“Gi-gimana, Pak?” Secara spontan, Agnia pun melayangkan tatapan kagetnya pada sang dosen. Cukup berhasil membuat pria itu menoleh, disusul dengan sebelah alis yang ia naikkan seraya membalas, “Apanya yang gimana?” Sejenak, Agnia pun mengerjap. Kemudian, ia sigap menggeleng seiring dengan bibirnya yang meringis kikuk. “Nggak, deh, Pak. Skip aja…” Mendengar itu, Irgi pun lantas menghela nafasnya berat. Beberapa saat, membiarkan sang wanita dengan aksi diamnya yang tentu saja mengharuskan Irgi bersua kembali. “Kalau kamu mau bertanya soal apa yang saya katakan sebelumnya, tanyakan saja, Agnia. Tidak perlu ditahan, nanti jadi jerawat besar di muka kamu. Mau, hm?” seloroh Irgi setengah bergurau. Namun, sepertinya sangat berhasil menarik perhatian Agnia yang kala ini sedang menatapnya dengan sorot yang cukup aneh bercampur tak menyangka. “Bapak lagi ngejokes, Pak? Yakali! Masa cuma nahan rasa penasaran aja bisa bikin muka jerawatan. Udah kayak nahan perasaan aja,” lontar Agnia mendeng
Read more