"Riko, sepertinya aku gak bisa, kamu kan tahu sendiri aku cuma seorang waiters dan kamu itu keponakan Pak Adrian. Apa kata para karyawan lain kalau mereka melihat kita selalu bersama?" tolakku. "Tinggal bilang aja kita pacaran. Mudah 'kan?" jawabnya santai. Drt... Drt... Drt... Suara dring telpon yang ku senyapkan terdengar dari handphoneku. Aku segera mengambilnya. Ternyata Pak Devan, dia sudah berkali-kali mengirim pesan. Berniat memberikan aku sarapan. "Dari siapa?" tanya Riko. "Eu...bukan siapa-siapa, ini temen aku." Jawabku gelagapan sambil menyembunyikan handphoneku. "Oke, syukurlah. Kalau begitu kamu siap-siap, aku tunggu di luar, kita berangkat sekarang, oke?" katanya sok ngatur. Aku mengangguk membalasnya. Dia tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku, lalu pergi keluar sambil menutup pintu. Aku bernafas lega. Lalu segera membalas pesan dari Pak Devan. Menolaknya mengantar makanan dengan alasan aku terburu-buru sudah telat bekerja. Setelah selesai dandan dengan terpa
Last Updated : 2025-08-08 Read more