MasukCandace and Daniel have a loveless romance... she had sacrificed her dreams to be a devoted wife, but Daniel kept ignoring her and loving another woman. After the divorce, Camille returned. After two years without hearing from her, Daniel was astonished by her beauty and great talent. From there, a story of remorse and desire begins.
Lihat lebih banyakBab 1 Tuntutan Sang Mertua
“Heba, mama minta uang dong!” ujar Ratih dari ambang pintu.
Heba yang baru saja memasukkan food prep ke dalam lemari es dua pintu itu terhenyak. Mama mertuanya sepagi ini sudah teriak-teriak di ambang pintu rumahnya.
“Heba! Kamu dengerin saya nggak, sih! Kamu dimana?” Ratih memanggil dengan suara yang lebih lantang.
“Sebentar, ma,” ujar Heba dengan suara lirih.
Sebelum Mama mertuanya itu masuk ke dalam. Heba buru-buru melangkah untuk menyambut di depan.
“Masuk dulu, Ma, maaf tadi Heba di belakang. Ada perlu apa ya, Ma?” ajak Heba.
“Pake nanya lagi! Kan Mama tadi sudah bilang, Heba! Mama lagi butuh uang. Jadi, mama mau kamu minta uang sama Mamamu. Penting banget ini!"
Heba menghela nafasnya. “Maaf, Ma. Tapi buat apa, ya?” lanjut Heba dengan seulas senyum tipis.
“Ada perlu pokoknya! Mama butuh uang besar buat Kakak iparmu itu! Diana kan suka banget tuh, beli-beli baju di marketplace. Nah, dari pada dia buang-buang duit terus, mending kan buka butik sekalian. Biar ada pemasukan juga,” jawab Ratih–mertua Heba.
“Maaf, Ma. Tapi untuk sekarang, aku lagi nggak ada uang. Bagaimana kalau pakai uang Mama saja dulu?” ujar Heba. Dengan wajah takut-takut dia berusaha menolak permintaan dari Ratih.
“Ya, karena Mama nggak punya uang! Kalau Mama ada uang, udah pasti Mama nggak akan minta tolong sama kamu. Mamamu kan banyak uang, Heba. Suami Mama kamu itu … alias Papa tiri kamu kan pengusaha hebat, jadi nggak ada salahnya kan kalau kamu minta sama mereka, kan?” Ratih semakin memperjelas keinginannya.
Hampir saja Heba membulatkan kedua bola matanya karena reaksi terkejut. Heba berpikir bahwa Ratih tadi hanya bercanda saja, namun ternyata serius. Heba meneguk ludah dengan susah payah.
“Iya aku tau, Ma ....” Heba mulai menarik napas. “Tapi maaf banget, Ma. aku nggak bisa ... aku nggak mau merepotkan mereka.” Wanita berhijab itu sedikit merasa tak enak.
Ratih melotot kesal. “Kamu bisanya cuma minta maaf doang?! Dasar menantu nggak berguna!" Ratih menunjuk wajah Heba dengan wajah garang, hingga membuat Heba pun terdiam. Ada sedikit rasa nyeri dalam hatinya.
Heba berusaha tak mendengarkan, dia ingin melangkah ke dapur sampai suara pria yang dikenalnya, berhasil menghentikannya.
“Heba, ada apa ini?”
Heba sedikit terkejut, saat melihat suami, dan kakak tirinya sudah berdiri di samping pintu.
“Kok, pada kumpul di sini? Lagi pada ngobrolin apa sih?” Tiba-tiba Nathan muncul dan sudah bergabung di ruang tamu.
“Mas Nathan? Apa ada yang tertinggal, Mas?” tanya Heba, sembari melirik ke arah kakak tirinya yang sedang tersenyum.
Heba membalas senyuman Anya. Meskipun sebenarnya hubungan mereka kurang baik, tetapi mereka tak pernah benar-benar menunjukkannya di hadapan siapapun.
Nathan mengangguk. “Iya, aku mau ambil file yang tertinggal. Sebentar aja kok, terus balik lagi. Ada apa ini, kok tumben ngumpul tanpa bilang-bilang?”
“Ini istri kamu, Than! Mama lagi nasehatin istri kamu ini!” Ratih masih terlihat bersungut-sungut.
