Kalula semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap sepasang mata Sagala yang kini menyala merah oleh amarah dan tuntutan penjelasan. Air matanya menetes satu per satu, membasahi kain sprei tempatnya duduk. Kamar tidur yang megah itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakka, seolah seluruh pasokan udara telah lenyap.“Jawab aku, Kalula! Jangan cuma menangis!” Bentak Sagala lagi. langkah kakinya yang berat maju satu langkah, membuat ranjang sedikit bergetar ketika ia menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Kalula‒ mengurung wanita itu dalam intimidasi fisiknya.Dengan bibir yang gemetar hebat, Kalula akhirnya memberanikan diri untuk mendongak, “I-iya, Mas... Aku‒ aku memang sedang hamil.”Mendengar pengakuan itu secara langsung, tubuh Sagala mendadak kaku. Amarah yang tadinya meluap-luap seperti hendak membakar seisi ruangan, seketika keterkejutan yang luar biasa. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya.“Hamil?” bisik Sagala, suaranya mendadak
Ler mais