เข้าสู่ระบบBagaimana bisa Juno putra tiri Vivian, seorang pria yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri mencintai dirinya. Sementara perselingkuhan sang suami semakin membakar habis hati dan perasaannya yang suci. Selama ini hidupnya benar-benar didedikasikan untuk suaminya. Antara memilih pergi atau terperangkap dalam cinta sang putra tiri. Yang tiba-tiba muncul menawarkan sesuatu sensasi yang telah lama hilang dalam diri Vivian. Bagaimana Vivian memilih jalan hidupnya, setelah dia benar-benar hancur dan terpuruk? Pilihan apa yang harus dia buat, demi untuk tetap menjaga image nya
ดูเพิ่มเติมLantai marmer dingin itu terasa seperti es yang menusuk kulit Jolina saat tubuhnya menghantam permukaan keras tersebut. Rasa sakit menjalar dari lutut hingga ke pinggangnya, namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan penghinaan yang baru saja ia terima. Di belakangnya, deru napas berat dan bau alkohol yang menyengat menandakan kehadiran pria yang seharusnya ia panggil ‘Ayah’.
"Lepaskan! Kumohon, Ayah... jangan lakukan ini!" jerit Jolina, suaranya parau karena isak tangis yang tertahan sejak mereka meninggalkan rumah. Cengkeraman tangan kasar ayahnya di lengan Jolina tidak mengendur sedikit pun. Malah, pria itu menyeretnya lebih dalam ke tengah ruangan luas yang didominasi oleh perabotan kayu gelap dan aroma cerutu mahal. Jolina meronta, kakinya menendang udara, mencoba mencari pegangan pada apa pun, namun ia hanyalah seekor anak domba yang diseret ke kandang serigala. "Diam kau, anak tidak berguna!" bentak ayahnya, suaranya menggema di ruangan sunyi itu. "Setidaknya sekali dalam hidupmu, kau bisa berguna untuk membayar kesalahan-kesalahanku!" Dengan satu sentakan kuat, ayahnya melemparkan Jolina ke depan. Tubuh mungil itu tersungkur, jatuh tepat di depan sepasang sepatu pantofel hitam yang mengkilap hingga Jolina bisa melihat pantulan wajahnya yang berantakan di sana. "Ini dia, Tuan Felix," suara ayah Jolina tiba-tiba berubah, penuh nada memelas sekaligus menjilat. "Seperti janji saya. Dia masih murni, cantik, dan belum tersentuh. Dia pelunas hutang saya. Anggap saja bunga dan pokok hutang saya lunas hari ini." Jolina gemetar hebat. Ia tidak berani mendongak. Di depannya, berdiri sosok yang selama ini hanya ia dengar dalam bisikan ketakutan di sudut-sudut kota. Felix, Sang Don yang tidak mengenal kata ampun. Keheningan yang mencekik menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Kemudian, terdengar suara gesekan kain dan gerakan halus. Felix berjongkok di hadapannya. Jolina masih menunduk, air matanya menetes membasahi lantai marmer. Namun, sebuah tangan yang besar dan kuat tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan tegas—tidak kasar, tapi penuh otoritas yang tak terbantahkan. Felix memaksa kepala Jolina terdongak ke atas, memaksanya menatap langsung ke dalam sepasang mata gelap yang sedingin liang lahat. Mata itu tidak menunjukkan empati. Hanya ada penilaian dingin, seolah ia sedang memeriksa kualitas sebuah barang dagangan. "Lihat aku, Jolina!" suara Felix rendah, berat, dan mengirimkan getaran aneh yang mengerikan ke sepanjang tulang belakang Jolina. Felix memiringkan wajah Jolina ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap inci fitur wajahnya yang sempurna meski sedang sembab. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Jolina yang gemetar. "Barang yang bagus," bisik Felix pendek, senyum tipis yang mematikan tersungkur di sudut bibirnya. "Bahkan lebih bagus dari yang digambarkan di atas kertas." Felix berdiri, lalu melirik sekilas ke arah ayah Jolina yang masih berdiri dengan wajah penuh harap di ambang pintu. "Hutangmu dianggap lunas. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa nyawamu lebih berharga sebagai tambahan bunga." Tanpa menoleh lagi pada putrinya yang menangis tersedu-sedu, pria itu berbalik dan lari secepat mungkin, meninggalkan Jolina sendirian di dalam sarang monster. "Tidak... Ayah! Jangan tinggalkan aku!" Jolina mencoba bangkit, namun sebelum ia sempat berlari, Felix sudah melingkarkan lengannya di pinggang Jolina. Dengan satu gerakan lancar yang menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, Felix mengangkat Jolina, memangkunya sejenak sebelum mendudukkannya dengan paksa di atas meja kerja kayu mahogani yang besar. Jolina terperangkap di antara kedua lengan kokoh Felix yang kini bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuhnya. "Tolong... lepaskan aku, Tuan," bisik Jolina di sela isaknya. "Aku tidak tahu apa-apa tentang hutang itu. Itu bukan urusanku. Aku punya kehidupan, aku punya impian... Tolong, biarkan aku pergi." Felix memajukan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum sandalwood dan maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Jolina. "Dunia tidak bekerja seperti itu, Sayang," Felix berbisik