LOGINWhen Diana sacrificed everything to save the Silver Moon Pack, she never imagined that her mate, Alexander, would spend eight years punishing her for it. After losing their unborn child to a vicious attack from Alexander's lover, Diana begs for freedom from her loveless union. But dark secrets lie beneath the surface—secrets that could shatter both packs. The birth moon approaches, and Diana must decide whether to keep her promise of silence or finally break free from the Alpha who never wanted her. A tale of betrayal, sacrifice, and the thin line between love and hate. At the Silver Moon Pack's annual full moon ceremony, I was viciously shoved to the ground by Alexander's female companion, Selena. Wearing silver-tipped boots, she stepped directly onto my swollen belly. In an instant, bright red blood stained my white ceremonial dress. Alexander glanced at me with a slight frown. "Pregnant but not staying in the den to take care of yourself? Out here challenging pack hierarchy again? Trying to frame Selena, aren't you? The sacred ground is stained with your blood—so unlucky! What a disgrace to a Luna!" After saying this, he turned away without hesitation, wrapping his arm around Selena's waist as they left. Even the urgent howls of the pack healer didn't make him look back at me once. The bitter wolfsbane medicine churned inside my body, and in the end, the pup couldn't be saved. Clutching my now-empty belly, I had just come out of the healer's den when I saw Alexander on the pack's communication crystal, passionately marking Selena with his scent. A sharp pain shot through my abdomen, piercing straight into my heart. Wiping the cold sweat from my forehead, I looked at my mother-in-law standing by the healing bed. "Elder Mardanna, it's been eight moons. The Silver Moon Pack's crisis was resolved long ago. I really want to break the mate bond. Please, let me go..."
View MorePerempuan itu tak bisa berkata-kata saat sang ibu memperkenalkan siapa sesungguhnya laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapannya itu. Lidahnya kelu, tubuhnya mendadak kaku. Sementara jantungnya berdebar sangat kencang mengetahui kenyataan yang baru saja diketahuinya. Laki-laki yang sedang tersenyum lembut menatapnya ini... Laki-laki tampan bertumbuh tinggi ini.... Dia... Dia...
•••
Kayla Rahma, 23 tahun. Anak pertama dari pasangan Agus Wijayanto dan Tutik Wahyuni. Ia memiliki dua orang adik laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Namanya Kamal dan Kemal. Kayla tumbuh dalam keluarga dengan penghasilan yang terbilang sangat pas-pasan. Ia bisa kuliah karena mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Saat lulus SMA, Kayla diberikan kesempatan memilih ingin kuliah di universitas mana oleh pihak sekolah karena nilainya selalu nyaris sempurna di setiap ujian.
Sebenarnya bisa saja Kayla memilih universitas Bagus yang ada di Jakarta. Tapi, biaya kehidupan sehari-hari di Jakarta sangat mahal. Ia tidak ingin membebani keluarganya yang sudah sangat kesulitan, jadi ia meminta untuk bisa kuliah di Yogyakarta kepada pihak sekolah demi menekan biaya hidupnya sehari-hari. Itulah mengapa Kayla sampai memilih untuk menetap di Yogyakarta selama kuliah. Dia ingin menunjukkan kepada pihak sekolahnya bahwa ia mampu, ia bisa memberikan hasil yang terbaik dan tidak akan mengecewakan pihak sekolahnya.
Kini Kayla merasa sangat senang karena telah lulus kuliah. Dengan begitu ia bisa segera bekerja dan membantu mengangkat perekonomian keluarganya di Jakarta.
Pagi itu, Kayla sudah rapi dengan pakaian muslimnya. Ia hendak melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang di rekomendasikan oleh pihak kampusnya. Dia ingin segera bekerja supaya ayah dan ibunya tidak perlu lagi mencari uang.
"Kayla!" terdengar suara berat ayahnya memanggil. Kayla segera mengambil amplop coklat yang berisi berkas-berkas untuk melamar pekerjaan. Setelah membetulkan kerudungnya, Kayla segera melesat meninggalkan kamarnya yang tidak besar itu.
"Iya, yah?" jawab Kayla begitu berada di hadapan Pak Agus.
"Loh? Kamu mau pergi?" tanya Pak Agus terkejut melihat putrinya sudah rapi.
"Iya, yah. Pagi ini aku mau melamar pekerjaan di perusahaan Pratama Jaya." jawab Kayla sambil duduk di kursi.
"Kalau tidak hari ini tidak apa-apa, kan? Ayah ingin kamu di rumah hari ini." tanya Pak Agus.
