LOGINAmelia Mauren selalu berkunjung ke rumah sahabatnya, Karina. Ayahnya—Kayden Ferdinand, seorang duda tampan, berkharisma dan dewasa. Tak sedikit wanita yang mencoba menarik hatinya, walau berakhir gagal. Amelia pun terkadang suka iseng menggodanya dengan centil. Tapi tiba-tiba semua berubah. Godaan Amelia tak lagi dianggap main-main, dan sorot mata Kayden kini terasa berbeda. Menatapnya bukan sebagai sahabat Putrinya, tapi seorang wanita yang bisa dimiliki.
View More“Om Kayden enak banget. Aku jadi ketagihan.”
Amelia menjilat ujung jarinya dengan manja. Wajahnya berseri penuh kenakalan. Kayden hanya menatap datar. Lalu menyentil keras dahinya. “Tangannya biasa aja, bisa nggak? Kalau mau lagi, ya ambil,” omelnya. Sarapannya kali ini sedikit ramai, karena adanya Amelia yang menginap semalam. Kayden Ferdinand. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan, mapan dan mempesona. Tidak sedikit wanita yang menginginkannya. Tapi tak satupun berhasil menarik perhatiannya. Dan terkadang, Amelia pun jahil menggoda duda anak satu itu. Hanya sekedar candaan. “Hehe. Aku muji, loh. Dessert buatan Om kan selalu enak,” ucap Amelia. Lidahnya pandai berkelit. “Ya lagian. Tingkah sama omonganmu bikin salah paham tau! Nggak bosen-bosen ya godain Papa aku,” celetuk seseorang di sampingnya. Dia adalah Karina, Putri semata wayang Kayden yang sebaya dengan Amelia. Sejak kecil, Amelia sering datang bermain ke rumahnya. Makan bersama dan menginap. Walau sempat terpisah saat remaja. Hubungan mereka masih sangat baik sampai sekarang. Amelia tersenyum nakal. Menangkup wajahnya dengan satu tangan. Sambil mengedipkan sebelah mata pada Kayden. “Duda ganteng kayak Om Kayden, rugi banget kalau nggak digodain,” katanya dengan centil. Kayden mendengus. Sambil memutar bola matanya. Malas menanggapi. “Cepat beresin makan kalian. Piringnya mau dicuci,” ujarnya datar. Kemudian bangkit. Membawa piring kotornya. Begitu Kayden pergi, Karina menyenggol bahu Amelia. “Hayo, Papa marah tuh,” bisiknya. “Nggak, Karina. Papa kamu cuma malu karena terpesona sama kecantikanku,” balas Amelia sambil menyibak rambutnya penuh percaya diri. Seketika Karina menepuk jidat. “Astaga. Dosa apa aku punya sahabat kayak gini,” gerutunya. Sangat jengkel mendengar ocehan Amelia. Karina akhirnya berdiri, menyodorkan piring kotor padanya. “Beresin sana. Aku mau mandi.” Lalu pergi lebih dulu ke kamarnya. Amelia hanya terkekeh puas, tanpa rasa malu. Namun dia tetap tahu diri. Amelia segera membereskan piring kotor di meja makan. Kemudian membawanya ke dapur. Di sana, Kayden tengah sibuk mencuci piring. “Om, aku mau bikin kopi boleh?” tanya Amelia sambil memberikan piring kotor yang dia bawa. “Buat sendiri. Gulanya di lemari atas,” sahut Kayden singkat. Tanpa mengalihkan pandangan. Amelia mengangguk. Mulai membuat kopi seperti di rumahnya sendiri. Dan saat membuka lemari bagian atas, Amelia terpaksa berjinjit. Toples gula yang dia cari sangat jauh di dalam sana. Ujung jarinya sulit menjangkau. Kayden di sampingnya menyadari hal itu. Dan langsung mematikan keran. Berjalan menghampirinya. “Kalau nggak bisa tuh minta tolong.” Amelia menoleh ke sumber suara. Dan saat berbalik, nyaris bertabrakan dengannya. Tak menyangka Kayden sudah ada di belakangnya. Jarak mereka sangat dekat. Sehingga Amelia bisa mencium aroma parfum samar di pakaiannya. Tubuh Amelia membeku. Sambil diam-diam menelan ludah. “Om tinggi banget ya kalau dari deket. Muka