Setelah memastikan luka Jenderal Arion terbalut dengan aman, Zeni berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap ke arah Aruna yang masih berada di pelukan Torin. Selama hidupnya di pegunungan yang keras, Zeni tumbuh sebagai pejuang tanpa pernah merasakan belaian seorang ibu; ibunya telah tiada saat ia masih sangat kecil.Dengan langkah ragu namun penuh kerinduan, Zeni mendekat. Ia berlutut di depan Aruna, lalu tanpa ragu, ia merengkuh tubuh wanita tua yang lemah itu ke dalam pelukannya."Ibu..." bisik Zeni, suaranya bergetar hebat. "Ini aku, menantumu. Tolong, jangan tinggalkan kami. Jangan tinggalkan aku, Ibu..."Zeni memeluk Aruna dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya, sosok ibu itu akan menghilang. Air mata yang selama ini ia pendam sebagai putri kepala suku yang tangguh, akhirnya tumpah membasahi bahu Aruna."Selama hidupku, aku tidak pernah melihat wajah ibu kandungku," isak Zeni di pelukan Aruna. "Namun di depanmu, aku merasa telah pulang. Aku sangat merindu
Last Updated : 2026-01-11 Read more