tepat di depan bibirnya. "Ayahmu sudah menandatangani kontraknya. Namamu tertulis di sana sebagai jaminan. Dan dalam duniaku, kontrak yang sudah ditandatangani dengan darah tidak bisa dibatalkan hanya dengan air mata." Tangan Felix mulai bergerak. Jemarinya yang panjang merayap dari bahu Jolina, turun ke leher, dan mulai menelusuri garis kerah pakaiannya. Jolina memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku seperti batu. Ia bisa merasakan panas dari tubuh Felix yang menekannya, membuatnya merasa sesak sekaligus terancam. "Kau milikku sekarang," gumam Felix, suaranya kini terdengar lebih serak. "Seluruhnya. Mulai dari napasmu hingga..." Tangan Felix baru saja hendak masuk ke balik tengkuk Jolina untuk menariknya lebih dekat, saat sebuah suara melengking memecah ketegangan yang hampir meledak itu. Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt... Ponsel Felix yang tergeletak di atas meja, tepat di samping paha Jolina, bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat otot-otot di lengan Felix yang tadinya rileks menjadi tegang seketika. Felix terdiam. Matanya beralih dari bibir Jolina ke layar ponsel tersebut. Ekspresinya yang tadinya penuh gairah predator berubah menjadi dingin dan waspada dalam sekejap mata. Ia tidak langsung mengangkatnya. Ia menatap Jolina sekali lagi, sebuah tatapan yang sulit diartikan—antara rasa haus yang belum tuntas dan kemarahan yang tertahan. Felix menjauhkan tubuhnya, memberi ruang bagi Jolina untuk bernapas, meski ia masih tetap berada dalam jangkauan Sang Don. Felix menyambar ponselnya, menggeser layar dengan kasar, dan menempelkannya ke telinga. "Bicara," perintahnya singkat. Jolina memperhatikan rahang Felix yang mengeras saat mendengarkan suara di seberang sana. Mata pria itu berkilat tajam, dan tiba-tiba, Felix menoleh ke arah jendela besar di belakang mejanya, lalu kembali menatap Jolina dengan intensitas yang membuat jantung Jolina hampir copot. "Apa?" Felix menggeram. "Kapan? Pastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup." Felix mematikan panggilan itu tanpa salam. Ia terdiam sejenak, menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya. Ruangan itu kembali hening, namun suasananya kini berbeda. Ada bahaya lain yang sedang mengintai, sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi manusia di antara mereka. Felix melangkah mendekat lagi, namun kali ini ia tidak menyentuh Jolina dengan lembut. Ia mencengkeram bahu Jolina dan menariknya turun dari meja dengan sentakan cepat. "Sepertinya rencana malam madu kita harus tertunda, Jolina," ucap Felix dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi jangan senang dulu. Karena apa yang akan terjadi selanjutnya... mungkin akan membuatmu berharap kau tetap berada di atas meja ini bersamaku." Felix menarik tangan Jolina, menyeretnya menuju pintu rahasia di balik rak buku. "Ada yang datang untuk menjemputmu," Felix berbisik di telinganya saat mereka memasuki lorong gelap. "Dan mereka bukan datang untuk menyelamatkanmu."Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut."Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,
Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan."Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara."Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia
Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno."Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah
Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas."Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus."Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha
Vivian merasakan sakit menusuk di dadanya, lebih tajam daripada rasa sakit fisik apa pun. Ancaman Arman bukanlah gertakan kosong; itu adalah jaring baja yang mengunci pergerakannya. Ia mengenal suaminya: Menghancurkan Vivian adalah hal yang kecil dibandingkan dengan kehilangan kontrol.Ia tidak m
Tepat sepuluh menit. Detik-detik itu terasa seperti jam pasir yang tak habis. Vivian menunggu dengan napas tertahan, memegang kusen jendela hingga buku jarinya memutih, matanya terpaku pada pintu. Setelah suara kunci itu—yang ia yakini adalah kunci utama yang diputar dari luar—keheningan rumah tera
Suara Juno memudar, dan telepon diputus. Vivian tidak bisa bernapas. Ia tidak hanya melompat ke neraka Juno; Juno baru saja membuka gerbang dan berjalan masuk. Ia sekarang berada di bawah satu atap dengan putra tirinya yang terobsesi dan berbahaya. Ia sudah kehilangan Arman, dan kini ia dalam bahay
"Apa... apa yang kau lakukan?" Suara Vivian bergetar, masih shock dengan keadaan yang mengejutkan ini. Juno memalingkan wajahnya, menyandarkan lengannya di dahinya. "Aku melihatmu." Suaranya terdengar serak dan rendah. "Aku mendengarnya. Ayahku memperlakukanku dengan arogan, tapi aku bisa meneri
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.