aku cuma sejajar dada, nih,” katanya asal ceplos. Tanpa sadar, tangannya menekan-nekan dada bidang Kayden. Kayden hanya mendengus kecil. Lalu mengambil toples gula itu dan meletakkannya di atas kepala Amelia. “Kamu yang terlalu pendek, bocah,” ejeknya. Amelia mendelik tajam. “Aku udah dewasa tau!” balasnya tidak terima. “Jadi udah legal dinikahin.” Wajahnya langsung berubah menjadi senyuman usil. Kayden mengernyit, urat lehernya menegang. Hendak berbicara, suara bel di depan pintu menyela obrolan. Akhirnya Kayden mundur. Berbalik dan melangkah pergi. Amelia hanya cekikikan. Mencoba menggoda Kayden yang berwajah datar itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Namun, Amelia merasa penasaran pada tamu yang datang sepagi ini. Diam-diam, dia mengikuti Kayden. Di pintu depan, terlihat seorang wanita dewasa dengan pakaian cukup seksi. Sebelumnya, Amelia pernah melihatnya beberapa kali datang. Tapi sepertinya Kayden tidak menyambut kedatangannya. “Udah berapa kali aku bilang. Jangan kesini lagi, Anya. Apa kamu nggak paham maksudnya?!” desis Kayden terlihat kesal. Wanita bernama Anya itu malah menyodorkan paperbag yang dia bawa. “Jangan marah. Aku cuma mau kasih kamu oleh-oleh. Lagian kamu juga masih single, kan? Kita bisa saling kenal dulu,” bujuknya. Amelia mengintip dari balik tembok. ‘Wah. Bebal banget ya tuh Tante-tante,’ pikirnya. Tidak sadar dirinya pun begitu. Seketika otak jahil Amelia berjalan. Sebuah ide untuk menolong Kayden muncul di kepalanya. Dengan langkah percaya diri, Amelia mendekat lalu tiba-tiba merangkul lengan Kayden. “Ada siapa, Mas? Kok nggak diajak masuk?” Sontak Kayden menoleh dengan sebelah alis terangkat. Terlihat keheranan. Sementara Anya, langsung mendelik tajam padanya. “Kamu siapa? Kenapa ada di rumah Mas Kayden?” Amelia tersenyum lebar, berlagak seperti Nyonya rumah. “Saya Istrinya. Memang kamu siapa?” ucapnya dengan angkuh. Anya langsung melotot kaget. Menutup mulutnya tak percaya. Lalu menoleh pada Kayden. “K-kayden. Dia bener Istri kamu?” tanyanya memastikan. Kayden hendak menjawab. Namun Amelia tak memberinya kesempatan. “Ya bener, dong. Kamu mau godain Suamiku ya? Pergi sana! Dasar pelakor!” usirnya dengan garang. Merasa kesal dan malu, Anya akhirnya pergi dengan perasaan kecewa. Amelia dan Kayden pun kembali masuk ke rumah. Begitu pintu tertutup, Amelia tidak bisa menahan tawanya. “Lucu banget. Mulai sekarang dia nggak bakal gangguin Om lagi. Nggak usah berterima kasih—“ Namun tawa itu mendadak terhenti ketika Kayden tiba-tiba menarik tangan Amelia. Kemudian menyudutkannya ke balik pintu. Mengungkung di antara kedua tangan. Tatapan Kayden begitu dalam. Matanya menyipit tajam. “Kamu ini bener-bener nakal ya, Amelia,” desisnya. Nafasnya sedikit tersendat. Seolah menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.“Iya, Nek.” Amelia mengangguk, tak ada lagi yang bisa ia katakan selain itu.Rania mendengus sebal lalu bergumam. "Hebat juga ya sampai sekarang nggak ada yang nyadar. Untung aja Melisa ngasih tau."Amelia terdiam. Kedua alisnya berkerut saat mendengar nama itu. Namun dalam hati ia semakin gelisah.‘Bener kan yang ngasih tau itu tante Melisa. Apa Nenek mau nerima dia lagi?’"Nggak usah bahas Melisa, Bu," Bima kembali menegur istrinya. "Dia cuma pengadu."Rania mendengus pelan sambil menggerutu. "Iya juga, sih! Agak kesel sebenernya dapat info dari dia. Pasti ada maunya.""Udahlah. Mending kita pulang aja," usul Bima, kemudian bangkit dari kursinya. Dia menatap pada Amelia yang masih membisu."Maaf ya ganggu kamu lagi ngerjain tugas. Kalau gitu kami pulang dulu."Amelia mendongak, memaksakan senyuman di bibirnya. "Nggak apa-apa, Kek.""Kenapa juga kamu harus minta maaf? Ini kan rumah anak kita. Dia cuma numpang di sini," sahut Rania masih dengan nada sinis.Mendengar hal itu, Amelia ke