"Memangnya ada apa, yah?" tanya Kayla bingung.
"Nanti akan ada tamu yang datang ke rumah, Kayla." jawab Bu Tutik dari dalam rumah. Beliau muncul dengan membawa secangkir teh panas untuk pak Agus.
"Memangnya tamunya penting sekali ya, Bu? Apa Kayla harus ikut menyambut juga?" tanya Kayla.
"Tamu yang datang itu keluarga sahabatnya ayah, Kayla. Namanya Pak Cahyo. Ayah dan pak Cahyo ini sudah bersahabat sejak jaman sekolah. Kebetulan, empat bulan yang lalu ayah dan pak Cahyo bertemu di kelurahan." jawab bu Tutik.
"Keluarga pak Cahyo ingin sekali bertemu dengan mantu... Ah, maksud ayah bertemu denganmu." kata Pak Agus gugup.
"Padahal aku ingin segera mencari kerja. Semakin cepat kan semakin baik." keluh Kayla sambil menunduk.
"Besok kan masih bisa, Kayla. Tidak enak kalau nanti keluarga pak Cahyo datang tapi kamu tidak ada." bujuk Pak Agus.
"Ya sudah. Jam berapa keluarga pak Cahyo datang, yah?" tanya Kayla. Pak Agus memperhatikan jamnya.
"Mungkin sekitar satu jam lagi." jawab pak Agus. Kayla mengangguk.
"Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu. Mau menyimpan amplop ini." kata Kayla. Pak Agus mengangguk.
"Setelah itu bantu ibu menyiapkan makanan untuk tamu kita, Kayla."
"Iya, bu." jawab Kayla lalu melangkah menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Kayla mendesah. Ia sebenarnya tidak suka menunda-nunda begini. Tapi karena ayah dan ibunya yang meminta, akhirnya Kayla menurut. Ia tidak mau orang tuanya bersedih karena dirinya.
Setelah menyimpan amplop coklat miliknya, Kayla segera membantu sang ibu di dapur membuat makanan untuk disajikan kepada para tamu nanti.
Sekitar satu jam kemudian, dua buah mobil memasuki halaman rumah mereka. Kayla melihat sepasang suami istri turun dari mobil sedan. Dan di sampingnya itu seperti mobil Toyota keluaran terbaru ya? Muncul seorang laki-laki dan seorang gadis belia.
"Assalamu'alaikum..." sapa laki-laki paruh baya yang usianya tak beda jauh dari Pak Agus saat semuanya sudah mendekat.
"Wa'alaikumussalam. Cahyo! Aku sudah menunggumu." kata Pak Agus seraya memeluk tubuh laki-laki paruh baya itu yang ternyata memang Pak Cahyo. Sementara bu Tutik memeluk wanita paruh baya yang berada di samping pak Cahyo. Namanya Bu Fatma.
"Ayo masuk." ajak Bu Tutik mempersilakan tamunya masuk ke dalam.
"Apa kabar, Akmal?" tanya pak Agus saat menyalami Laki-laki yang berdiri di belakang pak Cahyo.
"Baik, Yah. Ayah bagaimana?" tanya laki-laki itu yang membuat Kayla heran. Mengapa laki-laki itu memanggil ayahnya dengan sebutan ayah?
"Alhamdulillah, baik. Ayo masuk." jawab pak Agus. Laki-laki yang bernama Akmal itu mengangguk. Lalu saat masuk ke rumah, tatapan Akmal tertuju pada Kayla. Membuat Kayla seketika menunduk menghindari tatapan laki-laki itu. Tapi saat Kayla mencoba mengangkat wajahnya, Akmal masih terus menatapnya. Membuat Kayla sekali lagi mengalihkan pandangannya.
"Tante, ini pasti mbak Kayla ya?" tanya gadis belia yang tadi turun dari mobil laki-laki di hadapannya ini. Kayla memandang gadis itu yang sedang mendekatinya sambil tersenyum manis.
"Iya. Dia mbak Kayla." jawab bu Tutik yang membuat senyuman gadis itu semakin merekah.
Melihat senyum manis gadis itu membuat Kayla tanpa sadar ikut tersenyum. Wajah gadis itu begitu cantik dengan lesung pipit menghiasi pipi kirinya."Mbak Kayla ternyata cantik sekali. Jauh lebih cantik dari yang difoto." kata gadis itu lalu menoleh pada laki-laki tinggi di hadapannya ini.
"Iya kan, mas?" tanya gadis itu.
"Ya!" jawab laki-laki itu singkat. Suaranya manly sekali. Alis Kayla bergerak saat mendengar jawaban laki-laki itu. Sesingkat itukah? Apakah tidak ada kata lain selain dua huruf itu?
Kayla menggeleng menyadari kata hatinya. Kok seolah-olah dia mengharapkan laki-laki itu memujinya. Ada-ada saja.
"Mas Akmal sangat beruntung." kata gadis itu mengagetkan Kayla dari lamunannya. Apa maksud gadis itu.
"Seperti kata Dara, kamu benar-benar sangat cantik." puji bu Fatma lalu memeluk Kayla dengan hangat. Meskipun bingung, Kayla membalas pelukan dari Bu Fatma.
"Tante terlalu memuji." kata Kayla akhirnya membuka suara. Bu Fatma tersenyum.
"Kyaaa!! Suara mbak Kayla juga lembut sekali." tiba-tiba gadis belia bernama Dara itu bersorak senang setelah mendengar suara Kayla. Membuat Kayla jadi tersipu. Baru kali ini ia mendengar ada yang memuji suaranya.
"Dara! Yang sopan!" tegur pak Cahyo kepada Dara. Sahabat ayahnya itu memiliki suara rendah yang terdengar sangat bijaksana. Mirip seperti ayahnya yang juga bersuara rendah.
Dara tersenyum sambil mendekati pak Cahyo dan duduk di sebelahnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk tinggal bersama mbak Kayla." kata Dara penuh semangat. Membuat Kayla semakin bertanya-tanya dalam hati. Ada apa ini?
"Mbak Kayla tidak akan tinggal bersama kita, Dara! Mbak Kayla akan tinggal di rumah Mas Akmal." jelas pak Cahyo yang membuat Kayla seketika membelalakkan matanya. Apa maksudnya ini?
"M-maaf. S-sebenarnya apa maksud pembicaraan ini? Aku sama sekali tidak mengerti." tanya Kayla bingung.
"Lho? Kamu belum cerita sama Kayla, Gus?" tanya pak Cahyo. Pak Agus tersenyum lalu berdiri.
"Aku belum sempat mengatakannya pada putriku." jawab pak Agus lalu melangkah mendekati Kayla. Bersamaan dengan itu, Akmal yang sejak tadi berdiri didekat Kayla juga menghampiri perempuan itu.
Kayla terkejut saat Akmal merengkuh bahunya. Cepat-cepat ia melepaskan diri dan mencoba menjauh. Seenaknya saja laki-laki itu menyentuhnya. Tapi Akmal menarik tubuh Kayla dan membawanya kembali dalam pelukan tangannya.
"Tidak apa-apa, Kayla. Dia berhak menyentuhmu." kata pak Agus yang membuat Kayla nyaris berteriak.
"Ayah kok begitu?? Bagaimana mungkin ayah membiarkan laki-laki ini menyentuhku?" tanya Kayla tidak percaya.
"Kayla!" panggil bu Tutik lembut. Kayla menghentakkan tangan Akmal lalu berlari mendekati sang ibu.
"Ibu!!" Kayla memeluk bu Tutik dengan sedih. Bu Tutik segera mengusap-usap punggung putrinya itu dengan sayang.
"Apa maksud semua ini, bu? Aku sama sekali tidak paham." tanya Kayla dengan dahi berkerut.
"Kayla!" panggil pak Cahyo sambil berdiri. Sahabat ayahnya itu mendekat.
"Om akan menjelaskannya supaya kamu tidak bingung. Sebenarnya, sekitar seminggu yang lalu, kamu sudah resmi menjadi menantu di keluarga kami." kata pak Cahyo.
"HUH??"
"Kamu dan Akmal sudah resmi menjadi suami istri, Kayla. Akmal berhak menyentuhmu karena dia adalah suamimu." kata bu Tutik menjelaskan.
"APA???" suara Kayla terdengar menggema di seluruh rumah. Begitu terkejutnya dia sampai-sampai tidak bisa mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh ibunya.
"Se-sebentar! A-aku benar-benar tidak paham. Aku bingung. Si-siapa yang menikah?" tanya Kayla sambil tersenyum tak percaya. Alisnya bahkan nyaris bertaut.
"Kamu!" jawab laki-laki tinggi yang bernama Akmal itu. Ia perlahan mendekati Kayla.
"A-aku?" tanya Kayla tak percaya. Akmal mengangguk.
"Aku menikah dengan siapa?" tanya Kayla lagi. Kali ini kedua matanya berkaca-kaca.
Akmal semakin mendekati Kayla. Disentuhnya dagu istrinya itu dan membawanya supaya perempuan itu menatapnya.
"Aku!" jawab Akmal yang membuat air mata Kayla jatuh seketika. Kenyataan itu membuat perasaannya seolah dihantam menggunakan palu. Hancur berkeping-keping.
Akmal tersenyum lembut menatap kedua mata Kayla yang basah.
"Mulai malam ini, kamu akan tinggal bersamaku. Jadi..." kata Akmal yang membuat Kayla mendapatkan kesadarannya kembali.
"Tidak! Bagaimana mungkin aku tiba-tiba sudah menikah denganmu? Aku di rumah bahkan belum genap 5 hari!!" sangkal Kayla yang membuat laki-laki itu menghela napas.
Akmal mengambil sesuatu dari saku jasnya dan memberikannya kepada Kayla.
"Lihat baik-baik! Itu adalah bukti bahwa kita sudah resmi menjadi suami istri. Baik secara agama maupun secara hukum." kata Akmal sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Kayla memperhatikan buku nikah yang baru saja diberikan oleh Akmal kepadanya. Di sana benar-benar ada namanya dan juga fotonya. Ia benar-benar sudah menikah dengan Akmal. Tapi bagaimana bisa?
Kayla segera mendekati pak Agus. Dengan kedua matanya yang basah, ia meminta penjelasan bagaimana bisa pernikahan itu terjadi tanpa kehadirannya?
"Dua bulan yang lalu, ayah dan ibu sempat datang mengunjungimu di Jogja, kan? Ayah dan ibu sudah menanyakan hal ini kepadamu. Dan saat itu kamu menjawab katanya terserah ayah dan ibu asalkan itu baik untukmu. Jadi ayah dan ibu memutuskan untuk menikahkan mu dengan Akmal lebih cepat. Kamu bahkan sudah menandatangani pernyataan yang ibu buat sebagai bukti bahwa kamu sudah setuju." jawab pak Agus yang membuat Kayla terhenyak.
Kayla ingat, saat ayah dan ibunya datang ke kosnya terakhir kali, ia sedang disibukkan dengan pengerjaan bab akhir skripsi. Saat itu ia tidak begitu memperhatikan pembicaraannya dengan kedua orangtuanya. Kayla juga ingat betul saat itu sempat diminta untuk menandatangani sebuah surat oleh ibunya. Tapi saat itu Kayla tidak membaca isi yang tertulis dalam surat yang ia tanda tangani. Ia tidak pernah memikirkan isi surat itu karena pikirannya terlalu fokus pada skripsinya.
Kayla merasa begitu bodoh. Mengapa ia bisa begitu ceroboh. Dan akibat kecerobohannya itu, kini ia harus berada dalam posisi ini. Ia sudah menikah tanpa dia sadari.
"Ini mahar yang Akmal berikan saat menikahi mu, Kayla!" kata bu Tutik setelah kembali dari kamar. Dikedua tangannya terdapat dua bingkisan yang sangat cantik. Di tangan kanannya bingkisan berupa perlengkapan alat shalat yang di hias begitu cantik. Dan di tangan kirinya terdapat sebuah bingkisan yang di dalamnya ditata banyak sekali lembaran uang seratus ribuan yang membentuk sebuah pola melingkar. Dalam bingkisan itu ada juga sebuah kotak beludru berwarna merah berukuran sedang.
"Jadi aku benar-benar sudah menikah?" tanya Kayla dengan suara bergetar. Pak Agus dan bu Tutik mengangguk. Mata Kayla segera tertuju kepada pak Cahyo dan Bu Fatma yang sedang duduk di atas sofa rumahnya. Kayla segera mendekati mereka dan mencium punggung tangan keduanya.
"Jangan merasa canggung, Kayla. Kami adalah orang tuamu juga." Kata Pak Cahyo lembut sambil mengusap-usap bahu Kayla. Sementara Bu Fatma mengusap kepala Kayla yang di balut kerudung sambil tersenyum.
Sebuah pelukan dari belakang membuat Kayla terkejut. Saat ia menoleh, terlihat olehnya Dara sedang memeluk pinggangnya.
"Mulai sekarang mbak Kayla adalah kakak ku." katanya dengan riang. Lesung pipit di pipi kirinya terlihat saat Dara tersenyum.
Melihat senyum itu, Kayla pun akhirnya tersenyum tipis dengan air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Ia membelai rambut hitam Dara dengan tangan kirinya.
Setelah Dara melepaskan pelukannya, kini tatapan Kayla tertuju pada sosok laki-laki tampan yang berdiri tak jauh darinya. Laki-laki yang ternyata adalah suaminya itu juga sedang menatapnya. Air mata Kayla kembali meleleh di pipinya saat ia melangkah mendekati Akmal. Ia menangis saat tangan kanan laki-laki itu menyentuh pipinya dan menghapus air matanya.
"Sudah, jangan menangis! Maafkan aku karena tidak menunggumu pulang lebih dulu." ucap Akmal lirih. Laki-laki itu mengambil sesuatu di saku celananya. Kali ini ia meraih dompetnya dan mengambil sesuatu. Setelah itu ia meraih tangan Kayla dan menyematkan sebuah cincin emas yang sangat cantik di jari manis tangan kiri perempuan itu.
Kayla menatap cincin yang melingkar di jarinya. Ia menangis terisak sambil memegangi tangan kirinya. Dia benar-benar sudah menikah. Dan laki-laki di hadapannya ini adalah suami yang dipilihkan oleh orang tuanya. Kayla kini hanya bisa pasrah. Pernikahan yang tidak diketahuinya itu sudah terjadi. Ia harus bisa menerimanya dan menjalani kehidupan barunya.
@@@
Alhamdulillah... Bab pertama cerita Setulus Cinta Kayla sudah selesai. Semoga teman-teman semua menyukainya. (^_^)
.: 10 Juni 2021 :.
Alexander mustered up his energy and ran to the sacred grounds where he and Selena met.This was the private territory he claimed for Selena outside the main pack,They used to meet here every moon,Selena had been waiting here for a long time,Hearing his approach into the clearing,She came out wearing the moonsilver collar he gifted and holding her graceful form,Seeing Alexander, she leapt into his arms,'Alexander, are you finally willing to come to see me? Have all the things in your pack been dealt with? 'The familiar scent of Selena wafted into his nose.Alexander couldn't remember how many times he had been intoxicated by this scent.But now it began to make him feel sick.He pushed her away and looked at her coldly:'Selena, don't you want to give me an explanation for what happened eight moons ago? 'The she-wolf in front of him was stunned.But then she looked back with disdain in her eyes.'Alexander, you are not so naive, are you? What is there to say about what happened
After leaving the old den, Alexander realized that he didn't know where to find her. After eight moons of being mated, he didn't know his Luna as well as a lone wolf. But Alexander suddenly thought that Diana had been around him all these years and didn't seem to have many pack bonds. She was always sensible and didn't want to worry her pack. Maybe she was waiting for him at their shared den. Thinking of this, Alexander sprinted at full speed and rushed home. Soon Alexander crossed into their territory. He rushed into the den without slowing his pace. But everything in front of him completely shattered his hope. It turned out that in the main chamber, there was a huge mate-marking portrait.He used to hate it hanging there.But now, the mate portrait disappeared.He rushed into the den without shifting forms.Every time he searched a chamber, his heart sank.All the things that could prove their mate bond had existed disappeared.He went to the sleeping chamber, and the furs were all
On the way back,the mother kept wiping tears in the back of the carrier.Alexander felt helpless and didn't know how to comfort her.But thinking of his mother's resolute look just now,he was also curious about what his mother was going to show him.The mother and son were silent all the way.Soon the carrier drove into the old den.There was a prey offering with moon candles blown out on the altar in the middle of the main chamber.Alexander knew that today was Diana's birth moon.Seeing the scene in front of him,he was more certain of his guess.Sure enough, his mother appeared at the scene today because Diana came to see him.He inexplicably relaxed a lot.Just when he wanted to sit on the den floor and drink a sip of water,his mother pointed to his father's private chamber and said to him in a deep voice:'Alexander, come in with me. 'The hand holding the water skin was suspended in the air.After thinking for a while, Alexander put the water skin down.He straightened his cer
Alexander had originally thought of ten thousand words to refute his mother, but his mother's words made him completely stunned. He took a step forward and walked in front of his mother. Only then did he realize that he and Selena's hands were still tightly clasped together. He did not intend to let go. He stepped forward to wipe the tears from his mother's eyes and trembled: 'Mother, what are you talking about? Are you old and confused? Or did that dead she-wolf Diana come to find you? ' 'No matter what you say, it is impossible for me and Diana to be together. Letting her be my Luna is my greatest respect for her, and it is also an explanation to you. I want to spend the rest of my life with Selena! ' He did not believe his mother's words, because he had personally verified this eight moons ago. Looking at his mother in tears, the scene of the mating night eight moons ago came to his mind. That day, he looked at the shy Diana on the den floor and asked what he had been holding in his


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.