Mata Arman menyipit, berpindah dari wajah dingin Vivian ke senyum santai Juno. Dia tidak perlu penjelasan. Kehadiran Juno di belakang Vivian, begitu posesif dan menantang di rumahnya sendiri, sudah cukup menjadi bukti yang mengerikan. “Aku sudah menduga hal-hal semacam ini terjadi, tentu saja,” kata Arman, suaranya dipenuhi kekecewaan yang jauh lebih tajam daripada amarah. Dia berjalan ke mejanya, membuka laci, dan mengeluarkan setumpuk foto berukuran besar. Itu adalah bidikan profesional, detail, dengan kualitas yang sangat tinggi. “Kau tahu, Vian,” lanjut Arman, mengangkat foto-foto itu, “Aku selalu memujimu. Kau adalah wanita yang anggun, berkelas, dingin, tapi sempurna untuk statusku. Sebuah karya seni. Jadi, ketika aku menerima laporan ini—laporan yang mengira kau hanya bersembunyi sendirian di vila karena stres—aku tidak percaya.” Arman melemparkan foto-foto itu ke lantai di antara mereka. Foto-foto itu mendarat dengan gemerisik yang memilukan. Itu adalah foto-foto Vivia
Last Updated : 2025-11-26 Read more