MasukBagaimana bisa Juno putra tiri Vivian, seorang pria yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri mencintai dirinya. Sementara perselingkuhan sang suami semakin membakar habis hati dan perasaannya yang suci. Selama ini hidupnya benar-benar didedikasikan untuk suaminya. Antara memilih pergi atau terperangkap dalam cinta sang putra tiri. Yang tiba-tiba muncul menawarkan sesuatu sensasi yang telah lama hilang dalam diri Vivian. Bagaimana Vivian memilih jalan hidupnya, setelah dia benar-benar hancur dan terpuruk? Pilihan apa yang harus dia buat, demi untuk tetap menjaga image nya
Lihat lebih banyak.
SHARON'S POV. “Sharon.” My stepmother started calling my name so loudly from downstairs. I was already brainstorming on many things when I heard her call. I checked my phone and it was just past seven in the morning.. “Sharon,” she yells again. I quickly got out of bed and walked downstairs to our big kitchen, where I saw my stepmother and her daughter sitting at the table. Her mother was masking her face with heavy make-up, not just that, but also painting her hands. “Sharon, I've been calling you and you're snubbing me. It's time you can see that I am swamped. Get to work and prepare breakfast. I'm getting Sandra prepared for tonight. “What is happening tonight? It's just 14 hours away. Why are you starting now?”. I asked. She paused what she was doing and angrily stared at me. “You don't question my authority in this house. I'm doing it now because I want her to look the best amongst everyone.” The whole thing they were doing was pissing me off. I sighed and left to make breakfast so that I won't say more than I’ve said. Tonight, our new Alpha turns 20, which means he can now find his mate. Alphas find their mate when they turn 20; others make wolves find theirs when they turn 18. That is so, so that they can be sure they are mature enough to start the rest of their lives with their mate. Every girl that is not his mate will be out there tonight, hoping they are his mate, and if, per adventure, he did not find his mate, then he will choose from the girls. For me, it was so weird for all the girls in the pack to line up like cows to be sold just because they wanted the Alpha to be their mate. I didn't see that as a good idea so I wanted to stay at home. My step agreed I should stay at home. I was more beautiful than her daughter. She didn't want me any closer to the event. I also agreed but my dad refused and almost shut my mouth with a slap. He said this because I had not found my mate, and I was already 19. He prays I find my mate. Sandra, my half-sister, just turned 18, and her mother also wants her to find her mate by all means, which made her spend a lot of money just to get her prepared. My father and mother had grown up together. When they were growing up, they were of the same age and neither of them had found their mate; they chose each other because they loved each other. Just a few years after my dad married my mum, she was involved in a fatal motor accident that took her life. That broke my dad, and he decided not to have another mate, but because I was so tender, he chose Cecilia, my stepmother, so that she could take care of me. Shortly after Cecilia moved in, age became pregnant. About a year later, Sandra was born. Cecilia hated me so much because I was more beautiful than her daughter and would always want my dad to love her daughter than me. My dad will always refuse and show equal love to both of us. Whatever he does for Sandra, he’ll do for me. Anything he does for me, he will definitely do for my sister, Sandra, and that made us love him very much. —-- The house has been busy all day. Sandra and her friends have been at it all day so I decided to avoid them and stay in my room. A lot was going through my mind when a knock pulled me from my thoughts, and my best friend Nora stepped in. “Hey, baby girl. Hope you're ready? “Yes of course, I said faintly. Nora and I had agreed to get ready together and that was why she showed up. She entered my room, and after we must have talked a little, we helped each other to put on make up and pack our hair. She helped out with my sandy long blonde hair in a lot of braids that began on the right side of my hand to end hanging over my left shoulder, and she also put clips on it. She made me up and it was very light. It was quite different from Sandra's own, as her makeup was so much as though she was about to wed. Looking at the mirror, I loved what she did and went to get my dress, a silver long midnight blue silk dress. When it was time, they all left to walk over to the pack house. Many girls were already standing outside the pack house, and some were dressed up formally. Some were dressed in skimpy dresses that were so revealing that I was ashamed of them. When it was time, an elder came out from the pack house for the announcement. The moment the door opened, a strong smell of spice hit my nose that woke my wolf up. Anything that wakes my wolf this way is definitely pointing at something that I may not be seeing. “Welcome, everyone, especially to the beautiful unmated she-wolves. You all know why we're here. We are here for Alpha Roland to give or choose a mate to be by his side as his partner. All of us girls were now instructed to stand next to each other in one queue. We all arranged ourselves quickly, and Sandra was standing in front of me while I was standing behind her. The instruction was for one straight line, but because the queue was becoming too long, they made the line three so that it wouldn't be that long. “I also want to inform you that Alpha Rolland has been able to smell a captivating smell and it could be his mate He’s excited and will soon be out to find out who she is.”Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut."Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,
Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan."Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara."Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia
Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno."Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah
Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas."Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus."Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha
Vivian merasakan sakit menusuk di dadanya, lebih tajam daripada rasa sakit fisik apa pun. Ancaman Arman bukanlah gertakan kosong; itu adalah jaring baja yang mengunci pergerakannya. Ia mengenal suaminya: Menghancurkan Vivian adalah hal yang kecil dibandingkan dengan kehilangan kontrol.Ia tidak m
Tepat sepuluh menit. Detik-detik itu terasa seperti jam pasir yang tak habis. Vivian menunggu dengan napas tertahan, memegang kusen jendela hingga buku jarinya memutih, matanya terpaku pada pintu. Setelah suara kunci itu—yang ia yakini adalah kunci utama yang diputar dari luar—keheningan rumah tera
Suara Juno memudar, dan telepon diputus. Vivian tidak bisa bernapas. Ia tidak hanya melompat ke neraka Juno; Juno baru saja membuka gerbang dan berjalan masuk. Ia sekarang berada di bawah satu atap dengan putra tirinya yang terobsesi dan berbahaya. Ia sudah kehilangan Arman, dan kini ia dalam bahay
"Apa... apa yang kau lakukan?" Suara Vivian bergetar, masih shock dengan keadaan yang mengejutkan ini. Juno memalingkan wajahnya, menyandarkan lengannya di dahinya. "Aku melihatmu." Suaranya terdengar serak dan rendah. "Aku mendengarnya. Ayahku memperlakukanku dengan arogan, tapi aku bisa meneri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.