“Kenapa kalian datang ke sini?” tanya Daril kepada Lulu dan Kaivan. Pria tinggi itu melangkah menuju sofa, lalu duduk.Lulu menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Kaivan ingin memperlihatkan kantor Pak Boss kepada saya. Jadi, saya nurut saja.”“Iya, betul. Lagi pula, kami bosan di rumah,” sambung Kaivan yang sejak tadi sibuk mengelilingi kantor Daril. Anak itu memang tidak bisa diam.Daril tak bisa berbuat banyak. Dia tahu betul bagaimana sifat adik sepupunya itu. Tatapannya kemudian beralih kepada Lulu yang masih berdiri mematung di tempat.“Kamu...” ujarnya. “Sini, duduk.”Sudut bibir Lulu terangkat tipis. Tanpa berlama-lama, dia segera duduk di sofa. Namun, dia sengaja mengambil jarak cukup jauh dari Daril.“Mau minum?” tawar Daril.Lulu menggeleng kecil. “Nggak usah, Pak Boss.”Pikiran Lulu belum benar-benar tenang sejak mendengar gosip yang beredar di hotel. Entah Daril sudah mengetahuinya atau belum.Lulu menjadi sedikit gelisah. Dia tidak ingin Daril ikut salah paham tenta
Ler mais