تسجيل الدخول“Istriku adalah rahasia negara. Dan aku adalah algojonya… yang mulai jatuh cinta.” Ia menikah demi misi. Ia mencintai demi kehancuran. Berlin pasca-perang — dunia di mana kebohongan bersembunyi di balik kehormatan. Margarethe Vogel terjerat dalam pernikahan palsu dengan Leonhardt von Richter, bangsawan sekaligus agen intelijen yang menyimpan rahasia lebih gelap dari perang itu sendiri. Ketika penyamaran berubah menjadi kenyataan, dan masa lalu mereka terbuka seperti luka lama, cinta dan kebenaran menjadi dua hal yang tak bisa diselamatkan bersamaan. Pernikahan hanyalah awal. Permainan sebenarnya baru dimulai.
عرض المزيدAku berada di sebuah kebun bunga yang begitu indah. Bahkan sekarang aku berada di bawah pohon sakura yang berbunga dan sesekali burguguran dan tersangkut dirambutku. Sakura? Bukankah bunga ini tumbuh di Jepang? Tapi aku sangat yakin bahwa aku sedang berada di tanah kelahiranku, Indonesia.
Hi...hi...hi...
Aku mendengar tawa anak kecil yang tak asing bagiku.
"Reihan? Reihan!"
Kupanggil pemilik suara itu sambil berjalan diantara tanaman bunga yang membentuk labirin.
"Ayo cari aku!"
Suara itu semakin menjauh membuatku panik.
"Reihan! Kamu dimana?"
Hi...hi...hi...
Suara itu semakin terdengar samar membuatku semakin panik bahkan air mataku mulai menganak sungai. Aku berlari menyusuri labirin bunga itu dengan sesekali menyeka air mata dengan punggung tanganku. Karena tak memperhatikan langkahku tak sengaja kakiku tersandung bongkahan batu yang membuatku jatuh terduduk.
"Reihan! Reihan!"
Teriakku memanggil anak kecil yang terkikik tadi tapi tak ada sahutan sama sekali membuatku terisak.
"Reihan...jangan tinggalkan aku!"
Aku meratap disela tangisan. Tak ada seorangpun di sini yang terdengar hanya suara isak tangisku.
Sebuah tangan mungil mengusap puncak kepalaku yang tengah menunduk. Seketika tangisanku terhenti."Reihan? Kamu datang? Jangan tinggalkan aku lagi ya, Sayang?"
Aku meraih tubuh mungilnya dan sesekali mengecup wajahnya.
"Rei harus pergi. Don't be sad. I love you..."
Anak kecil itu melepaskan diri dari pelukanku lantas berjalan mundur dengan melambaikan tangan dan senyum manis yang menghiasi bibir mungilnya.
"No...don't leave me! Reihan! Reihan!"
Aku terus meraung memanggilnya yang semakin jauh dan terlihat samar hingga hilang dari pandanganku.
"Reihan!"
Aku terbangun dengan peluh yang membanjiri kening dan leherku. Mimpi ini terasa begitu nyata. Kuraih segelas air putih yang berada di nakas dan meneguknya hingga habis.
"I love you too, Reihan."
Setelah mengucapkan kalimat itu aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengabadikan pertemuanku dengan Reihan yang telah tumbuh semakin besar andai dia tidak meninggalkanku 3 tahun lalu.Salju turun perlahan di atas Zürich. Putih. Sunyi. Dunia bergerak seperti biasa di luar jendela apartemen kecil itu—tram melintas di rel yang basah, orang-orang berjalan dengan mantel tebal dan tangan di saku, lampu toko memantul di trotoar yang membeku. Tidak ada yang terlihat berubah. Seolah dunia tidak pernah hampir runtuh bersama sebuah bunker tua di bawah Leipzig. Televisi kecil di sudut ruangan menyala pelan. Gambar gedung parlemen Jerman memenuhi layar. Wartawan berdesakan. Judul berita berganti cepat. SKANDAL JARINGAN ALTE HAND TERUNGKAP PEJABAT DAN INDUSTRIALIS DITANGKAP ARSIP RAHASIA PASCA-PERANG HILANG Foto Friedrich von Richter muncul sesaat sebelum berganti dengan rekaman reruntuhan fasilitas di Leipzig. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Begitu juga
06:18 Koridor evakuasi berguncang keras saat Rupert menghantam pintu darurat dengan bahunya. Panas langsung menyembur dari bawah bunker—kering, membakar paru-paru, bercampur bau logam hangus dan darah. Margarethe hampir tersandung ketika menopang Adelheid yang setengah sadar di sisinya. Tubuh gadis itu terasa terlalu ringan, seperti sesuatu yang perlahan menghilang dari dunia. Di belakang mereka, suara tembakan dan ledakan masih menggila di ruang inti. Lalu suara Ernst terdengar sekali lagi. Pendek. Serak. Pecah oleh asap dan umur. “PERGI!” Sesudah itu— rentetan peluru panjang meraung memenuhi lorong. Rupert tidak menoleh. Tak ada yang menoleh. Mereka berlari. Lampu merah di sepanjang koridor berkedip liar, memantul di dinding beton seperti denyut jantung sekarat. Pipa-pipa tua pecah di ata
10:00 Sirene merah meraung di seluruh bunker. Lampu darurat berputar liar di langit-langit. Debu mulai runtuh dari sela-sela beton. Leonhardt berdiri beberapa detik di depan panel penghancur otomatis, napasnya berat, sementara angka di layar terus bergerak turun. 09:52 Dari ruang inti— raungan logam dan suara tembakan kembali meledak. Operative K bergerak lebih brutal sekarang. Lebih cepat. Seolah sesuatu di bawah bunker memberinya tenaga baru. Leonhardt langsung berbalik dan berlari kembali menuju ruang utama. Koridor bergetar di bawah kakinya. Pipa-pipa pecah di sepanjang dinding. Uap panas menyembur dari celah logam. Begitu ia mencapai ruang inti— kekacauan sudah berubah menjadi perang terbuka. 06-G menghantam salah satu agen ke dinding sampai tubuhnya tidak bergerak lagi. Rupert menembak dari balik konsol sambil berteriak memberi aba-aba. Margarethe masih memeluk Adelheid di dekat reruntuhan kursi transfer. Tubuh Adelheid menggigil hebat sekarang. Matanya sete
Koridor timur terbuka perlahan di belakang inti reaktor.Gelap.Panjang.Lampu merah darurat berkedip di sepanjang dinding logam, menciptakan bayangan yang patah-patah di wajah semua orang.Friedrich berdiri tepat di tengah jalur itu.Pistol di tangannya stabil.Tidak gemetar sedikit pun.Leonhardt menatapnya beberapa detik tanpa bergerak.Di belakang mereka, bunker terus bergetar.Suara tembakan.Jeritan logam.Raungan subjek-subjek eksperimen yang masih bertarung dengan pasukan Ernst dan agen bercampur menjadi satu.Namun di lorong itu—semuanya terasa jauh.Friedrich mengangkat pistolnya sedikit lebih tinggi.“Dari awal aku sudah tahu kau akan sampai ke titik ini.”Leonhardt berjalan satu langkah maju.Darah masih menetes dari dagunya.“Kau selalu bicara seolah semua orang cuma bagian dari rencanamu.”“Karena me
Mereka melangkah turun ke pelataran. Kerikil berderak pelan di bawah sepatu. Adelheid sudah membuka pintu mobil lebih dulu, masih dengan ekspresi setengah jengkel, setengah lapar. “Aku tida
Bunyi logam bergesekan terdengar dari pintu belakang. Margarethe meraih tongkat besi tua di sudut ruangan. Adelheid menyambar buku catatan dari meja. Pintu belakang terbuka keras. Siluet seseorang berdiri di ambang pintu. Lampu dapur menyinari wajahnya. Leonhardt. Namun wajahnya pucat. K
Ingatan itu belum sepenuhnya pergi saat Leonhardt kembali fokus ke jalan di depannya. Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih kuat dari yang ia sadari. Dia merancang semuanya sejak awal, pikirnya. Membuatku per
Api unggun di tengah perkemahan Inggris berderak pelan, memantulkan cahaya oranye pada wajah-wajah yang tampak lebih lelah dari sebelumnya. Udara malam di tepi danau terasa lembap dan dingin, menusuk sampai ke tulang. Margarethe duduk diam di bangku kayu kasar, kedua tangannya memegang cangkir ko






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر