar within the Royal Castle that the day I am to return from the Moonspire Citadel remains uncertain. That was the report I was given, and with it, I have begun to hasten all final paperwork, set the empire in perfect order, and prepare to depart. That explains the sudden workload.As the gilded doors opened before us, I stepped aside, allowing Pearl to enter first. I remained still, letting her take it all in, the private royal dining hall, where I dined alone.She did not attempt to mask her awe.The crystal chandelier cast golden light across her delicate features. Her lips parted in wonder, her eyes wide and shining. Her hair swirled as she turned to take it all in, the soft rustle of her dress and the quickened beat of her heart reaching me more clearly than any words. She looked ethereal. Precious. Radiant in her innocence.The royal chefs and liveried attendants bowed their heads in flaw
Pearl Gem I listened. To the steps. I stilled myself, letting the sound reach me. Then I caught it, his scent. I paused again, sensing his presence, and when he came into view, my heart swelled. Just seeing him, feeling how near he was. But even now, he was busy, speaking on his way in. It felt like the entire corporation had been waiting for this moment. Department heads, Marce… and me.His Majesty was just about to enter when his Beta, Leif, handed him a ringing phone.“Your Majesty, it’s urgent.”Kade paused, a flicker of strain on his face before he accepted the call, walking toward his office.“Hello,” He answered, then paused. “Right away. I will send my Beta.”He handed the phone back to Leif and gave a sharp order.“Go review the documents and bring me the report.”“You have a meeting coming up with…”“Excuse me, Beta Leif,” Marce interrupted, stepping forward. “But His Majesty is busy right now. Kindly leave. We have got business to attend to.”The flash of anger in Leif’s e
Pearl Gem “The Alpha King is not in his office!”That was the furious yell I walked into, followed by the violent slam of a telephone against the floor . The pieces scattered as Marce stomped on it like a madman.“He is not around! Goodness!”I froze at the entrance, watching him unravel in a way that bordered on insanity. His chest heaved as he breathed raggedly. Then suddenly, he paused and looked up. Upon seeing me, his expression shifted, brightening with relief.“My goodness. Wow. Pearl, you are here.” He said, surprising me that he knows my name. Well, at this point who wouldn’t. “Thank the Moon Goddess. Come in. We have got a mountain of work.”He turned and returned from his office with a stack of files so tall it made my heart skip. My eyes flicked to the piles already littering Kade King’s desk and the floor beside it. I swallowed.When I’d arrived at Majesty Corporation under the morning sun, the atmosphere was chaos. Everyone was moving fast, frantic, purposeful. No one h
Pearl Gem I allowed myself to enjoy it. The shower in the bedroom. I used the soap, the toothbrush, and smiled to myself because they all belonged to Kade King. Everything carried his scent.About an hour after I woke up, I got dressed, ready to leave. But then came a knock at the door, and an attendant walked in, bowing low before me. It tightened something in my chest.“Good morning. Please, what will you have for breakfast?” She asked politely.“No need, please. I’m already on my way. I’m totally fine,” I replied with a small smile. I moved to walk past her, but she quickly reached out and took my hand in a hurry, startling me.“Please, you have to take your breakfast before you leave. His Majesty will be mad if we didn’t treat you right. Please.”I took a step back, surprised by how she was shivering in fear. Slowly, I looked at the wall clock and swallowed hard.“I’m really fine. He won’t be mad, I promise,” I said softly, hoping the smile on my face would be enough.“As you say
Pearl Gem Silence fell between His Majesty and me. For a moment, I wanted to slap myself for becoming so carefree in his presence. I had just slipped, mentioning my father’s surgery, my brother’s love for meat, and my own brokenness. Now, he was staring at me with that same look he wore when a
Pearl Gem For what seemed like an eternity, His Majesty stood at the doorstep, silent, unmoving. I kept my head bowed, but I could feel his gaze. Heavy. Burning. His presence pressed down on me like a weight I’d tried so hard to forget. “You cut your long hair,” He finally said. That voic
Pearl Gem PRESENT The taxi rolled to a stop in front of what remained of my father’s old home. I paid the fare and stepped out. For a long moment, I stood still, staring at the worn-out structure that once held laughter, love, and life. Five years had passed since that night, but the pain h
Pearl Gem Morning sun bath the chamber. Food and water came, delivered by court ladies with stone-cold faces, but never him. No warmth. No knock at the door. No golden eyes waiting on the veranda. Each hour stretched longer than the last. What I thought was a miracle, his proposal, his affecti






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews