LOGINA taste of the lustful, forbidden, and unhinged. A den of desires is a blend of erotic romance in different shades that are spicily crafted to make your heart race, to make your toes curl and blur the lines between fiction and reality. The more you turn the pages, the harder you have to clench those thighs together to stay in control. WARNING: THIS BOOK CONTAINS DARK MATURE CONTENT - extremely dark mature content. Highly rated 18+. Expect trigger content and hard-core explicit well described content. If you are not one to read dark romance trigger, please reconsider.
View More[ Neng, punya uang simpanan lima juta nggak? A'a baru dapet musibah kecolongan di toko. Mana saldo cuma tinggal tiga ratus ribu, ditambah akhir bulan lagi. ]
Kutatap layar ponsel dalam genggaman yang menunjukkan spam chat dari A Miftah, suamiku. Sudah dua hari sejak ponselnya tak bisa dihubungi, hari ini pesannya tiba-tiba datang tanpa menanyakan kabar dan langsung meminjam uang.[ Sebenarnya ada, tapi buat biaya check up, Akbar, A. Dua hari dia sempat demam, aku sampe harus ambil cuti, pulang-pergi sendiri nemenin anak kita yang sempet tantrum sampe bikin heboh di rumah sakit. ]Aku memang tak bisa bohong tentang apa pun pada A Miftah. Khususnya masalah keuangan. Kalau ada pasti aku katakan, begitu pun sebaliknya. Itulahh komitmen yang selalu aku jaga selama tujuh tahun pernikahan kita.Sejenak kutolehkan pandangan pada bocah berusia lima tahun yang tengah menonton tayangan kartun di TV, bersama pengasuhnya Bi Tati. Anak spesial kami, buah cintaku dan A Miftah yang kala itu selalu kami nanti. Dia hadir di tahun kedua pernikahan kami. Lahir dengan berat dan panjang di bawa rata-rata dan dalam keadaan down sindrom. Muhammad Akbar Maulana, meskipun terlahir spesial, bagiku dia tetap anugerah dari Tuhan yang tak terhingga. Perlu kesabaran extra dalam membimbing dan membesarkannya, apalagi dua tahun terakhir aku berjuang sendiri, ditengah kesibukan sebagai pegawai negeri di kecamatan Bandung Kulon, karena suamiku dipindahtugaskan dari Buah Batu ke Karawang sampai saat ini.A Miftah bekerja sebagai staf di sebuah Toserba yang cukup terkemuka, gajinya sekitar tujuh jutaan sebulan, selisih sedikit dengan gajiku sebagai PNS tingkat IV dengan gaji yang berkisar lima jutaan belum termasuk tunjangan. Sejak dipindahtugaskan dia kos di Karawang dan pulang seminggu sampai dua minggu sekali. Seharusnya komunikasi kami berjalan setiap hari. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini dia sulit dihubungi dan selalu beralasan bila aku tanya tentang perubahan yang terjadi.[ Check up Akbar, kan bisa nanti lagi. A'a janji bulan depan pasti diganti. Maaf, ya, Sayang. Soalnya penting banget ini. ]Helaan napas panjang menandakan keputusanku saat ini. Sekali lagi, aku tak bisa menolak bila A Miftah sudah menyisipkan kata maaf dan janji di tengah kalimatnya.[ Ya, udah. Aku transfer sekarang. Lain kali kalo ada apa-apa langsung hubungin lebih awal. Aku nggak suka kalau A'a chat cuma ada butuhnya aja. Kalau bisa minggu ini pulang! Akbar udah nanyain terus. Habis hampir sebulan A'a nggak pulang. ][ Siap, Sayang. A'a pasti pulang minggu ini. Nanti kita maen ke Gazibu, ya! ]Kuabaikan pesan terakhirnya, dan langsung beralih menuju aplikasi m-banking. Men-tranfer nominal yang diinginkan A Miftah, dan menyisakan saldo sejuta rupiah untuk kebutuhan seminggu ke depan, sebelum gajihan. Setelah itu, kuletakkan ponsel di atas meja ruang tamu. Melepas jilbab yang masih melekat, sebab langsung memeriksa ponsel begitu sampai. Kemudian menghampiri Bi Tika dan Akbar."Bibi pulang aja! Nanti Akbar biar saya yang mandiin!" titahku sesaat setelah duduk di samping Akbar sembari memainkan rambut lebatnya.Wanita paruh baya berjilbab itu terlihat begitu senang."Waduh makasih banget, Neng Tika. Kebetulan Bibi baru dikasih kabar kalau anak Bibi si Teddy kecelakaan jatuh dari motor.""Innalillahi. Tapi, nggak kenapa-napa, kan, Bi?""Alhamdulillah nggak terlalu parah. Cuma lututnya sobek, perlu dijait. Kalau Neng nggak keberatan mah Bibi boleh kasbon dulu?" Memelas wajah Bi Tati membuatku tak tega untuk mengatakan tidak. Walau bagaimana pun beliau yang selalu ada di samping Akbar saat aku tengah sibuk bekerja.Kualihkan pandangan menatap tas yang bertengger di atas kursi ruang tamu. Aku baru ingat kalau tadi pagi ada yang baru bayar kontrakan. Mungkin itu memang rezekinya Bi Tati."Sebentar, ya, Bi!" Aku beranjak untuk mengambil tas di kursi. Merogoh amplop berisi uang lima ratus ribu yang tadinya hendak ditabung. "Ini! Semoga Teddy cepet sembuh, ya, Bi.""Hatur nuhun pisan, Neng. Kalau begitu bibi pamit dulu." Aku mengangguk menatap kepergian Bi Tati.***"Assalamualaikum.""Punteun, Teh Tika!"Suara ketukan pintu diiringi salam dan panggilan terdengar sesaat setelah aku selesai memandikan Akbar. Suaranya terdengar familiar."Tunggu sebentar, ya, Sayang!" Kuselimuti tubuh Akbar dengan dua handuk tebal, sebelum beranjak menuju pintu.Ceklek!"Dini." Kutatap gadis berambut bob yang masih mengenakan seragam SMA-nya di balik pintu. Dia adalah adik kandung A Miftah. Mereka dua bersaudara. Berbeda denganku yang yatim-piatu, Dini dan A Miftah masih punya seorang ibu. "Ada apa, Din?""Maaf kalau nggak sopan dan terkesan buru-buru. Bisa pinjam uang lima ratus ribu? Tapi jangan bilang A'a sama ibu.""Buat apa?" Kutatap gadis berkulit putih itu dengan penuh selidik. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Dini datang meminta uang dengan dalih pinjam. Dia tahu aku bekerja dengan gaji yang lumayan. Makanya anak itu sering sengaja datang dari Bandung Kabupaten ke Bandung Kota hanya saat ada butuhnya."Buat ganti rugi motor orang yang nggak segaja kutabrak."Kuhela napas gusar. Dini memang terkenal sebagai anak yang cukup bengal di sekolahnya. Aku tahu kelakuannya dari rekan kantor yang anaknya selalu dibully Dini."Please, Teh. Dini harus minta sama siapa lagi coba? Ibu mana ada duit. Minta A Miftah yang ada aku habis diomelin." Gadis itu memelas sembari menyatukan kedua tangan. Sesekali dia menarik-narik tanganku.Untuk ke sekian kalinya aku menghela napas panjang hari ini. "Ck, ya udah rekening masih yang itu, kan?""Masih. Makasih banyak, ya, Teh," ucapnya semringah."Udah, tuh. Lain kali jangan terlalu liar, Din. Kamu itu anak perempuan yang lagi dalam masa pendewasaan. Usahain hindarin bergaul yang keterlaluan. Kalau bukan teteh yang ingetin, siapa lagi?" Nasehatku entah didengar atau tidak, yang pasti gadis itu hanya mangut-mangut sembari memeriksa ponselnya."Sip, udah masuk. Sekali lagi makasih, ya, Teh. Aku pamit du--""Nggak mampir dulu? Ada Akbar di dalam?"Dia hanya melirik Akbar sekilas, lalu melambaikan tangan sedikit enggan."Ng, nggak, deh. Lain kali aja, ya."Gadis itu dan motor matix-nya pun berlalu begitu saja.Kupijat pelipis yang tiba-tiba terasa pening. Dalam sehari uang lima setengah juta pergi begitu saja. Padahal kebutuhanku dan Akbar untuk seminggu ke depan masih kurang. Dari mana lagi aku bisa dapat uang?Dering ponsel di saku daster berhasil menarikku dari lamunan. Nama Bu Susi K.1 tertera di layar. Beliau adalah penghuni kontrakanku yang sudah lebih dari tiga tahun menetap di Cijerah."Halo assalamualaikum.""Waalaikumsallam.""Neng, ada yang tanya-tanya kontrakan di sebelah ibu. Kayaknya suami-istri. Katanya mau langsung sewa buat sepuluh bulan ke depan. Bayar dimuka!"Mataku sontak melebar. Mungkin ini yang dinamakan rezeki yang datang dengan cara yang tidak disangka-sangka."MasyaAllah. Kebetulan saya lagi butuh uang, Bu. Makasih banyak, ya. Saya berangkat sekarang."Tanpa banyak berbasa-basi, meski lelah menggerogoti diri, sesaat setelah sambungan telepon terputus, setengah berlari aku masuk ke dalam. Menciumi Akbar, sebelum mengenakannya pakaian yang cukup rapi untuk pergi keluar. Motor yang semula sudah masuk garasi langsung aku keluarkan lagi. Setelah selesai bersiap-siap aku langsung menuntun Akbar untuk naik ke atas kendaraan roda dua yang selalu setia menemani. Sejenak ku-cek ponsel sebagai kebiasaan sebelum memulai perjalanan.Sebuah notifikasi pesan yang mengambang di bar status tiba-tiba menarik perhatian. Sontak motor yang sudah siap berjalan, kembali kustandarkan.[ Teh Tika! Ahmad ketemu A Miftah sama wanita hamil, lagi liat-liat kontrakan Teteh yang ada di Cijerah! ]Deg![ Ah, salah liat mungkin kamu, Mad. Suami teteh, kan udah pindah tugas di Karawang. Lagian kalau dia tiba-tiba ada keperluan pasti mampir ke sini dulu, ngapain jauh-jauh dateng cuma buat cari kontrakan? Lagian A Miftah, kan nggak pernah tahu kalau selama ini teteh punya rumah kontrakan yang disewakan.]*Foto*[ Tuh, Teteh liat aja sendiri! Beneran A Miftah, kan? Ahmad fotonya diem-diem. Dia lagi ngobrol sama tetangga yang udah lebih dulu sewa. ]Refleks aku mencengkeram ponsel yang sejak tadi digunakan untuk berkirim pesan dengan adik lelakiku itu, saat melihat foto yang dia kirimkan sudah cukup membuktikan bahwa Miftahul Hamid, suamiku yang satu jam lalu meminjam uang, ternyata tengah ada di Bandung bersama seorang wanita muda yang tengah berbadan dua...Bersambung.DAVINAI couldn't explain the ache curling low in my stomach, or how every shred of self-control seemed to slip away, quiet and unapologetic.I should’ve been trembling, shaken from what nearly happened, but all I could feel was the echo of his presence. The safety he gave me without asking for anything in return. In that moment, gratitude washed over me, settling heavily in my chest.But underneath that gratitude was something far more restless. A need I couldn’t name. I wanted to look at him because the not-knowing was driving me mad. What color were his eyes? Did they narrow when he watched me? Did they soften when I smiled? I wanted to know the face behind the voice that curled around my spine and held me still. I let out a petulant, almost child-like whine. His hand on skin was intoxicating, like a drug I wanted to keep using. The heat of the contact made me shiver. I wanted more. More of him. This time, he wanted a show. If a show was what he wanted, then a show would be what
DAVINAThe streets were too quiet.I knew it the moment I turned the corner, but I kept walking anyway. My shift had run later than usual, and Marcy had left hours ago after her part of the double. It was just me tonight.Work was no different than usual, save for one thing.Table 6.They’d come back.The same group of overconfident finance boys who thought tipping an extra ten bucks meant they could grope freely. I recognized them the second they sauntered in with cocky grins, shirts unbuttoned too low, entitlement radiating off them like bad perfume. I tried to avoid their table, but management said they were “big spenders.” So, naturally, I was sent over.I handled their crude jokes and the not-so-subtle comments until one of them decided to reach over and slap my ass while I leaned to grab an empty glass.I turned and slapped him hard enough to make the room fall quiet. He called me a bitch. I told him to choke. That earned me a talking-to in the manager’s office, but I didn’t
NATEMy studio was my temple, clean lines, black leather, and glass walls overlooking downtown LA. The kind of space where silence hummed money and discipline. I liked it that way. Minimal, controlled, and predictable.Except today, it wasn’t silent.Heather was already inside, standing by the control board like she owned the place.I shut the door behind me a little harder than I needed to. “You ever get tired of breaking into my studio?”She didn’t flinch, didn’t even look up right away. “It’s not breaking in if I have the access code,” she said, flipping through her iPad like it was her damn property deed.I walked past her, tossing my jacket onto the couch. “You know I hate unannounced visits, Heather.”“And you know I don’t give a damn,” she shot back, finally turning to face me. She was dressed sharp as always, black suit, red lipstick, eyes that could cut steel. “My job is to be all up in your ass, remember? You’re a brand, Nate. A billion-dollar one. I keep you out of trouble,
BLURB:“My sweet little kitten,” he groaned, fisting my hair in his grip as he fucks me against the wall. “Look at you taking me so well. You have dreamt and craved this moment, haven't you?” ~Davina Smith was running from her demons. Her past had sent her long away from home and she was ready to start on a clean slate. That was until she caught the eye of the monster in the shadows. This monster craved her and stalked her. Worse, Davina wanted her stalker too and fantasised about him. Will Davina ever get to meet her shadow that had been following her? Will she able to explore her darkest fantasies with him?CHAPTER ONE: Someone’s watchingDAVINAMarcy walked beside me, already unpinning her curls. “If that creep in the leather vest calls me ‘baby girl’ one more time, I’m going to murder him.”I laughed because I knew she meant it. “Table six tried to grab my ass tonight. Twice. I had to threaten to pour his drink on his lap before he backed off.”She made a gagging sound. “Ugh.
SERAI was gone.Gone to the heat, to the hands and mouth, and whispered filth between two men who knew exactly how to break me apart.Jared leaned in first, kissing me with a heat that melted through my bones. His lips were slow and steady, but his hand wasn’t. It slid up my side, under my breast
SERA“Fuck,” I choked out, my mouth falling open as he filled me to the hilt and stayed there.His arms caged me in, forearms braced on either side of my head, his chest hovering just above mine. He didn’t move. Not at first. He just looked at me, eyes dark and feral, like he was savoring the mom
SERAI couldn’t breathe.My mind was scrambling, my body caught in a limbo between shock and white-hot pleasure as Jared stared up at me from between my thighs with a hunger I had never seen in him before.Not ever.He looked feral, focused, and possessed.And he wasn’t stopping.His mouth was buri
SERAIt had been a week and some days.A full ten days since that night with Knox.Ten days since I heard his voice, I felt the rasp of it crawling down my spine, coaxing things from me that I had no business giving to another man, let alone him.Since I came undone from my hand and his voice urgin












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews