เข้าสู่ระบบBagaimana bisa Juno putra tiri Vivian, seorang pria yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri mencintai dirinya. Sementara perselingkuhan sang suami semakin membakar habis hati dan perasaannya yang suci. Selama ini hidupnya benar-benar didedikasikan untuk suaminya. Antara memilih pergi atau terperangkap dalam cinta sang putra tiri. Yang tiba-tiba muncul menawarkan sesuatu sensasi yang telah lama hilang dalam diri Vivian. Bagaimana Vivian memilih jalan hidupnya, setelah dia benar-benar hancur dan terpuruk? Pilihan apa yang harus dia buat, demi untuk tetap menjaga image nya
ดูเพิ่มเติมVivian berdiri di depan cermin riasnya yang besar. Rambutnya yang disanggul cantik, dan elegan. Dandanan make up dari penata rias ternama, serta gaun malam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan indah meski kini telah menginjak usia 40 tahun.
Ingin sekali dia menyangkal dirinya dengan tampilan di depan cermin yang begitu sempurna, tanpa cela. Inilah dia sosok Vivian, seorang model terkenal. Lambang keanggunan, dan kecantikan serta kesetian dari CEO Arman Group. Namun, di balik polesan makeup yang flawless, sepasang mata cokelatnya memancarkan kekosongan yang membekukan. Tidak seorang pun tau, kekosangan itu menyakitkan hatinya. Sejak lima tahun terakhir, kesempurnaan ini terasa seperti kulit yang ditarik kencang, rentan robek kapan saja. Rentang waktu yang Vivian hitung sejak terakhir kali Arman menyentuhnya. Sejak terakhir kali ia merasakan kehangatan yang tulus, bukan sekadar pelukan formal di depan kamera. Pada awalnya, Vivian meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah fase alami dari pernikahan yang telah berlangsung lama. Arman sedang sibuk. Proyek besar di luar kota, rapat larut malam, perjalanan bisnis ke luar negeri yang mendadak. Itu semua demi perusahaan. Tetapi, sebenarnya banyak tanya, di dalam hatinya. Entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan, jika dia ingin memulai pembicaraan. Mengapa Arman selalu menjaga jarak fisik, bahkan di rumah? Mengapa ia tidak lagi berbagi cerita tentang hari-harinya, melainkan hanya memberikan jawaban singkat dan datar? Mengapa setiap kali ia menawarkan sentuhan, Arman selalu beralasan lelah atau sakit kepala? "Vivian, kau sudah siap?" Suara bariton Arman memecah lamunannya. Suaranya formal, seperti memanggil seorang rekan kerja, bukan istrinya. "Sudah, Arman. Aku turun sekarang," gegas Vivian sambil mengambil tas tangan miliknya. Selama bertahun-tahun, Vivian telah mengabaikan semua keanehan itu dengan sengaja. Berharap semua baik-baik saja. ***** "Viv, aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini..." ucap Winda yang adalah sahabat dekat Vivian. Oleh karena bisnis properti milik suaminya dan milik Arman masih menjalani kerja sama yang baik. Vivian menyesap tehnya perlahan, menjaga agar ekspresinya tetap tenang, sambil tersenyum tipis. "Apa itu? Mengenai butik baruku?" "Bukan. Mengenai Arman," bisiknya. "Akhir-akhir ini, ada rumor yang beredar di kalangan stafku, terutama di bagian kolom bisnis. Mereka bilang Arman tidak hanya pergi untuk urusan perusahaan saat ke luar kota. Ada yang melihatnya... sangat akrab dengan sekretarisnya," lanjut Winda lagi dengan ekpresi serius, menandakan dia tidak sedang berbohong. Vivian meletakkan cangkir tehnya, tidak ada suara denting yang tercipta. Ia masih tersenyum tipis, berusaha tenang walau dadanya terasa sedang dihantam palu. "Arman dan sekretaris? Tentu saja akrab. Mereka bekerja bersama setiap hari, Sayang. Jangan mendengarkan gosip murahan." "Aku tidak bicara tentang keakraban profesional, Viv," desak Winda. "Ini sudah menjurus ke lebih intim. Dan, Viv, stafku melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sekretarisnya, Indira, kabarnya... terlihat sering memegangi perutnya. Aku dengar dia sedang mengambil cuti panjang." Dunia Vivian seakan terhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Indira. Vivian tahu nama itu. Sekretaris Arman yang muda, efisien, dan berpenampilan biasa saja. Ia tidak pernah menganggap Indira sebagai ancaman. "Kau harus lebih banyak memperhatikan gerak gerik suami kamu, Vivian." Itu bukan kalimat sederhana dari Winda, tapi Vivian mengerti. *** Vivian memutuskan untuk melakukan apa yang tidak pernah dilakukan seorang istri setia, menyewa penyelidik swasta. Bukan untuk menangkap basah, melainkan untuk memastikan. Ia ingin fakta, bukan desas-desus. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, semua laporan itu berada di depan matanya. Vivian membacanya di ruang kerjanya yang sunyi, jauh dari pengawasan Arman atau staf rumah. Semua laporannya sangat lengkap. Lokasinya Ia sering terlihat check-in di sebuah unit penthouse eksklusif di Hotel The Elysium, salah satu hotel mewah di pusat kota. Bersama sekertarisnya itu. Vivian menelan ludah. Ia membalik ke halaman terakhir, tempat foto-foto itu terlampir. Foto-foto yang sebenarnya ingin sekali disangkal olehnya. Jika Arman tidak akan melakukan perbuatan itu. Namun ini bukan hanya perselingkuhan. Ini adalah masa depan yang telah Arman bangun di belakangnya. Kemarahan Vivian tidak meledak; ia justru meresap dan menjadi es. Ia ingat setiap ciuman yang Arman tolak, setiap malam yang ia habiskan sendirian. Setiap rasa kecewa yang dia dapatkan. Vivian lalu menelepon Arman, suaranya tenang. "Arman, bisakah besok sore, kita akan mengadakan makan malam dengan relasi penting dari Dubai. Tolong kosongkan jadwalmu dan pulang lebih awal? Ada yang perlu kita diskusikan sebelum bertemu mereka." Arman, yang selalu patuh jika mengenai urusan bisnis, setuju tanpa curiga. Keesokan harinya, Arman pulang sekitar pukul lima sore. Ia mendapati Vivian sedang menunggunya di ruang keluarga. Ruangan itu didominasi oleh perabot antik mahal dan cahaya yang lembut. Vivian duduk tegak di sofa beludru, secangkir teh dingin di mejanya. "Kau sudah pulang," sapa Vivian dengan senyum yang sempurna dan tanpa cela. "Ya. Kau mau bicara apa, Viv? Cepatlah, aku lelah," jawab Arman, melempar tas kerjanya ke kursi. Vivian tidak menjawab, matanya melihat tas yang Arman lempar. Kemudian, Ia hanya mengambil amplop cokelat besar dari sampingnya dan memberikannnya ke meja kaca di depan Arman. "Aku tahu kau lelah," kata Vivian, suaranya lembut, namun matanya memancarkan petir. "Mungkin kau lelah karena terlalu sering menghabiskan malam di The Elysium, kamar penthouse 3001." Ujar Vivian dingin, namun menahan beribu rasa sakit di dalam hatinya. Senyum Arman menghilang. Wajahnya mengeras, tetapi ia masih mencoba mempertahankan kendali. "Omong kosong apa ini, Vivian?" "Omong kosong yang bernama Indira Kirana," lanjut Vivian, suaranya perlahan meninggi, menembus ketenangan yang selama ini ia jaga. "Dan omong kosong yang paling menyakitkan adalah... bayi yang sedang ia kandung." Arman akhirnya membuka amplop itu. Matanya terpaku pada foto-foto yang menunjukkan perut besar Indira. Rahasia itu terbongkar dengan cara yang paling kejam. Arman mendongak, matanya penuh ancaman. "Kau mengintai aku?" Vivian bangkit, berdiri di atas Arman. Keanggunan telah berubah menjadi kemarahan yang membara. "Aku mencari suamiku, Arman. Aku mencari alasan mengapa kau meninggalkanku, mengapa kau menolak sentuhanku, mengapa kau mengubah pernikahan kita menjadi lelucon kosong. Dan sekarang, aku tahu. Aku tidak hanya menemukan selingkuhanmu, aku menemukan keluarga barumu." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Kau tahu apa yang paling membuatku jijik, Arman? Bukan perselingkuhan itu. Tapi kenyataan bahwa kau berpikir aku begitu bodoh, begitu naif, hingga tidak akan pernah mengetahuinya." "Bukan begitu maksudku, Vivian. Cobalah dengarkan alasanku." Vivian menatap tajam lelaki dihadapannya itu, menunggu apa yang akan dia lontarkan, sebagai alasan perselingkuhannya serta pembenaran atas perbuatannya itu. Pertemuan di ruang rapat utama itu terasa seperti medan perang yang dibalut dengan kemewahan. Suasana begitu dingin, bahkan pendingin ruangan yang dipasang pada suhu standar terasa jauh lebih menusuk tulang. Di satu sisi meja oval yang panjang, Pak Bambang duduk dengan tenang, menaruh sebuah tas kulit mahal di atas meja. Di sampingnya, Clarisa duduk dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi sembab di matanya, namun bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan yang prematur.Pintu terbuka lebar. Juno melangkah masuk dengan aura yang begitu dominan, diikuti oleh Vivian yang berjalan dengan anggun meski langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya."Selamat pagi, Tuan Juno, Nyonya Vivian," sapa Pak Bambang dengan suara baritonnya yang sopan namun formal. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda."Juno tidak membalas sapaan itu. Ia menarik kursi untuk Vivian sebelum akhirnya duduk di kursi kepemimpinan. "Langsung saja, Bambang. Aku t
Malam itu berlalu dengan ketegangan yang terpendam di balik selimut kabut perkebunan. Meski Juno berusaha memejamkan mata, nama "Renata" terus berdengung di kepalanya seperti alarm bahaya. Ia tahu, kembalinya wanita itu bukan sekadar untuk menjemput Clarisa, melainkan untuk menggali kembali luka lama dan merebut takhta yang selama ini ia incar.Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar di rumah klasik tersebut. Juno sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia berdiri di depan cermin, merapikan dasinya dengan gerakan yang kaku. Pikirannya sudah melayang jauh ke gedung pusat Vanderbilt Group, menyusun strategi untuk membentengi perusahaan dari serangan Renata.Namun, langkahnya terhenti saat ia keluar dari kamar mandi dan melihat pemandangan yang tak terduga. Di depan meja rias, Vivian sudah duduk rapi dengan setelan blazer kerja berwarna krem yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan sedikit ruang untuk memperlihatkan plester medis yang masih menempel
Malam itu, di dalam mobil setelah pengejaran yang sia-sia. Emosi yang memuncak tidak mampu mendinginkan kepala Juno yang sedang mendidih. Di dalam mobil, Juno mengeratkan tangannya. Kabar yang baru saja ia terima dari pihak kepolisian benar-benar di luar nalar. Clarisa, wanita yang jelas-jelas tertangkap tangan melakukan percobaan kejahatan, bisa melenggang bebas hanya dalam hitungan jam dengan status tahanan luar."Sialan! Bagaimana bisa sistem hukum semudah itu dibeli?" geram Juno. Urat-urat di lehernya menegang, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan hamparan pepohonan gelap.Tanpa membuang waktu, ia kembali menyambar ponselnya dan menekan satu nama di kontak singkatnya: Bayu."Cari tahu siapa yang menjamin pembebasan Clarisa," perintah Juno tanpa basa-basi begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang mengancam. "Gunakan semua informanmu. Clarisa tidak punya uang sebanyak itu setelah semua asetnya kubekukan. Pasti ada paus besar di bel
Pak Bambang melihat jam tangannya yang melingkar mewah, lalu memberikan anggukan hormat kepada kedua wanita di hadapannya. "Sepertinya tugas saya malam ini sudah selesai, Nyonya Renata. Saya akan terus memantau perkembangan di kepolisian agar status tahanan luar Nona Clarisa tetap aman."Renata tersenyum anggun, tipe senyum yang menyimpan ribuan rahasia. "Terima kasih, Bambang. Kerja kerasmu selalu memuaskan. Upah untuk jasamu dan biaya jaminan tadi sudah ditransfer ke rekening pribadimu beberapa menit yang lalu. Silakan diperiksa.""Anda selalu tepat waktu, Nyonya. Saya pamit dulu. Nona Clarisa, istirahatlah," ujar Pak Bambang sebelum akhirnya melangkah pergi menuju mobilnya yang sudah menunggu.Setelah kepergian sang pengacara, suasana menjadi lebih intim namun mencekam. Renata menuntun Clarisa masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lobi hotel bintang lima. Clarisa duduk di sofa beludru, matanya masih menatap sang ibu dengan penuh ketidakpercayaan."Mom, aku masi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.