"H-hubungan asmara? Maksudnya apa ya, Nek?" tanya Amelia dengan suara sedikit terbata-bata, masih mencoba mengelak.Rania menyipitkan mata penuh kecurigaan. "Oh, ya. Kalau gitu ini apa?"Rania mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu menunjukkan sebuah foto. Itu adalah foto yang sama yang Melisa sempat tunjukkan sebelumnya."Nggak mungkin Kayden bakal begini kalau hubungan kalian cuma sekadar ayah dan sahabat anaknya," ujar Rania dengan nada kesal.Amelia terdiam, wajahnya menegang. Satu tangan terkepal menahan gemuruh dalam dadanya.‘Tante Melisa! Kenapa dia ngasih tau ke orang tuanya Kayden?! Padahal aku udah turuti semua kemauan dia!’ jeritnya dalam hati.Namun menyalahkan orang lain tak akan berguna. Orang tua Kayden sudah terlanjur mengetahuinya, dan kini melabrak Amelia secara langsung."Amelia! Jawab, dong!" geram Rania mulai kesal karena diabaikan.Amelia tak bermaksud mengabaikannya. Dia tak tau harus berkata apa lagi, tak ada kebohongan yang bisa dijadikan alibi."Em, kita bica
"Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi," tanya Kayden sambil tertawa hampa mendengar perkataan Melisa yang penuh percaya diri itu.Melisa mendengus sebal. "Kamu pasti denger jelas. Kita bisa jadi keluarga lagi, asalkan kamu putusin pacar—""Kamu masih nggak tau malu ngomongin soal keluarga?!" bentak Kayden menyela, ia tak kuasa menahan amarah. "Ini kali terakhir kamu lancang begini. Saya nggak segan-segan ancurin bisnis kamu yang hampir bangkrut itu, paham?!"Melisa terbelalak kaget mendengarnya. "Apa? Kay—"Tapi belum selesai bicara, Kayden lebih dulu memutus panggilan.Melisa segera menghubunginya lagi. Tapi malah tak tersambung. Artinya Kayden sudah memblokir nomornya."Sialan!" teriak Melisa sambil memukul setir mobil. "Segitunya kamu bela dia?! Lihat aja. Kalau aku nggak bisa dapetin kamu lagi, kamu juga nggak bakal bisa bahagia sama bocah itu!"Melisa mengepalkan tangannya pada ponsel, dengan tatapan tajam penuh tekad dan dendam.Sementara itu, Amelia yang usai diteror oleh Melisa
"J-jangan!" seru Amelia langsung membantah. Jantungnya berdebar gelisah. "Saya ke sana sekarang. Kita bicarain baik-baik ya, tante.""Apa? Buat apa bicara baik-baik sama pelakor kayak kamu. Saya masih berbaik hati ngasih syarat buat kamu!" bentak Melisa makin kesal.Amelia menggigit bibir bawahnya kemudian menjawab."Tante, saya mohon. Saya pasti bayar hutang saya, kok. Tapi jangan bongkar soal itu, ya. Kita diskusi dulu sebentar."Terdengar dengusan dari seberang. "Oke. Saya tunggu kamu. Cepet ke sini!""Iya. Saya pulang sekarang, tante," balas Amelia hela napas lega. Dan panggilan pun berakhir.Amelia bergegas mengambil tasnya dan berpamitan dengan rekan kerjanya yang lain. Setelah memesan ojek online, dia langsung pulang ke rumahnya.Di depan halaman rumah, terlihat sebuah mobil yang familier. Lalu seorang wanita paruh baya yang tampak menunggu dengan raut wajah jengkel."Ck. Lama banget sih!" protes Melisa begitu melihat kedatangan Amelia.Amelia mendekat sambil hela napas panjang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews