LOGINMy husband, Matthew Lorenzo, dies unexpectedly. Soon after, my in-laws come to me with an outrageous suggestion. "Why not let Matthew’s twin brother take you in and look after you? After all, your child needs a father." My sister-in-law, Felicia Dare, furiously calls me a shameless woman. I turn to look at Matthew's brother, Michael Lorenzo. It's like staring at Matthew's face all over again. The grief hits me hard. Just as I'm about to talk my in-laws out of this ridiculous idea, I overhear a conversation behind the door between them and "Michael". "Michael was the one who died. Why did you lie and let everyone think it was you?" Matthew sighs. "The one I love is Felicia. Faking my death was the only way I could be with her openly. And as for this nonsense about taking Luna in and looking after her—drop it. "As for Luna, I gave her a child and a respectable marriage. I don't owe her anything." I turn around and see my daughter standing there with her eyes red. She asks, "Mommy, does Daddy not want us anymore?" I kneel down, gather her into my arms, and hold back the ache in my chest. "Sweetheart, your uncle just wants to protect the person he loves. We shouldn't disturb him; it's time we start our new life."
View MoreMaya memutar tubuhnya di depan cermin ruang tamu untuk kesekian kalinya. Blazer krem yang membalut tubuhnya masih sama elegannya seperti saat pertama ia beli dua tahun lalu, meski sekarang terasa sedikit lebih longgar. Enam tahun, bisiknya dalam hati. Enam tahun, dan tubuhnya malah makin kurus, bukannya tambah berisi... seperti yang seharusnya.
"Wah, cantik sekali, Bu." Pak Karyo muncul dari arah dapur, membawa secangkir teh hangat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi sejak mereka pertama menikah itu tersenyum tulus. "Kayak foto pengantin yang di sana itu." Ia menunjuk ke figura yang tergantung di dinding—foto pernikahan Maya dan Irwan. Maya tersenyum tipis. "Ah, Pak Karyo bisa aja." Ia menerima teh yang disodorkan, menyesapnya perlahan. Aroma melati yang familiar bikin tubuhnya agak rileks. "Yang, dasi aku miring nggak?" Irwan keluar dari kamar, masih berkutat dengan simpul dasinya. Maya letakkan cangkir tehnya, lalu hampiri suaminya. "Sini." Dengan lembut ia membenarkan dasi Irwan. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma aftershave yang familiar—masih sama seperti enam tahun lalu. "Sudah." "Maya..." Irwan menangkap tangannya yang hendak menjauh. "Kamu oke?" Matanya menatap cemas. Maya mengangguk, meski keraguan jelas di matanya. "Cuma... nervous. Biasa." "Bu Maya, Pak Irwan," Pak Karyo berdeham pelan. "Udah jam setengah tujuh." "Oh iya," Irwan melepaskan tangan Maya, mengambil kunci mobil dari meja. "Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat." Maya mengambil tas tangannya, mengeluarkan lipstik untuk sentuhan terakhir. "Pak Karyo, tolong jaga rumah ya. Kita pulangnya mungkin agak maleman." "Siap, Bu." Pak Karyo mengikuti mereka ke teras depan rumah. Langit Jakarta sudah gelap, tapi udara masih terasa hangat. "Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga Allah selalu memberkahi." Di mobil, Maya mengeluarkan ponselnya, mengecek alamat restoran untuk terakhir kali. Mereka memilih tempat Indonesia yang cukup berkelas di Menteng—tidak semewah hotel bintang lima, tapi cukup untuk menjaga gengsi keluarga besar mereka. "Siap?" Irwan remas tangannya lembut sebelum nyalakan mesin. Maya tarik napas panjang, ngerasain jemarinya gemetar. Dia tau banget apa yang nunggu mereka malam ini—tatapan penuh tanya, bisikan yang nggak keucap, harapan yang belum terpenuhi. "Siap," jawabnya, lebih buat yakinkan diri sendiri. Dua puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan restoran. Bangunan kolonial yang direstorasi itu tampak hangat dengan pencahayaan taman yang lembut. Maya bisa melihat beberapa mobil familiar sudah terparkir—keluarga mereka sudah mulai berdatangan. Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Mereka berdua tahu apa yang menanti di balik pintu kayu berukir itu—dua keluarga besar dengan ekspektasi yang lebih besar lagi. Ruangan VIP itu dirancang mengikuti konsep pendopo modern—luas dan elegan dengan sentuhan Jawa yang halus. Dua meja bundar besar dengan lazy susan kristal mendominasi ruangan. Aroma rempah dan bunga melati bercampur di udara, menciptakan atmosfer mewah yang tetap akrab. Di meja pertama, keluarga Maya sudah berkumpul. Papanya lagi diskusi serius sama Om Hadi soal harga properti di BSD, sementara Mamanya dan Tante Mira bahas rencana umroh tahun depan. Sepupunya, Andi, sibuk dengan iPad-nya—paling lagi closing another deal, pikir Maya. Typical keluarganya—bisnis nggak pernah berhenti, bahkan di acara keluarga. Di meja satunya, keluarga Irwan mulai berdatangan. Mama mertuanya langsung hampiri Maya, peluk dia dengan kehangatan yang terasa sedikit beda dari biasanya. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Nak. Enam tahun... masya Allah, nggak kerasa ya?" Justru kerasa setiap detiknya, Maya membatin, bales pelukan mertuanya dengan senyum profesional yang biasa dia pake di meeting. Percakapan ngalir ke berbagai topik. Om Hadi dan Papa balik tenggelam dalam diskusi properti mereka. Di sisi lain meja, Tante Astrid lagi cerita dengan antusias soal gallery batik barunya di Kemang. Mama Irwan sesekali nimpal, tapi Maya bisa ngerasain tatapannya yang sesekali arah ke blazer krem yang bungkus tubuh rampingnya. "Oh iya, Dik Linda udah masuk bulan ketujuh ya, Bu?" Tante Astrid beralih ke Mama Irwan. "Anak kedua..." Maya merasakan jemarinya mencengkeram garpu lebih erat. Linda, adik Irwan, baru menikah dua tahun lalu. Tapi sudah hamil anak kedua, sementara dia.... "Alhamdulillah," Mama Irwan senyum bangga. "Semoga lancar kayak yang pertama." Matanya lirik sekilas ke arah Maya. "Sekarang tinggal..." "Eh, soto konro-nya enak ya," Irwan motong cepat, tangannya di bawah meja remas lembut jari Maya yang mulai gemetar. "Tante mau tambah?" "Eh, nanti dulu," Tante Astrid senyum, matanya beralih ke Maya. "Maya sendiri gimana? Udah coba program lagi?" Maya merasakan jemarinya semakin dingin dalam genggaman Irwan. Ia memaksakan senyum profesional yang biasa ia gunakan saat presentasi sulit di kantor. "Lagi fokus kerja dulu, Tante. Project baru..." "Aih, kerja melulu." Tante Mira dari seberang meja ikut nimbrung. "Lihat Linda tuh, baru dua tahun nikah udah anak kedua. Padahal dia juga kerja." Maya teguk air putihnya pelan, berusaha tenangkan diri. Blazer krem yang tadi terasa pas kini kayak mencekik lehernya. Dari sudut matanya, dia bisa lihat Mama Irwan yang mulai gelisah dengan arah pembicaraan ini. "Maya ini emang kebanyakan mikir," Papa coba cairkan suasana. "Semua mesti direncanain detail. Iya kan, Wan?" "Iya, Pak." Irwan ngangguk, tangannya masih genggam erat jemari Maya di bawah meja. "Tapi bagus kan? Lihat aja pemilihan menu malam ini, semua—" "Ah, menu mah gampang diatur," potong Om Hadi, "tapi ada hal-hal yang nggak bisa diatur pake Excel sheet. Iya kan, Maya?" Tawa kecil menyebar di meja. Maya tersenyum tipis, merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Enam tahun, dan komentar-komentar seperti ini masih bisa menusuknya sedalam hari pertama. "Bu Maya," pelayan datang di saat yang tepat, "hidangan utamanya udah siap. Rendang atau ayam bakar?" Maya hampir menghela napas lega dengan interupsi ini, tapi Tante Astrid rupanya belum selesai. "Nanti coba tanya Linda ya, Maya. Dia pake dokter bagus di Menteng. Katanya ada program khusus buat... yang agak susah." Kali ini, Maya merasakan tangan Irwan yang gemetar dalam genggamannya. "Rendang saja," Maya menjawab pelan, bersyukur bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh arti Tante Astrid. Hidangan utama disajikan dengan elegan di atas piring porselen putih. Maya menatap rendang di hadapannya, aroma rempah yang biasanya menggugah selera kini terasa mencekik. Dia bisa denger percakapan di sekitarnya mulai beralih ke topik lain—bisnis properti Om Hadi, rencana umroh Mama, gallery batik Tante Astrid—tapi telinganya masih berdenging dengan komentar soal Linda... "Maya," Om Hadi tiba-tiba manggil dia dari seberang meja, suaranya yang berat bikin beberapa kepala noleh. "Kalo mau cepet hamil, kuncinya tuh posisi sama durasi." "Om Hadi..." Maya usaha senyum, tapi jarinya yang gemetar hampir jatuhin garpu. "Irwan ini kebanyakan kerja sih," Om Hadi nyendok rendangnya santai, matanya lirik penuh arti. "Minimal mesti tiga jam sehari, posisi yang tepat. Biar gravitasi bantu." Dia kedip mata. "Kalo cuma lima menit sebelum tidur, ya mana bisa?" Bisikan tawa tertahan terdengar di sekitar meja. Maya merasakan wajahnya terbakar, teringat rutinitas malam mereka yang memang hanya berlangsung singkat—Irwan selalu terlalu lelah setelah lembur. "Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." Dia bikin gerakan pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya. Maya menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis semua yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka yang singkat dan mekanis. Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—" "Oh iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?" Maya merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti tangan-tangan yang menuntut jawaban. "Makasih, Ma." Maya denger suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat direksi. "Nanti kita omongin." Mama Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir dengan tatapan yang sama. Sisa makan malam berlalu dalam gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik, bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan. Ketika hidangan penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti abu di mulutnya. "Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi." "Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—" "Iya, meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih semuanya. Maaf kita harus duluan." Pelukan dan ciuman perpisahan terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan "Sabar ya", "Jangan stress", "Coba konsul ke..." yang Maya tanggapi dengan senyum profesionalnya. Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi keheningan di antara mereka. "Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir. "Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please." Irwan mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini.Matthew lunged at me. He grabbed my sleeve and declared, "I'm still Lyanna's father. Since you're aware that I'm not dead, we can pick up our marriage from where we left off."He was clearly flustered as he spouted these words. His eyes were bloodshot as he begged for my understanding. I scoffed at his pathetic appearance in my heart. He thought that if he groveled at my feet, I would forgive him for all his transgressions, time and time again. It was the reason why he was so bold and arrogant when it came to hurting me."It's over between us," I repeated. "You have to face the consequences of your own actions, Matthew. I exited from your life gracefully, so I hope that you can extend that same courtesy to me."Matthew seemed to be weighed down by despair when he took his leave, but his pitiful appearance did not move my heart in the slightest. I had completely given up on the love I once harbored for him.When evening fell, I found Jasper and Lyanna at the entrance of my office,
"Luna, why are you asking these questions?" Felicia asked. "Don't tell me that you suspect that I'm involved in Michael's death?"Wanting to ruin Lorenzo Corporation is one thing, but now you also want to drag my name through the mud by pinning these baseless accusations on me?"You hate me because you're jealous that your own husband wants to stay by my side to take care of me. You want to destroy my reputation with these accusations, don't you?"Matthew wore a displeased expression as he stepped in front of Felicia and shielded her from my line of sight. He turned toward me and said, "Luna, everything is my fault. The one who is most upset because of Michael's passing is Felicia. How could you come up with such despicable accusations?"I threw down the documents I had received a few days ago onto the desk."I noticed that you were acting strangely on the day of my wedding. When Matthew said that Lyanna was his only child, you didn't seem surprised or shocked in the slightest, so
"I will also make it up to Lyanna and celebrate her birthday with her," Matthew said.My face remained impassive throughout his entire spiel as I sat in the inner corner of the wedding car. Lyanna also kept her head lowered. She refused to look up at Matthew.I thought it was laughable that Matthew, who had faked his own death to abandon his wife and daughter, was still so confident. On the other hand, Felicia was acting rather strangely. She hadn't continued her line of questioning, behaving as if she was already aware that the "Michael" with her presently wasn't actually the "Michael" that she married.I said to Jasper in a disinterested voice, "Let's not waste our time talking to strange people. It's our wedding day today. I'd rather not have my good mood ruined."He nodded before rolling the window back up. Our cars continued moving forward on opposite sides of the road, setting us on the paths to two completely different lives. Running into Matthew was just a small bump alon
I was surprised by Jasper's acting. He had planned everything accordingly, like a professional. Playing along with him, I nodded and said, "Yes."He knelt and addressed Lyanna next, asking, "Lyanna, can I be your new daddy?"Lyanna kept her eyes trained on her toes. She asked, "Will you celebrate my birthdays with me?""Of course. Your mother and I will celebrate all your birthdays with you from now on," Jasper answered gently.Our wedding plans proceeded smoothly after Jasper's proposal. I studied the wedding dress and the custom-made wedding rings. Confusion laced my tone when I asked, "Jasper, do you make such thorough preparations every time someone asks you for a favor?"His expression suddenly turned serious when he turned to face me. "Actually, my feelings for you are genuine. Luna, can you please give me a chance?"My face turned a vibrant shade of red, though I couldn't be sure if it was from the sun setting in the distance or for some other reason.The sun shone bright






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.