"Nanti Om jelaskan saat di perjalanan," jawabnya cepat. Tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi, Om Bagas segera memakai masker yang dia ambil di dalam saku kemeja, lalu memakaikannya juga padaku. Gerakannya tergesa, sedikit kasar, seolah waktu benar-benar sedang mengejarnya. Setelah itu, tangannya langsung menarik lenganku, membawaku keluar dari apartemen, lalu pintu ditutup rapat di belakang kami. Layaknya seorang maling, kami keluar dari tempat itu dengan langkah mengendap-endap. Suasana koridor terasa begitu sunyi, hanya suara langkah kaki kami sendiri yang terdengar samar. Mata Om Bagas terlihat waspada, menajam, terus bergerak mengawasi sekitar, seolah takut ada seseorang yang tiba-tiba muncul. Jantungku ikut berdebar kencang, detaknya tak beraturan, dipenuhi rasa cemas yang tak kupahami. Namun di balik semua ketakutan itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku. Ada apa sebenarnya? Hingga akhirnya kami berhasil keluar dari gedung apartemen. Tetapi langkah kami
Last Updated : 2026-02-04 Read more