“H-hah? Ngomong apa sih tiba-tiba?” sahut Amelia, sedikit tergagap.“Iya, lah. Cowok tadi kelihatan kayak lebih tua. Pasti kamu simpenannya, kan?”Suara Angga terdengar santai. Bahkan terdengar seperti mengejek.Amelia langsung menegang. Matanya memicing jengkel.“Heh! Jangan nuduh sembarangan, ya! Dia itu Ayahnya sahabat aku, Karina. Tahu apa kamu soal hidup aku?!” bentaknya.Tak ada jawaban. Hanya hening beberapa detik, seperti Angga sedang memproses bantahan itu. “Oh. Masa? Ya sudah, sih! Nggak perlu emosi. Cuma dugaan aja. Bukannya nuduh,” balasnya enteng.Amelia mengepalkan tangan. Belum sempat ia memutuskan panggilan, Angga bicara lagi.“Tapi ngomong-ngomong, kamu ada lima ratus dulu, nggak? Aku pinjem. Nanti bulan depan kuganti.”Amelia ternganga.‘Dia masih nggak malu minjem duit setelah nuduh aku?!’ serapahnya dalam hati.“Makanya kerja,” ketus Amelia. “Dasar pengangguran nggak tahu diri.”Langsung memutus panggilan dan memblokir nomornya.Ponselnya dilempar ke sofa. Lalu Am
최신 업데이트 : 2025-11-28 더 보기