Di ruang tamu flat sempit itu, Leonhardt duduk membungkuk di depan meja kopi. Luka di pelipisnya mulai mengering. Di atas meja, peta-peta tua terbentang, penuh coretan tinta dan salinan koordinat dari perangkat milik Friedrich—disalin tangan sendiri, dengan sisa tinta yang nyaris putus. Tangannya bergerak cepat namun presisi, menandai jalur pelarian, stasiun bawah tanah yang telah ditutup sejak dekade lalu, dan titik-titik pengawasan musuh yang tak resmi di peta resmi. Di salah satu sudut peta, lingkaran merah kecil mengelilingi satu titik. Veritas? Margarethe duduk di seberangnya. Dagunya bertumpu di tangan, mata menelusuri garis-garis itu dalam diam. “Kalau kita benar,” gumam Leonhardt, menggaris jalur dengan pulpen yang sudah aus, “titik ini dulunya jalur distribusi intelijen… sebelum dibekukan tahun 1952.” Ia mengetuk pelan sebuah nama di peta. “Tapi simpul ini masih aktif di dalam arsip Friedrich. Seolah tak pernah benar-benar ditutup.” Dari dapur, suara kecil ter
Last Updated : 2026-02-04 Read more