“Memangnya ada apa, Tante?” Anya terlihat sangat serius. “Apa ada masalah dengan adikku?”
Heba menghela napas panjang. Di depan yang lain selalu saja Anya bersikap lembut dan memperlakukan Heba seperti saudara. Namun jika sedang berdua, Anya menganggap Heba saingannya.
Dan tak pernah sekalipun bersikap manis padanya.
“Begini, Nya … ini karena Tante sedang butuh bantuan, tapi Heba menolak untuk membantu.”
Semenjak Ratih tau kalau Anya merupakan atasan Nathan di kantor sekaligus putri kandung dari pemilik perusahaan, berbeda dengan Heba yang hanya anak tiri. Ratih mencari banyak cara untuk menarik simpati Anya, bahkan hingga berkhayal kenapa bukan Anya saja yang menjadi menantunya?
Anya tersenyum lagi. “Kalau begitu, coba katakan saja. Siapa tau Anya bisa bantu.”
Sembari memasang wajah serius, Ratih menatap wajah Anya. “Masalahnya cukup sensitif, Nak. Ah, Tante sih, berharap banget … andai saja ada malaikat tak bersayap yang mau bantu, pasti Tante seneng banget!”
Heba menatap ibu mertuanya, dan berkata, “Ma … Sebaiknya jangan libatkan orang luar.”
Ratih melotot, sambil mengibaskan tangannya. “Lihat istrimu, Nathan! Kurang ajar sekali dia. Didiklah dengan benar!”
Heba melihat suaminya yang tampak mengetatkan rahangnya, namun tak mengatakan apapun kepada sang ibu.
Ratih segera melembutkan ekspresinya ketika menatap Anya. “Tante lagi butuh uang buat modal Diana bikin butik, percuma Tante minta sama Heba. Kebetulan ada kamu di sini, jadi ya, nggak ada salahnya kan kalau Tante minta bantuan sama kamu, kan?”
Heba tertegun, mertuanya sungguh berani. Heba melirik ke arah Nathan dan suaminya itu juga terdiam. Sementara Anya cuma tersenyum. Perasaan Heba jadi tiba-tiba tak enak.
“Bagaimana, Nak? Kok, malah cuma dijawab senyum? Pasti bisa kan? Tante berharap banget kamu bisa bantu, Tante mohon!” Ratih memasang wajah iba.
“Tenang aja, Tante. Bisa kok, kalau soal uang sih … itu urusan kecil!” Anya mengedipkan sebelah mata.
“Baik banget kamu, astaga! Makasih ya!” ujar Ratih dengan mata berbinar.
“Tapi ini nggak gratis ya, Tante! Aku kasih Tante modal dengan akad pinjam, alias utang. Gimana?”
Meskipun kaget karena Anya ternyata menawarkan pinjaman, Ratih tetap saja mau. Setidaknya Anya masih berbaik hati mau meminjamkan dana tanpa bunga atau syarat lainnya.
“Boleh, nggak papa. Itu juga Tante sudah berterima kasih sama kamu. Padahal kamu orang lain ya, tapi baiknya nggak ketulungan. Eh menantu Tante sendiri malah nggak bisa diandalkan!” kata Ratih seraya melirik ke arah Heba.
Heba hanya bisa menghela napasnya perlahan.
“Oke, Tante butuh berapa? Nanti aku buatkan cek, Tante bisa ambil uangnya di Bank,” kata Anya dengan santai.
“Nya, kamu nggak perlu deh, repot-repot begini. Ini berlebihan!” Nathan akhirnya bersuara, setelah dari tadi terdiam.
“Udah lah, Mas, nggak papa! Santai, cuma segitu doang aku nggak repot kok.” Seperti biasa, Anya mulai mengeluarkan senyuman mautnya.
Heba menatap Anya dan Nathan bergantian, meskipun dia yakin tak ada apapun di antara mereka. Namun, kedekatan keduanya memang terlihat agak tidak wajar di mata Heba.
“Ada apa dengan Mas Nathan dan Kak Anya?”
*********
In fact, Candace wasn't sure, she didn't know if Seth would be angry. But when he thought about Ruby's frustrated look, he felt good.If Seth got mad, Jella would never admit it!But unexpectedly, Seth didn't respond or expose her, which made Candace act bolder.On the table, everyone was pretending to be harmonious, but below it, a pair of small feet wrapped around the man's sturdy legs, rubbing and caressing...An inexplicable ambiguity...Ruby looked into Candace's lovely eyes staring at Seth several times; I was very angry.«Little bitch. Since you like to seduce them, today I will send you to another man's bed.He looked at Fanny immediately.Ruby took the wine that Fanny offered her, poured two glasses separately and then passed one to Candace saying: "Sister, I wish you have a happy life with your boyfriend. Health.True, Candace. "Don't let Ruby down," Fanny said immediately.After hearing his words, Candace naturally understood that there was a problem with the wine. But that
Ruby felt a little pain in her heart. With everything and Disappointed, she sat next to Seth, consoling herself that he just had a bad temper and wasn't good at expressing himself.There was no seat next to Ruby, so Candace sat across from them.Robert kept trying to talk to Seth; "He congratulated him very much for such a good opportunity, he wanted to win the recent big project. Not everyone could engage in their conversation, so naturally, they avoided speaking."Seth listened in silence, without any response.He looked up and saw that Candace was eating.He saw that woman when he entered. Previously, he had noticed that she was not as charming and that the Flaming family did not seem to like her. But she looked calm, and the beauty of her body gave her an air of mystery. This gave Seth an unfamiliar feeling.Candace also noticed the man's gaze, she felt uncomfortable. He swallowed unconsciously and pretended to grab the glass of water to take a drink.Noticing that Seth wasn't int
Candace hadn't had time to open her mouth.Robert shouted: "Are you deaf?""Where have you been all these years? If you're alive, why don't you go home?"Candace looked at him. In his mind, he was of the same ilk as Ruby and Fanny."I survived. Of course, I will enjoy my happy life. Do I have to come back and be used by you and then silenced?"Candace said in a gentle voice.Robert slapped the table and stood up: "What nonsense, he said, you are the adopted daughter of our family, so you have to do everything for us."Candace scoffed and asked: "Am I really your adopted daughter? I'm afraid the adoption certificate has been lost."He knew she hadn't even been registered at home.It was a supposed daughter. But in reality, they adopted her in order to cover up their guilt and maintain their style of a big family."You... Robert was going to advocate for her."Fanny was afraid that things would come to light. He had told everyone that Candace had died in an accident.She rushed over and
But Seth frowned at the word "couple."An inexplicable irritation washed over him!Seeing that Seth was staring at Candace, Ruby was disgusted. He even saw Candace wink at him. Candace's eyes were so attractive!Ruby ground her teeth. I really didn't want to see them ogling each other. So he asked Seth: "Seth, can you take me home later? I don't have the car today.Seth nodded slightly.""Candace, are you coming to the hospital because you are sick? How about we take you?"Ruby pretended to be kind, but she was warning him something with her eyes.Candace knew Ruby was going to be angry. After all, she winked at her fiancé!Candace didn't want to waste time with her, so she said: “No, thank you. Let's catch up another time.”He emphasized "catching up.” smiled a little and left.Ruby looked relieved.Seth was staring at Candace's back. He had inexplicable emotions in his black eyes. It wasn't until he could no longer see her silhouette that he withdrew his eyes."Come on," Seth walked
Candace stared at the nurse, who was conducting an examination, still feeling worried.Suddenly, an international call came in.Seeing that the call was from "Baby", Candace rushed into the hallway and answe
Galileo immediately wanted to get up from the stretcher and pounce on her, but the pain in his waist was too great. He could only stand still, while his gaze was fixed ominously on the woman who stabbed him. *** Meanwhile, in the seventh floor VIP room, a man sat on the couch beside the bed, look
Meanwhile, Candace kept walking until she finally ran into Galileo. He was in an inebriated state, staggering towards the men's room. At that, Candace looked from right to left and then followed him into the bathroom. Behind her, Paul's surprised gaze was behind a pillar watching her closely. Had
Candace wasn't sure what Seth was referring to. Without a handle, she just kept smiling and looked into Seth's eyes. "Well, this one's on me Mr. Ricauter, cheers," she said. Having said that, Candace raised her hand and took a sip of champagne. In fact, with each sip, she made a sort of seductive












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.